
Beberapa perawat mengecek kondisiku sebelum melakukan operasi pencangkokan kornea mata.Rasa tegang dan kecemasan mulai menyelimuti perasaanku.Namun,doa tidak henti-hentinya dari semua orang yang terus mengalir menguatkan diriku.
Ummah mengusap kepalaku lembut dan penuh kasih sayang,sembari menggenggam jemari tanganku.
"Hasbunallahu wa ni'mal wakilu 'alallahi tawakkalna. Cukuplah Allah sebagai pelindung kami dan Dia sebaik-baik pelindung.Hanya kepada Allah kami berserah diri.Semoga operasi matanya berjalan dengan baik dan lancar.Serahkan dan pasrahkanlah semuanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala ,karena hanya Dia-lah yang dapat memberikan kesembuhan atas segala penyakit yang di dera oleh hambanya."
"Aamiin.Iya Ummah. Jazakillah khairan katsiiraa. Ummah untuk do'anya,"kataku pelan.
"Fajazaakillahu khairan katsiiran.Semoga Allah juga membalasmu dengan kebaikan yang banyak,"sahut Ummah seraya mencium keningku.
Lalu Ustad Fariz pun datang menghampiriku dengan berdiri di samping Ummah dan memanjatkan do'a untukku.
"Allahumma rabban nasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syafi. La syafiya illa anta syifa’an la yughadiru saqaman.
Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh.
Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.Semoga operasinya berjalan kancar dan InsyaAllah tanpa kendala dan halangan ya Dek Rani."
"Aamiin Allahumma Aamiin,"jawabku.
Kemudian Kak Rafa, Abi,Enjid,Bik Siti, Pak Budi dan Wirda satu persatu mendoakan diriku. Kecemasan yang menghampiri diriku perlahan mulai berangsur-angsur memudar setelah mendapatkan iringan doa dari orang-orang yang peduli dan sayang kepadaku. Seperti apa yang dikatakan Ummah dan Ustad Fariz,aku harus menggantungkan semua harapan dan juga menyerahkan semua urusanku kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Karena hanya Dialah sebaik-baik penolong yang dapat menyelesaikan semua permasalahanku. Hufh,dengan hati yang lebih tenang dan damai.Aku tersenyum kecil untuk menatap hari yang lebih baik dan jauh lebih baik yang Insyaallah akan menghampiriku. Setelah itu, perawat membawaku menuju ruang operasi diiringi dengan langkah kaki orang-orang yang peduli denganku.
Sebelum melakukan operas pencangkokan kornea ,Dokter menyuntikkan obat bius padaku dan membuatku tidak sadarkan diri.
Sementara itu,diluar ruangan tempatku melakukan operasi semua orang menunggu dengan harap-harap cemas.Mereka semua tidak henti-hentinya memanjatkan do'a untukku.
Dan tidak lama telepon genggam milik Wirda berdering.Wirda pun dengan segera mengangkat panggilan telepon masuk dari Tante Warti mamanya Wirda.
Setelah bercakap-cakap dari sambungan telepon.Akhirnya Wirda pamit kepada semua orang untuk pulang ke rumahnya mengajak Bi Inah,sebab kedua orangtuanya sudah pulang dari luar kota.
"Ummah,Abi,Enjid,Kak Rafa dan Ustad Fariz,"panggil Wirda.
Dan semua nama yang Wirda panggil pun menoleh kepadanya.
"Wirda izin pamit pulang dulu.Sebab mama dan papa sudah pulang,sekarang sedang menunggu Wirda di rumah,"ucap Wirda.
"Oh iya Nak.Kalau begitu biarkan Rafa yang mengantar Wirda sekalian mengambil barang-barang Wirda di rumah,"sahut Enjid.
"Tidak usah Enjid nanti malah merepotkan,"tolak Wirda merasa tidak enak.
Kak Rafa pun lalu menyela.
"Tidak ada yang direpotkan kok Dek Wirda.Ayo Kak Rafa antar sekarang,"kata Kak Rafa yang sudah siap berdiri di dekat Wirda.
Wirda menatap ke arah Ummah yang melihatnya.
Ummah menganggukkan kepalanya perlahan,"Iya sayang,biar Rafa yang mengantar ya.Dan jangan menolak.Ok!,"sahut Ummah dengan tersenyum.
Wirda yang mendengar perkataan Ummah pun tidak bisa menolak.Dia pun akhirnya menuju kediaman rumah keluarga Enjid untuk mengemasi barang-barang nya dan menjemput Bik Inah setelah berpamitan dengan semua keluarga Ustad Fariz termasuk Bik Siti dan juga Pak Budi.
Dan Kak Rafa semakin terlihat sumringah,sebab ia dapat selalu berdekatan dengan Wirda.
__ADS_1
Selang sekitar hampir dua jam Ustad Fariz,Abi,Enjid,Bik Siti dan Pak Budi dengan sabar menantikan proses operasi donor kornea padaku.Hingga akhirnya dokter dan beberapa perawat keluar dengan mendorong brankar pasien/hospital bed tempatku terbaring sekarang pasca menjalani operasi mata.
Semua orang langsung berdiri melihat pintu ruang operasi sudah terbuka.
Ummah,Bik Siti dan Pak Budi mengikuti beberapa perawat yang membawaku untuk kembali ke ruang rawai inap.
Sementara itu Ustad Fariz,Enjid dan Abi sedang menunggu dokter untuk mengetahui kondisiku pasca operasi.
"Bagaiamana kondisi Dek Rani,dok?,"tanya Ustad Fariz cemas.
"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar .Namun, saat ini Nak
Rani masih dalam pengaruh obat bius dan belum sadarkan diri, karena saat operasi berlangsung saya melakukan pembiusan total terhadap Nak Rani. Untuk itu kita menunggu sampai Nak Rani sadar dan saya akan melakukan pemeriksaan kembali untuk mengecek keadaan dan kondisi pasien pasca menjalani operasi pencangkokan mata.Dan nanti jika dalam pengecekan tidak terdapat indikasi infeksi atau peradangan yang menyebabkan pendarahan pada matanya Nak Rani.Maka Nak Rani dapat pulang dan melakukan kontrol kemari sesuai prosedur dan jadwal pemeriksaan. Namun, jika bapak dan Nak Fariz menginginkan Dek Rani untuk tetap berada di sini dan dalam pengawasan kami untuk beberapa hari ke depan juga tidak apa-apa ,"tutur dokter yang menjelaskan panjang lebar.
"Alhamdulillah,baik dok.Terima kasih atas informasinya,"ucap Ustad Fariz terlihat lega dan tenang.
"Baiklah dok berarti saat ini kita harus menunggu sampai Nak Rani sadar dari pengaruh obat biusnya ya Dok, baru bisa mengetahui keberhasilan atau terdapat indikasi medis lainnya pasca operasi yang terjadi pada Nak Rani Sehingga dokter dapat menyimpulkan keadaan Nak Rani. Begitukah dok?,"tanya Abi kepada dokter. Dokter pun mengangguk," Benar sekali Pak, untuk itu saat ini yang kita lakukan hanyalah menunggu pasien sadar dari pengaruh obat biusnya. Baru setelah itu saya dapat memeriksa keadaan pasien, sehingga saya akan dapat menyimpulkan bagaimana keberhasilan dari operasi pencangkokan mata kepada Nak Rani. Untuk itu bapak dan Nak Fariz silahkan untuk beristirahat atau duduk dulu sambil menunggu Nak Rani tersadar. Dan untuk itu saya permisi dulu ya pak,"pamit dokter.
"Oh ya, baik dokter silahkan," jawab Abi.
kemudian dokter pun pergi meninggalkan Abi,Enjid dan Ustad Fariz yang masih berdiri di depan ruang operasi. Lalu tidak lama kemudian mereka memutuskan untuk segera menuju ruang rawat inap tempatku berada sekarang untuk melihat kondisiku pasca operasi.
Ummah dan Bik Siti masih memandang diriku yang terbaring di ranjang pasien dan mereka berdua tidak henti-hentinya menatap diriku sambil mengusap kepalaku perlahan itu yang Ummah lakukan kepadaku. Begitu juga dengan Bik Siti yang terlihat sangat khawatir dan begitu mencemaskan diriku.
Bik Siti memandang wajah Ummah yang terpaku melihat diriku dalam keadaan mataku yang tertutup dengan perban.
"Saya melihat dan merasakan jika Bu Putri itu sangat menyayangi Nak Rani. Benarkah begitu Bu Putri?," tanya Bik Siti dengan lembut. Ummah yang mendengar perkataan dari Bik Siti pun menoleh dan tersenyum kecil memandang wajah Bik Siti.
"Iya Bu Putri, semua orang pun dapat melihat dengan jelas bagaimana sikap yang ibu Putri tunjukkan kepada Nak Rani layaknya seperti kandung Bu Putri sendiri. Dan untuk itu saya merasa senang jika apa yang saya lihat itu memang benar yang ada di dalam hati Ibu Putri.Karena jujur Bu, selama ini Nak Rani begitu sangat menderita, dia begitu banyak mengalami kepahitan dalam hidupnya. Apalagi setelah almarhumah bundanya meninggal dunia. Nak Rani seperti kehilangan sosok ibu, orang tua sahabat sekaligus penguat dan penopang kehidupannya. Namun saya tahu Nak Rani itu berusaha untuk kuat dan tidak lemah serta tidak ingin membuat beban bagi orang-orang sekitarnya. Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya Nak Rani sangat merindukan sosok almarhumah bundanya yaitu sosok ibu dalam kehidupannya. Dan saat Nak Rani bertemu dengan Bu putri saya melihat kerinduan Nak Rani akan almarhumah bundanya itu seperti terobati. Nak Rani seperti mendapatkan semangat lagi untuk menjalani kehidupan Bu,"tutur Bik Siti dengan sangat serius.
Ummah mendengar dengan sungguh-sungguh apa yang Bik Siti katakan.Lalu Ummah meminta Bik Siti untuk duduk pada kursi di sampingnya.Dan Bik Siti pun tidak menolaknya.
Setelah Bik Siti duduk di samping Ummah.
Ummah pun tersenyum memandang wajah Bik Siti lalu menoleh ke arahku yang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang pasien.
"Seperti yang Bik Siti katakan saat pertama kali saya melihat Rani, entah mengapa saya juga merasakan sebuah getaran dan ikatan seperti antara ibu dan anak,Bik.Rasanya Rani itu begitu dekat dengan saya Bik Siti, dan perasaan sayang dan cinta saya kepada Rani tumbuh seketika seolah-olah Rani begitu sangat dekat dan layaknya seperti putri kandung saya sendiri. Ya mungkin itulah hubungan yang Allah berikan dan hadirkan di antara Rani dan juga saya tanpa saya ataupun Rani memintanya Bik,"tutur Ummah.
"Alhamdulillah bu Putri saya senang mendengarnya, jika Bu Putri tulus menyayangi Nak Rani layaknya putri ibu sendiri. Saya berharap semoga kasih sayang Bu Putri tulus dan terus mengalir kepada Nak Rani dan tidak ada kepalsuan seperti yang diberikan oleh almarhumah Bu Sri kepada Nak Rani, karena saya juga sangat menyayangi Nak Rani dan menganggapnya seperti putri saya sendiri,Bu.Jika melihat Nak Rani bersedih ataupun mengalami permasalahan hati saya juga terasa sangat sakit dan teriris Bu Putri ,untuk itu saya selalu mendo'akan supaya Nak Rani setelah ini dapat menemukan kebahagiaannya. Dan Allah mengganti semua penderitaannya dengan limpahan kebahagiaan dan kasih sayang dari orang-orang yang mengelilinginya,"kata Bik Siti dengan mata yang berkaca-kaca.
Ummah mengenggam jemari tangan Bik Siti.
"Rani pasti senang.Dan sangat beruntung sekali sebab Bik Siti sangat menyayangi dirinya.MasyaAllah,semoga Allah selalu menjaga dan melindungi Rani ya Bik."
"Aamiin,iya Bu Putri."
Tidak lama kemudian Ustaz Fariz masuk ke dalam ruangan tempatku dirawat.
"Bagaimana Ummah keadaan Dek Rani sekarang?," tanya Ustad Fariz.
Ummah dan Bik Siti pun sedikit terkejut dengan kedatangan Ustad Fariz secara mendadak.
__ADS_1
"Lho, Fariz kok masuk tidak mengucapkan salam lagi,"ucap Ummah.
"Ummah dan Bik Siti jadi terkejut lho Nak,"ucap Ummah kembali dengan pelan sambil sedikit mengkerutkan dahinya menatap Ustad Fariz.
"Astaghfirullahaladzim.Maaf Ummah tadi Fariz terburu-buru dan ingin segera mengetahui kondisi Dek Rani,"balas Ustad Fariz.
"Hmmmm,"Ummah menggelengkan kepalanya.
"Lalu di mana Abi dan Enjid,Nak?," tanya Ummah kembali.
"Abi dan Enjid tadi mampir sebentar ke kantin di rumah sakit Ummah, untuk membeli makanan dan minuman.Mungkin sebentar lagi akan menyusul kemari,"jawab Ustad Fariz.
Ustad Fariz lalu melihatku yang masih terbaring tidak sadarkan diri di ranjang pasien. Ummah dan Bik Siti menatap wajah Ustad Fariz dengan wajahnya yang terlihat begitu khawatir dan cemas melihat kondisiku. "Dek Rani belum sadarkan diri Ummah?,"tanya Ustad Fariz kembali.
"Belum nak, kan baru saja Rani menjalankan operasi matanya. Mungkin setelah beberapa jam Rani akan baru sadarkan diri kembali,"jawab Ummah.
"Iya Ummah.Semoga tidak ada infeksi atau pun peradangan dan komplikasi dari hasil operasi mata Dek Rani,"ucap Ustad Fariz dengan cemas.
Tanpa Ustad Fariz sadari Ummahbegitu serius menatap wajah Ustad Fariz.Ummah melihat sikap dan juga mengamati geksture yang ditunjukkan oleh Ustad Fariz kepadaku. Begitu pula dengan Bik Siti yang tersenyum kecil melihat kecemasan Ustad Fariz yang setidaknya sangat berlebihan ia tunjukkan. Lalu Bik Siti pun menatap wajah Ummah dengan tersenyum kecil, yang sepertinya Ummah juga mengetahui apa maksud dari tatapan Bik Siti kepadanya.
"Mengapa kamu sangat begitu mencemaskan keadaan Rani,Nak?," tanya Ummah sambil menatap Ustad Fariz dengan wajah Ummah yang sedikit tersenyum dan mengkerutkan dahinya. Lalu Ustad Fariz melihat raut wajah Ummah dan Bik Siti yang menatapnya dengan sedikit aneh.
"Mengapa Ummah bertanya seperti itu kepada Faris? dan tentu saja Fariz sangat mencemaskan keadaan Dek Rani ,ya karena Farisz sangat peduli dan ingin Dek Rani segera sembuh seperti sedia kala,Ummah,"jawab Ustad Fariz dengan pelan.
Ummah dan Bik Siti pun saling berpandangan mendengar jawaban dari Ustad Fariz.
"Benarkah seperti itu nak ?,"ucap Ummah dengan sedikit nada menggoda Ustad Fariz.
Ustad Fariz pun terdiam melihat gelagat yang tidak biasa dari Ummah dan Bik Siti yang ditunjukkan kepada dirinya.
"Apa maksud perkataan Ummah seperti itu Ummah?," tanya Ustad Fariz dengan perasaan yang tidak enak.
"Ummah tidak memiliki maksud apa-apa nak. Ummah hanya memastikan apakah kekhawatiran dan kecemasanmu kepada Rani itu hanya berlandaskan rasa peduli saja atau mungkin ada landasan rasa yang lain,"ucap Ummah menggoda Ustad Fariz lalu tersenyum kecil ke arah Bik Siti.
DeG....
Dengan seketika Ustad Fariz terlihat canggung dan tegang akan perkataan Ummah kepada dirinya.
Ummah dan Bik Siti pun menunggu Ustad Fariz membalas perkataan Ummah.
Namun,sebelum Ustad Fariz berkata Enjid dan Abi masuk ke dalam ruangan tempatku dirawat dengan membawa banyak bungkusan berisi makanan dan minuman.
"Assalamualaikum," ucap Abi dan Enjid secara bersamaan saat memasuki ruangan tempatku dirawat.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ummah,Bik Siti dan Ustad Fariz secara bersamaan.
Ustad Fariz sedikit merasa lega akan kedatangan Abi dan Enjid,sehingga ia tidak perlu membalas perkataan Ummah terhadap dirinya.
"Masya Allah Abi dan Enjid sudah membawa banyak makanan dan minuman.Fariz sudah lapar ini," ucap Ustad Fariz untuk mengalihkan pembicaraan ,seraya berjalan mendekati Abi dan Enjid mengambil bungkusan kantong plastik yang terdapat di tangan mereka.
Sementara itu, Ummah dan Bik Siti hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat sikap Ustad Fariz.
__ADS_1