Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Memberikan pelajaran untuk Kak Reno.


__ADS_3

Kak Reno dengan cepat merebut telepon genggam milik ustad Fariz ,lalu melemparkan telepon genggam tersebut ke tanah dengan keras.


JEDAR.......


"Astaghfirullah, " ucap ustad Fariz terkejut.


Hehehehe...


Kak Reno tersenyum dengan sinis dan ekspresi wajah senang.


"Kamu ingin melaporkan ku ke polisi! Hahahhaha.... Kamu tidak akan pernah bisa melakukannya itu. Kamu tahu kenapa? karena aku adalah cucu laki-laki dari keluarga besar Suprapto. Dan tidak ada yang berani dan bisa melawan keluargaku. Juga termasuk dirimu, " ucap Kak Reno sambil menginjak-injak telepon genggam milik ustad Fariz dengan kakinya.


"Astaghfirullah, anda sungguh sudah takabur mas. Di muka bumi ini tidak ada perbedaan kasta atau pun tingkat kedudukan jika di hadapan Allah Subhanahu wa ta'ala termasuk saya dan mas sekalipun. Bahkan sebesar apapun pengaruh dan kekuasaan yang keluarga mas miliki tidak akan mampu melawan kekuatan Allah untuk menghapus dan mengadili kezaliman yang telah mas lakukan, " ucap ustad Fariz.


"Sudah cukup! Kamu tidak perlu menceramahiku! Aku peringatkan sekali lagi jangan pernah mencampuri urusanku! Paham!, " gertak Kak Reno.


"Apakah mas ingin menakuti saya? Sungguh hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala saya gantungkan rasa takut kepadaNYa. Karena Dia-lah dzat yang Maha Agung dan Maha Perkasa yang berhak dimuliakan dan ditakuti oleh semua hambanya. Bukan seperti mas yang hanya manusia bisa seperti saya, " sahut ustad Fariz dengan tenang.


"Kamu memang banyak bicara ya!, " ucap Kak Reno.


Dengan perasaan kesal dan emosi kemarahan yang memenuhi dirinya.


Kak Reno seketika mengepalkan tinju tangannya ke arah ustad Fariz.


"Rasakan ini! , hiyaaa..., " ucap Kak Reno.


Namun, sayang kepalan tinju dari Kak Reno meleset. Ustad Fariz dapat menghindar dengan cepat.


Kak Reno hilang keseimbangannya.


BRukkk.....


Ia jatuh tersungkur ke tanah.


Ustad Fariz mendekati Kak Reno.Ia berniat untuk membantu Kak Reno agar dapat bangkit berdiri.Dengan pelan tanpa rasa dendam ustad Fariz mengulurkan tangan kanannya.


Namun,sekali lagi Kak Reno menghempaskan tangan ustad Fariz keras.


Lalu,Kak Reno berusaha berdiri sendiri dan masih tetap dengan sifat congkak dan keras kepalanya.


"CIH! Aku tidak sudi menerima bantuanmu.Dan jangan berpura-pura baik dengan menolongku,padahal aku tahu di dalam hatimu kamu senang bukan, karena aku jatuh tersungkur.Dasar manusia munafik! CIHH!,"ucap Kak Reno dengan sangat kasar sambil membersihkan kotoran yang menempel di pakaiannya.


Ustad Fariz menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Kak Reno.


"Astaghfirullah,mas sudah salah menafsirkan niat saya yang ikhlas membantu anda,"kata ustad Fariz pelan.


"Hei!sudah diam !aku akan membalas yang telah aku alami hari ini dan tidak akan membiarkan kamu dan mereka hidup dengan tenang,"ucap Kak Reno marah sambil menunjuk kearah ustad Fariz,aku,Kak Roy dan Pak Budi.


Kak Reno hendak berjalan pergi dari tempat itu.Namun, ustad Fariz mengatakan sesuatu sebelum Kak Reno pergi.


"Setinggi-tingginya burung terbang akan tetap jatuh ke tanah pula. Hal ini juga berlaku untuk anda. Dengan menghancurkan telepon genggam milik saya. Tidak akan mengubah ketetapan hati saya dengan melaporkan tindak kekerasan yang anda lakukan pada pihak berwajib yaitu kepolisian. Jadi akan tunggu dan bersiap-siap untuk mempertanggung jawabkan perbuatan tercela yang anda lakukan, "ucap ustad Fariz dengan tenang dan berlalu meninggalkan Kak Reno.


Sementara itu, ustad Fariz berjalan cepat ke arahku,Kak Roy dan Pak Budi.

__ADS_1


"Kita harus membawa Rani dengan segera ke rumah sakit terdekat.Darah di hidungnya masih terus mengalir dan kondisinya semakin lemas Pak Budi.Sekaligus,teman nak Rani yaitu mas ini,"ustad Fariz sambil menunjuk ke arah Kak Roy.


"Juga perlu mendapatkan pengobatan,mari pak kita bergegas segera,"ucap ustad Fariz.


"Iya nak Fariz,"jawab Pak Budi dengan cemas."Lalu bagaimana dengan nak Reno?,"sambung Pak Budi.


Ustad Fariz tersenyum.


"Bapak tidak perlu khawatir, sekarang kita fokus terlebih dahulu dengan Dik Rani dan temannya,"jelas ustad Fariz.


Mendengar ucapan ustad Fariz,Pak Budi bergegas.


Pak Budi mengangkat tubuhku yang sudah lemah.


Sementara ustad Fariz membopong Kak Roy.


Kami semua menuju rumah sakit


 


Setibanya di rumah sakit, aku dan kak Roy mendapatkan perawatan di ruang UGD (unit gawat darurat).


Sementara, Pak Budi dan ustad Fariz menunggu di luar ruang UGD.


Pak Budi terlihat begitu khawatir. Dia berjalan mondar-mandir dengan wajah yang begitu gelisah dan tidak tenang.


Ustad Fariz yang melihat Pak Budi seperti itu segera mendekati Pak Budi dan mengajaknya duduk di sebelahnya.


"Iya nak Fariz terima kasih, saya memang sangat mengkhawatirkan keadaan nak Rani karena dia tidak lama baru keluar dari rumah sakit. Saya sangat cemas dengan keadaannya,"ucap pak Budi yang tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Iya Pak Budi saya mengerti apa yang Bapak rasakan. Sebenarnya jika saya boleh tahu apakah benar pemuda yang berbuat keributan itu adalah suaminya dek Rani?,"tanya ustad Fariz dengan wajah sangat serius.


"Hmmmm....benar nak Faris,"jawab Pak Budi ragu.


Ustad Fariz terdiam sesaat mendengarnya dan raut wajahnya berubah seketika.


"Tetapi bagaimana bisa Pak Budi, perempuan yang lembut, solehah dan baik seperti dek Rani bisa menikah dengan pemuda kasar dan sangat arogan seperti itu? saya sendiri tidak habis pikir dan saya juga masih sangat terkejut bahkan hampir tidak mempercayainya jika pemuda itu adalah suaminya dek Rani ,"ucap ustad Fariz.


"Betul nak Fariz, bahkan saya sendiri pun tidak dapat mempercayai jika nak Reno adalah suaminya nak Rani.Namun, kenyataannya memang seperti itu. Yah seharusnya nak Reno itu sangat beruntung dan mestinya bersyukur bisa mendapatkan istri yang baik seperti nak Rani. mendapatkan istri seperti anak Rani seperti mendapatkan berlian atau intan permata,"ucap Pak Budi.


"Pemuda bernama Reno itu apakah putra dari majikan tempat Pak Budi bekerja sebagai sopir pribadi?,"tanya ustad Fariz.


"Iya betul sekali nak Fariz. Nak Reno itu adalah cucu dari bapak Suprapto sekaligus anak dari Pak Sugeng Suprapto. Mereka adalah keluarga terpandang yang sangat kaya raya dan mempunyai banyak relasi dan sangat berkuasa. Yah, namun dengan kekuasaan yang mereka miliki mereka menggunakannya untuk hal-hal negatif seperti memperkaya diri sendiri, menyakiti orang lain. Yah,seperti yang tadi dilakukan nak Reno kepada nak Rani dan nak Roy. Kakeknya nak Faris pasti mengenal bapak Suprapto kakeknya nak Reno,"ucap pak Budi menjelaskan kepada ustadz Fariz panjang lebar.


"Benarkah itu Pak?,"tanya ustad Fariz terkejut.


"Iya benar nak Fariz dulu kakeknya nak Reno, kakeknya nak Fariz dan kakeknya nak Rani itu adalah sahabat baik. Dan ayah Pak Budi dulu bekerja di rumah kediaman kakeknya nak Rani. Yah, namun karena ketamakan kakeknya nak Reno yang haus akan kekayaan ia rela menghancurkan kehidupan kakeknya nak Rani dari dulu sampai sekarang yang berlanjut dampaknya kepada kehidupan nak Rani sekarang ini. Sungguh sudah banyak hal-hal buruk yang telah dialami nak Rani dan untuk itu semua bapak sangat merasa sedih dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolongnya,"ucapan Pak budi dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu bagaimana kronologinya dek Rani bisa sampai menikah dengan pemuda bernama Reno,pak?,"tanya ustad Fariz dengan rasa ingin tahu.


Pak Budi terdiam matanya yang berkaca-kaca kini telah bergelimang tetesan air mata.


Perlahan disekanya air matanya. Lalu ia menghela nafas panjang untuk mencoba mengingat kembali awal mula diriku masuk ke dalam pusaran keluarga Suprapto.

__ADS_1


Pak Budi memandang ke arah langit-langit di depan koridor rumah sakit.


"Ceritanya sangat panjang nak Fariz,"ucap Pak Budi.


"Tidak apa-apa Pak Budi, insya Allah saya siap mendengarkannya siapa tahu setelah mendengar cerita dari Pak Budi saya dapat membantu atau mempunyai solusi dari masalah yang telah membelenggu Dek Rani selama ini. Silakan Pak Budi, saya siap mendengarkan,"pinta ustad Fariz.


Pak Budi menatap wajah ustad Fariz dengan pikirannya berkelana. Sesaat ada timbul rasa takut dan khawatir jika ia menceritakan semua kejadian sebenarnya yang telah ia ketahui.Bagaiman keluarga Suprapto telah merenggut semua kebahagiaanku. Namun, di sisi lain hatinya ia berharap mungkin Allah memberikan bantuan dan pertolongannya melalui ustad Fariz untuk mengeluarkan diriku dari kesusahan ini. Tidak lama kemudian Pak Budi terdiam. Lalu dengan penuh keyakinan ia memantapkan hatinya untuk menceritakan semuanya kepada ustad Fariz.


Sementara itu ustad Fariz mendengarkan semua cerita dari pak Budi dengan serius dan dengan penuh ekspresi wajah terkejut dan tidak percaya atas semua hal yang telah menimpa diriku.


Berulang kali ustad Fariz selalu melafazkan istighfar dari mulutnya dan sesekali pula ia memegang dadanya.


Ustad Fariz seolah tidak percaya dan sangat terkejut atas semua perilaku keluarga Suprapto yang telah Ia dengar dari Pak Budi. Bagaimana keluarga Suprapto dengan kejamnya telah berbuat zalim terhadap diriku dan keluargaku.


Pak Budi dengan berlinang air mata menceritakan setiap detail demi detail peristiwa yang telah aku dan keluargaku alami. Dan ustad Fariz juga terlihat begitu sendu wajahnya, Iya terbawa suasana dan larut merasakan kepedihan yang aku alami hingga Ia pun tidak menyadari air matanya telah mengalir perlahan membasahi pipinya.


"Setelah saya mendengarkan apa yang Pak Budi ceritakan. Saya memantapkan hati untuk benar-benar mempidanakan pemuda bernama Reno itu Pak,"ucap ustad Fariz.


Mendengar ucapan ustad Fariz Pak Budi sangat terkejut dan merasa takut.


"Kenapa Pak Budi terlihat begitu sangat khawatir dan takut?,"tanya ustad Fariz.


"Saya takut nak jika nak Fariz melaporkan nak Reno ke polisi, maka keluarga Suprapto tidak akan tinggal diam. Mereka pasti tentu akan menyakiti nak Fariz pula. Maka lebih baik nak Fariz jangan ambil tindakan itu. Pak Budi mohon,"pinta Pak Budi.


"Allahumma inna naj'aluka fi nuhurihim wa na'udzubika min syururihim.


Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku menjadikan Engkau di leher mereka (agar kekuatan pada orang jahat itu tidak berdaya saat berhadapan dengan kami) dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka." (HR. Ahmad, Abu Dawud).


Bacalah do'a tersebut pak jika bapak merasa takut dan khawatir.


Satu hal lagi Pak Budi, Allah Subhanahu wa ta'ala tidak akan mengampuni bagi orang-orang yang menyembunyikan kebenaran nanti di akhirat kelak orang-orang ini tidak akan dapat membela diri dan juga orang lain pun tidak akan memberikan pembelaan. Jadi menurut hemat saya Pak Budi jangan merasa takut dan jangan pula merasa khawatir.Apalagi kita juga sama-sama manusia biasa, justru yang seharusnya kita takutin itu Allah,pak. Insya Allah dengan kita mengungkap kejahatan yang mereka lakukan maka tidak ada lagi kezaliman yang akan mereka perbuat terhadap orang lain. Sekarang kita hanya bisa berikhtiar dan selalu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala agar Allah senantiasa melindungi kita dan menghilangkan perasaan takut dan khawatir.Insya Allah kita berjuang di jalan yang benar,pak."


Tidak lama kemudian dokter keluar menemui Pak Budi dan ustad Fariz.


"Bagaimana kondisi nak Rani dan nak Roy?," tanya Pak Budi cemas.


"Alhamdulillah keadaan mereka berdua baik. Meskipun untuk pasien perempuan yang bernama Rani harus lebih banyak beristirahat, sebab Ia mengalami cedera yang cukup parah di bagian hidung dan kepalanya untuk itu nanti kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut melalui CT scan setelah masa observasi ini,"cek dokter menjelaskan kepada Pak Budi dan ustad Fariz.


"Astaghfirullah ya Allah,"ucap pak Budi dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah dok, kalau begitu saya meminta dilakukan pemeriksaan vvsum terhadap kedua pasien tersebut secepatnya ya dok,"pinta ustad Fariz.


"Pak Budi di sini dulu menemani Dek Rani dan temannya. Saya akan menyiapkan berkas laporan ke pihak kepolisian untuk kasus kekerasan terhadap Dek Rani. Kamu udah jangan takut semua kan bebek saja yang terpenting Pak Budi tetap di sini menemani dan menjaga Dek Rani. Baiklah Pak Budi, saya pergi dulu. Assalamualaikum...,"ucap ustad Fariz.


Pak Budi terpaku sesaat. Ia memandang lurus ke arah ustad Fariz yang bergegas berjalan meninggalkannya.


Ada rasa khawatir dan takut yang tetap bergejolak di hatinya. Namun, ia kembali teringat akan pesan dan do'a yang diajarkan oleh ustad Fariz.


Maka dengan pelan dan lirih Ia pun beristighfar dan membaca do'a tersebut dengan pelan dan penuh keyakinan.


Kini ia percaya Allah Subhanahu wa a ta'ala akan membantu dan mempermudah semuanya untuk melepaskan diriku dari belenggu keluarga Suprapto .Dan dengan wajah sendunya ia perlahan mengusap bekas air matanya yang masih membasahi pipinya. Tidak lama kemudian ia meminta izin kepada dokter untuk masuk melihat keadaanku.


"Nak Rani....,"ucap Pak Budi dengan air mata yang kembali berlinang.

__ADS_1


__ADS_2