Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Menunggu


__ADS_3

Cukup lama aku menunggu kedatangan Kak Roy dengan perasaan harap-harap cemas. Namun, ia tidak kunjung datang juga.


Akh, kenapa begitu menyesakkan menantikan kehadiran Kak Roy. Aku mulai berpikiran hal yang macam-macam tentang Kak Roy, dengan rasa khawatir yang begitu membuat diriku gelisah dan tidak nyaman.


Ya Allah, setidaknya sebentar saja aku dapat merasakan kehadirannya. Supaya aku dapat memastikan kondisinya dalam keadaan baik- baik saja. Hal itu cukuplah membuat hatiku menjadi tenang, pintaku kepada Allah di dalam hati.


Rasanya aku ingin membangunkan Wirda supaya ia dapat menghubungi Kak Roy. Dan tahu dimana keberadaannya sekarang. Tetapi aku tidak ingin menganggu tidur Wirda yang sangat lelap. Aku tahu Wirda begitu sangat kekelahan hingga sampai saat ini. Wirda pun belum bangun dari tidurnya.


Aku hanya dapat diam sembari berdoa kepada Allah supaya Kak Roy baik-baik saja dan dalam lindunganNya.


"ALLOHUMMA INNI AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIK, WA ‘AZAAIMA MAGH-FIROTIK, WAS-SALAAMAH MIN KULLI ITSM, WAL GHONIIMAH MIN KULLI BIRR, WAL-FAUZA BIN JANNAH, WAN-NAJAAH MINAN-NAAR (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu apa-apa yang dapat mendatangkan rahmat-Mu, kesungguhan mendapatkan ampunan-Mu, keselamatan dari semua dosa, memperoleh semua kebaikan, memperoleh kemenangan dengan masuk surga, dan selamat dari api neraka).”


Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu Kak Roy, ucapku dalam hati seraya memejamkan kedua mataku untuk mencoba terlelap melupakan rasa cemas yang berlebihan di hatiku.


------------------------


Bu Sri mulai tersadar dari pengaruh obat penenangnya. Kini ia lebih tenang dan tidak terlalu berteriak histeris.


Matanya memandang ke arah sekitar melihat keberadaan dirinya sekarang.


Dia melihat putrinya yaitu Mbak Riska yang duduk di kursi di samping ranjang pasien tempatnya terbaring. Dengan kepalanya diletakkan di atas ranjang pasien sambil mengenggam tangannya dalam posisi tertidur.


Hati Bu Sri bergetar melihat bekas linangan air mata yang masih membasahi di wajah putri sulungnya itu.


Aku terlalu egois memikirkan keadaan Reno sehingga aku melupakan jika aku masih memiliki seorang putri yang sangat kucintai juga, batin Bu Sri.


Bu Sri bangun perlahan sekali supaya tidak membangunkan Mbak Riska yang tertidur sangat pulas karena begitu kelelahan.


Kepala Bu Sri tidak sepusing sebelumnya. Dia merasa lebih segar sekarang dan berusaha untuk duduk agar kepalanya tidak terlalu kaku akibat terlalu banyak tiduran.


Dengan pelan.. pelan... dan sangat pelan akhirnya ia mampu duduk di ranjang pasien tempatnya terbaring tanpa membangunkan Mbak Riska.


Matanya berkaca -kaca melihat raut wajah Mbak Riska. Bu Sri merasa sangat bersalah dan berdosa kepada putrinya.


"Seharusnya aku juga lebih memperhatikan dirimu nak, "ucap Bu Sri sangat pelan dan lirih.


Tes... Tes.... Tes...


Air mata Bu Sri pun mengalir perlahan dalam tatapan matanya yang sayu dan wajahnya yang sembab menatap Mbak Riska penuh cinta.


Hingga ia dikejutkan oleh kehadiran Pak Sugeng yang sudah berdiri di depan ranjangnya.


" Akhirnya mama sudah bangun, "ucap Pak Sugeng dengan wajah senang.


Lalu Pak Sugeng berjalan mendekat ke arah Bu Sri dan mengusap bahunya seraya memeluk tubuh Bu Sri. Kemudian mengecup kening istrinya seraya berkata, " Bagaimana keadaan mama sekarang?, "tanya Pak Sugeng sambil memandang wajah istri yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


Bu Sri pun membalas tatapan Pak Sugeng dengan senyuman dalam aliran air matanya.


" Mama jauh lebih baik pah, "jawab Bu Sri pelan dan tenang.


Pak Sugeng terkejut melihat Bu Sri menangis. " Mengapa mama menangis?, "tanya Pak Sugeng sambil mengusap air mata Bu Sri dengan jemari tangannya lalu memeluk tubuh Bu Sri kembali.


" Mama kasihan melihat Riska pah. Selama ini mama hanya fokus kepada Reno saja tanpa memperhatikan Riska yang sesungguhnya juga masih memerlukan kasih sayang mama, "ucap Bu Sri.


Pak Sugeng melepaskan dekapan tangannya dari tubuh Bu Sri.Lalu ia beralih memegang wajah istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Seraya menatapnya dalam dengan penuh cinta."Sudahlah mah.Mama jangan merasa bersalah seperti itu .Sekarang setidaknya Mama jauh lebih baik dari sebelumnya.Juga belum terlambat untuk Mama memberikan kasih sayang secara adil kepada Riska dan Reno.Lagi pula Papa tidak ingin Mama banyak memikirkan sesuatu yang akan membuat keadaan mama kembali menjadi jatuh sakit lagi.Papa sangat mengkhawatirkan akan kondisi mama. Dan papa sangat takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap mama. Papa sangat mencintaimu mah,"ucap Pak Sugeng dengan mata yang berkaca-kaca lalu memeluk tubuh Bu Sri kembali dengan erat.


"Mama juga sangat mencintaimu pah dan Mama tidak akan overthinking lagi Pah. Mama akan berusaha kuat, tegar dan menjadi Ibu yang baik bagi Riska dan Reno Pah. Mama ingin pulang ke rumah,Pah. Mama tidak mau di rumah sakit ,"pinta Bu Sri kepada Pak Sugeng.


" Tetapi bagaimana dengan kondisi mama yang belum pulih sepenuhnya. Papa takut jika nanti waktu Mama pulang ke rumah kondisi Mama saat ini kan belum stabil dan takut drop atau down lagi mah,"ucap Pak Sugeng dengan cemas.


Bu Sri tersenyum kecil menatap wajah Pak Sugeng dan Pak Sugeng pun membalas senyuman dari Bu Sri. "Mama sudah tidak tahan lagi di rumah sakit pah.Mam sudah merasa sangat baik Pah dan Mama ingin pulang ke rumah dan berkumpul dengan semua keluarga kita. Setelah itu kita memikirkan bagaimana caranya menolong Reno agar dapat keluar dari tahanan dengan segera pah," pinta Bu Sri dengan penuh pengharapan kepada Pak Sugeng.


"Iya mah.Baiklah kalau memang mama memaksa. Tetapi papa harus berkonsultasi dan membicarakan kepada dokter mengenai kondisi mama terlebih dahulu," ucap Pak Sugeng.


" Iya Pah.Tolong di usahakan agar mama dapat segera pulang ya pah,"ujar Bu Sri sambil tersenyum menatap Pak Sugeng yang juga berbalik tersenyum kepadanya.


Percakapan antara Bu Sri dan Pak Sugeng membuat Mbak Riska pun terbangun dari tidurnya. Lalu ia terkejut melihat Bu Sri yang sudah bangun dan duduk dengan wajah yang sudah lebih membaik dan tidak pucat lagi. "Mama sudah sadar," ucap Mbak Riska senang lalu memeluk Bu Sri erat. Dan Bu Sri pun membalas pelukan dari Mbak Riska sambil mengusap kepala mbak Riska dan mencium keningnya.


"Ya sudah kalau begitu papa langsung menemui dokter dulu ya untuk menanyakan kondisi mama .Apakah boleh pulang sekarang atau tidak?," ucap Pak Sugeng kepada Bu Sri.


"Papa titip mamamu dulu ya,Ris," ucap Pak Sugeng kepada mbak Riska.


" Iya pah. Papa tenang saja," jawab Mbak Riska.


Lalu Pak Sugeng pun keluar dari kamar tempat Bu Sri dirawat. Sementara Mbak Riska dan Bu Sri saling mengeluarkan rasa rindu antara ibu dan anak yang sudah sangat lama tidak mereka utarakan satu sama lain.


-------------------------


Sementara itu di kediaman keluarga Suprapto. Kakek sedang duduk di teras rumah dan sedang berbincang dengan Pak Gukul beserta asisten pengacaranya untuk membahas persiapan akan sidang perdana yang akan dilakukan terhadap kasus Kak Reno.


Dan disaat kakek dan Pak Gukul sedang berbicara. Tiba-tiba asisten rumah tangga di kediaman keluarga Suprapto datang memberitahukan kepada kakek bahwa ada Pak Gondrong dan Pak Hadi yang ingin bertemu dengan kakek secara langsung.


"Pak Gondrong kemari .Ada apa ya ?,"ucap kakek pelan seraya berpikir.


Sementara itu asisten rumah tangga yang memberitahukan kedatangan Pak Gondrong dan Pak Hadi menunggu instruksi dari Kakek apakah ingin menemui mereka atau tidak. "Bagaimana Pak ?apakah Pak Suprapto ingin menemui mereka atau tidak?," tanya asisten rumah tangga itu kepada kakek.


Kakek terdiam dan masih dalam tahap berpikir dalam raut wajahnya yang masih terlihat kebingungan. "Ya sudahlah ajak mereka masuk dan setelah itu jangan lupa kamu buatkan minuman dan makanan kecil untuk mereka ,"perintah kakek kepada asisten rumah tangganya. Lalu sang asisten rumah tangga segera kembali untuk mengajak Pak Gondrong dan Pak Hadi masuk menemui kakek.


Kakek pun terlihat gusar dan tidak tenang. Dia seakan berpikir dan bertanya-tanya. Kenapa tiba-tiba Pak Gondrong datang dan ingin menemui dirinya.


" Ada apa Pak Suprapto? Kenapa anda terlihat khawatir dan cemas ?,"tanya Pak Gukul yang melihat ke arah kakek.

__ADS_1


" Iya Pak Gondrong tiba-tiba datang.Dan ingin menemui saya.


Sepertinya ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin dia bicarakan .Entah kenapa saya merasa tidak nyaman dan tidak senang akan kehadirannya kemari," ucap kakek kepada Pak Gukul.Lalu tidak lama kemudian Pak Gondrong dan Pak Hadi beserta beberapa asistennya berjalan menuju ke arah kakek.


" Selamat sore Pak Suprapto," ucap Pak Gondrong seraya menyalami kakek .


Kakek pun terlihat kaku dan tegang membalas jabatan tangan dari Pak Gondrong." Iy..iya.. Selamat sore Pak Gondrong .Kenapa ya secara tiba-tiba Pak Gondrong kemari? dan ada urusan apa ya? ," tanya kakek spontan tanpa berbasa-basi lagi ingin mengetahui maksud dan tujuan kedatangan Pak Gondrong ke rumahnya.


Pak Gondrong pun tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kakek seperti itu ."Saya akan jelaskan maksud kedatangan saya kemari Pak Suprapto. Tetapi sebelum itu bolehkah saya dan beberapa orang yang ikut dengan saya untuk duduk dulu supaya lebih enak dan nyaman kita berbicara," tanya Pak Gondrong kepada kakek .


"Oh iya ya silahkan Pak Gondrong.Maafkan saya Pak Gondrong karena lupa mempersilahkan anda untuk duduk. Silahkan Pak. Mari silahkan ,"ucap kakek masih dengan nad canggung dan terlihat sangat tegang.


Tidak lama setelah itu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah kakek sudah membawakan beberapa minuman dan juga makanan kecil.Lalu ia meletakkan semuanya di atas meja dan kembali masuk ke dalam rumah. Setelah itu, kakek beserta Pak Gondrong dan Pak Hadi serta asisten pengacara lainnya duduk dengan tenang. "Terima kasih Pak Suprapto karena sudah mempersilahkan kami duduk serta sudah menjamu kami,"ucap Pak Gondrong dengan pelan dan senyum.


"Iya Pak Gondrong sama-sama," jawab kakek dengan kaku.


" Oh ya Pak Gondrong kalau boleh tahu apa tujuan bapak dan beberapa orang ikut serta dengan bapak datang ke rumah saya ?,"tanya kakek dengan rasa tidak sabar dan sangat penasaran.


Pak gondrong seakan tahu bagaimana sifat licik kakek selama ini. Dan ketakutan yang menyeruak di wajah kakek begitu tergambar jelas dalam penglihatan Pak Gondrong karena kedatangan dirinya.


"Baik .Tunggu sebentar ya Pak Suprapto. Saya akan menyiapkan berkas-berkasnya dahulu ,"ucap Pak Gondrong sambil melirik ke arah keponakannya Pak Hadi.


Lalu Pak Hadi pun mengangguk karena mengerti akan maksud dari lirikan Pak Gondrong.Dengan segera Pak Hadi pun mengeluarkan beberapa berkas dokumen dari tas besar hitam yang dia bawa dan menyerahkannya kepada Pak Gondrong .Dan Pak Gondrong pun menerimanya lalu meletakkan dokumen itu di atas meja dan mendorongnya ke arah kakek.


" Apa ini Pak gondrong?," tanya kakek.


" Silahkan Pak Suprapto baca terlebih dahulu dan jika Bapak belum paham nanti akan saya jelaskan," jawab Pak Gondrong dengan santai.


Dengan ekspresi wajah yang sangat tegang. Kakek pun membuka dokumen yang diserahkan oleh Pak Gondrong kepada dirinya. Dia mulai membuka lembar demi lembar dokumen dan membacanya dengan teliti hingga tiba ia begitu sangat terlihat syok dan terkejut.Setelah membaca tentang semua aset yang ia gunakan selama ini sudah beralih dan berpindah tangan atas nama diriku. Tangannya pun terasa bergetar memegang dokumen itu . Lalu kakek marah dan merasa kesal dengan melemparkan dokumen itu ke atas meja dan berdiri.


" Apa-apaan ini Pak Gondrong? Apakah semua ini lelucon?," ucap kakek berteriak dengan kasar ke arah Pak Gondrong.


" Bapak tidak perlu marah. Bukankah di situ sudah jelas semuanya. Lalu apa yang Pak Suprapto tidak mengerti setelah membaca dokumen yang telah saya berikan kepada Pak Suprapto ?,"ucap Pak Gondrong dengan nada yang masih santai.


" Mengapa di dalam dokumen ini semua aset yang saya miliki berpindah tangan atas nama Nur'aini Azzahra dan bagaimana itu bisa mungkin ?,"tanya kakek dengan matanya yang melotot.


" Sebaiknya Bapak tenang dan tidak perlu marah-marah. Bukankah tadi saya bilang jika Bapak tidak mengerti .Pak Suprapto bisa bertanya kepada saya .Oh ya satu hal lagi ingin saya tegaskan dari kata-kata yang Bapak ucapkan tadi.Saya merevisinya, bukan semua aset yang Bapak miliki tetapi semua aset yang Bapak pinjam dan gunakan selama ini sudah beralih tangan kepada pemilik sah yang sebenarnya yaitu ahli waris dari keturunan almarhum Bapak Widiyanto yang bernama Nur'aini Azzahra atau biasa dipanggil dengan nama Rani," ucap Pak Gondrong dengan pelan namun tegas sambil tersenyum kecil.


" Bagaimana bisa Pak Gondrong tahu mengenai Rani?," tanya kakek dengan raut wajah yang sangat kesal.


"Tentu saja saya tahu Pak Suprapto. Bagaimana pun juga saya memiliki tanggung jawab untuk menjaga amanah yang sudah saya emban sekian puluh tahun lamanya.Untuk menjaga seluruh aset dan harta kekayaan yang dimiliki oleh almarhum Bapak Widiyanto agar berada tepat kepada yang memang berhak dan pantas menerimanya.Dan Nak Rani adalah keturunan dari almarhum Bapak Widiyanto sekaligus ahli waris yang sah untuk menerima hak atas semua aset dan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh almarhum kakeknya. Dan Untuk itu saya meminta Bapak Suprapto dan keluarga untuk meninggalkan dan mengosongkan rumah ini. Serta menyerahkan seluruh aset kekayaan yang memang sudah menjadi hak dan miliknya Nak Rani.Dan untuk itu saya memberikan waktu tenggang selama 3 hari untuk Pak Suprapto berkemas-kemas," ucap Pak Gondrong dengan santai.


"Pak Gondrong tidak bisa melakukan semua hal itu kepada saya.Semua aset dan harta kekayaan ini adalah milik saya sampai kapan pun dan Pak Gondong tidak bisa membuktikannya jika Rani itu adalah keturunan yang sah dari almarhum sahabat saya," ucap kakek dengan ketus dan keras kepala.


" Terserah apa yang Pak Suprapto pikirkan dan katakan. Jika saya sudah menemui Bapak dan memberikan berkas dokumen kepada Pak suprapto berarti kebenaran akan validitas keabsahan Nak Rani sebagai keturunan sah dari almarhum Bapak Widiyanto itu berarti sudah terbukti. Dan saya memiliki bukti yang otentik yang dapat menunjukkan keabsahannya sehingga Pak Suprapto sendiri dan orang lain tidak akan bisa menyangkalnya .Semuanya sudah sangat jelas dan sudah disahkan di notaris yang sudah saya lampirkan dalam berkas tersebut. Namun,jika Pak Suprapto berkeras kepala dan masih bersikap egois. M aka saya juga tidak akan segan-segan melaporkan Bapak Suprapto ke pihak Kepolisian untuk kasus perampasan harta kekayaan Nak rani. Dan satu lagi seluruh uang ataup un perusahaan yang sudah bapak nikmati selama ini sudah dibekukan dan akan dapat digunakan atas izin dari Nak Rani semuanya. Baiklah saya kira cukup seperti itu. Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Suprapto yang sudah bersedia menerima saya dan semoga Bapak Suprapto benar-benar melaksanakan apa yang sudah menjadi keputusan dan tidak mempersulit masalah ini. Permisi ,"ucap Pak Gondrong kepada kakek lalu meninggalkan kakek yang begitu sangat syok dan terkejut tanpa dapat berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2