
Setelah melaksanakan salat Isya Wirda pun membantuku untuk beristirahat kembali dan menuju ranjang tempat tidur miliknya.
Untuk beberapa saat Wirda keluar sebentar dari dalam kamarnya sambil membawa nampan berisi gelas air putih dan menyiapkan obat yang harus ku minum sebelum tidur malam.
"Ran kamu minum obatnya dulu ya," ucap Wirda sambil duduk di sampingku dan mengangkat gelas dari nampan yang telah Ia bawa dari dapur.
Perlahan tanganku sedikit menggapai dan meraba keberadaan gelas yang Wirda bawa untukku. Namun dengan cepat Wirda menarik tanganku dan memberikan gelas dari tangannya ke tanganku.
" Ini obatnya Ran,"ucap Wirda sambil memberikan beberapa butir obat di tangan kiriku.
" Iya, terima kasih banyak Wir," ucapku.
" Iya Rani," jawab Wirda.
" Bismillahirohmanirohim," ucapku pelan.
Lalu dengan hati-hati aku masukkan obat yang sudah Wirda berikan ke dalam mulutku dan meminum air putih dari gelas yang Wirda letakkan di tangan kananku hingga habis.
Glek...Glek...Glek...
Air putih yang kuminum mengalir membasahi kerongkongan ku dan mendorong obat yang kau minum masuk ke dalam tubuhku.
"Alhamdulillah," ucapku pelan sambil mengusap bibirku yang basah karena terkena percikan air putih.
"Masya Allah Ran, kamu haus rupanya," ucap Wirda sambil sedikit tertawa kepadaku.
" Hehehe, iya Air," ucapku sambil sedikit tersenyum meringis.
" Kamu mengapa tidak bilang jika haus Ran? kan aku bisa mengambilkan minum untukmu," tanya Wirda.
" Tidak apa-apa kok Wir. Rasa haus ku datang baru saja kok Wir," jawabku.
" Ya sudah Ran. Apapun yang kamu perlukan dan butuhkan. Aku harap kamu jangan pernah merasa sungkan untuk meminta bantuanku. Kamu paham maksudku kan Ran ,"ucap Wirda kepadaku.
" Iya Wirda ,sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih ya Wir. Sebab kamu selalu menolongku ,"ucapku pelan.
" Rani sudah berapa kali aku bilang kepadamu.Kamu jangan terus mengucapkan terima kasih dan maaf kepadaku .Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi dari mulutmu Ran. Lagi pula aku senang jika kamu berada di sini, di kediaman rumahku. Setidaknya aku merasa tenang akan keselamatanmu daripada kamu berada di rumah keluarga Suprapto," ucap Wirda lagi.
"Iya Wirda aku paham akan kata-katamu. Tetapi tetap saja aku tidak bisa menutupi rasa tidak enakku kepadamu dan keluargamu. Karena aku harus menyusahkan kalian. Terlebih lagi aku tidak tahu sampai kapan diriku akan menetap di rumahmu dan bergantung kepadamu serta keluargamu Wir. Dan untuk perasaan yang kurasakan ini. Aku merasa begitu sangat tidak enak kepadamu juga kepada seluruh keluargamu. dan untuk itu aku sangat meminta maaf karena benar-benar telah menyusahkan dan merepotkanmu Wir," ucapku dengan raut wajah sedih dan suara yang begitu pelan dan berat.
Hugh... terdengar suara Wirda menghembuskan nafas .Dia sama sekali tidak menginginkan diriku berkata seperti itu kepadanya.Lalu Wirda menatapku sambil memegang jemari tanganku.
" Ran,aku bingung dan harus berapa kali lagi menjelaskan kepadamu. Bahwa aku dan seluruh keluargaku termasuk mama dan papaku itu sama sekali tidak keberatan menerima kehadiranmu di rumah ini. Bukankah sebelumnya mamaku juga bilang kepada dirimu.Bahwa kamu itu sudah seperti saudariku seperti putri kandung mamaku Ran.Dan kami semua tulus serta ikhlas merawatmu dan menjagamu hingga kamu sembuh Dan. Lalu jika tidak denganku dan keluargaku .Kamu akan ke mana Ran?," tanya Wirda sambil menatapku dan aku hanya diam mendengarkan perkataan Wirda.
Wirda lalu memegang kedua pipiku perlahan seraya berkata kepadaku ,"Aku dan keluargaku sebenarnya tidak banyak melakukan hal apa-apa untuk dirimu Ran.Justru kamulah yang banyak melakukan pengorbanan untuk semua orang khususnya keluargaku Ran," ucap Wirda dengan suaranya yang sedikit parau.
"Apa maksud perkataanmu Wir? Aku tidak pernah melakukan apa-apa untukmu dan keluargamu," ucapku pelan.
" Itu menurutmu Ran, tetapi kenyataannya tidak .Apakah kamu tidak ingat bagaimana saat keluarga Kak Reno menghancurkan semua usaha papaku dan merampas semua aset yang papaku punya? Hingga Papaku harus dilarikan ke rumah sakit dan terkena serangan jantung .Dan pada saat itu aku dan mamaku benar-benar bingung karena semua aset yang kami miliki telah hilang dan papaku difitnah untuk sebuah tuduhan yang tidak pernah ia lakukan. Dan semua itu disebabkan oleh keluarganya Kak Reno. Tetapi kamu tanpa berbicara denganku dan mamaku langsung saja menerima persetujuan dari keluarga Kak Reno hanya untuk menyelamatkanku, mama dan papaku.Berkat dirimu Ran,keluarga Kak Reno mengembalikan hak yang kami punya setelah mereka rampas semuanya. Serta berkata dirimu pula Ran, nama baik papaku menjadi bersih kembali baik lepas dari predikat seorang koruptor. Dan jika saat itu kamu tidak melakukan semua itu Ran. Maka saat ini papaku pasti sudah tidak ada.Aku akan menjadi yatim dan mamaku akan menjadi seorang janda,"ucap Wirda sambil menitikan air matanya.
"Mengapa kamu berkata seperti itu Wir?," tanyaku kepada Wirda sambil meraba untuk memegang wajahnya.
Wirda lalu menggenggam kembali jemariku dengan erat sambil menangis.
"Hiks....Hiks ...Hiks...seandainya saat itu dirimu tidak menolong keluargaku Ran.Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kepada diriku dan mamaku.Dan seandainya dirimu tidak menolong keluargaku saat itu.Tentu sekarang kamu tidak akan mengalami penderitaan seperti ini dengan hilangnya penglihatanmu Ran. Padahal saat itu pula kamu memiliki kesempatan untuk bebas dari belenggu keluarga Kak Reno. Tetapi tidak kamu lakukan karena kamu lebih mementingkan kehidupanku dan keluargaku daripada dirimu sendiri. Kamu mengorbankan kebebasanmu, kamu menerima persyaratan dari mereka dan terus bertahan menjadi istri dari Kak Reno demi menyelamatkan nyawa papaku dan mengembalikan semua hak yang kami miliki. Dan semua pengorbananmu itu tidak akan pernah dapat pernah sanggup untuk aku dan keluargaku bayar ataupun balas Ran.Dan untuk keadaanmu sekarang adalah juga disebabkan karena keluargaku Ran.Hikss.Hiks....Hiks...,"ucap Wirda dengan bibir bergetar dan menangis terisak- isak. "Sudahlah Wir jangan berkata seperti itu karena sesungguhnya aku tidak melakukan apa-apa untuk keluargamu," jawabku pelan sambil memeluk Wirda.
Perlahan air mataku pun ikut mengalir. Hatiku terbawa suasana akan kesedihan dan suara isak tangis yang penuh keharuan dari Wirda.
"Itulah dirimu Ran, kamu itu tidak mau untuk selalu diingatkan akan kebaikan yang telah engkau lakukan,hiks...hiks... maka dari itu Ran, aku mohon kamu jangan berkata meminta maaf karena telah merepotkanku dengan keluargaku ,"ucap Wirda pelan sambil menangis.
"Iya Wirda kalau begitu maafkan aku atas perkataanku yang mungkin sudah melukai hatimu ya" ucapku pelan sambil meraba wajah Wirda dan mengusap air mata di pipinya.
"Kamu tidak melukai hatiku Ran .Aku hanya tidak ingin kamu merasa sendiri dan seperti menjadi beban untukku dan keluargaku .Aku tidak ingin kamu memiliki pikiran seperti itu Ran. Bagiku kamu itu adalah saudariku .Aku senang jika kamu dapat hidup bahagia dan melewati semua kesusahan ini ,"ucap Wirda sambil menggenggam tanganku.
" Iya Wir.Terima kasih ya kamu memang sahabat terbaikku ,"ucap pelan.
" Iya Ran sama-sama dan kamu juga adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki," balas Wirda kepadaku.
Kami berdua pun langsung berpelukan untuk beberapa saat untuk melepaskan rasa kesedihan dan keharuan yang sebelumnya menyelimuti hati kami masing-masing .Wirda lalu mengusap bekas tetesan air mata di pipiku dan aku pun juga meraba dengan perlahan mengusap air mata di pipinya. Aku tersenyum kecil dan kurasakan dalam gelapnya penglihatanku Wirda juga membalas senyumanku yang kurasakan dari jemari tanganku yang mengusap pipinya dengan lembut. Tidak lama setelah itu Wirda pun mengambil air putih untuk kami berdua minum setelah meluapkan rasa keharuan yang menyeruak di hati kami masing-masing.
Kemudian Wirda membetulkan posisi dudukku agar aku dapat duduk setengah berbaring.Lalu Wirda berganti duduk naik di atas ranjang tempat tidur dan duduk di sampingku.
"Ran bagaimana perasaanmu sekarang?," tanya Wirda kepadaku.
"Jauh lebih lega dan terasa lebih longgar Wir,"jawabku pelan.
" Bolehkah aku menanyakan sesuatu hal kepadamu Ran ?,"tanya Wirda kepadaku. "Boleh ...Tentu saja boleh Wir ,katakan saja Wit. Apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku?," ucapku kepada Wirda.
Dan untuk beberapa saat ku dengar Wirda hanya terdiam dan kurasakan Ia seperti memikirkan sesuatu hal.
" Lho kok kamu diam Wir?katanya ingin menanyakan sesuatu hal kepadaku .Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan. Jika memang aku dapat menjawabnya maka akan aku jawab ?,"ucapku kepada Wirda.
" Baiklah Ran," ucap Wirda sambil menghala nafasnya.
"Saat tadi kita berada di kantor Kepolisian.Aku melihat dan merasakan ada sesuatu hal yang beda darimu saat bertemu dengan Kak Reno. Aku lihat ada sesuatu hal yang mengganjal di hati dan pikiranmu. Apakah yang kurasakan itu benar Ran ?,"tanya Wirda berusaha untuk mengorek rasa kegundahannya padaku.
"Iya Wir. Entah aku merasakan suatu firasat yang tidak enak .Dan entah apa itu tetapi pikiran dan hatiku terasa berkecamuk dan tidak tenang .Tetapi aku sendiri tidak tahu apa yang mengusik kegundahan di hatiku," ucapku kepada Wirda.
"Apakah kegelisahan hatimu itu ada kaitanya dengan Kak Reno dan gugatan cerai yang engkau layangkan untuk Kak Reno?," tanya Wirda mencoba menerka hatiku.
__ADS_1
" Entahlah Wir aku sendiri tidak tahu," jawabku.
" Ran jika aku boleh mengatakan kepadamu berdasarkan apa yang kulihat dan ku saksikan saat dirimu dan Kak Reno berbicara berdua saja. Aku melihat ada hal aneh dari sikap Kak Reno kepadamu ,"ucap Wirda kepadaku.
"Maksudmu hal aneh seperti apa Wir?," tanyaku kepada Wirda.
"Dari apa yang aku lihat Kak Reno itu seperti menyembunyikan sesuatu hal yang berusaha ia tutupi," jawab Wirda.
" Mengapa kau bisa berkata seperti itu Wir?," tanyaku lagi kepada Wirda.
" Karena aku melihat keganjilan dari sikap yang Kak Reno lakukan kepadamu. Sikap yang ia tunjukkan selama ini. Seolah-olah tidak mencerminkan apa yang terlihat dari dirinya yang sebenarnya," jelas Wirda.
"Maksudmu bagaimana Wir?," tanyaku tidak paham.
" Aku melihat matanya Kak Reno dari kejauhan.Saat dia menatap dirimu aku dapat melihat makna tatapan yang berbeda pada sorot matanya.Cara Kak Reno memandang dirimu tidak sama terlihat dengan sikap yang ia tunjukkan selama ini.Tatapannya bertolak belakang dengan perilakunya terhadapmu.Dari sorot matanya... dari sorot matanya ....,"ucap Wirda terputus dan tidak melanjutkan kata-katanya.
" Dari sorot matanya Kak Reno kenapa Wir?," tanyaku kepada Wirda dengan rasa ingin tahu akan kelanjutan dari kata-katanya.
" Benar kamu ingin tahu kelanjutan dari kata-kataku Ran?," tanya Wirda kepadaku. "Iya Wir," jawabku penasaran.
" Tetapi kamu tidak marah kan jika aku mengatakannya," tanya Wirda lagi .
"Marah? untuk apa aku marah Wir.Kamu malah justru membuatku penasaran akan kata-kata yang ingin kamu sampaikan kepadaku ,"ucapku kepada Wirda.
" Baiklah Ran ini karena dirimu memaksa ingin tahu kelanjutan dari kata-kataku.Maka aku akan menyampaikan kepada mu. Dari sorot matanya Kak Reno aku dapat menyimpulkan. Jika dia itu mencintaimu Ran," tutur Winda padaku.
" Hahaha...,"aku tertawa mendengar ucapan Wirda.
" Lho kok kamu tertawa sih Ran? Apakah itu hal yang lucu bagimu?," tanya Wirda
" Tentu saja Iya Wir. Karena mustahil dan sangat tidak mungkin Kak reno itu mencintai diriku .Karena setahuku di hatinya Kak Reno hanya ada kebencian dan penuh dengan kebencian kepadaku. Dan mana mungkin orang seperti Kak Reno itu memiliki cinta di hatinya terlebih lagi kepadaku," ucapku meragukan pandangan Wirda.
"Tetapi bukankah orang sering berkata Ran. Benci itu adalah arti dari cinta karena semakin besar seseorang membenci orang lain maka sebenarnya ia telah mengawali tumbuhnya sebuah tunas dari benih-benih cinta. Sebab perbedaan antara benci dan cinta itu tidak ada batasan yang jelas," kata Wirda.
"Tetapi tetap saja tidak mungkin Wir ,"ucapku membantah.
" Mengapa kamu begitu yakin seperti itu Ran? lagi pula apa yang tidak mungkin dapat terjadi di dunia ini. Semuanya berada dalam genggaman kekuasaan Allah bukan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala memiliki kekuasaan untuk dapat membolak balikan hati seseorang begitu pula juga dengan hatinya Kak Reno Ran.
Dan atas izin Allah pula lah hati orang yang jahat dan kejam seperti Kak Reno bisa mendadak berubah baik dan diisi dengan cinta kepadamu dalam waktu sekejap.
Kak Reno akan begitu cepat mencintai dirimu.Yah karena manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempunyai hati yang sulit ditebak.
Namun, siapa sangka kalau Allah bisa dengan mudahnya membolak-balikkan hati Kak reno untuk mencintaimu Ran," jelas Wirda padaku.
" Iya Wir aku mengerti dan paham akan kata-katamu itu .Dan aku tidak meragukan kekuasaan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala miliki dalam mengubah sikap dan hati seseorang .Tetapi untuk meyakini jika Kak Reno itu menyukaiku. Rasanya akal pikiranku belum dapat menjamah hal tersebut dengan baik. Hatiku masih sulit untuk percaya dan menerima hal-hal tersebut. Bagiku itu adalah suatu hal yang sangat mustahil tanpa meragukan kekuasaan yang Allah miliki terhadap hati Kak Reno,"jawabku pelan.
" Mengapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu kepadaku Wit?," tanyaku.
" Iya karena saat aku melihatmu dan Kak Reno berbicara berdua saja di kantor kepolisian. Aku melihat sikap kalian berdua itu terlihat berbeda .Terlebih Kak Reno .Dia seolah berusaha menutupi perasaannya kepadamu dengan terus menampilkan adegan sikap yang buruk dan seolah-olah sangat membenci dirimu.Tetapi tanpa ia sadari bahwa di dalam lubuk hatinya sebenarnya dia itu sudah tertarik padamu. Tetapi entah apa yang membuat dirinya seolah-olah ingin menyembunyikan perasaannya itu kepada orang semua orang khususnya padamu Ran.Dan hal itu yang masih aku pikirkan?," ucap Wirda kepadaku.
" Wirda Kamu itu seperti cenayang saja," ucapku sambil tersenyum.
" Tidak Ran. Aku bersungguh-sungguh mengatakan ini padamu berdasarkan intuisi dan penglihatan yang aku lihat Ran .Oh iya Ran kamu belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana perasaanmu sendiri kepada Kak Reno ?,"tanya Wirda lagi kepadaku.
" Ya perasaanku biasa saja kepada Kak Reno .Tidak ada yang spesial," sahutku. "Benarkah itu Ran ?,"tanya Wirda ragu.
" Insya Allah Iya Ran.Aku yakin" jawabku kepada Wirda.
"Sedikit saja. Apakah kamu tidak memiliki rasa ketertarikan kepada Kak Reno walaupun hanya sedikit saja ?,"tanya Wirda lagi kepadaku untuk berusaha meyakinkan dirinya.
" Entahlah Wir. Sudahlah Wir jangan berbicara dan membahas tentang Kak Reno. Aku tidak menginginkannya," pintaku kepada Wirda.
" Mengapa saat berbicara tentang Kak Reno kamu tiba-tiba menjadi kesal Ran?," ucap Wirda sambil sedikit tersenyum dan mencolek pinggangku.
"Hentikan Wir," pintaku kepada Wirda.
" Lalu apakah kamu benar-benar yakin untuk berpisah dan bercerai dengan Kak Reno Ran?," tanya Wirda lagi kepadaku.
" Insya Allah Iya Wit.Aku pikir ini adalah jalan yang terbaik untukku dan juga Kak Reno .Dia juga dapat terbebas dari pernikahan paksa dengan diriku .Dan dapat melanjutkan kehidupannya tanpa harus merasakan kesal dan terus-terus menahan kebenciannya padaku. Dan begitu juga dengan diriku yang akan memulai kehidupan baruku," jawabku.
"Hmm... maksudmu melanjutkan kehidupan baru dan menikah dengan Kak Roy begitu? ," ucap Wirda menggodaku lagi.
" Kamu bicara apa sih Wir," ucapku.
"Lalu bagaimana perasaanmu dengan Kak Roy sendiri Ran? Bukankah kamu tahu jika Kak Roy itu sudah sangat lama menaruh hati kepadamu .Bahkan sampai sekarang pun perasaannya kepadamu itu tidak pernah berubah .Dan bertambah semakin besar dalam mencintaimu. Apakah kamu juga tidak memiliki perasaan kepada Kak Roy juga?," tanya Wirda lagi kepadaku.
"Aku tidak dapat menjawab pertanyaanmu Wit?," ucapku kepada Wirda.
" Kenapa Ran?,"tanya Wirda kepadaku.
" Sebab aku sendiri tidak memahami perasaanku .Sejauh ini kebersamaanku dengan Kak Roy itu sebatas sahabat yang begitu dekat," jawabku.
" Apakah karena dirimu telah menikah dengan Kak Reno sehingga membatasi dan menghalangi perasaanmu kepada Kak Roy Ran?," tanya Wirda kepadaku.
" Entahlah Wir aku tidak bisa menafsirkan gambaran hatiku kepadamu. Tetapi sejauh ini aku merasakan kenyamanan dan ketenangan jika Kak Roy berada di dekatku,"jawabku kepada Wirda.
"Lalu jika benar -benar Kak Roy sudah menceraikan Rere dan dirimu juga telah berpisah dengan Kak Reno.Setelah itu Kak Roy datang untuk melamarmu menjadi istrinya. Apakah kamu mau menerimanya dan menikah dengannya Ran?," tanya Wirda.
__ADS_1
" Aku belum memikirkan hal itu Wir ,"jawabku.
"Sebenarnya apa yang mengganjal di hatimu Ran saat ini?,"tanya Wirda.
" Entahlah Wir aku hanya merasakan sesuatu yang membuatku menjadi gusar .Oh ya Wir.Maukah kamu mengambilkanku gelang tasbih yang kuletakkan di depan tas kecilku ,"pintaku kepada Wirda.
" Baiklah Ran akan aku ambilkan.Sebentar yah,"ucap Wirda sambil bergegas berdiri menuju tas kecil milikku yang Wirda gantungkan di dekat lemari miliknya.
"Ini Ran. Gelang tasbih yang bagus .Kamu dapat dari mana Ran?," ucap Winda sambil memberikan gelang tasbih tersebut dan meletakkannya di tangan kananku .
"Oh ini pemberian dari Kak Roy ,"ucapku kepada Wirda.
"Kapan Kak Roy memberikannya kepadamu Ran?," tanya Wirda .
"Dulu saat kamu datang ke rumah Kak Reno dan mengabarkan bahwa Kak Roy akan pindah dan menetap di Swiss.Kak Roy memberikanku gelang tasbih ini sebagai pengingat dan kenangan akan dirinya,"ucapkan kepada Wirda.
"Oh berarti sudah cukup lama gelang tasbih ini bersamamu dan kamu masih menyimpannya dengan baik Ran. Itu berarti kamu sangat menyukai pemberian dari Kak Roy.Berarti kamu menyukai Kak Roy ," ucap Wirda kembali menggodaku.
" Apakah jika kita menyimpan barang pemberian milik orang lain lalu menggambarkan bahwa kita juga mencintai orang yang memberikan barang tersebut," tanyaku kepada Wirda.
" Menurutku sih iya Ran.Logikanya kalau kita tidak menyukai orang tersebut kita pasti tidak akan menerima pemberiannya dan mengembalikan pemberiannya. Lagi pula untuk apa kita menyimpan barang orang yang tidak kita kehendaki atau tidak kita sukai. Nah kalau kita memiliki perasaan kepada orang yang memberikan barang tersebut kepada kita pasti barang yang ia berikan kepada kita akan kita rawat dan kita jaga sebaik-baiknya .Jadi kalau menurutku kamu juga menyukai Kak Roy kan Ran?, "tanya Wirda lagi.
Namun, sebelum sempat aku menjawab pertanyaan Wirda tiba-tiba terdengar suara gemuruh guruh yang menggelegar bersahut-sahutan.
DUARRR....DUARRRR....DUARRRR
Suara bunyi petir pertama terdengar.
" Astaghfirullahaladzim ,"ucapku dan Wirda bersamaan.
" Subhanallah ,maha suci Allah," ucapku kemudian.
" Kok kamu mengucapkan Subhanallah Ran?,"tanya Wirda kepadaku.
"Aku mengucapkan Subhanallah ketika ada petir untuk menyucikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala atau memuji Allah Subhanahu Wa Ta'ala di tengah kebesarannya. Mengucapkan Subhanallah ketika ada petir juga dilakukan untuk mengakui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah satu-satunya zat yang paling suci di dunia ini sehingga kita tidak dapat mengharap perlindungan selain kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, " jelasku kepada Wirda.
" Iya Ran, aku paham. Terima kasih ya Ran atas penjelasannya, " ucap Wirda padaku.
" Sama- sama Wirda, " sahut ku.
Lalu aku pun membaca doa mendengar petir.
"Allahumma la taqtulna bighodobika wala tuhlikna biadzabika waafina qobla dzalika.
(Artinya: Ya Allah, janganlah kau bunuh diriku dengan kemarahan-Mu, dan janganlah kau rusak diriku dengan siksa-Mu, dan maafkanlah aku sebelum semua itu)," ucapku lagi seraya berdoa kepada Allah setelah mendengar suara petir pertama.
Kemudia kilatan cahaya dari kilat membuat suasana malam itu kian mencekam.
DUARRR....DUARRRR....DUARRRR
Suara bunyi petir kedua terdengar.
"Subhanal-ladzi yusabbihur ra'du bihamdihi walmala-ikatu min khifatihi.(Artinya: Maha suci (Allah) Dzat yang guruh itu bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya) ," ucapku seraya berdoa kepada Allah setelah mendengar suara petir kedua.
"Ya sudah Ran ,ayo sebaiknya kita tidur ini juga sudah malam," ucap Wirda kepadaku sambil membetulkan bantal dan memakaikan selimut kepadaku.
" Iya Wir," ucapku pelan dan sambil menganggukkan kepala.
Tess... Tess... Tess...
Tidak lama setelah itu terdengar hujan yang turun ke bumi dan udara perlahan menjadi dingin. Lalu tetesan air hujan yang turun itu pun semakin lama bertambah semakin cepat, kencang dan semakin lebat.
Byuurrr...... Byuuuurrrr...... Byuuurrr.....
Aku pun segera membaca doa setelah mendengar hujan yang begitu kencang.
"Allohumma innii as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih. Wa-a'uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih.(Artinya: Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang Engkau kirim bersamanya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan yang Engkau kirim bersamanya), " ucapku pelan.
"Ran lampunya kumatikan ya ?,"tanya Wirda kepadaku.
" Iya Wir silahkan, "jawabku.
Cetekkk..,
Terdengar suara Wirda mematikan lampu.
pandangan mataku yang gelap semakin menjadi hitam pekat .Semuanya tiba-tiba menjadi sunyi dan suram .Hanya ada terdengar suara guyuran dari hujan yang begitu lebat dan kencang.
Hatiku sesaat merasakan kegundahan dan rasa gusar yang tidak menentu .Perlahan ku ambil gelang tasbih yang masih berada di tangan kananku dan meletakkannya di dadaku sambil memuji kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Namun, untuk sesaat entah kenapa pikiranku tertuju kepada Kak Roy. Hatiku merasakan ada keresahan dan kegundahan terhadap diri Kak Roy. Akan tetapi aku tidak tahu apakah itu.
Ya Allah, semoga engkau melindungi dan menjaga Kak Roy di manapun ia berada dari hala- hal buruk dan orang- orang yang berniat jahat kepadanya,ucapku di dalam hati.
Ughhhhh....
Kutarik nafas panjang perlahan dan mencoba memejamkan kedua mataku. Tetapi rasanya aku tidak mengantuk dan mataku tidak ingin terpejam. Pikiran dan hatiku pun kembali menjadi gusar dan kembali terlintas akan bayang-bayang Kak Roy yang menyeruak berotasi di dalam hati dan pikiranku saat ini.
Kak Roy ,semoga kamu baik-baik saja dan tidak terjadi hal-hal buruk kepadamu ucapku lagi di dalam hati berusaha untuk menenangkan hatiku yang gusar akan keadaannya.
__ADS_1
Udara yang dingin menyergap tubuhku seketika .Aku merasakan menggigil menjalar dalam ragaku yang terbaring di atas ranjang tempat tidur.
Ku tarik selimut perlahan untuk menutupi tubuhku dan berusaha untuk terpejam. Namun, sekali lagi usahaku gagal dan sia-sia. Pikiranku kembali melayang mengingat akan diri Kak Roy yang terus mengusik tidurku.