
Keesokan harinya aku begitu di kejutkan akan kepulangan Ummah dan yang lainnya ke rumah secara mendadak, tanpa memberitahu terlebih dahulu. Dan hanya meninggalkan pesan pada secarik kertas. Bahwa Ummah sengaja meninggalkan diri ku menikmati liburan berdua dengan Kak Reno.
Aku merasa kesal dan bercampur sedih, karena Ummah dan yang lainnya pergi dengan cara seperti ini. Kak Reno yang mengetahui kepulangan Ummah dan yang lainnya, hanya tampak tenang dan santai saja. Dan tidak seperti diri ku yang terlihat begitu sangat gelisah. Yah.. Bagaimana tidak aku harus menghabiskan waktu terus menerus hanya dengan Kak Reno.
Melihat raut wajah ku yang murung. Kak Reno mendekati diri ku, seraya berkata menggoda ku.
"Wajah mu yang terlihat berseri dan indah seperti rembulan malam yang bersinar, akan terlihat kecut dan keriput seperti jeruk purut Ran, jika engkau terus menerus cemberut seperti itu. "
Aku langsung melihat ke arah Kak Reno dengan wajah masam ku.
"Jangan menggoda dan mengejek ku Kak Reno. Aku tidak masalah jika wajah ku keriput. Aku tahu dirimu pasti malu kan, jika memiliki istri berwajah keriput, " balas ku sambil melihat dirinya.
Kak Reno tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah ku, dan terus mendekat. Hingga jarak di antara kami begitu dekat dan membuat ku dapat mencium aroma harum tubuh nya.
DAG... DIG.. DUG...
SERrrrrrr...
Debar di jantung ku semakin kuat dan hebat, dengan rasa sensasi kejutan listrik yang terus datang menyergap relung jiwa ku. Dan membuat nya mengalir di sekujur tubuh ku.
Aku merasa cemas dan gusar berada di dekatnya, dimana pandangan matanya seakan-akan selalu mengunci kedua mata ku untuk selalu memandang dirinya. Dia begitu dekat hingga ujung hidung nya yang begitu mancung mengenai pipi ku.
"Aku mencintai mu bukan karena parasmu Ran, tetapi karena Allah. Apa pun keadaan dirimu aku akan selalu mencintaimu. Itu janji ku pada mu, I Love you Ran.., " bisik Kak Reno lembut pada indra pendengaran ku.
Lalu jemari tangannya mengusap kepala ku dan hal itu semakin membuat diri ku tegang juga terasa kaku seketika.
Aku selalu terpaku menatap dirinya yang tiba-tiba tersenyum pada ku.
"Bersiap-siaplah Ran, setelah ini kita akan pergi ke suatu tempat, " ucapnya sambil bergerak menjauh dari ku.
Ughhhh...
Aku menarik napas lega sembari memejamkan ke dua mata ku sebentar, karena mengetahui Kak Reno sudah pergi sedikit menjauh dari ku.
Tetapi, aku kembali di kejutkan lagi dengan kehadirannya. Dimana wajahnya sudah berada tepat lagi di hadapan ku.
Aku terperanjat dan tegang, saat bibir nya dengan secepat kilat mengecup bibir ku lembut.
Lagi.. Lagi. .. ia tersenyum dan membuat ku kaku memandang dirinya.
***
"Apakah Ummah yakin? tidak apa-apa meninggalkan Rani seorang diri bersama Kak Reno?, " tanya Wirda sedikit cemas.
__ADS_1
Ummah tersenyum sambil menepuk pundak Wirda yang duduk di sampingnya.
"Iya sayang. Kamu tidak perlu mencemaskan keadaan Rani. Karena Reno akan menjaganya jauh sangat baik dari kita semua yang menjaga Rani, " jawab Ummah.
Wirda memandang Ummah dalam dan masih memiliki rasa keraguan pada wajah yang ia tampakkan.
Sekali lagi Ummah berusaha untuk meyakinkan Wirda, supaya tidak kembali dan terus menerus mencemaskan diri ku, hingga akhirnya Wirda mengerti dan paham, akan tujuan dan maksud Ummah meninggalkan diri ku bersama Kak Reno.
Wirda hanya terus berdo'a dan berharap kepada Allah, supaya kali ini kebahagiaan itu benar-benar menjemput diri ku.
Sambil menghela napasnya, Wirda terus memandangi Ummah yang tersenyum tipis padanya.
***
Dengan berat hati aku pun mengikuti Kak Reno membawa diri ku menuju tempat yang ingin ia tunjukkan kepada ku.
Aku sudah selesai merapikan diri ku dan melihat ke arah nya, dengan berbagai pertanyaan yang menyergap ku. Kak Reno melemparkan senyuman nya pada ku, lalu ia berjalan mendekat dan langsung meraih jemari tangan ku serta mengenggam nya erat.
Untuk beberapa saat aku terus terdiam menatap dirinya, hingga tangannya terus menuntun dan tidak pernah melepaskan genggaman nya.
Maka sampai lah kami berdua di tempat parkir.Kemudian, ia meminta diri ku untuk menunggu sebentar. Dari tempat kejauhan di tempat ku berdiri, aku lihat Kak Reno sedang berbicara dengan pegawai di hotel.
Tidak berapa lama setelah itu, ia berjalan mendekat ke arah ku dan mengenggam jemari tangan ku lagi, untuk mengikutinya.
"Kemana Kak Reno akan membawa ku?, " ucap ku di dalam hati sambil memandangi dirinya yang begitu sangat tenang.
Kak Reno tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada petugas hotel yang telah berlalu sekarang dari hadapan kami.
Dengan segera Kak Reno menaikki sepeda motor itu, dan langsung menyalakan nya.
"Apa yang sedang ia laki-laki? , " pikir ku lagi dan berucap di dalam hati.
Dalam rasa bingung dan tanda tanya yang begitu menyergap hati ku, akan semua tindakan yang di lakukan oleh Kak Reno .
Tiba-tiba ia pun, langsung menoleh ke arah ku dan meminta diri ku untuk naik ke atas motor yang sedang ia naikki.
"Hah! Naik?, " kata ku tidak yakin padanya
Kak Reno tersenyum sambil menganggukkan kepala nya pada ku.
Aku masih ragu sambil memandang dirinya, tetapi dengan segera Kak Reno segera memecahkan lamunan ku, dan meminta ku lagi untuk segera naik ke atas motor.
Masih dengan raut wajah yang bingung, aku pun segera berjalan mendekati Kak Reno dan melihat ke arahnya.
__ADS_1
Dia menatap ku dalam, "Ayo Ran, lekas naik! Apa lagi yang kamu tunggu? Aku tidak akan mencelakai dirimu Ran, " ucap Kak Reno dengan bergurau pada ku.
Aku menatapnya dalam, dan Kak Reno tampak beberapa kali meyakinkan diri ku untuk segera naik ke atas motor, supaya tidak menghabiskan waktu.
Dan lagi.. Aku pun begitu saja mematuhi apa yang Kak Reno katakan, dengan langsung naik ke atas motor.
"Apakah kamu sudah siap Ran?, " tanya nya pada ku.
Aku mengangguk dan Kak Reno melihat dari kaca spion sepeda motor.
"Ran, apakah kamu sudah siap?, " tanya nya lagi pada ku.
"Iya, " jawab ku pelan sambil mengangguk.
Namun, ia tetap bertanya lagi pada ku.
Hingga membuat diri ku bingung.
"Benarkah Ran, apakah kamu sudah siap?, " tanya nya sambil menolehkan kepalanya ke samping untuk melihat ke arah ku.
Huft,
Aku menghela napas untuk menjawab pertanyaan nya dengan penuh rasa sabar dan ketenangan.
"Iya, aku sudah siap Kak Reno, " jawab ku sedikit keras.
Kak Reno mengelengkan kepalanya dan tersenyum pada ku.
"Kamu belum belum siap Ran, " ucapnya.
"Aku sudah siap,dan helm pun juga sudah ku kenakan," bantah ku.
Kak Reno tersenyum dengan memandang wajah ku yang terlihat bingung menatap dirinya. Lalu dengan perlahan ia tarik kedua jemari tangan ku, dan melingkar kan nya pada pinggangnya.
"Ini baru siap Ran! Pegang yang erat ya Ran, " ucap Kak Reno sambil memandang ku.
Aku terdiam dan terpaku menatapnya, lagi.. Kak Reno mengenggam jemari tangan ku lembut yang melingkar di pinggangnya.
Breemmmmm..
Sepeda motor melaju menembus semilir angin yang membelai diri kami masing-masing.
Kak Reno begitu dekat dengan diri ku, hingga harum aroma tubuh nya dapat terendus dari hidung ku.
__ADS_1
Jantung ku terus berdegup sangat kencang dan tak dapat merasa tenang.
Lagi.. Ku rasakan getaran dan sensasi rasa aneh yang terus menjalar di tubuh ku dan hati ku yang tidak bisa ku hindari.