
Pagi menjelang memancarkan cahaya kuning, dimana sang mentari memberikan sapaan hangatnya. Tak tampak awan tebal yang menghiasi suasana pagi ini, dimana langit biru di angkasa begitu terlihat jernih tanpa terluka oleh mendung dan awan gelap.
Mas Fariz berjalan mendekati tempat diriku terbaring di ranjang pasien, tatapan matanya yang sendu menatap diriku lekat seakan-akan ia engan untuk memalingkan pandangannya dariku.
"Segeralah membaik dan sadar Dek Rani, " ucapnya lirih sambil mengenggam jemari tanganku.
Kedua mata Mas Fariz terkadang ia pejamkan secara bersamaan, seraya berharap penuh kepada Sang Maha Pencipta. Saat ia membuka matanya ada keajaiban yang dapat membuat mataku kembali menatap dirinya. Lama ia duduk sambil terus mencium jemari tanganku berulang kali, hingga Mas Fariz tak menyadari jika air matanya terus mengalir.
Abi masuk perlahan-lahan bersama Ummah dan menatap penuh keharuan pada Mas Fariz yang begitu terluka dengan kondisiku. Tidak lama berselang dokter dan perawat pun masuk untuk memantau kondisiku.
Abi pun mengajak Mas Fariz keluar ruangan, sementara Ummah berada di dalam menemani diriku.
"Ada apa Bi? Mengapa Abi mengajak Fariz keluar?, " tanya Mas Fariz memandang Abi.
Abi lalu mengajak Mas Fariz duduk di sampingnya, dimana juga ada Kak Rafa, Enjid dan Pak Budi.
Tidak lama kemudian Wirda pun datang dengan membawa minuman hangat dalam paper cup dalam bungkusan, lalu memberikannya kepada Kak Rafa untuk membagikan kepada semuanya.
"Minum dulu susu hangat ini nak, supaya dirimu akan jauh lebih baik, " ucap Abi sambil memberikan satu paper cup kepada Mas Fariz.
"Iya Bi, syukron, " sahut Mas Fariz menerima paper cup berisi susu hangat.
"Tadi Pak Hadi selaku pengacara keluarga kita menghubungi Abi , dimana Pak Hadi sudah mendapat perkembangan terbaru dari kasus penculikan Rani. Yah, kesimpulannya ada titik terang mengenai siapa otak dari tindakan kejahatan ini, " jelas Abi.
Mas Fariz terlihat senang begitu pun yang lainnya.
Wirda terlihat bahagia dan ingin tahu, "Benarkah Abi? Lalu siapa dalang di balik semua tindakan jahat terhadap Rani, Bi?. "
"Abi, belum dapat menjawabnya Wir.Sebab Abi belum mengetahuinya,kita tunggu saja Pak Hadi bersama pihak kepolisian kemari, "jelas Abi.
Wirda mengangguk mendengar perkataan Abi sambil meminum susu hangat dari paper cup yang ia pegang.
Tidak lama kemudian, Ummah keluar dari ruang IGD bersamaan dengan dokter dan perawat. Mas Fariz yang melihat hal itu, langsung beranjak berdiri dari duduknya, " Bagaimana kondisi istri saya dok?. "
Mas Fariz begitu terlihat cemas.
"Alhamdulillah, pasien sudah melewati fase kritisnya setelah mendapatkan donor darah. Hanya saja pasien belum sepenuhnya pulih dan sadar, sebab banyaknya pasien kehilangan darah. Kita tunggu saja sampai pasien sadar, sementara itu kami akan berusaha melakukan penanganan medis yang terbaik, " ucap dokter.
"Lalu apakah saya bisa masuk ke dalam menemani istri saya dok?, " tanya Mas Fariz lagi.
Dokter memegang pundak Mas Fariz pelan, "Untuk sementara kita biarkan pasien untuk beristirahat dalam kondisi yang tenang demi proses kesembuhannya, Nak Fariz tidak usah khawatir ada perawat di dalam ruangan istri Nak Fariz yang khusus memantau akan perkembangan kondisi pasien. "
"Baiklah dok, " sahut Mas Fariz pelan.
Dokter lalu permisi kepada semua orang dan pergi berlalu. Ummah yang melihat kesedihan Mas Fariz lalu mengusap punggungnya lembut.
Tidak lama kemudian, Pak Hadi bersama pihak kepolisian yang menangani kasus penculikan terhadap diriku tiba bersamaan. Semua mata langsung tertuju pada kedatangan mereka, khususnya Ummah yang sudah begitu tidak sabar mendengarkan berita perkembangan dari kasus korupsi diriku.
"Bagaimana Pak Hadi? Apakah sudah diketahui siapa orang di balik penculikan putri saya Rani?," tanya Ummah.
"Sabar Ummah, " ucap Abi memegang bahu Ummah.
Ummah mengerti dan akhirnya diam. Semua orang pun duduk dengan perasaan tegang dan rasa ingin tahu yang besar. Pak Hadi membuka pembicaraan, dibantu oleh bapak kepolisian yang menjelaskan hasil investigasi dengan pelaku penculikan.
Raut wajah syok , kesal, tegang dan tidak percaya memenuhi gambaran ekspresi wajah semua orang.
***
Tok... Tok.. Tok...
Suara pintu di ketuk dengan cepat.
Tak... Tak.. Tak.. Tak.
"Sebentar!, " sahut seseorang berlari tergopoh-gopoh sambil berteriak.
Cekrek...
Pintu terbuka.
__ADS_1
Tatapan dari masing-masing tetamu dan pemilik rumah saling mengundang tanya dengan dahi yang mengkerut.
"Ada apa ya pak?, "tanya seseorang perempuan di balik pintu dengan wajahnya yang cemas.
" Apakah saudari Aisyah ada?, "tanya seorang laki-laki bertubuh besar dengan pakaian kemeja lengan panjang dan celana hitam.
Perempuan yang berada balik pintu pintu itu pun menatap tajam wajah laki-laki bertubuh besar di hadapan nya dengan perasaan yang tidak tenang, " Ada keperluan apa bapak mencari putri saya?. "
Laki-laki itu tersenyum sambil mengangguk, "Oh, jadi ibu adalah orang tua dari saudari Aisyah, benar?. "
Laki-laki itu memandang wajah ibunda Kak Aisyah serius. Dimana Ibunda Kak Aisyah menjadi takut dan semakin tegang dengan tatapan laki-laki itu, "Iy.. Iy... Iya benar saya bundanya, " sahut Ibunda Kak Aisyah dengan terbata.
Tidak lama kemudian, ayahanda Kak Aisyah berjalan menuju ke pintu. Setelah mendengar percakapan istrinya dan seseorang, "Siapa bunda?."
Ibunda Kak Aisyah menoleh ke belakang, dimana suaminya sudah berada tepat di hadapan dirinya, "Oh ini ayah. Bapak ini sedang mencari putri kita Aisyah. "
Ayahanda Kak Aisyah pun lalu menyuruh laki-laki itu masuk dan duduk, tetapi laki-laki itu menolak dengan sopan, "Terima kasih pak. Tetapi mohon maaf saya sedang terburu-buru, jika bapak dan ibu berkenan dapatkah kalian memberitahukan dimana keberadaan saudari Aisyah sekarang, sebab ada informasi penting yang ingin saya gali darinya. "
Ayahanda dan ibunda Kak Aisyah saling berpandangan satu sama lain dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf Pak, putri kami sedang tidak berada di rumah, " jawab Ayahanda Kak Aisyah lesu.
"Lalu dimana sekarang keberadaan Saudari Aisyah Pak? Dapatkah bapak memberitahu keberadaan nya?, " tanya laki-laki bertubuh besar itu penuh harap.
Ayahanda Kak Aisyah terdiam sambil tertunduk lemas, dimana memancing rasa keingintahuan dari laki-laki bertubuh besar di hadapannya, "Ada apa Pak? Apakah semuanya baik-baik saja?. "
Ayahanda Kak Aisyah menganggukkan lalu mengangkat sedikit kepalanya yang tertunduk, "Hmmm, putri kami sedang di rawat di rumah sakit jiwa Pak. Karena mengalami gangguan mental dan depresi yang sangat berat. "
Laki-laki bertubuh besar itu tampak terkejut seakan-akan tidak percaya dengan ucapan Ayahanda Kak Aisyah, lalu ia mengambil telepon genggam miliknya, "Sebentar ya Pak, " ucapnya kepada Ayahanda Kak Aisyah untuk menghubungi seseorang.
Kurang lebih 10 menit berlalu, laki-laki itu melakukan panggilan telepon dengan seseorang, lalu ia pun berjalan kembali menghadap kedua orang tua Kak Aisyah yang penasaran akan kehadirannya.
"Bapak dan ibu, apakah bisa membantu mengantarkan saya menemui saudari Aisyah?, " tanya laki-laki itu kembali.
Kedua orang tua Kak Aisyah saling berpandangan penuh tanya akan maksud dari kedatangan laki-laki misterius itu di kediaman rumah mereka, yang mencari keberadaan putri mereka.
Laki-laki bertubuh besar itu melihat kecemasan dan ketakutan di wajah kedua orang tua Kak Aisyah yang menatap dirinya lekat, "Bapak dan ibu tidak usah takut dengan saya. Saya tidak mempunyai niat yang jahat terhadap putri dan keluarga Ibu. Kedatangan saya kemari hanya untuk mencari informasi dari putri ibu dan bapak, sekaligus melihat kondisinya. "
"Tetapi untuk apa bapak mencari putri kami?, " tanya Ibunda Kak Aisyah semakin khawatir.
"Akan saya jelaskan maksud dan kedatangan saya, jika ibu dan bapak bersedia mengantarkan saya menemui putri kalian di rumah sakit jiwa, " bujuk laki-laki itu.
Setelah percakapan tarik ulur yang cukup lama, akhirnya kedua orang tua Kak Aisyah pun bersedia mengantarkan laki-laki bertubuh besar itu menuju rumah sakit tempat putrinya di rawat.
***
Prakk.. Prakkk.. Prakk.
Brughhh... Brughhhh...
Benda -benda terlempar dengan keras mengenai lantai.
"Kenapa tidak di angkat? Sedang apa mereka?Hah!, " ucap Kak Aisyah dengan kesal sambil menekan-nekan telepon genggam miliknya.
Kak Aisyah berjalan mondar-mandir dengan raut wajah nya yang penuh amarah sambil terus menggerutu. Hingga pintu ruangan dimana tempatnya berada terbuka. Kak Aisyah pun lalu menoleh ke arah petugas yang datang menghampiri dirinya.
"Apakah kamu sudah mendapatkan informasi mengenai dirinya?, " tanya Kak Aisyah memandang petugas perempuan yang menjadi suruhannya.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan tanpa berkata apapun.
Kak Aisyah berjalan mendekati perempuan itu, "Aku sudah membayar dirimu, tetapi mana hasilnya? Jangan coba-coba permainkan diriku. Mengerti!, " bentak Kak Aisyah dengan berteriak.
Perempuan itu hanya diam dengan wajah ketakutan menatap kegarangan akan kemarahan Kak Aisyah.
"Hei, kenapa kamu masih diam disitu! Segeralah bergegas pergi dan cari informasi mengenai perempuan itu, apakah sudah tiada atau belum? Dan kamu hubungi semua orang bayaran ku untuk segera menghubungi diriku, " teriak Kak Aisyah kasar.
Perempuan itu masih membatu tidak bergerak, hingga membuat emosi Kak Aisyah meledak-ledak tidak terkendali.
"Cepat segera kamu hubungi orang -orang itu, apakah mereka sudah berhasil menyingkirkan perempuan itu!, " pekik Kak Aisyah dengan geram.
__ADS_1
Dan tiba-tiba Kak Aisyah di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang ia kenal yang menyapa dirinya.
"Saya ada disini bos, " sahut laki-laki bertubuh besar.
"Ka.. Ka.. Kamu...! Apa yang kamu lakukan disini!, " ucap Kak Aisyah dengan wajah panik.
Kak Aisyah lalu berjalan mendekati laki-laki bertubuh besar itu, "Mengapa kamu tidak menjawab telepon ku! Hah!. "
Laki-laki bertubuh besar itu pun diam memandang Kak Aisyah dengan tatapan tidak berdaya nya.
"Dia tidak menjawab telepon darimu, sebab telepon genggam miliknya berada padaku!, " ucap seseorang yang masuk ke ruangan Kak Aisyah.
Kak Aisyah menatap tajam pada laki-laki yang baru saja datang itu, "Siapa kamu? Dan mengapa telepon genggam miliknya berada padamu?. "
Kak Aisyah terlihat bingung dan tegang, lalu ia pun menghampiri perempuan pertama yang datang mengunjungi dirinya, "Ada apa ini? Mengapa kamu diam?. "
Kak Aisyah juga berjalan mendekati laki-laki bertubuh besar , "Hei, apa yang terjadi kenapa kamu juga diam? Bicara dan katakan sesuatu, jika tidak aku tidak akan segan-segan menyakiti dirimu!, "pekik Kak Aisyah sambil menodongkan senjata tajam miliknya ke arah laki-laki bertubuh besar itu tanpa rasa takut.
"Ya Allah, Aisyah.Huhuhu... Huhuuu.., " pekik suara perempuan dengan tiba-tiba sambil menangis histeris.
Kak Aisyah terkejut dan menatap kehadiran perempuan itu, "Bu.. Bu.. Bun.. Da!. "
Ibunda Kak Aisyah menangis sambil tertunduk lemas di lantai, dimana suaminya terus memegangi pundaknya.
"Apa yang telah kamu lakukan nak? Mengapa kamu menjadi seperti ini? Huhuuu... Huhuuu.... Huhuuu..., " ucap ibunda Kak Aisyah.
Kak Aisyah terdiam memandang ibunda nya yang terus menangis memandangi dirinya.
Tiba-tiba datang lagi dua orang perempuan berseragam kepolisian, lalu dengan cepat membuang senjata tajam di tangan Kak Aisyah dan memegangi tubuhnya.
"Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan Aku!, " teriak Kak Aisyah keras sambil terus meronta-ronta untuk melepaskan diri.
Laki-laki yang datang bersama kedua orang tua Kak Aisyah, lalu menghampiri Kak Aisyah dan memakaikan borgol pada kedua tangannya, "Saudari Aisyah anda kami tahan, karena membuat kerusuhan di lapas dan menculik saudari Rani. "
Tidak lama kemudian, pihak kepolisian yang rupanya juga berjaga diluar turut masuk beberapa orang, untuk membawa laki-laki bertubuh besar dan perempuan yang bekerja sebagai petugas di rumah sakit jiwa tempat Kak Aisyah di rawat. Dimana mereka berdua terlibat dan bekerjasama menjadi orang suruhan Kak Aisyah.
Kak Aisyah terus meronta-ronta dan berteriak kencang untuk melepaskan diri.
"Jangan bawa aku! Aku tidak bersalah salah! Perempuan yang bernama Rani itu yang bersalah, dia yang bersalah. Rani yang harusnya di hukum, Akhhhhh...... Dia harusnya di hukum karena telah merebut Ustad Fariz dariku! Dia harus di hukum! Dia harus tiada! Arghhhhhhhhhh.... Lepaskan aku! Lepaskan!, " teriak Kak Aisyah dengan membabi buta tanpa terkendali.
Kedua polisi wanita yang membawa Kak Aisyah langsung menggiring Kak Aisyah menuju mobil tahanan bersama dua orang suruhannya.
Sementara itu, laki-laki yang datang bersama kedua orang tua Kak Aisyah ternyata adalah aparat kepolisian yang menyamar.
"Bapak dan ibu, saya mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya. Meskipun saya tahu ini sangat sulit untuk kalian berdua terima. Tetapi putri bapak dan ibu harus mempertanggungjawabkan atas semua tindakan jahatnya, dan berpura-pura mengalami gangguan jiwa untuk melancarkan rencananya supaya tidak di curigai dan terbebas dari jerat hukum. "
Kedua orang tua Kak Aisyah terdiam dan larut dalam isak tangisnya.
Karena begitu sangat terpukul ibunda Kak Aisyah pun jatuh pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Sementara itu, Kak Aisyah bersama dua suruhannya berada dalam laju mobil tahanan menuju kantor kepolisian untuk dimintai keterangan dan penyelidikan atas tindak kejahatan yang di lakukannya.
Arghhh.... Arghhhh....
Suara pekikan Kak Aisyah terus terdengar tiada henti memekakkan telinga yang mendengarnya.
***
"Maksud Bapak, otak dari penculikan terhadap putri saya Rani adalah Aisyah?, " tanya Ummah dengan sangat terkejut."
"Benar sekali ibu, tersangka sudah mengakui kesalahannya dan sekarang berada di sel tahanan untuk di sidangkan kasusnya, " jawab bapak polisi.
"Astaghfirullah ya Allah, " ucap Ummah sambil menutup mulutnya seakan-akan tidak percaya akan tindakan Kak Aisyah yang sudah diluar kendali.
Ummah menangis histeris, begitu pun seluruh anggota keluarga Imandar yang begitu sangat syok dan terpukul mengetahui kebenaran jika Kak Aisyah menjadi otak kejahatan terhadap penculikan diriku.
Semua seakan-akan berhenti putar, dalam keheningan yang di iringi oleh derai air mata.Banyak pertanyaan yang bersemayam, tetapi nurani di dalam hati semua orang terasa mati untuk mengali jawabannya. Hanya ada ******* rasa kecewa dan kegetiran yang membalut setiap tatapan mata kebekuan akan peristiwa ini.
Mas Fariz lalu berdiri dari duduk nya dan berjalan perlahan dengan kegundahan yang memenuhi relung batinnya, ia terus melangkah memasuki ruang IGD. Tidak peduli akan larangan dokter, ia ingin terus menemani ragaku yang sedang berjuang.
__ADS_1
"Dek Rani, " ucap nya lirih dan begitu halus.
Air matanya terus menerus mengalirkan setiap lekuk sel kesedihannya.