
Pesta acara ngunduh mantu telah usai. Kami semua tidak pulang ke kediamaan Wirda atau keluarga Imandar, tetapi dari pihak dua anggota keluarga terdekat menginap di hotel ini, tempat berlangsungnya acara ngunduh mantu yang digelar oleh pihak keluarga Imandar di hotel bintang lima milik keluarga mereka. Dari pihak keluarga Ustad Fariz telah menyiapkan kamar di hotel untuk beristirahat setelah acara selesai, sebab keadaan sudah bertambah malam, sesuai dengan prediksi Ummah bahwa acara akan selesai sampai tengah malam sehingga tidak memungkinkan pihak kedua keluarga untuk pulang karena sudah sangat kelelahan. Oleh karena itu, sebelum acara digelar Ummah sudah menyiapkan beberapa kamar untuk ditempati masing-masing kedua keluarga beristirahat selepas acara selesai. Sekaligus menyiapkan kamar pengantin untuk Kak Rafa dan Wirda.
Berbeda dengan dekorasi tempat diselenggarakannya pesta acra ngunduh mantu yang sangat terkesan mewah dan meriah sekali. Namun, tidak untuk kamar pengantin yang Ummah dekorasi secara sederhana dan privat.Dengan tujuan Ummah agar malam pertama Kak Rafa dB Wirda lebih intim dan sangat berkesan.
Sebab kamar pengantin merupakan tempat pertama pengantin baru menghabiskan malam sebagai sepasang suami istri.
Ummah mendesain kamar pengantin untuk Kak Rafa dan Wirda dengan menciptakan suasana temaram.Dimana Ummah dengan bantuan pihak pegawai hotel mengaplikasikan lilin aromaterapi dengan aroma musk agar suasana lebih romantis dan warm sebagai sumber penerangan alternatif, yang diletakkan di atas wadah kaca supaya lelehannya tidak mengotori lantai.
"Cahaya temaram dari lilin akan menciptakan nuansa intim dan hangat bagi Rafa dan Wirda, " ujar Ummah.
Ummah juga menghias bunga di sekeliling pilar tempat tidur, di kepala tempat tidur, maupun menebar kelopak bunga mawar merah di atas ranjang tempat tidur pengantin dan juga di sepanjang jalan menuju tempat tidur.
***
Setelah berfoto bersama Kak Rafa dan Wirda, kami semua yang sudah merasa kelelaham segera menuju kamar di hotel yang telah disiapkan. Begitu pun diriku yang langsung bergegas membersihkan tubuhku dan segera berganti pakaian dengan gamis polos kombinasi dua warna pink dan hitam. dan ku padukan dengan ditambahkan dengan khimar warna senada dengan gamis yaitu soft pink.
Aku masih belum mengantuk tetapi tubuhku terasa lelah. Kemudian aku duduk pada kursi di beranda hotel memandangi langit malam yang bertaburan bintang.
Hari yang panjang dengan deretan acara yang membuatku begitu letih, namun penuh bahagia sebab sahabatku Wirda sudah menemukan belahan jiwanya dengan seorang imam yang tepat untuk membimbing dirinya menuju surga Nya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bik Siti masuk ke dalam kamar dan mendekatiku.
"Nak Rani ada Nak Aisyah ingin berbicara dengan Nak Rani, " kata Bik Siti memberitahukan kedatangan Kak Aisyah.
Kenapa lagi dengan Kak Aisyah. Apa lagi yang ingin ia katakan kepadaku, batinku sambil berpikir.
"Hmm, ya sudah Bik. Ajak saja Kak Aisyah masuk kemari, " ucapku pada Bik Siti.
"Oh, ya Baik Nak Rani. "
Bik Siti kemudian pergi menuju pintu dan mempersilahkan Kak Aisyah untuk masuk menemui diriku di beranda.
"Assalamu'alaikum Dek Rani, " sapa Kak Aisyah ramah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawabku sambil memandang kedatangan Kak Aisyah yang sudah berada di dekatku.
"Silahkan duduk Kak Aisyah, " ucapku.
"Iya.Terima kasih ya Dek Rani, saya kira Dek Rani sudah tidur, tetapi setelah saya tanya kepada Bik Siti ternyata Dek Rani sedang duduk santai. Oh ya apakah kedatangan kakak menganggu Dek Rani?, " tanya Kak Aisyah memandang diriku.
"Tidak Kak, " jawabku singkat.
Aku pun melihat ke arah Kak Aisyah lekat untuk menunggu akan maksud kedatangannya menemui diriku, tetapi setelah cukup lama ia terdiam lisanku terasa gatal untuk menanyakan maksud dan tujuannya lagi untuk berbicara kepada diriku.
"Hmm, apa yang membawa Kak Aisyah datang menemui Rani? apakah hal ini ada hubungannya lagi dengan Ustad Fariz?, " tanyaku tanpa basa-basi.
Kak Aisyah yang semula tertunduk, lalu mengangkat kepalanya dan memandang diriku. Tidak berapa lama ia pun mengangguk pelan.
"Ada apa lagi dengan Ustad Fariz kak?, " tanyaku dingin.
Kak Aisyah lalu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati pembatas pagar besi, ia meletakkan kedua tangannya pada besi silver sambil menatap ke arah langit.
"Tadi saat sesi foto, kakak melihat bagaimana kedekatan Dek Rani dan Ustad Fariz juga dengan keluarga beliau. Jujur hal itu membuat kakak merasa tidak nyaman dan terluka Dek. "
Aku pun berdiri dan mendekati Kak Aisyah.
"Lalu, Kak Aisyah menginginkan apa dari Rani?, " tanyaku tajam.
Kak Aisyah menoleh ke arahku dan menatap wajah ku tajam.
"Bukankah sebelum nya kakak meminta Dek Rani untuk menjauh dari Ustad Fariz dan keluarganya, tetapi mengapa Dek Rani tetap tidak melakukannya?, " ucap Kak Aisyah dengan tatapan yang tidak suka mengarah kepada diriku.
__ADS_1
"Maafkan Rani Kak Aisyah, tetapi menurut Rani permintaan Kak Aisyah itu tidak beralasan logis. "
"Apa maksud ucapanmu Dek Rani?, " ucap Kak Aisyah sedikit membentak.
Aku pun memandang Kak Aisyah dengan wajah tenang ku.
"Kak Aisyah tentunya lebih memiliki pemahaman yang sangat baik dan jauh lebih mengerti akan ajaran agama kita lebih dari pada Rani."
"Jangan bertele-tele Dek Rani langsung saja pada intinya, " ucap Kak Aisyah kasar.
Hal ini sungguh membuat diriku cukup terkejut akan tutur kata Kak Aisyah yang jauh berbeda dari yang ku kenal, kini ia lebih terlihat arrogant dan kasar.
"Kenapa diam Dek Rani? Ayo cepat katakan!, " ucap Kak Aisyah lagi kepadaku.
Aku pun berusaha bersikap tenang menghadapinya.
"Kak Aisyah meminta ku untuk menjauh dari Ustad Fariz dan keluarganya kan?. "
"Iya, benar, " jawab Kak Aisyah memandang tajam kepadaku.
"Dan Rani tidak bisa melakukannya, " kataku.
Kak Aisyah terlihat kesal.
"Mengapa tidak bisa? apakah Dek Rani juga mencintai Ustad Fariz sama seperti kakak, HAH!, " ucap Kak Aisyah sedikit berteriak.
"Astaghfirullah, bisa-bisanya kakak berpikir seperti itu. Bagi Rani keluarga Ustad Fariz sudah seperti keluarga Rani sendiri kak, dan jika Kak Aisyah meminta Rani untuk menjauh dari keluarga Rani maka sama saja. Rani memutuskan silaturahmi terhadap keluarga Rani sendiri. Silaturahmi merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala serta merupakan usaha untuk mendapatkan keridaan Allah Ta’ala, karena Allahlah yang memerintahkan kita untuk melakukannya.Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu; Ma min dzanbi aj'daru an yuajjalalalllahu
ta'ala lisohibihi aluqubat fi alddunya -
ma ama yaddakhiru lah fi alakhirot - mitlul baghi waqotiati arrrohim.
"Tetapi keluarga Ustad Fariz bukanlah keluarga mu Dek Rani, " jawab Kak Aisyah.
"Dan Kak Aisyah juga bukan kerabat Ustad Fariz yang berhak melarang Rani dekat dengan keluarga mereka, " bantah ku.
"Mengapa kamu tidak bisa mengerti perasaan kakak Dek, " ucap Kak Aisyah dengan kesal.
"Kak Aisyah yang egois dan tidak mau mengerti keadaan. Mengapa Kak Aisyah harus takut dengan keberadaan Rani. Jofoh itu tidak akan kemana-mana Kak Aisyah.
Apa yang sudah ditakdirkan untuk kita, sekeras atau sekuat apapun orang atau hal lain menghalangi atau merampasnya, itu akan tetap jadi milik kita.Kemana pun kita pergi, berputar, terbang, berlayar, terlempar, terhempas, pada akhirnya kita akan kembali untuk menetap bersama jodoh kita, karena Allah yang telah menjaga dan menetapkannya menjadi pasangan kita. Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala memiliki caranya sendiri untuk memilihkan dan mendekatkan jodoh bagi setiap makhluknya.Begitu pula dengan Kak Aisyah, sehingga tidak perlu merasa takut dan cemburu kepada Rani. Maka tetaplah Kak Aisyah berikhtiar dan bertawakal, agar Allah segera menghijabah keinginan kakak.
Sebab takdir itu InsyaAllah dapat diusahakan dan bukan qadar yang segala sesuatunya tidak bisa berubah dari ketetapannya."
Kak Aisyah diam mendengarkan kata-kata ku.
Aku kira Kak Aisyah memahami akan perkataan ku. Tetapi sebaliknya ia dengan marah mendorong tubuhku, hingga membuatku terjatuh dan kepalaku terbentur pagar besi.
"Auwww, " teriakku.
"Ini juga wujud ikhtiar yang kulakukan untuk mendapatkan Ustad Fariz Dek, " ucapnya dengan marah.
"Nak Rani!, " teriak Bik Siti.
"Rani, ya Allah nak, " pekik Ummah.
"Astaghfirullah, Dek Rani, " ucap Ustad Fariz cemas.
Kak Aisyah terkejut dan ketakutanmelihat kedatangan Ummah , Bik Siti dan Ustad Fariz.
__ADS_1
Ummah dan Bik Siti dengan cepat menolong diriku untuk berdiri.
"Se... Se.. Sejak kapan kalian disini?, " tanya Kak Aisyah dengan nada suara bergetar.
Ummah terlihat sangat marah.
"Sejak kamu datang menemui Rani, kami bertiga sudah ada disini. "
"Ja.. Jadi... Kalian semua mendengarkan semua apa yang aku bicarakan dengan Rani?, " tanya Kak Aisyah takut.
Ummah terlihat melotot.
"Iya semuanya, Ummah benar-benar tidak menyangka jika gadis yang terlihat sholehah seperti dirimu, dapat berbuat kasar kepada Rani seperti ini. Attitude mu tidak terpuji Aisyah. Bisa-bisanya kamu menyuruh Rani menjauh dari Fariz dan keluarga Ummah. Memangnya kamu siapa? Kamu bukan siapa-siapa di keluarga kami, kamu hanya seorang pegawai yang tidak mempunyai hak untuk mengatur kehidupan Fariz dan juga keluarga Ummah. "
Ustad Fariz meminta Bik Siti untuk membawaku ke dalam dan meminta Kak Aisyah untuk pergi, tetapi Kak Aisyah tetap saja keras kepala dan semakin membuat Ummah marah.
"Ummah sudah cukup, kita fokus saja kepada Rani, " pinta Ustad Fariz.
"Tidak Fariz, Aisyah sudah keterlaluan kepada Rani, " kata Ummah dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Ummah, Fariz tahu. "
"Tidak nak, sekali ini biarkan Ummah untuk menasehati Aisyah, sekarang kamu pergi dan lihat kondisi Rani, " pinta Ummah.
Ustad Fariz pun mengangguk dan segera melihat keadaan ku di dalam yang sedang di bantu Bik Siti membersihkan darah yang mengalir di keningku.
Sementara di beranda Kak Aisyah masih bersikap keras kepala dan terus mengeluarkan kata-kata pembelaannya.
"Lalu apa bedanya Rani dengan saya Ummah. Dia juga orang asing untuk Ustad Fariz dan keluarga Ummah, " ucap Kak Aisyah kesal.
Ummah yang mendengar ekspresi wajah Kak Aisyah yang terlihat menyolot dan kata-katanya yang kasar semakin memicu rasa kesal dan kemarahan di hati Ummah.
Dan Ummah pun tidak dapat lagi mengerem kata-katanya hingga membuat Kak Aisyah menjadi bungkam mendengar ucapan Ummah.
"Baiklah kalau kamu ingin tahu apa bedanya dirimu dan juga Rani. Maka Ummah akan mengatakannya ,tadinya Ummah kira kamu itu adalah gadis yang sholehah. Tetapi setelah Ummah mendengar dan menyaksikan perbuatanmu yang seperti ini kepada Rani. Ummah menjadi ilfeel dan no sympathy lagi terhadapmu sekarang.Sesungguhnya jika kamu tahu bahwa dirimu itu sangat jelas jauh berbeda dengan Rani ,perbedaan kalian itu bagaikan bumi dan langit ,kamu tahu kenapa ?sebaba Rani itu memiliki hati yang bersih. Dia anak yang baik dan tidak berkamuflase seperti dirimu yang tampak dari luarnya begitu bersahajadan religius, tetapi di dalamnya seperti buah yang busuk dan ulat berbisa yang menebarkan racun untuk semua orang. Dan asal kamu tahu saja Rani itu sudah Ummah anggap seperti putri kandung Ummah sendiri, dan Ummah begitu sangat menyayanginya seperti Ummah menyayangi Fariz dan juga Rafa, dan tidak hanya Ummah saja yang menyayangi Rani, tetapi seluruh keluarga Ummah pun peduli dan sangat menyayangi Rani .Jadi jika kamu sampai menyakiti Rani, itu sama halnya kamu juga menyakiti Ummah, Fariz dan keluarga Ummah lainnya. Jadi sebaiknya kamu sekarang pergi dari tempat ini Aisyah dan jangan pernah berpikir lagi untuk menyakiti Rani ,bahkan untuk membuatnya menjauh atau pergi dari keluarga kami ,karena sampai kapan pun juga Ummah tidak akan pernah membiarkannya. Semoga kamu paham dan mengerti akan hal itu. Ummah yakin kamu bukanlah seorang gadis yang bodoh. "
Kak Aisyah pun tertunduk mendengar kata-kata Ummah, lalu Ummah dengan perasaan kesal berjalan perlahan untuk meninggalkan Aisyah yang masih berdiri terpaku di dekatnya, tetapi sebelum Ummah berjalan lebih jauh. Ummah pun membalikan lagi tubuhnya dan mendekat lagi kepada Kak Aisyah dengan mempertegas kata-katanya kembali.
"Satu hal lagi yang harus kamu tahu Aisyah, perbedaanmu dan Rani adalah dirimu mengejar dan terlalu berharap kepada Putra Ummah Fariz, sedangkan Rani adalah intan berlian yang sudah menggenggam perasaan dan juga hati Fariz. "
Kak Aisyah tercengang mendengar kata-kata Ummah, lalu wajahnya terangkat dan memandang wajah Ummah yang begitu sangat tajam menatap Kak Aisyah .
"Apa maksud perkataan Ummah?,"tanya Kak Aisyah dengan rasa ingin tahu dan kecemasan yang menyelimuti hatinya. Ummah pun tersenyum simpul.
"Sebenarnya Ummah tidak ingin mengatakan ini kepadamu, tetapi bismillah kamu juga harus tahu diri di mana posisimu agar tidak berbuat egois dan memaksakan sesuatu yang bukan menjadi milikmu atau mengejar sesuatu yang bukan sesuai fitrah mu. Ummah tegaskan kepadamu Aisyah.Biidznillah,InsyaAllah Rani adalah calon istri yang akan menjadi pendampingnya Fariz, dan semua keluarga Ummah sudah merestui akan hal itu dan insya Allah sebentar lagi harapan itu akan terwujud, sebab putra Ummah Fariz pun mengharapkan akan hal itu, sehingga kamu jangan pernah berpikir untuk membuat Rani pergi dari kehidupan Fariz dan keluarga Ummah. Karena sebesar apapun kamu berusaha Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan terus mengembalikan apapun yang menjadi hak dari setiap hamba yang ia berhak untuk menjadi miliknya. Begitu juga dengan hati Fariz yang sudah secara fitrahnya tertuju kepada Rani, dan kamu tidak bisa memaksakan akan hal itu.Meskipun sekuat apapun kamu berusaha untuk menarik perhatian dan simpati dari Fariz,hal itu tidak akan mampu mengubah perasaan di dalam hatinya untuk tertarik kepadamu.Apalagi setelah semua yang kamu lakukan kepada Rani hari ini. Apakah kamu yakin Fariz dan Ummah akan respect kepadamu. Jangan bermimpi dan lekaslah buang semua anganmu yang sia-sia itu. "
Kemudian, Ummah pergi meninggalkan Kak Aisyah yang masih berdiri lemas dengan tatapan kosongnya ,hatinya seakan hancur setelah mendengarkan kata-kata yang Ummah sampaikan kepada dirinya, maka dengan langkah tertatih Ia pun memandangi Ustad Fariz yang begitu sangat mencemaskan keadaan diriku. Air mata Kak Aisyah tidak terbendung ,dia merasa sangat sakit hati sekali dan merasa bodoh akan hal yang telah ia lakukan. Dengan perlahan ia pun berjalan mendekati Ustad Fariz dan ingin berbicara, tetapi Ustad Fariz pun menolaknya.
" Maafkan saya Ukhti Aisyah .Tetapi lebih baik sekarang Ukhti tinggalkan tempat ini dan jangan berkata apapun lagi, "ucap Ustad Fariz sambil melihat diriku yang masih terduduk lemas bersandar pada bahu Bik Siti.
" Nak Fariz, Bu Putri Bagaimana ini? darah yang mengalir dikening dan pelipis Nak Rani tidak berhenti? apakah tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja dan saya lihat Nak Rani juga terlihat lemas. Saya takut terjadi apa-apa kepada Nak Rani ,"ucap Bik Siti sambil mengelap keningku yang berlumuran darah dengan handuk kecil.
Ummah yang melihat keadaanku pun menangis sangat histeris dan segera menyuruh Ustad Fariz bergegas memanggil Pak Budi ,Enjid dan Abi agar segera membawa diriku ke rumah sakit.
Dengan kesedihan yang menyelimuti hati Ummah dan rasa kecemasan akan kondisi ku,membuat Ummah pun langsung memarahi Kak Aisyah kembali.
"Kenapa kamu masih berada di sini saja? belum puas apa yang kamu lakukan kepada Rani. Ingat ya Aisyah jika terjadi sesuatu kepada Rani ,Ummah tidak akan memaafkan dirimu dan juga tidak segang-segan untuk melaporkan tindakan yang telah kamu lakukan ke polisi ,"ucap Ummah sambil menunjukkan jari telunjuknya kepada Kak Aisyah.
Kak Aisyah pun begitu takut dan menangis mendengar kata-kata Ummah sambil melihat kondisiku yang lemas ,dengan langkahnya yang tertatih dan begitu bergetar ketakutan akan hal buruk yang terjadi kepadaku dan juga ultimatum dari Ummahyang akan melaporkan dirinya ke polisi .Hal itu membuat Kak Aisyah begitu sangat takut dan cemas, maka dengan segera Kak Aisyah pun pergi meninggalkan ruangan tempatku berada. Sementara itu ,Bik Siti dan Ummah terus menangis terisak sambil mengelap darah yang terus mengalir dari keningku.
__ADS_1