
"Siapa yang menelpon Wir?," tanyaku kepada Wirda.
"Oh, Rere yang menelpon Ran,"jawab Wirda sambil duduk bersandar di sampingku di atas ranjang tempat tidur.
"Mengapa Rere menelepon dirimu,Wir?,"tanyaku ingin tahu.
"Karena Rere ingin mengetahui keberadaan Kak Roy sekarang," jawab Wirda.
" Memang apakah Rere sendiri dan Tante Desi tidak mengetahui keberadaan Kak Roy?," ucapku kepada Wirda.
"Rere dan Tante Desi tidak mengetahui keberadaan Kak Roy sekarang Ran.Pada saat menelpon diriku Rere mengatakan bahwa Kak Roy keluar dari rumah dalam keadaan yang sangat sedih dan begitu tertekan. Sampai sekarang Kak Roy tidak dapat dihubungi Ran.Hal itulah yang membuat Tante Desi begitu sangat khawatir dan sangat mencemaskan keadaan Kak Roy. Begitu juga dengan Rere," jelas Wirda kepadaku.
" Ya sudah Wir, sebaiknya coba kamu menghubungi Kak Roy sekarang atau mencoba mengirimkan pesan untuk Kak Roy. Siapa tahu Kak Roy membalas pesan atau telepon darimu," pintaku kepada Wirda.
" Iya Ran, aku coba sekarang ya," jawab Wirda.
Aku duduk menunggu Wirda yang sedang mencoba menghubungi Kak Roy dan mengirimkan pesan kepada Kak Roy. Untuk sesaat aku juga merasakan rasa cemas dan khawatir terhadap keadaan Kak Roy karena terakhir kali saat aku ingin berbicara dengannya. Kak Roy tidak menjawab kata-kataku dan mematikan teleponnya. Entah apa yang sedang terjadi kepada Kak Roy. Perasaanku yang gusar kembali timbul memikirkan keadaannya. Semoga kak Roy baik-baik saja ya Allah pintaku di dalam hati. Seraya menarik nafas pelan untuk menenangkan hatiku agar tidak larut dalam kecemasan yang berlebihan memikirkan keberadaan Kak Roy sekarang.
"Nomornya Kak Roy tidak bisa dihubungi Ran.Diluar jangkauan," ucap Wirda kepadaku.
" Apa mungkin Kak Roy mematikan teleponnya ?atau daya baterainya habis ya Wir?," ucapku kepada Wirda mencoba menerka keadaan Kak Roy.
"Mungkin saja Ran.Tetapi kenapa Kak Roy bertingkah aneh seperti ini ya Ran?,"tanya Wirda kepadaku.
"Aku tidak tahu Wir.Apa yang sebenarnya yang membuat Kak Roy menjadi tertekan.Jujur aku sangat mengkhawatirkan keadaannya Wir.Selama ini Kak Roy tidak pernah membiarkan diriku sendiri merasakan kesedihan.Namun,sekarang aku tidak dapat melakukan sesuatu untuk menghiburnya bahkan menemaninya dalam kondisinya yang sedang sangat bersedih seperti sekarang ini,"ucapku dengan penuh rasa cemas.
" Iya Ran, aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku pun juga mencemaskan Kak Roy tetapi kamu jangan terlalu banyak memikirkan keadaan Kak Roy. Kamu harus fokus untuk memikirkan keadaanmu terlebih dahulu ya Ran. Karena aku takut jika nanti kamu terlalu banyak memikirkan sesuatu hal akan berpengaruh untuk kesehatanmu,"pinta Wirda kepadaku sambil memegang tanganku.
Aku pun mengangguk mendengarkan apa yang Wirda katakan.
"Wirda,coba kamu kirimkan Kak Roy pesan saja . Siapa tahu jika sekarang Kak Roy tidak mengangkat teleponnya.Kak Roy dapat membaca pesan darimu," saranku kepada Wirda.
" Iya Ran akan aku coba sebentar ya," balas Wirda.
Lalu Wirda kembali mengambil telepon genggam miliknya yang ia letakkan di atas kasur dan mulai mengirimkan pesan untuk Kak Roy
Kak Roy ada dimana? Tolong segera hubungi Wirda jika kakak membaca pesan dari Wirda.
" Sudah Ran,kita tinggal tunggu saja Kak Roy membalas pesan dariku. Dan semoga saja dia benar-benar membaca dan membalasnya .Ya sudah kalau begitu kamu istirahat dulu ya dan jangan memikirkan sesuatu hal yang dapat mengganggu kesehatannya," pinta Wirda kepadaku.
" Iya Wir," jawabku seraya membaringkan tubuhku ke dalam ranjang tempat tidur.
"Aku juga ingin rebahan Ran.Badanku rasanya juga capek dan pegal- pegal.Ughhhhhh.....arghhh..," ucap Wirda sambil mengeliatkan tubuhnya lalu ikut tiduran di sampingku.
" Oh ya Ran ini telepon genggam milikku.Letakkan saja di meja di samping ranjang tempat tidurmu.
Siapa tahu nanti Kak Roy menghubungiku dan aku tertidur sehingga tidak mendengarnya dan Rani dapat mengangkatnya ya,"ucap Wirda sambil memberikan telepon genggamnya ke tanganku.
" Iya Wir.Ya sudah kamu juga tidur dulu saja,"kataku kepada Winda.
"Ughhhhhh.....waghhh...Iya Ran aku sangat mengantuk sekali ,"jawab Winda.
Dan tidak lama setelah itu terdengar dengkuran kecil dari suara Wirda yang sudah tertidur pulas. Aku tersenyum mendengarnya .Ternyata dia benar-benar sangat kelelahan dan keletihan.
Dan disaat aku pun ingin meletakkan telepon genggam milik Wirda di samping meja tempat tidurku. Tiba-tiba telepon genggam milik Wirda berbunyi berdering.
Karena aku tidak ingin Wirda yang sudah tertidur pulas terganggu akan bunyi suara telepon genggam miliknya. Maka dengan segera aku mengangkat seseorang yang sedang menelepon Wirda.
" Halo assalamualaikum," ucap seseorang dari sambungan telepon yang suaranya sedikit tidak asing bagiku.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh .Maaf ini siapa ya?," tanyaku pelan untuk mengetahui siapa yang sedang menelpon Wirda.
" Ini Kak Roy. Wir," jawab Kak Roy dari sambungan telepon.
DEG...
Jantungku berdebar seketika mendengar suara Kak Roy dan setelah mengetahui jika yang menelpon itu adalah dirinya.
Dari suaranya yang kudengar Kak Roy seakan habis menangis dengan sangat keras .Karena suaranya begitu terdengar parau dan berat tidak seperti suara Kak Roy biasanya.
Aku masih terdiam menunggu Kak Roy mengatakan sesuatu. Aku takut jika aku berbicara dia akan menutup sambungan teleponnya. Entah mengapa ia melakukan hal itu kepadaku. Aku merasa sepertinya Kak Roy ingin menghindar dariku dan itu membuatku merasa sangat tidak nyaman dan sedikit merasa sedih akan sikapnya. Apakah Kak Roy marah kepadaku atau dia merasa kesal kepadaku pikirku di dalam hati. Aku sungguh tidak mengerti akan sikap aneh yang Kak Roy tunjukkan secara tiba-tiba seperti ini.
__ADS_1
Dan disaat aku terdiam dan larut dalam pikiranku memikirkan Kak Roy.
Tiba-tiba Kak Roy pun berbicara lagi dari sambungan telepon yang kami lakukan.
" Wirda kenapa kamu diam dan tidak berbicara? Oh ya maaf terakhir kali kamu menelpon .Kakak segera mematikan telepon darimu.Saat Rani berbicara kepada kakak. Kakak merasa sangat gugup dan tidak bisa mengatakan sesuatu kata pun kepada Rani, Wir .Dan rasanya kakak tidak sanggup untuk berkata-kata kepadanya, bahkan untuk menemuinya. Oh ya Wir ,tadi kakak ke rumahmu tetapi tidak ada orang sama sekali dan kosong. Sekarang kamu ada di mana?,"tanya Kak Roy.
Mendengar perkataan dari Kak Roy .Aku pun bingung harus mengatakan apa. Jika ia mendengar suaraku dan tahu jika aku yang berbicara maka ia akan segera menutup teleponnya. Dan aku tidak tahu mengapa ia berbuat seperti itu dan tidak mau berbicara kepadaku. Aku terus bertanya-tanya dalam hatiku. Apakah aku melukai hati kak Roy hingga dia enggan dan tidak dapat mau mengatakan satu kata pun kepadaku bahkan tidak sanggup untuk menemuiku. Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada dirinya.Sehingga ia bersikap aneh seperti itu .Jika aku membangunkan Wirda. Aku kasihan kepada Wirda karena ia baru saja tertidur.Lagi pula Wirda begitu kelelahan dan sangat merasa letih sekali. Lalu aku terdiam beberapa saat untuk memikirkan apa yang harus aku lakukan.
"Halo... halo Wirda kenapa kamu diam? Halo Wir !,"panggil Kak Roy dari balik sambungan telepon.
Mendengar Kak Roy memanggil-manggil seperti itu. Aku pun spontan langsung menjawab ucapan dari Kak Roy tanpa berpikir lagi apakah dia akan menutup teleponnya atau mau berbicara lagi kepadaku.Tetapi setidaknya aku berusaha untuk melakukan hal yang terbaik yang dapat aku lakukan.
" Iya Kak Roy. Ini Rani .Dan Rani harap Kak Roy jangan mematikan sambungan telepon ini. Rani sangat mohon kepada Kak Roy," ucapku dengan pelan dan lirih.
Tiba-tiba suara kak Roy pun menghilang tetapi sambungan telepon antara diriku dan Kak Roy masih terhubung.
" Kak Roy!,"panggilku pelan.
" Rani tidak tahu mengapa Kak Roy tidak ingin berbicara dengan Rani. Tetapi Ya sudahlah.Jika Kak Roy tidak mau berbicara dengan Rani tidak apa-apa .Mungkin Rani melakukan kesalahan atau melukai hati kak Roy dan untuk itu Rani sangat meminta maaf kepada Kak Roy. Rani tahu meskipun Kak Roy tidak ingin berbicara dengan Rani. Saat ini Kak Roy mendengar apa yang Rani katakan," ucapku pelan sambil menghela nafas pendek.
"Apa kesalahan yang Rani lakukan Kak? hingga Kak Roy tidak ingin berbicara lagi kepada Rani.Bahkan kakak mengatakan jika tidak sanggup lagi untuk berbicara dengan Rani serta untuk menemui Rani .Apakah Kak Roy sudah membenci Rani bahkan merasa jijik untuk menemui Rani Kak? tetapi ya sudahlah semua itu adalah haknya Kak Roy. Rani tidak dapat memaksanya. Rani hanya mengkhawatirkan keadaan Kak Roy .Kak Roy berada di mana sekarang? apakah Kak Roy baik-baik saja?,"tanyaku dengan suara pelan dan ingin menangis.
" Maafkan Rani ya Kak..
karena Rani tidak dapat menghiburmu atau menemani Kak Roy di saat Kak Roy merasa sangat bersedih seperti sekarang ini. Maafkan Rani Kak Roy..... Ya sudah jika Kak Roy tidak mau berbicara dengan Rani.Rani tutup saja telepon ini ,"ucapku pelan dan sambil ingin menekan tombol untuk mematikan telepon.
Tetapi sebelum aku sempat menekan tombol mematikan telepon.Terdengar suara Kak Roy lirih dan sangat pelan memanggil namaku.Dengan ucapannya yang begitu lembut dalam suaranya yang parah.
" Ran...!," ucap Kak Roy.
Tetapi aku terdiam mendengar Kak Roy yang memanggil namaku. Rasanya dalam suaranya yang memanggil namaku ada rasa beban yang mengganjal di hatinya. Ada kepiluan dan kegetiran dalam suaranya yang memanggil namaku. Dan aku seakan tidak percaya jika sekarang Kak Roy mau berbicara lagi denganku.
" Ran maafkan kakak yang sudah membuatmu khawatir Ran.Maafkan kakak yang sudah bersikap seperti anak kecil padamu. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun terhadap Kakak.Dan kamu tidak pernah menyakiti hati kakak sekalipun. Kakak hanya merasa sangat kesal, jijik dan marah terhadap diri kakak sendiri .Kakak merasa sangat kotor dan hina Ran.Rasanya kakak ingin segera menemuimu ,berlari dan menangis meluapkan semua kesedihan yang mengganjal di hati kakak sekarang ini. Lalu menceritakan semua kegusaran yang kakak rasakan.Tetapi Kakak tidak sanggup untuk mengatakan semuanya kepadamu Ran. Hati kakak terasa berat, pikiran kakak terasa kacau. Rasanya sangat menyakitkan dan begitu menyesakkan dada kakak,Ran.Hiks...Hiks...Hiks...," ucap Kak Roy kepadaku lalu terdengar suaranya yang menangis.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Kak Roy dan mendengar Kak Roy menangis seperti itu. Hatiku terasa tersayat.Apa yang sebenarnya terjadi kepada Kak Roy, batinku di dalam hati. Aku begitu sangat mengkhawatirkannya dan takut akan terjadi hal yang buruk kepadanya. Karena saat ini dia seorang diri kesepian, sendirian dan dalam keadaan yang sangat bersedih seperti itu.
" Kak Roy.... Kak Roy mendengarkan apa yang Rani katakan !,"panggilku kepada Kak Roy.
Huhuhuhu.....Huhuhuhuhu .....Hiks..Hiks...
" Kak Roy.... Kak Roy ...Kak Roy!. Tolong jawab Rani !Kak Roy....!Tolong jangan menangis !Kak Roy .....Tolong jawab Rani!," pintaku kepada Kak Roy dengan terus memanggil namanya dengan rasa kecemasan yang sangat menderaku saat ini.
" Ran Maafkan kakak.... Ran. Maafkan kakak....Huhuhuhu.....Huhuhuhuhu .....Hiks..Hiks...," ucap Kak Roy sambil menangis.
Aku yang mendengar Kak Roy menangis seraya merintih minta maaf kepadaku membuat hatiku menjadi semakin gusar dan sangat mencemaskan Kak Roy. Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya sehingga ia menjadi begitu sangat tertekan dan bersedih seperti sekarang ini, pikirku di dalam hati.
" Kak Roy kenapa kak Roy meminta maaf kalau tidak melakukan kesalahan. Rani minta Kak Roy jangan menangis dan bersedih seperti sekarang ini. Apakah Kak Roy juga ingin melihat Rani menangis karena Kak Roy menangis? Apakah Kak Roy juga ingin melihat Rani bersedih karena mendengar Kak Roy terus menangis tiada henti seperti sekarang ini?," ucapku kepada Kak Roy.
" Tidak Ran, kakak tidak ingin melihatmu bersedih. Kakak tidak ingin melihatmu menangis. Kakak tidak ingin melihat air mata di raut wajahmu itu Ran. Kakak hanya ingin melihatmu bahagia dan selalu tersenyum,Hiks...Hiks...Hiks,"ucap Kak Roy masih dalam kondisi menangis.
" Maka jika Kak Roy ingin melihat Rani tersenyum.Kak Roy harus berhenti menangis karena kebahagiaan Rani adalah dapat melihat Kak Roy juga bahagia," ucapku pelan menjawab perkataan Kak Roy.
" Ran, kakak merasa sangat berdosa .Kakak merasa sangat kotor .Kakak benar-benar merasa sangat jijik dengan diri Kakak sendiri,Hiks...Hiks...Hiks ,"ucap Kak Roy dengan suaranya yang berat, kesal, penuh amarah dan rasa tertekan terhadap dirinya.
" Mengapa Kak Roy berkata seperti itu. Memangnya apa yang telah kakak lakukan sehingga Kak Roy sangat membenci diri kakak sendiri ?,"tanyaku kepada Kak Roy. Maka mendengar pertanyaanku Kak Roy pun kembali menangis tersedu-sedu dan tidak menjawab pertanyaanku.
Huhuhuhu.....Huhuhuhuhu .....Hiks..Hiks...
Tangis Kak Roy pecah lagi dia seakan-akan merasa sangat sakit sekali hatinya dan begitu terpukul. Aku yang mendengar isak tangis Kak Roy tidak dapat membendung air mataku .Aku semakin mengkhawatirkannya. Aku semakin takut jika Kak Roy kenapa-napa. Aku takut jika ia melakukan hal yang tidak terduga yang dapat membahayakan dirinya sendiri.
"Kak Roy !,"panggilku sambil menangis dan sedikit berteriak.
Mendengarkan suaraku .Wirda pun terkejut dan terbangun dari tidur pulasnya. Lalu dia memegang tanganku.
" Ran, kenapa kamu berteriak memanggil Kak Roy? apa yang terjadi? dan Kenapa kamu menangis seperti ini ?,"tanya Wirda gelagapan dan memberondong pertanyaan kepadaku.
"Hiks...Hiks...Hiks..Kak Roy yang menelepon Wir.Dan Kak Roy menangis tidak berhenti.Aku mencemaskan keadaannya Wir.Hiks...Hiks...Kak Roy begitu sangat tertekan dan frustasi Wir.Aku takut Kak Roy kenapa- napa," ucapku mencoba menjelaskan semuanya kepada Wirda.
" Ya Allah Ran. Ya sudah mana teleponnya biar aku yang berbicara kepada Kak Roy. Siapa tahu dia mau memberitahukan keberadaannya sekarang kepadaku ,"ucap Wirda sambil mengusap air mata di wajahku dan mengambil telepon dari tanganku.
" Halo Kak Roy ini Wirda. Kak Roy ada di mana ?Tolong jawab Kak Roy! Kak Roy jangan seperti ini kasihan Rani juga ikut bersedih," ucap Wirda kepada Kak Roy.
__ADS_1
Huhuhuhu.....Huhuhuhuhu .....Hiks..Hiks...
Suara Kak Roy terdengar semakin kencang menangisnya dari pengeras suara yang Wirda nyalakan dari telepon genggam miliknya.
" Jika Kak Roy terus bersedih seperti ini dan Rani ikut bersedih.Kak Roy secara tidak langsung telah membuat kesehatan Rani juga terganggu .Apakah Kak Roy juga mau jika Rani drop dan kembali jatuh sakit," gertak Wirda kepada Kak Roy.
Maka Kak Roy yang mendengar ucapan Wirda pun lalu menurunkan tempo isak tangisnya.
" Iya Wir.Maafkan kakak.Karena kakak terlalu terbawa perasaan akan kepedihan yang kakak rasakan ,"ucap Kak Roy.
"Iya Kak Roy. Wirda tidak tahu apa yang terjadi kepada Kak Roy. Tetapi Wirda minta Kak Roy jangan bertingkah seperti ini. Kasihan Rani melihatnya sampai menangis seperti ini.Dan Rani sangat mencemaskan keadaan Kak Roy ,"ucap Wirda kepada Kak Roy.
" Iya Wir.Maafkan kakak,"ucap Kak Roy dengan nada menyesal dalam suaranya yang parah.
" Oh ya sekarang kakak lagi berada di mana? Apakah kita bisa bertemu ?,"tanya Wirda kepada Kak Roy.
"Sekarang Wirda dan Rani ada di mana?," ucap Kak Roy berbalik bertanya kepada Wirda.
"Wirda dan Rani berada di kediaman rumah Kak Fariz,Kak Roy ,"jawab Wirda.
" Kenapa kalian berdua berada di rumahnya Kak Fariz?,"tanya Kak Roy dengan suaranya masih sesunggukkan akibat menangis. "Sebab mbak Riska ingin berusaha membawa Rani bersamanya secara paksa Kak. Wirda takut Mbak Riska akan melakukan hal-hal yang buruk terhadap Rani dan menyakiti Rani kembali .Untuk itu Wirda segera menghubungi Kak Fariz dan menceritakan semua kejadian. Dan Kak Fariz segera membawa Rani ,Wirda,Bik Inah dan Bik Siti menuju kediamannya Kak Fariz," jelas Winda kepada Kak Roy.
Kak Roy pun terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Wirda.
" Bagaimana kalau Kak Roy ke rumah Kak Fariz saja dan kita bisa mengobrol kak. Lagi pula Rani juga sangat ingin bertemu dengan Kak Roy. Dia begitu sangat mengkhawatirkan keadaan Kak Roy. Bagaimana Kak Roy ?,"tanya Wirda kepada Kak Roy.
Kak Roy pun terdiam belum merespon apa yang Wirda katakan.
" Ayolah Kak Roy! lebih baik kakak kemari saja .Setidaknya Kak Roy dapat menceritakan apa yang mengganjal di hati Kak Roy sekarang. Dan Rani juga supaya tidak cemas memikirkan Kak Roy. Bagaimana Kak ?,"tanya Wirda.
Untuk beberapa saat Kak Roy terdiam tidak menjawab pertanyaan dari Wirda. Kemungkinan Kak Roy sedang berpikir untuk menerima ajakan dari Wirda atau menolaknya. Dan Wirda pun menunggu jawaban dari Kak Roy .Sementara aku mendengarkan pembicaraan mereka dari loudspeaker yang Wirda nyalakan.
"Baiklah Wir.Kalau begitu kamu kirimkan alamat rumah Kak Fariz kepada kakak ya,"jawab Kak Roy.
Mendengar Kak Roy menjawab pertanyaan Wirda dan mau datang ke rumah Ustad Fariz. Aku merasa sedikit lega dan senang. Setidaknya Kak Roy jika kemari maka akan ada Pak Budi, Ustad Fariz,dan Kak Rafa yang dapat membantunya melewati kesedihan yang ia alami sekarang. Dan Kak Roy tidak akan semakin larut dalam kepedihan ia rasakan karena dikelilingi orang- orang baik berenergi positif.
" Iya Kak Roy, setelah ini Wirda akan kirimkan alamatnya Kak Fariz kepada Kak Roy. Tetapi ingat Kak Roy harus berhati-hati dan jangan terbawa suasana akan kesedihan.Tolong ingat Rani dia sangat mencemaskan Kak Roy," ujar Wirda mengingatkan Kak Roy.
"Iya baik Wirda.Kakak tunggu kamu mengirimkan alamat rumah Kak Fariz,"ucap Kak Roy dengan nada suaranya yang jauh lebih baik sekarang.
" Iya Kak, kalau begitu ya sudah ya.Wirda tutup dulu teleponnya dan Kak Roy jaga diri baik-baik dan hati-hati di jalan.
Assalamualaikum ," tutur Wirda mengakhiri sambungan telepon dengan Kak Roy.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh ,"sahut Kak Roy membalas salam dari Winda.
Tut...Tut...Tut...
Dan telepon pun terputus.
Lalu Wirda dengan segera mengirimkan share location alamat rumah Kak Fariz kepada Kak Roy.
" Sudah Ran kamu jangan bersedih dan me mengkhawatirkan Kak Roy. Insya Allah Kak Roy akan segera kemari .Dan kita dapat menanyakan kepadanya apa perihal yang membuatnya menjadi begitu sangat tertekan dan bersedih seperti itu ,"ucap Wirdasambil menggenggam tanganku.
" Iya Wir,aku berharap juga begitu .Semoga Kak Roy baik- baik saja dan dia mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya ,"ucapku membalas perkataan Wirda .
"Ya sudah Ran,sambil menunggu Kak Roy lebih baik kamu beristirahat dulu dan aku juga ingin rebahan lagi karena badanku masih terasa capek," sahut Wirda yang langsung membenamkan tubuhnya fi dalam ranjang.
" Iya Wir silahkan," kataku.
Dan tidak lama setelah itu terdengar lagi dengkuran pelan dari suara Wirda yang sudah tertidur pulas kembali. Ternyata Wirda benar-benar merasa keletihan dan sangat mengantuk. Sementara aku masih duduk bersandar di ranjang tempat tidur sambil memikirkan keadaan Kak Roy.
Semoga kak Roy benar-benar akan mau menuju ke rumah Ustad Fariz harapku di dalam hati.
Dan aku masih duduk terdiam dalam pandanganku yang gelap dan sesekali hanya terlihat noktah-noktah cahaya kecil yang menjalar di peredaran darah di sekeliling area mataku.
Aku masih memikirkan Kak Roy dan seakan tidak percaya jika Kak Roy begitu menjadi lemah seperti sekarang ini. Setahuku selama diriku mengenal Kak Roy dia adalah sosok laki-laki yang kuat dan tidak pernah sedikitpun menampakkan kesedihannya kepada semua orang. Tetapi kali ini ia seakan-akan hancur dan begitu sangat terluka oleh sesuatu hal yang aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
Suara tangis Kak Roy masih menggema di pikiranku. Sesekali suaranya itu menjalar ke hatiku dan menyayat rasa kepedihanku untuk selalu memikirkan kondisinya. Aku terus bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Hal apa yang membuat Kak Roy menjadi begitu sangat terpukul dan frustasi seperti itu.
Kak Roy semoga kamu baik-baik saja, ucapku lirih. Sambil menantikan kehadiran Kak Roy ke kediaman rumah Ustad Fariz. Aku ingin mendengarkan suara Kak Roy secara langsung dan memastikan bahwa keadaannya dalam kondisi yang baik-baik baik saja.
__ADS_1
Aku sangat berharap dalam rasa kecemasan yang mendera hatiku saat ini.