Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Pemeriksaan lanjutan.


__ADS_3

Perlahan aku mulai tersadar dari tidurku dengan pandangan mata yang masih tidak jelas dan hitam.


Kurasakan seseorang memegang jemariku lembut.


"Ran,ini aku Wirda.Apa kamu bisa mendengar dan melihatku?,"tanya Wirda dengan nada bicara yang pelan.


Aku membalas genggaman jemarinya perlahan.Agar ia tahu bahwa aku merespon ucapannya.


"Kamu tidak perlu memaksakan untuk bergerak atau berbicara Ran.Aku sudah senang jika kamu dapat merespon ku,"ucap Wirda sambil mengusap kepalaku yang tertutup kain kerudung.


"Apa yang kamu rasakan Ran,sekarang?jika kamu merasa lebih baik dari sebelumnya maka kamu genggam tanganku,"pinta Wirda sambil menyuruhku.


Mendengar ucapan Wirda maka aku pun mengenggam jemarinya perlahan.


Entah,lidahku masih terasa berat dan keluh.


Seperti terasa nyeri yang menjalar di seluruh tubuhku.


Dengan perlahan demi perlahan aku berusaha membuka mataku lebar-lebar agar aku dapat melihat Wirda sahabat ku.


Tetapi,sekali lagi pandanganku gelap dan hitam.


Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi padaku,ucapku dalam hati dengan perasaan bercampur aduk penuh kegusaran.


"Ran,setelah ini dokter akan melakukan pemeriksaan Computed Tomography atau CT scan pada kepala dan pemeriksaan matamu Ran.Untuk itu kamu tidak perlu merasa khawatir dan takut Ran.InsyaAllah aku akan selalu ada bersamamu,"ucap Wirda berusaha menenangkanku.


"Dan Kak Roy keadaannya mulai berangsur-angsur membaik.Setelah ini Kak Roy akan dipindahkan ke ruang rawat inap hingga keadaannya benar-benar pulih.Dan Rani juga harus cepat sehat lagi Ran,"ucap Wirda seraya membuatku semangat.


Aku terus mendengar ucapan Wirda dan ingin sekali memeluknya.Ia adalah sahabat terbaik yang kumiliki selama ini.Dengan semua kebaikannya padaku yang selalu membuatku terus tetap kuat dan optimis menjalani semua kepahitan hidup yang harus kuhadapi seorang diri.Dan kehadirannya membuatku bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala yang telah mengirimkan dirinya dalam kehidupan ku.Mungkin Wirda bukanlah kerabat ku.Tetapi bagiku dia sudah kuanggap layaknya saudariku sendiri.


Huh,hatiku terasa bergetar pilu.


Perlahan rasa kesedihan menyeruak memenuhi dadaku yang terasa sesak.


Ku genggam jemari sahabat ku Wirda.


Terima kasih Wirda,engkau ada disisiku di saat fase tersulit yang harus kualami dalam hidupku.Sungguh aku sangat berterima kasih padamu,ucapku dalam hati.


Itu yang ingin kukatakan padanya jika bibirku saat ini dapat berbicara padanya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara perawat dan dokter menuju ke arahku dan Wirda.


"Pasien bernama Rani akan dilakukan pemeriksaan Computed Tomography atau CT scan sekarang,"ucap dokter kepada Wirda.


"Baik dok,lalu pasien atas nama Roy yang berada di samping kapan akan dipindahkan ke ruang rawat inap?,"tanya Wirda kepada dokter.


"Sekarang juga dek.Baiklah adek bisa tunggu diluar sebentar supaya saya dapat melihat dan memeriksa kondisi pasien.Sekaligus perawat akan mempersiapkan pasien melakukan pemeriksaan Computed Tomography atau CT scan,"ucap dokter kepada Wirda.


"Baik dok,"sahut Wirda.


"Ran,aku tunggu diluar sebentar ya,kamu baik-baik dan harus berani.Bismillah,semoga Allah memudahkan dan memperlancar urusanmu.Aamiin,"ucap Wirda lagi sambil menggenggam tanganku.


Aku pun membalas genggaman tangannya.


Agar Wirda tahu bahwa aku mendengar apa yang ia katakan padaku.


Lalu,ia keluar dari ruangan ku.


Sementara itu,dokter memeriksa keadaanku dan perawat lainnya menyiapkanku untuk melakukan Computed Tomography atau CT scan.


Ya Allah,semoga keadaan ku segera membaik dan penglihatan ku lekas pulih seperti sedia kala,batinku.


----------------------------------


Saat Wirda akan keluar dari ruanganku. Perawat lainnya membawa Kak Roy menuju ruang rawat inap yang akan Kak Roy tempati selanjutnya.


Kondisi ke arah yang sudah mulai membaik ia masih tampak tidur terlentang di atas ranjang pasien dengan mata terbuka.


Wirda yang melihat Kak Roy segera menghampirinya.


"Kak Roy bagaimana keadaanmu sekarang?," tanya Wirda dengan raut wajah. cemas.


Kak Roy yang yang berada dalam posisi tidur terlentang. Mendadak terkejut mendengar suara Wirda yang sudah berada di sampingnya.


"Wirda kamu di sini?," tanya Kak Roy dengan ada suara yang masih sedikit lemah.

__ADS_1


"Iya Kak Roy ,Wirda di sini. Pak Budi yang memberitahu bahwa Kak Roy dan Rani dirawat di sini. Dan saat Wirda mendapat kabar dari Pak Budi maka dengan cepat Wirda langsung kemari,"jawab Wirda.


"Wir,bagaimana kondisi Rani sekarang? kakak sangat mencemaskan keadaannya,"tanya Kak Roy dengan raut wajahnya sangat khawatir dan begitu mencemaskanku.


"Saat Wirda menemani Rani di dalam .Rani sudah tersadar,kak. Tetapi....,"ucap Wirda terputus.


"Tetapi kenapa Wir ?apakah ada hal yang buruk terjadi kepada Rani ?tolong Wir, katakan! kakak sungguh sangat mengkhawatirkan Rani,"ucap Kak Roy dengan nada suara yang sangat memelas dan matanya mulai berkaca-kaca.


Melihat keadaan Kak Roy Wirda menjadi kadihan dan tidak enak hati. Dia takut akan semakin membuat Kak Roy menjadi semakin down karena mengkhawatirkan keadaanku.


Maka Wirda berusaha untuk menenangkan Kak Roy agar tidak larut dalam kefrustasian dan semakin bertambah kecemasannya terhadap diriku.


"Tidak apa-apa Kak Roy maksudnya Rani belum terlalu banyak merespon apa yang Wirda sampaikan. Namun, saat ini dokter sedang memeriksa Rani dan akan melakukan Computed Tomography atau CT scan pada kepalanya untuk melihat apakah ada luka atau tidak di dalam kepalanya. Wirda berharap Kak Roy tidak usah terlalu banyak memikirkan hal-hal yang negatif terhadap Rani .Sekarang Kak Roy harus fokus lebih dahulu kepada kesembuhan Kak Roy sendiri. Nanti jika Kak Roy sudah sembuh dan sehat kembali barulah kak Roy dapat membantu Rani untuk mensupportnya agar lekas pulih seperti sedia kala. Sekarang kita sama-sama mendoakan kesembuhan untuk Rani dan juga Kak Roy,ya Kak. Satu hal lagi Kak Roy tidak usah cemas mengkhawatirkan Rani. Insya Allah, Wirda akan selalu menjaga dan menemani Rani dan juga ada Pak Budi,"ucap Wirda dengan panjang lebar yang berusaha membuat Kak Roy tidak larut dalam kesedihan karena memikirkan kondisiku saat ini.


Kak Roy pun menggangguk perlahan. Setelah mendengar ucapan Wirda, ia tampak sedikit merasa lebih lega dan tidak tegang.


Tiga orang perawat pun mendorong Brankar / Brancard / Stretcher pasien yang terdapat Kak Roy didalamnya keluar dari ruang UGD menuju kamar rawat inap pasien.


Dan Wirda tampak mengikutinya dari samping.


Namun, sebelum para perawat membawa Kak Roy masuk ke ruang atau kamar rawat inap. Tampak dari kejauhan seorang wanita berlari dengan sedikit tergopoh-gopoh sambil sedikit berteriak memanggil nama Kak Roy.


"Roy.. Roy,"teriak wanita tersebut.


Wirda yang mendengar nama Kak Roy dipanggil lalu menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa gerangan wanita yang berteriak memanggil nama Kak Roy.


"Sus... sus ...di mana pasien yang bernama Roy Anugrah Cipta Wijaya dirawat sus?,"tanya wanita tersebut dengan sangat cemas dan sambil menangis.


Wirda dari kejauhan mendengar ucapan wanita tersebut. Lalu dia berjalan menghampiri wanita tersebut yang berbicara kepada seorang suster.


"Maaf Tante, Tante tadi bicara tentang Roy,yah?,"tanya Wirda dengan sedikit ragu.


"Iya nak. Saya mamanya Roy.Huhuhuhu,"jawab wanita tersebut sambil menangis.


"Oh iya tante kenalkan saya Wirda yang menelpon tante dan memberitahukan kondisi Kak Roy,"ucap Wirda kepada Mama Kak Roy.


"Lalu nak Wirda di mana putra saya Roy berada?,"tanya mamanya Kak Roy dengan wajah sangat cemas sambil memegang bahu Wirda.


"Kak Roy baru saja akan dipindahkan ke ruang rawat Inap tante. Alhamdulillah kondisinya sudah membaik. Tante tidak perlu cemas .Mari ikut dengan saya tante,"ajak Wirda kepada Mama Kak Roy.


"Itu Kak Roy yang akan dipindahkan oleh para perawat ke ruang rawat Inap,"ucap Wirda kembali kepada Mama Kak Roy sambil menunjuk ke arah para perawat yang membawa Kak Roy.


"Roy,anakku.huhuhuhuhu...,"teriak Mama Kak Roy melihat kondisi Kak Roy sambil menangis histeris.


"Mama!,"ucap Kak Roy yang terlihat terkejut melihat mamanya yang tiba-tiba berada di sampingnya sambil menangis histeris.


"Apa yang terjadi denganmu Nak? kenapa kamu bisa sampai seperti ini? Huhuhuhu,"ucap Mama Kak Roy sambil memegang tangan anaknya mengikuti langkah para perawat membawa putranya ke ruang rawat inap.


Wirda yang berada di belakang segera berlari menyusul Mama Kak Roy. Iya mengikuti mereka untuk mengantar Kak Roy menuju ruangan barunya.


Sedih dan miris hati Wirda melihat tangisan dari mama Kak Roy yang tdak berhenti mengalir.


Maka sesekali Wirda memegang dan mengusap lembut bahu Mama Kak Roy untuk menenangkannya. Supaya tidak larut dan semakin histeris akan rasa kesedihan melihat kondisi Kak Roy seperti itu.


"Sudah tante.Tante yang kuat jangan seperti ini.Kasihan Kak Roy tante,jika Tante seperti ini akan semakin membuat down Kak Roy sebab melihat tante yang terus menangis seperti ini Kak Roy akan ikut merasa sedih juga.Hal ini juga akan berpengaruh pada masa pemulihan Kak Roy tentunya Tante,"ucap Wirda berusaha untuk menenangkan mamahnya Kak Roy.


Mendengar ucapan Wirda. Dengan perlahan mamanya Kak Roy mengusap air matanya. Namun,ia tetap terus menggenggam tangan Kak Roy dan tidak sedikitpun ia melepaskannya sampai mereka tiba di ruang rawat inap Kak Roy.


Para perawat segera membetulkan selang infus ,posisi tidur dan semua kelengkapan yang Kak Roy butuhkan.


Termasuk obat-obatan yang akan diminum Kak Roy setelah ini serta makanan untuk Kak Roy.


Maka Setelah semuanya sudah selesai. Ketiga perawat itu pun pamit untuk keluar dari ruang rawat inap.


Sementara itu, atas petunjuk perawat mama Kak Roy dengan perlahan menyuapi bubur yang telah disiapkan oleh perawat untuk Kak Roy makan sebelum ia meminum obat yang telah disiapkan oleh perawat.


"Baiklah tante dan Kak Roy Wirda izin keluar untuk melihat kondisi Rani sekarang ya,"ucap Wirda kepada Kak Roy dan mamanya.


"Ada apa dengan Rani nak Wirda?,"tanya Mama Kak Ros yang terkejut mendengar namaku disebut.


"Rani juga dirawat di rumah sakit ini bersamaan dengan Kak Roy tante. Saat ini Rani sedang diperiksa kondisinya oleh dokter dan akan melakukan pemeriksaan pemeriksaan Computed Tomography atau CT scan pada bagian kepalanya,"ucap wirda menjelaskan kepada mamanya Kak Roy.


"Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi kepada Roy dan Rani ,nak Wirda?,"tanya mama Kak Roy dengan rasa ingin tahu sambil menatap wajah Wirda.


Wirda melihat ke arah Kak Roy.

__ADS_1


Ia bingung bagaimana menjelaskan masalah yang terjadi pada Kak Roy dan Rani kepada mamanya Kak Roy.


"Nak Wirda,apakah semua ini dilakukan dan disebabkan karena Reno putra dari keluarga Suprapto?,"tanya mama Kak Roy.


Wirda dan Kak Roy terlihat terkejut mendengar ucapan mamanya Kak Roy.


"Emmm...emmm..Tante sekarang lebih baik fokus untuk kesembuhan Kak Roy saja dulu ya Tante.InsyaAllah nanti di waktu yang tepat Wirda atau Kak Roy sendiri dapat menjelaskan masalah yang telah terjadi,"ucap Wirda berusaha menetralisir suasana hati Mama Kak Roy.


"Iya nak Wirda benar kata nak Wirda,"ucap mama Kak Roy."Lalu bagaimana keadaan Rani sekarang nak Wirda?,"tanya Mama Kak Roy lagi.


"Saat ini saya belum dapat memastikan keadaan Rani ,Tante.Sebab dokter masih melakukan pemeriksaan saat ini,"jelas Wirda.


"Kalau begitu apakah Tante bisa melihat kondisi Rani sekarang?,"tanya mama Kak Roy dengan wajah cemas.


"Emm, sebaiknya Tante sekarang fokus menjaga Kak Roy dulu Tante.Sebab saat ini Rani sedang dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut yang sedang ditangani dokter.Nanti jika kondisinya sudah memungkinkan untuk bisa dibesuk Tante dapat melihat Rani,"ucap Wirda.


"Baiklah Tante saya permisi dulu untuk melihat kondisi Rani yang akan menjalani pemeriksaan Computed Tomography atau CT scan pada bagian kepalanya.Kasihan Rani tidak ada yang menemani saat ini,"ucap Wirda lagi.


"Baiklah nak Wirda.Tante mengucapkan terima kasih karena telah memberitahukan keadaan Roy kepada Tante ya nak,"ucap mama Kak Roy.


"Iya Tante, sama-sama,"sahut Wirda.


"Wir,Kak Roy titip tolong jaga Rani ya Wir,"pinta Kak Roy pada Wirda.


"Pasti Kak Roy,"balas Wirda.


"Ya sudah ya kak,Wirda turun ke bawah dulu.Kak Roy jangan terlalu banyak berpikir.Sekarang kakak harus fokus pada kesembuhan kakak terlebih dahulu ya.Wirda pamit dulu Tante....Kak Roy,"ucap Wirda kembali.


Kak Roy dan mamanya mengangguk kepada Wirda.Tidak lama setelah itu Wirda keluar dari ruang rawat inap tempat Kak Roy dirawat.Kak Roy dan mamanya terus menatap ke arah Wirda sampai ia pergi dan menghilang dari pandangan mereka.


"Roy,apakah mama perlu memberitahukan perihal keadaan mu kepada Rere?,"tanya mama Kak Roy.


Wajah Kak Roy mendadak berubah keruh setelah mamanya menanyakan pertanyaan seperti itu padanya.


"Tidak usah mah.Rky tidak ingin dia ada disini,"jawab Kak Roy dengan ekspresi wajah datar.


"Tetapi Rere juga berhak tahu atas keadaan mu sekarang nak.Dia juga mencemaskan dirimu,"ucap mama Kak Roy.


"Tetapi tetap saja Roy tidak ingin dia ada disini mah,"ucap Kak Roy dengan sedikit wajah kesal.


"Mama tahu nak,kamu tidak ingin Rere ada di dekatmu.Tetapi bagaimana pun juga dia telah menjadi istrimu nak.Dan kamu tidak boleh mengingkari kebenaran akan hal itu,sayang,"ucap mamanya Kak Roy dengan suara sangat lembut sambil mengusap kepala Kak Roy.


Dan Kak Roy hanya terdiam mendengar ucapan mamanya.


"Mama tahu nak.Di hati putra mama hanya ada tempat untuk Rani bukan? Tetapi tidak ada salahnya untuk kamu mencoba membuka hati. Tidak perlu terlalu banyak, kamu bisa membuka sedikit dahulu celah di hatimu supaya Rere sedikit memiliki tempat di hatimu. Berikan dia kesempatan, untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istrimu. Dan kamu melaksanakan kewajiban mu sebagai seorang suami untuk memberikan hak kepadanya. Mama ingin kamu menerima semua ini nak. Tentunya hal ini terjadi atas kehendak dan takdir Allah Subhanahu Wa ta'ala. Dan kita sebagai manusia tidak akan pernah tahu dan dapat memprediksi setiap detik keputusan Allah terhadap hidup kita.


Oleh karena itu, kita harus menerima apa yang Allah kehendaki untuk kita tanpa meragukan keputusanNya.


Dan percayalah nak Allah Subhanahu Wa ta'ala akan memiliki rencana akan rahasia yang indah dan tersembunyi dari jangkauan mata manusia.


Sama halnya seperti dengan Rani. Dia seorang gadis yang sabar tidak banyak mengeluh dan menerima semua ujian yang Allah berikan,"ucap mama Kak Roy dengan panjang lebar.


"Iya mah, Mama selama ini tahu kan Bagaimana perasaan Roy dari dulu sampai sekarang kepada Rani. Dan Roy tidak ingin mengubah perasaan itu mah. Bagi Roy Rani itu Cinta pertama Dan juga cinta terakhir untuk Roy,"sahut Kak Roy dengan wajah sendu nya.


"Iya nak mama paham dan mengerti akan perasaan mu. Mama tidak menyuruh kamu untuk menghapus Rani dari hatimu. Bahkan untuk melupakannya dan mengusirnya pergi dari hatimu. Bukan seperti itu maksud Mama. Kamu boleh tetap terus mencintai menyayangi Rani. Tetapi jangan sampai cinta yang selama ini engkau pupuk dan engkau jaga. Menjadi cinta yang tidak bermakna menjadi cinta yang kotor, menjadi cinta yang tidak suci dan menjadi cinta yang hina dihadapan Allah Subhanahu Wa ta'ala.


Cinta itu indah nak. Cinta adalah karunia terbesar dari Allah. Kehadirannya membawa banyak makna rasa kasih sayang dan kebahagiaan bagi orang yang mengalaminya. Tetapi saat kita mencintai seseorang kita juga tidak boleh egois untuk memaksakan orang yang kita cintai harus membalas Cinta kita ,bahkan menjadi milik kita. Dan kamu sudah memiliki batasan untuk mencintai Rani secara lebih. Karena saat ini ada seseorang yang lebih berhak mendapatkan cintamu nak. Meskipun kamu tidak ingin memberikan cinta itu .Tetapi Mama mohon cobalah menerima keadaan dan berikan sedikit saja kesempatan untuk Rere,"pinta Mama Kak Roy kepada Kak Roy


Kak Roy terdiam sambil memandang wajah mamanya dengan air mata berkaca-kaca.


"Biarkan cintamu kepada Rani Allah subhanahu wa ta'ala yang menjaganya dan titipkan kepadaNya. Kelak jika kamu dan Rani ditakdirkan untuk hidup bersama .Allah Subhanahu wa ta'ala pula yang akan mengembalikan cintamu dalam keadaan yang baik utuh ,bersih dan suci tanpa cacat, sayang,"ucap mama Kak Roy dengan lirih.


Perlahan Mama Kak Roy mengusap lembut kepala putranya, lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.


Kedua mata ibu dan anak itu saling memandang. Untuk saling menyelami isi hati masing-masing.


Kak Roy menggenggam tangan mamahnya. Dan tanpa ia sadari air matanya menetes perlahan. Dia belajar untuk menerima apa yang mamanya sampaikan kepadanya. Walaupun dengan hati yang sangat berat dan sulit untuk ia lakukan.


Tetapi ia kembali percaya akan kebesaran Allah Subhanahu Wa ta'ala.


"Allahumma radldlini bo qadlaika wa shabbirni 'ala balaika wa awzi'ni syukro ni'amaika.(Artinya," Ya Allah, jadikan aku ridha dalam menerima qadla (ketentuan)-Mu, dan jadikan aku sabar dalam menerima bala dari-Mu, dan tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Mu,"ucap Kak Roy pelan sambil menangis.


Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki menuju ruangan Kak Roy dirawat.


Cekrekkkk...

__ADS_1


Seseorang membuka pintu denga terburu-buru.


Kak Roy dengan cepat menyeka air matanya sambil melihat ke arah pintu.


__ADS_2