Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kondisi Bu Sri.


__ADS_3

Dokter datang memeriksa keadaan Bu Sri yang terus histeris memanggil nama Kak Reno.


"Reno... Reno... Reno... Anakku!, " teriak Bu Sri dengan kencang lalu menangis.


Huhuhuhuhu........ Huhuhuhuhu.......


"Mah, sudah mah hentikan tangisan mama. Papa mohon mama jangan seperti ini, " pinta Pak Sugeng dengan mata berkaca-kaca.


"Sri, sudah cukup jangan seperti ini. Kamu juga harus ingat kondisimu. Apakah kamu ingin melihat Reno semakin bersedih jika Reno tahu akan kondisimu saat ini?, " kata kakek.


Tetapi Bu Sri tidak menggubris kata-kata kakek dan Pak Sugeng. Dia tetap terus menangis dan semakin bertambah kencang tangisannya.


"Huhuhuhuhu..... Huhuhuhuhu.... Argghhhh.... Reno!... Reno!.... Reno!... Huhuhuhuhu..., " teriak Bu Sri sambil meronta.


Melihat keadaan Bu Sri yang semakin tidak terkendali akhirnya dokter memberikan obat penenang kepada Bu Sri melalui injeksi. Dan setelah beberapa saat Bu Sri sudah tergolek lemas dan tidak sadar diri. Bu Sri pun tampak sudah tenang dan tertidur. Tidak ada lagi jeritan suaranya yang meraung dalam derai air matanya memanggil nama Kak Reno. Matanya terpejam dan terlihat sangat bengkak dan mulai menghitam. Parasnya begitu pucat dengan kedua pipinya yang masih sangat basah bermandikan air matanya.


Pak Sugeng yang berada di samping Bu Sri segera mengusap lembut wajah istrinya. Dia menyeka bekas tumpahan linangan air mata pada paras Bu Sri. Dengan tatapan penuh rasa kasih dan iba hatinya seperti terkoyak sakit melihat istri yang sangat ia cintai sekarang harus terkulai lemas karena obat penenang.


Tes.. Tes... Tes...


Air mata Pak Sugeng tumpah perlahan mengalir lambat dalam pandangannya yang lekat kepada istrinya.


"Mah, lekas membaik mah dan jangan seperti ini. Papa tidak sanggup menanggung beban dihati dengan melihat kondisi mama yang seperti ini, " ucap Pak Sugeng sambil menitikan air mata.


Tidak lama setelah memberikan obat penenang kepada Bu Sri. Dokter dan perawat pun izin keluar dari ruangan tempat Bu Sri di rawat.


Kakek memandang ke arah putranya dengan penuh rasa simpatik.


"Sugeng, sudah kamu juga jangan ikutan bersedih seperti itu. Papa paham akan kesedihan mu. Tetapi dengan menangis tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat istrimu lekas membaik. Sekarang kita harus dengan cepat memikirkan putramu Reno agar terbebas dari semua tuduhan yang memberatkannya. Sebab hanya itulah jalan bagi kesembuhan istrimu, " ucap Kakek sambil memegang bahu Pak Sugeng.


"Iya pah, maafkan Sugeng yang tidak bisa menahan kesedihan. Sugeng terbawa perasaan melihat keadaan Sri seperti ini pah, Ughhhhhhh...... Akhhhhhhh....., " sahut Pak Sugeng kepada kakek sambil menghembuskan napas dari mulutnya supaya membuat hatinya tidak berat.


Di saat Pak Sugeng kakek sedang berbicara. Mbak Riska pun datang lalu berjalan mendekat ke arah Bu Sri terbaring.


"Bagaiamana keadaan mama pah?, " tanya Mbak Riska dengan raut wajahnya yang cemas.


Pak Sugeng dan kakek lalu menoleh ke arah Mbak Riska.


"Sebaiknya kita berbicara di depan pada sofa tunggu pasien. Supaya tidak menganggu Sri sedang tertidur, " ajak kakek kepada Mbak Riska dan Pak Sugeng.


"Baik pah, " sahut Pak Sugeng.


Lalu kakek, Pak Sugeng dan Mbak Riska pun berjalan menuju sofa tunggu yang telah ada Pak Gukul sedang duduk seorang diri sambil melihat ke layar telepon genggam miliknya.


"Mengapa kamu tidak bisa membawa Rani ikut serta denganmu Riska?, " tanya kakek sambil duduk di samping Pak Gukul.


"Akh.... Ceritanya panjang kek. Ternyata membawa Rani tidak semudah yang Riska bayangkan kek, " sahut Mbak Riska yang juga ikut duduk tepat di hadapan kakek.


"Seharusnya kamu itu menyewa orang bayaran untuk membawa Rani. Tentu semuanya akan beres, " balas kakek.


"Iya kek maaf, Riska tidak terpikirkan akan hal itu. Riska kira cukup dengan usaha Riska sendiri saja sudah mampu untuk membawa Rani bersama Riska. Tetapi prediksi dan kalkulasi Riska salah kek, " ucap Mbak Riska.


"Itulah dirimu yang selalu bertindak sesuai dengan emosi bukan dengan menggunakan akal pikiranmu, " kata kakek kepada Mbak Riska dengan terlihat sedikit kesal.


"Iya kek tolong maafkan Riska, " pinta Mbak Riska dengan wajah sedikit lesu dan sedikit tertunduk.

__ADS_1


"Ya sudahlah semua sudah terlanjur terjadi. Lalu untuk apa mau disesali. Sekarang kita harus memikirkan lagi rencana untuk membawa Rani bersama kita, " ucap kakek sambil berpikir.


Pak Gukul yang sedari tadi fokus dengan telepon genggam miliknya. Kini telah memasukkan telepon genggam miliknya ke dalam saku kemejanya.


"Maaf Pak Suprapto, saya menyela pembicaraan bapak dan Nak Riska, " ucap Pak Gukul sopan. "


Kakek menoleh ke arah Pak Gukul.


"Ya tidak apa-apa. Silahkan kamu katakan saja apa yang ingin kamu katakan?, " ucap kakek.


"Begini Pak. Besok pagi adalah persidangan pertama kasus nak Reno. Untuk itu saya minta Pak Suprapto dan Pak Sugeng bersiap. Dengan menyiapkan mental, hati dan pikiran, " ucap Pak Gukul.


"Apa maksud perkataan Pak Gukul?, " tanya Pak Sugeng.


"Maksud saya adalah Pak Sugeng dan Pak Gukul menyiapkan hati untuk menerima kemungkinan terburuk atas kasus dari Nak Reno. Setelah semua usaha dan upaya yang saya dan tim pengacara saya lakukan dengan optimal. Maka dari itu kita tetap mempersiapkan mental kita untuk menerima tuntutan dari Jaksa penuntut hukum dan vonis hakim, "ucap Pak Sugeng.


" Apakah benar-benar tidak ada upaya untuk membebaskan Reno?, "tanya kakek.


" Dari kasus dan berdasarkan barang bukti yang ada sangat sulit Pak Suprapto untuk membebaskan nak Reno jauh dari tuntutan hukum. Yang saya dan tim pengacara saya dapat lakukan adalah mengajukan pengurangan hukuman untuk Nak Reno, "jawab Pak Gukul.


" Jadi maksud Pak Gukul. Reno akan tetap di penjara?, "tanya Pak Sugeng.


" Betul Pak. Dan yang dapat saya lakukan adalah membantu mengurangi masa hukuman tahanan di penjara Nak Reno , "jawab Pak Gukul lagi.


Mendengarkan ucapan Pak Gukul. Pak Sugeng pun langsung lemas dan tidak bersemangat.


" Baiklah Pak Sugeng dan Pak Suprapto kalau begitu saya izin pamit dulu untuk menyiapkan semua berkas-berkas yang akan digunakan pada persidangan besok mendampingi Nak Reno,"ucap Pak Gukul kepada kakek dan Pak Sugeng.


"Iya silakan Pak Gukul dan saya mohon sekali bantuannya.Dn semoga ada mukjizat untuk Reno agar terbebas dari hukuman penjara dan lepas dari semua tuduhan yang ada, "ucapan kakek dengan penuh harapan. "Iya Pak, akan saya usahakan, " sahut Pak Gukul.


"Sama-sama Pak Suprapto. Kalau begitu saya permisi dulu, " pamit Pak Gukul.


Tidak lama setelah Pak Gukul keluar dari ruangan tempat Bu Sri di rawat. Pak Sugeng, kakek dan Mbak Riska terdiam dalam pikiran mereka masing-masing.


" Sugeng takut pah jika sampai Reno benar-benar harus ditahan dalam kurun waktu yang lama.Sugeng tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Sri, pah?,"ujar Pak Sugeng dengan tiba-tiba dan raut wajahnya sangat cemas.


" Sudahlah kamu jangan terlalu overthinking. Sementara ini kamu fokus aaja untuk menjaga Sri. Biar Reno ,Papa yang akan mengurusinya bersama dengan Pak Gukul. Papa juga tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Dan hal ini semua terjadi karena anakmu Reno yang tidak dapat mengontrol emosinya. Sehingga melakukan tindakan yang ceroboh, merugikan dirinya sendiri dan juga menghancurkan keluarga kita secara tidak langsung, "ucap kakek sambil bersandar pada sofa.


" Mengapa kakek menyalakan Reno untuk semua hal yang terjadi pada keluarga kita. Riska tidak setuju dengan apa yang kakek katakan. Semua ini terjadi karena Rani. Seandainya saja kakek tidak memaksa Reno untuk menikah dengan Rani .Maka semua hal ini tidak akan pernah terjadi termasuk juga dengan keadaan mama sekarang. Semua ini karena Rani dan yang patut disalahkan adalah Rani bukan Reno,kek, "ucap Mbak Riska dengan kesal.


Kakek memandang ke arah Mbak Riska yang terlihat kesal dan wajahnya yang sedikit cemberut.


" Hal inilah yang kakak tidak suka terhadap dirimu Riska. Sama halnya dengan adikmu Reno. Kalian berdua itu tempramental dan sangat emosional sehingga tidak dapat mengelola dan mengatasi amarah kalian masing-masing.Seharusnya kamu juga belajar dari adikmu Reno. Apa yang ia terima sekarang adalah buah dari kelalaiannya dalam mengontrol emosinya. Dan sekarang kita semua yang memetik hasilnya. Lalu kenapa kamu menyalahkan orang lain. Jika adikmu sendiri tidak bisa untuk mengontrol dan menahan emosinya. s


Satu hal lagi berulang kali kakek tekankan kepadamu. Kakek memaksa adikmu Reno menikah dengan Rani semua itu adalah demi kelangsungan hidup keluarga kita dan juga termasuk kelangsungan dirimu .Apakah kamu sanggup hidup tanpa uang dan materi? Apakah kamu sanggup menurunkan sikap dan gaya hidup hedonis mu? apakah kamu siap untuk hidup miskin dan terlunta-lunta di jalan? Bisakah kamu menjawab semua pertanyaan dari kakek?,"ucap kakek bertanya kepada mbak Riska.


"Mengapa kakek berbicara seperti itu?, " tanya Mbak Riska.


"Kakek ingin kamu berpikir sebelum berbicara. Rani adalah aset penting bagi keluarga kita. Dia itu adalah tambang emas yang merupakan penjamin kelangsungan hidup kita. Dan jika kakek tidak memaksa Reno menikahi Rani kita tidak akan dapat terus menikmati semua kekayaan yang dimiliki Rani ini. Karena lambat laun pengacara dari almarhum kakeknya bisa saja dapat menemukan Rani dan mengalihkan semua aset kekayaan yang kita miliki lalu memindahkannya menjadi milik Rani .Dan jika semua hal itu terjadi apakah kamu bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kita semua bisa?,"tanya kakek kepada Mbak Riska.


" Tetapi kek...., "ucap mbak Riska mencoba membantah namun dengan cepat disela kakek.


" Sudah cukup. Kamu jangan membantah ataupun berkata lagi, "ucap kakek.


Mbak Riska akhirnya terdiam dan tidak dapat berkata-kata lagi.

__ADS_1


" Baiklah sekarang kamu di rumah sakit temani papamu untuk menjaga mamamu. Sementara itu kakek pulang dulu untuk beristirahat dan untuk bersiap menghadiri dan menghadapi persidangan adikmu Reno esok hari, "ucap kakek kepada mbak Riska.


" Sugeng, papa pulang dulu ya. Kamu jaga dirimu baik-baik, "ucap Kakek sambil menepuk bahu Pak Sugeng lembut.


" Iya pah, papa hati-hati ya, "kata Pak Sugeng.


" Iya tentu kamu juga jaga kondisimu dan jangan terlalu banyak berpikir ke hal yang negatif, "ucap Kakek sambil berdiri.


Tidak lama setelah itu kakek pun berjalan keluar dari ruangan tempat Bu Sri di rawat.


Sementara itu, Pak Sugeng tampak duduk menyandarkan tubuhnya pada sofa dengan memejamkan kedua matanya. Dia terlihat begitu sangat lelah dan letih sekali.


Dan Mbak Riska pun hanya memandang ke arah Pak Sugeng.


" Papa tidur saja dulu, biar mama Riska yang jaga, "ucap mbak Riska.


Mendengarkan ucapan dari Mbak Riska. Kedua mata Pak Sugeng pun terbuka dan melihat kearah mbak Riska.


" Baik Riska, kalau begitu papa tidur dulu sebentar ya. Papa sangat mengantuk dan lelah sekali. Sementara papa tidur kamu tolong jaga mamamu ya nak, "pinta Pak Sugeng kepada Mbak Riska.


" Iya pah tentu saja. Ya sudah sekarang papa langsung tidur saja. Dan jangan khawatirkan mama. Riska akan menjaga mama selama papa tidur, "tutur Mbak Riska kepada Pak Sugeng.


Setelah mendengar perkataan dari Mbak Riska. Pak Sugeng pun berdiri dari duduknya. Lalu ia melepas sepatu dari kedua kakinya dan meletakkan tubuhnya di atas sofa secara horizontal. Dia luruskan kedua kakinya memanjang memenuhi permukaan dalam sofa. Kemudian ia letakkan bantal untuk meyangga kepalanya. Dengan meletakkan pergelangan tangan kanannya untuk menutupi kedua matanya ia berusaha untuk beristirahat memulihkan rasa lelah yang menyelimuti raganya.


Ukhhh.... krokkkkk..... krokkkkk...


Tidak lama kemudian terdengar suara dengkuran dari mulut Pak Sugeng. Dia tampaknya sudah tertidur pulas dalam rasa lelahnya yang teramat sangat mendera dirinya.


Sementara Mbak Riska hanya dapat memandang ke arah Pak Sugeng dengan tatapan penuh rasa simpatik dan sedikit haru. Dia bangkit dari duduknya melihat dan mengamati Pak Sugeng yang begitu sangat kekelahan. Raut wajah Mbak Riska terlihat keruh. Dia tidak pernah melihat kondisi papanya seperti ini sebelumnya.


Hatinya terasa sesak dan nyeri.


" Semua ini gara-gara Rani, "ucap Mbak Riska pelan yang terus menyalahkan diriku.


Matanya pun terlihat berkaca-kaca. Dia begitu tidak kuasa melihat keadaan Pak Sugeng seperti itu. Lalu Mbak Riska berjalan mendekati ranjang pasien tempat Bu Sri terbaring.


Di tariknya kursi bundar di dekat meja kecil yang letaknya tidak begitu jauh darinya.


Perlahan tanpa meninggalkan bunyi. Kursi itu pun sekarang sudah di dekat dirinya. Lalu Mbak Riska duduk.


Dia mengenggam jemari tangan Bu Sri dengan lembut dan sesekali ia mencium tangan Bu Sri sambil memejamkan kedua matanya.


Air matanya mengalir perlahan. Mbak Riska tidak mampu menahan rasa kesedihan melihat kondisi Bu Sri yang semakin lemah.


" Mah, cepat sembuh ya mah. Riska ingin melihat mama sehat seperti dulu lagi. Riska tidak kuat melihat keadaan mama seperti ini. Riska sayang mama, "ucap Mbak Riska pelan dan lirih.


Dia terus menggenggam jemari tangan Bu Sri dan meletakkannya pada sisi pipi kanannya. Sementara matanya terus memandang wajah Bu Sri yang terlihat layu tidak berseri seperti biasanya.


Hatinya berkecamuk dengan rasa yang penuh campur aduk. Antara kesal, marah, sedih dan iba semua melebur menjadi satu.


Mbak Riska tidak kuasa menatap wajah Bu Sri. Dia membenamkan kepalanya di atas kasur tempat Bu Sri dirawat sambil terus mengenggam jemari tangan Bu Sri.


Hiks... Hiks... Hiks...


Mbak Riska meluapkan rasa kesedihan yang selama ini ia pedam.

__ADS_1


__ADS_2