Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kejutan untuk Keluarga Suprapto.


__ADS_3

"Mah, sadar mah.... Mah... Mama!, " teriak Mbak Riska secara histeris melihat kondisi Bu Sri yang tidak sadarkan diri.


"Mah, mama....!, " panggil Pak Sugeng da mbil menepuk pipi Bu Sri lembut.


"Riska, ayo bantu papa mengangkat tubuh mamamu ke atas sofa terlebih dahulu, " pinta Pak Sugeng kepada Mbak Riska.


"Iya pah, " sahut Mbak Riska.


Dengan dibantu oleh Mbak Riska. Pak Sugeng pun mengangkat tubuh Bu Sri yang sudah tergolong lemas tidak berdaya karena pingsan.


"Ris, cepat ambilkan minyak angin atau minyak kayu putih, jika tidak ada balsam juga boleh dan segelas air putih untuk membuat mamamu tersadar kembali.Ayo, cepat Riska, " ucap Pak Sugeng yang sangat panik melihat kondisi istrinya tersebut.


"Baik pah, " sahut Mbak Riska.


Mbak Riska lalu lari bergegas mengambil minyak angin atau minyak kayu putih di kotak p3k milik keluarga mereka.


Sementara itu, kakek masih membatu diam dari tempatnya tanpa beranjak sedikit pun.


"Kakek.... kakek kenapa, " panggil Mbak Riska sambil mengoyangkan tubuh kakeknya sedikit setelah mengambil minyak angin.


"Akh... Akh.... Akh...., " ucap kakek yang terkejut dan linglung.


"Ayo kakek ikut Riska, " ucap Mbak Riska sambil menarik tangan kakeknya perlahan untuk duduk di sofa di dekat Bu Sri berbaring.


"Ini pah, " ucap Mbak Riska sambil memberikan minyak angin dan segelas air putih kepada Pak Sugeng.


Lalu Mbak Riska menyuruh kakek duduk dan bergegas kembali ke dapur mengambil segelas air putih untuk kakek.


Setelah menerima minyak angin roll on dan segelas air putih dari Mbak Riska.


Pertama Pak Sugeng meletakkan segelas air putih di atas meja.Lalu dengan perlahan Pak Sugeng memiringkan kepala Bu Sri miring ke kiri menghadap Pak Sugeng dan menempatkan bantal kecil yang ada di sofa ruang tamu di bawah kaki Bu Sri sehingga posisi kaki Bu Sri lebih tinggi.Kemudian melonggarkan sedikit pakaian Bu Sri dan mengoleskan minyak angin roll on yang di berikan oleh Mbak Riska di bagian pelipis dan leher Bu Sri. Setelah itu, Pak Sugeng memijat bagian antara ibu jari dan jari telunjuk dengan minyak angin roll on. Lalu meneruskan memijat pada bagian telapak kaki Bu Sri agar Bu Sri lekas tersadar.


Dan tidak lama kemudian Bu Sri pun mulai tersadar sambil memanggil nama Kak Reno.


"Reno... Ren.... Jangan bawa anak saya. Jangan tangkap anak saya, " ucap Bu Sri seperti orang yang mengigau.


Melihat istrinya mulai tersadar Pak Sugeng membantu Bu Sri untuk duduk perlahan dan memberikan sedikit demi sedikit air putih dari gelas yang di bawa Mbak Riska.


Sementara itu Mbak Riska datang membawa segelas air putih dan memberikannya kepada kakek.


"Kek, ayo minum dulu, " ucap Mbak Riska seraya menyuruh kakeknya minum dengan mendekatkan gelas yang berisi air putih di dekat bibir kakek supaya kakek segera meminumnya.


Perlahan kakek menoleh ke arah Mbak Riska.


"Terima kasih Riska, " ucap kakek yang mulai tersadar dari lamunannya.


Lalu kakek pun meminum segelas air putih tersebut hingga habis tidak bersisa.


"Kakek mau minum lagi? Atau Riska buatkan teh hangat tanpa gula untuk kakek, " tanya Mbak Riska pada kakek.


"Boleh Ris, " ucap kakek yang masih terduduk lemas di sofa.


"Baik tunggu sebentar ya kek, " ucap Mbak Riska.


Kakek pun mengangguk perlahan.


Sebelum pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk kakek. Mbak Riska melihat keadaan Bu Sri terlebih dahulu.


"Bagaimana kondisi mama sekarang pah?, " tanya Mbak Riska sambil memegang tangan Bu Sri.


"Mama mu sudah mulai tersadar Riska.Oh, ya Riska jika kamu mau membuatkan teh hangat untuk kakek mu tolong buatkan juga satu gelas teh hangat dengan gula untuk mama mu juga ya nak. Dan sekalian kamu telepon dokter keluarga kita untuk datang kemari memeriksa keadaan mama mu, " ucap Pak Sugeng seraya memerintahkan Mbak Riska.


"Baik pah, " sahut Mbak Riska dan bergegas ke dapur.


Sambil membuatkan teh hangat untuk Bu Sri dan kakek. Mbak Riska juga menelpon dokter khusus yang memeriksa keluarga mereka untuk segera datang ke rumah kediaman keluarga Suprapto.


"Ini pah teh hangat dengan gula untuk mama dan ini teh tawar panas untuk kakek, " ucap Mbak Riska sambil meletakkan nampan yang berisi dua gelas teh di atas meja.


"Terima kasih nak, " ucap Pak Sugeng.


"Terima kasih Riska, " ucap kakek juga pada Mbak Riska.


"Iya sama-sama pah, kek, " balas Mbak Riska.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mama sekarang?, " tanya Pak Sugeng yang berusaha mengajak berkomunikasi istrinya.


Namun Bu Sri masih tetap diam tanpa berkata apa pun.


"Mama minum teh hangat nya dulu ya mah, " bujuk Pak Sugeng kepada BU Sri.


"Tidak pah, " ucap Bu Sri menolak.


"Papa mohon mama jangan seperti ini, " tutur Pak Sugeng.


"Mama memikirkan keadaan Reno sekarang pah. Huhuhuhuhu....., " ucap Bu Sri sambil menangis kembali.


"Sudahlah mah.Mama jangan menangis terus, " ucap Mbak Riska yang ikut bersedih melihat kondisi Bu Sri.


Mbak Riska mengusap air mata Bu Sri perlahan dengan tisu lalu mengenggam tangan Bu Sri perlahan untuk menguatkannya.


"Reno itu juga anak papa mah. Dan mana mungkin papa membiarkan putra papa mendekam di balik jeruji besi.Mama sabar dan tenang dulu. Kita tunggu sampai Pak Gukul datang untuk menentukan langkah selanjutnya. Dan kondisi mama agar lekas membaik terlebih dahulu baru kita akan melihat kondisi Reno di kantor kepolisian. Mama tidak usah khawatir putra mama Reno itu anak yang kuat dan tangguh. Papa yakin Reno bisa menjaga dirinya dengan baik. Tetapi yang terpenting saat ini mama harus kuat dan jangan larut dalam kesedihan, " ucap Pak Sugeng sambil mengusap lembut baju istrinya lalu mengecup kening Bu Sri dengan lembut.


Bu Sri pun meneteskan air mata dan mengagukkan kepalanya perlahan sambil memegang tangan kiri Pak Sugeng yang merangkul pundak Bu Sri.


"Pasti ada seseorang yang bekerjasama untuk menghancurkan keluarga kita, " sahut kakek yang tiba-tiba berbicara sambil terus berpikir.


"Kenapa papa bisa berpikir seperti itu pah?, " tanya Bu Sri.


"Yah lihat saja. Mana mungkin si Rani itu berani melaporkan Reno jika tidak ada yang mendukungnya atau mempengaruhinya, " ucap kakek.


"Tetapi belum tentu Rani yang melaporkan Reno ke polisi pah, " sahut Pak Sugeng.


"Betul pah, bukankah ada dua laporan terhadap Reno. Yang pertama tindak kekerasan kepada anak kampung itu dan si Roy lalu yang kedua tuduhan tabrak lari yang dilakukan Reno hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Tuduhan kedua itu yang membuat mama takut pah. Sementara menyangkut Roy dan si Rani, mama yakin papa pasti bisa membereskan mereka berdua dengan mudah, " ucap Bu Sri kepada Pak Sugeng.


"Apakah ini kesalahan kita pah karena tetap membiarkan Rani menjadi bagian dari keluarga kita?, " tanya Pak Sugeng pada kakek.


"Tentu tidak Sugeng. Hal ini semua karena kesalahan putramu Reno sendiri yang tidak dapat mengontrol emosi dan kemarahannya. Sehingga mengakibatkan dirinya sendiri berasa dalam masalah seperti ini. Jika saja Reno itu tidak bersifat arogan dan mematuhi kita. Hal seperti ini tentu tidak akan terjadi padanya. Dan sekarang kita harus mencari tahu dimana keberadaan Rani sekarang. Setelah itu kita susun langkah selanjutnya untuk membebaskan Reno dari semua tuduhan kepadanya. Bagaimanapun caranya, " ucap kakek dengan wajah sangat serius.


Dan tidak lama kemudian dokter pun datang bersamaan dengan Pak Gukul.


Pak satpam mengantar dokter dan Pak Gukul masuk menuju ruang tamu untuk menemui Pak Sugeng dan Pak Suprapto.


Sesampainya di ruang tamu dokter dan Pak Gukul di sambut baik oleh oleh Pak Sugeng dan Pak Suprapto serta mempersilahkan mereka duduk.


"Baik pah, " sahut Mbak Riska yang sudah berdiri untuk menuntun mamanya menuju kamar.


"Mama sudah kuat untuk berdiri secara pelan-pelan?, " tanya Pak Sugeng kepada istrinya.


"Iya pah, " ucap Bu Sri pelan.


"Mama yakin?, " tanya Pak Sugeng dengan sedikit ragu.


"Iya pah, mama harus lekas pulih dan membaik. Mama ingin segera bertemu dengan Reno secepatnya, " ucap Bu Sri dengan matanya yang sudah berair karena menahan tangisnya.


"Ya sudah jika begitu. Ayo Ris pelan-pelan kita menuntun mama.Kita naik lift saja Riska supaya cepat, " ucap Pak Sugeng kepada Mbak Riska.


Mbak Riska pun mengangguk pelan.


"Mari dok ikut bersama kami, " ucap Pak Sugeng kepada dokter.


"Baik Pak Sugeng, " jawab dokter.


"Pak Gukul saya tinggal dulu sebentar. Bapak silahkan berbincang- bincang dengan papa dahulu. Papa akan menceritakan detail dari kronologi peristiwa yang telah menimpa Reno. Saya mengantar istri saya dahulu ke kamar supaya dokter dapat memeriksa keadaannya, " ucap Pak Sugeng kepada Pak Gukul yang sudah duduk di hadapan kakek.


"Iya Pak Sugeng, silahkan, " sahut Pak Gukul dengan santai.


Pak Sugeng dan Mbak Riska pun menuntun Bu Sri menuju kamar. Di ikuti dokter dari belakang. Mereka menuju lift untuk segera tiba di lantai atas tempat kamar tidur Pak Sugeng dan Bu Sri berada.


Sesampainya di kamar, Pak Sugeng dengan bantuan Mbak Riska membaringkan tubuh Bu Sri secara terlentang di atas ranjang tempat tidur. Perlahan Pak Sugeng dengan lembut memposisikan tubuh Bu Sri supaya merasa nyaman.Sementara Mbak Riska naik ke atas ranjang tempat tidur Bu Sri terbaring dan duduk di sampingnya.


Lalu Pak Sugeng bergeser dari samping Bu Sri dan berdiri seraya mempersilahkan dokter untuk memeriksa keadaan istrinya yang terlihat sedikit lemah dan pucat.


Dokter pun dengan segera memeriksa kondisi Bu Sri. Dan mengeluarkan semua alat perlengkapan yang ia letakkan dalam tas besarnya yang dibawa oleh dokter.


Pertama dokter memeriksa tekanan darah Bu Sri dengan alat tensimeter atau sphygmomanometer digital secara otomatis. Kemudian dokter memeriksa Bu Sri menggunakan stetetoskop dan meletakkannya pada dada dan perut Bu Sri.


Setelah beberapa menit kemudian dokter pun telah selesai memeriksa Bu Sri lalu memberikan resep obat kepada Pak Sugeng.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya dokter ?,"tanya Pak Sugeng dengan wajahnya yang cemas.


"Alhamdulillah istri bapak dalam keadaan baik-baik saja mungkin karena syok yang berlebihan sehingga mengakibatkan istri Pak Sugeng jatuh pingsan. Namun setelah saya memeriksa ternyata tekanan darah tinggi Bu Sri juga cukup tinggi yaitu 160/100 mmHg.Ini merupakan hipertensi (tekanan darah tinggi) tahapan 1.Dan harus sangat diwaspadai sekali Pak Sugeng.Sebab kondisi Bu Sri sudah memerlukan pengobatan karena sudah terjadi resiko kerusakan pada organ yang lebih tinggi dan dikhawatirkan akan memasuki hipertensi tingkat 2 jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, diusahakan Bu Sri jangan terlalu stress yang berlebihan karena kondisi stress itu dapat memicu tekanan darah menjadi tinggi.Dan bila stressnya semakin berat dalam waktu yang sangat lama kemungkinan Bu Sri akan mengalami hipertensi yang lebih parah lagi dan naik ke fase yang lebih serius. Lalu juga Bu Sri harus mengurangi kadar garam atau mengonsumsi makanan yang banyak mengandung garam itu harus dikurangi karena juga dapat meningkatkan tekanan darah menjaga berat badan tetap ideal dan yang terpenting rutin melakukan aktivitas fisik seperti olahraga,"ucap dokter menjelaskan kepada Pak Sugeng.


"Dan ini sudah saya berikan resep obat yang Pak Sugeng dapat tebus di apotek untuk ibu Sri meminumnya dan usahakan saat ini Bu Sri untuk memperbanyak istirahat dan jangan berpikir yang berlebihan. Saya kira cukup begitu ya Pak Sugeng.Kalau begitu saya permisi dulu,"ucap dokter lagi kepada Pak Sugeng.


"Baik dok terima kasih banyak,"balas Pak Sugeng.


"Sama-sama Pak Sugeng.Semoga keadaan


Bu Sri segera lekas membaik ya Pak,"sahut dokter lagi.


"Aamiin dok.Baiklah dok kalau begitu Mari saya antar dokter ke bawah," ucap pak Sugeng kepada dokter sambil mempersilahkan dokter berjalan duluan.


"Riska kamu temani mama dulu di sini .Papa akan mengantar dulu dokter ke bawah lalu menebus resep untuk mama mu. Dan biarkan mama mu beristirahat supaya tubuhnya menjadi lebih fresh dan fit kembali,"pinta Pak Sugeng lagi pada Mbak Riska.


"Baik pah,"sahut mbak Riska yang sedang duduk di samping Bu Sri.


"Mari dok,"ucap Pak Sugeng mengajak dokter untuk turun ke bawah.


Dan tidak lama kemudian Pak Sugeng pun turun ke bawah bersama dokter.


Lalu Pak Sugeng mengantar dokter sampai ke depan pintu masuk kediaman rumahnya.


Setelah itu Pak Sugeng berjalan kembali menuju ruang tamu di tempat kakek dan Pak buku yang sedang berbincang-bincang membahas tentang Kak Reno.


"Bagaimana kondisi istrimu sekarang Sugeng?," tanya kakek kepada Pak Sugeng.


"Sudah membaik pah dan sekarang Sri sedang beristirahat .Oh ya pah, Sugeng pergi ke apotek dulu sebentar untuk menebus resep yang dokter berikan kepada Sri .Supaya Sri segera meminumnya sehingga kondisi tubuhnya segera pulih dan membaik lagi,"ucap Pak Sugeng kepada kakek.


"Iya nak silahkan.Dan Kamu hati-hati di jalan.Papa sedang membahas rencana selanjutnya untuk membebaskan Reno dari tahanan,"ucap kakek pada Pak Sugeng.


"Iya pah,"sahut Pak Sugeng menatap wajah kakek.


"Pak Gukul mohon bantuannya dan tolong temani papa saya dahulu,"ucap Pak Sugeng lagi kali ini menatap wajah Pak Gukul.


"Tentu Pak Sugeng,"balas Pak Gukul sambil menundukkan kepalanya.


Setelah itu,Pak Sugeng pun berlalu pergi menuju halaman rumahnya mengendarai mobil pribadinya menuju apotek terdekat.


-----------------------------------------


Sementara itu, di kantor kepolisian Kak Reno sudah berada di sel tahanan.


Ia terus berteriak -teriak dan tidak dapat membendung luapan amarah akan rasa kekesalannya.


"HAH.....HAH.....,"teriak Kak Reno sambil memukul-mukul besi di sel tahanan dengan tangannya.


"Pak,lepaskan saya.Saya tidak bersalah.Bapak tidak tahu sedang berurusan dengan siapa kan?saya adalah putra dari Sugeng Suprapto.Dan bapak tidak bisa memperlakukan saya seperti ini.Bapak akan menyesal!,"teriak Kak Reno dengan sangat histeris sambil terus memukul-mukul besi sel tahanan.


Dan tanpa Kak Reno sadari, tangannya yang semula terluka. Kini mengeluarkan darah segar kembali dari tangannya akibat hantaman keras dari tangannya yang memukul besi di sel tahanan tanpa henti.


Kak Reno seakan tidak merasakan rasa sakit dan nyeri pada tangannya yang kembali terluka.


Kemarahan dan emosinya yang meledak-ledak seakan membuat dirinya semakin larut dan terbenam dalam pusaran rasa benci dan dendam yang teramat dalam kepada ustad Fariz,Kak Roy dan juga diriku.


Di hatinya hanya tersimpan kebencian dan pembalasan dendam.


Dia seakan tidak peduli dengan siapapun. Baginya semua orang itu berada rendah jauh di bawah kasta dirinya. Dengan sifat congkaknya iaa terus mengandalkan nama besar keluarga Suprapto untuk menjadi embel-embel menakuti dan menggertak semua orang agar tunduk di bawah perintahnya.


Tetapi kak Reno tidak menyadari bahwa di dunia ini semua tidak dapat terus berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan, dan yang dia kehendaki berdasarkan kemauannya atau permainan yang sengaja ia buat dan susun bersama keluarganya untuk menghancurkan kehidupan orang lain.


Sekarang ia terduduk lemas di dalam sel tahanan yang membatasi ruang lingkup dirinya dengan dunia luar.


Tubuhnya lemas seketika disertai pandangannya yang nanar dan tidak fokus.


Ia begitu sangat terpukul dan syok akan kejadian yang menimpa dirinya saat ini.


Kepalanya tertunduk.


Tetapi bukan untuk menyesali semua perbuatannya atau mengharapkan pengampunan dari sang Maha pencipta.


Dengan sorot tatapan matanya yang tajam ia terus berpikir.

__ADS_1


Bagaimana caranya agar ia secepatnya keluar dari jeruji besi tersebut dan segera membuat perhitungan kepada ustad Fariz Kak Roy juga diriku.


__ADS_2