Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Keinginan hati.


__ADS_3

"Ayah, kita harus mencoba sekali lagi datang ke rumah keluarga Ustad Fariz?, "pinta ibunda Kak Aisyah.


Ayahanda Kak Aisyah menatap wajah istrinya datar, " Untuk apa lagi kita kesana bund, bukankah kita sudah mengetahui jawabannya. Lagi pula kita tidak bisa memaksakan Ustad Fariz untuk menikahi putri kita sebab Ustad Fariz tidak mencintai Aisyah. "


Ibunda Kak Aisyah memegang tangan suaminya, "Tetapi pak, setidaknya kita berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan dan kebahagiaan putri kita. "


Ayahanda Kak Aisyah memegang tangan istrinya pelan, "Bund, apakah bunda mau jika Ustad Fariz menikahi putri kita atas dasar belas kasihan. Jika memang Ustad Fariz bersedia menikahi putri kita hanya demi pemenuhan nafsu dan keegoisan Aisyah.Apakah akan ada jaminan jika putri kita akan bahagia dengan pernikahan nya?."


Ibunda Kak Aisyah tetap membantah, "Tentu Aisyah akan bahagia ayah. Karena itulah keinginannya yaitu menjadi istrinya Ustad Fariz. "


Ayahanda Kak Aisyah menggelengkan kepalanya, "Jika semua nilai kebahagiaan seseorang dapat diketahui kadarnya maka tidak ada banyak orang yang akan terluka. Jika manusia dapat menentukan pemenuhan akan setiap hasratnya lalu dunia ini akan hancur tentunya karena itu penuhi akan ketamakan dan keegoisan sifat setiap manusia di muka bumi ini. Bunda tidak bisa hanya mementingkan kebahagiaan putri kita. Ustad Fariz dan keluarganya pun berhak untuk memperoleh kebahagiaan dan kebaikan, khususnya pasangan hidup untuk Ustad Fariz."


Ibunda Kak Aisyah terlihat tidak setuju dengan pemikiran suaminya, "Jadi maksud ayah putri kita tidak baik? Ayah tega melihat putri kita mengalami gangguan kejiwaan dan mental. "


Hufh, terdengar Ayahanda Kak Aisyah menghela napas, "Mengapa bunda tidak mengerti juga apa yang ayah katakan. Begini saja jika bunda yang menjadi ibunya Ustad Fariz apakah bunda mau memaksa menikahkan putra bunda dengan Aisyah setelah perbuatan yang dilakukan Aisyah terhadap calon istrinya Ustad Fariz. "


Ibunda Kak Aisyah terdiam, dan Ayahanda Kak Aisyah melanjutkan ucapan nya, "Setiap orang tua juga menginginkan kebahagiaan dan kebaikan untuk anak-anak mereka, termasuk juga apa yang dilakukan oleh kedua orang tua Ustad Fariz, bund.


Bunda jangan egois dan terus semakin membuat putri kita Aisyah tidak menginsyafi kesalahannya yang ia buat sendiri. Sejatinya segala sesuatu yang dipaksakan itu tidaklah baik bund."


Ibunda Kak Aisyah menatap serius wajah suaminya,"Jadi maksud ayah kita membiarkan Aisyah seperti ini saja,begitu!. "


"Kita tidak membiarkan putri kita bund. Tetap kita berusaha melakukan hal yang terbaik untuk dirinya dengan melakukan pengobatan terhadapnya. Hal itu jauh lebih baik daripada kita hanya memikirkan bagaimana caranya supaya Ustad Fariz mau menikahi putri kita, justru pemikiran seperti ini akan merusak dan semakin melukai Aisyah dan kita sebagai kedua orang tuanya. "


"Mengapa ayah berpikir demikian?, " tanya ibunda Kak Aisyah.


"Jika kita terus memenuhi permintaan putri kita dan mengetahui jika apa yang di inginkan nya itu salah, maka secara tidak langsung kita telah membela kebathilan yang telah dilakukan oleh putri kita. Kita patut bersyukur bund, sebab keluarga Ustad Fariz tidak melaporkan Aisyah kepada pihak berwajib setelah apa yang di lakukan putri kita terhadap calon istrinya Ustad Fariz, dan jika hal itu terjadi apakah bunda siap menerima jika putri kita akan terkurung di balik jeruji besi hanya karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan. "


Wajah ibunda Kak Aisyah ketakutan dan cemas seketika, "Tidak ayah, bunda tidak menginginkannya. "


Ayahanda Kak Aisyah mengusap lembut pundak istrinya yang tepat duduk di samping nya, "Maka dari itu bund, jangan pernah berpikir lagi untuk datang dan menemui Ustad Fariz supaya ia mau menikahi putri kita. Lagi pula dalam hal ini Ustad Fariz tidak bersalah sama sekali dan beliau tidak memiliki tanggung jawab untuk harus menikahi Aisyah. Karena disini putri kita lah yang bersalah bund, sebab Aisyah tidak dapat mengendalikan perasaan dan hawa nafsunya. Kita fokus saja pada kesembuhan putri kita. Lambat laun dengan ikhtiar dan do'a yang terus kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala mudah-mudahan akan menuntun putri kita agar dapat melupakan kelahirannya dan perlahan-lahan ia dapat menyadari kesalahannya serta berangsur-angsur berubah menjadi hamba yang lebih baik lagi, bund. "


Air mata ibunda Kak Aisyah menetes, hampir saja ia akan membuat putrinya tenggelam dalam kesalahan dan dosa, jika ia terus mendukung dalam memenuhi hasrat putri nya untuk memiliki Ustad Fariz.


Ibunda Kak Aisyah memeluk erat tubuh suaminya dan menumpahkan segala kesedihannya. Ayahanda Kak Aisyah pun mengusap lembut punggung istrinya dan membiarkan semua rasa tertekan akan kesedihan di dalam diri istrinya keluar dan tersalurkan.


***


Perlahan Rere membuka kedua matanya dan melihat ke sekitarnya. Dalam samar-samar pandangan matanya ia melihat sosok bayangan kedua orang tuanya, yang membuat dirinya untuk segera membuka lebar kelopak matanya.


Tante Sinta mengusap lembut kepala Rere dan mendaratkan kecupan lembut di kening putrinya, "Kamu sudah bangun sayang. "


"Mama!, " ucap Rere terkejut dengan wajahnya yang pucat.


Rere berusaha untuk bangun, tetapi lekas di hentikan oleh Tante Desi, "Jangan bangun dulu nak, tubuhmu masih lemah. Lebih baik kamu tetap berbaring dan tiduran ya nak. "


Rere menatap wajah Tante Desi, "Rere dimana mah? Mengapa mama bisa berada disini? Bukankah sebelumnya Rere berada di sel tahanan. "


Tante Sinta pun menjelaskan apa yang terjadi kepada Rere dengan tutur katanya yang lembut, "Iya kak sebelumnya kamu memang berada di ruang tahanan di kantor kepolisian. Tetapi pihak kepolisian menghubungi mama dan papa, karena kondisi tubuhmu yang tidak membaik dan sering jatuh pingsan hingga terakhir kali kamu tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama, sehingga harus dilarikan di rumah sakit nak. "


Rere terdiam dengan wajahnya yang murung. Tante Sinta yang melihat perubahan raut wajah putrinya segera mengusap pipi dan kepala Rere, "Ada apa nak? Apa yang kamu pikirkan?. "

__ADS_1


Rere kemudian menatap wajah Tante Sinta dengan kecemasan, "Setelah Rere sadar, maka Rere harus kembali ke tahanan kan Mah. "


DEG... Debar jantung Tante Sinta terasa tersentak mendengar ucapan Rere yang ternyata memiliki ketakutan untuk kembali ke tahanan.


"Mama dan papa sudah menandatangani surat jaminan atas dirimu nak, supaya tetap di rawat di rumah sakit hingga kondisi mu benar-bebar baik, sebelum kembali lagi ke tahanan menunggu proses pelimpahan kasus mu naik ke meja hijau, " jelas Tante Sinta.


Rere kembali terdiam dan memikirkan sesuatu dalam kebisuannya.


"Sayang, makan dulu ya, setelah itu minum obat supaya kondisi tubuhmu lekas membaik, " pinta Tante Sinta.


Tiba-tiba Rere berseloroh, "Untuk apa Rere makan dan minum obat mah, jika setelah membaik Rere harus kembali ke tahanan. Jadi lebih baik jika Rere sakit saja mah, supaya tidak kembali kesana. "


Hati Tante Sinta terasa teriris mendengar penuturan Rere, "Hush, kaku tidak boleh berkata demikian nak. Papa dan Mama sedang berusaha untuk membebaskan dirimu agar tidak ditahan. Untuk itu kamu harus sabar ya sayang."


Air mata Rere berkaca-kaca sambil menatap wajah Tante Sinta, "Rere melakukan hal ini semua hanya untuk mendapatkan cinta dari suami Rere mah, supaya Kak Roy tidak menceraikan Rere. Apakah mencintai seseorang itu harus merasakan rasa sakit seperti ini mah? Apakah Rere tidak berhak memperoleh kebahagiaan bersama laki-laki yang sangat Rere cintai yaitu Kak Roy suami Rere. Bahkan dalam kelumpuhan pun Kak Roy tetap tidak menginginkan Rere berada di dekatnya, hal itu sangat menyakiti perasaan Rere ,mah. "


Tante Sinta mengenggam jemari tangan Rere lalu menciumnya, "Sayang, mama mohon untuk saat ini kamu jangan memikirkan hal seperti itu yah. Sekarang kamu fokus untuk kesehatanmu. "


"Buat apa Rere sembuh Mah, jika Kak Roy saja tidak peduli kepada Rere, " ucap Rere tanpa beban.


"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu nak, ada mama dan papa yang sangat mengkhawatirkan kondisimu. Apakah kamu tidak peduli dengan mama dan papa?, " tanya Tante Sinta.


Rere memandang lekat wajah Tante Sinta, "Tentu saja Rere peduli kepada Mama dan papa. Maksud Rere alasan lain apa yang membuat Rere dapat bertahan dan kuat untuk terus berjuang mempertahankan kehidupan Rere, mah. "


Tante Sinta menatap wajah Rere dengan sangat serius dan dalam, di mana salah satu tangannya mengusap kepala Rere dengan matanya yang berkaca-kaca. Rere pun sedikit tertegun akan sikap kasih sayang begitu lembut yang Tante cinta curahkan kepadanya. Ada sekelumit perasaan aneh yang Rere rasakan dalam pandangan teduh Tante Sinta kepada dirinya.Tetapi lidahnya terasa keluh untuk berucap.


Tante Sinta mencium lembut kening putrinya, sembari dimana tangan kanannya ia letakkan pada perut Rere.


"Sayang, kamu harus terus semangat dan berjuang menjalani kehidupanmu. Dimana dirimu harus berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, sebab di dalam perutmu sedang tumbuh buah cinta mu dengan Roy. Ini adalah kekuatan mu sayang untuk menghubungkan ikatan antara dirimu dan Roy menjadi satu kembali, " jelas Tante Sinta.


"Kamu bahagia kan sayang? , " tanya Tante Sinta menatap Rere.


Dalam senyuman kecil Rere terselip rasa kekhawatiran dalam dirinya, "Bagaimana jika Kak Roy tidak menerima janin yang ada di dalam kandungan Rere, mah. Bagaimana nasib anak Rere nantinya mah?. "


Tante Sinta berusaha menenangkan Rere yang begitu tampak gusar.


"Sayang.... Sayang dengar mama. Saat ini kamu harus fokus untuk kesembuhan mu, setelah itu kita pikiran langkah selanjutnya. Tidak mungkin Roy dan keluarganya akan mengabaikan keturunan mereka, percayalah pada mama Roy dan keluarganya akan menerima janin yang sedang kamu kandung nak. Mama mohon kamu jangan risau ya, " bujuk Tante Sinta.


Rere menatap dalam wajah Tante Sinta, "Benarkah itu mah?, " tanya Rere ragu.


Tante Sinta mengusap kepala Rere, "Iya sayang. "


Rere pun membalas Tante Sinta dengan pelukan, keduanya larut dalam perasaan gusar yang tertutupi dengan keyakinan yang mereka tanamkan dalam hati masing-masing.


***


Di dalam sel jeruji besi yang membelenggu kebebasan dirinya. Kak Reno membaringkan tubuhnya pada alas tikar yang di bentangkan di atas lantai. kedua tangannya ia lipat bersamaan menjadi penyangga kepalanya. pasangan matanya nanar menatap langit-langit tembok pada sel tahanan saat ini ia berada. Hatinya resah dan gundah, seakan-akan ada sesuatu yang akan hilang dari dirinya. Rasa nyeri di relung hatinya semakin lama bertambah sakit .Kak Reno semakin gelisah dan resah, dengan cepat ia pun bangkit untuk duduk dan bersandar pada dinding sek tahanan. Tetapi tetap saja rasa kecemasan dalam hatinya tidak hilang, meskipun ia mencoba untuk mengucapkan dzikir. Maka kali ini Kak Reno mencoba menutup matanya dan terus membasahi lisannya dengan kalimat pujian terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan di luar sangkaan hatinya, dalam gelap matanya yang terpejam bayangan wajahku terlintas jelas.


DEG... perasaannya semakin berdebar tidak menentu di dalam kegundahan hatinya.


"Astagfirullahalazim, " ucap Kak Reno sambil membuka kedua matanya dengan cepat.

__ADS_1


Wajahnya pun terlihat cemas, "Ada apa Ya Allah, mengapa wajah Rani terus terlihat dan terlintas di dalam pandanganku. Bahkan di saat diriku sedang memuji-Mu. Apakah terjadi sesuatu kepada Rani? tidak Ya Allah, jangan biarkan hak buruk atau pun kesedihan menimpa dirinya. Cukuplah semua penderitaan yang telah ia terima selama ini, maka biarkanlah ia bahagia. Meskipun dengan kebahagiaan yang akan ia terima harus ku bayar dengan kesedihan dan penderitaan untukku. Maka InsyaAllah aku rela dan ikhlas lillahi Ta'ala karena mengharap ridho dariMu. "


Tanpa Kak Reno sadari, air matanya Perlahan-lahan mengalir membasahi kedua pipinya, tubuhnya terasa lemas tidak berdaya. Kak Reno seakan tidak dapat melawan raganya yang tertunduk lemas. Dalam derai air matanya, suaranya lirih berkata mengungkapkan kerinduan akan perasaannya kepadaku, yang ia tuangkan dalam sebuah goresan tinta di atas kertas putih.


Dalam keheningan yang menggerogoti diriku, aku tertunduk lemah memikirkan dirimu. Entah perasaan ini ingin menunjukkan apa kepada diriku, tentang dirimu yang jauh dari pelupuk mataku.


Cinta,


ungkapan itu membuat diriku merasakan remuk redam memikirkan dirimu.


Aku terbelenggu akan dimensi yang membatasi langkah ku untuk berikhtiar menggapai dirimu.


Lalu aku bisa apa?


Selain mengadukan kerinduan yang membuncah dan membakar ragaku kepada Sang Maha Pencipta.


Wahai jantung hatiku,


yang tidak dapat kujamah maupun ku rengkuh dalam dekapan hangatku.


Apa kabarmu sekarang?


Sempat kah sedetik saja namaku terucap dari bibir merahmu,


Adakah bayangan diriku turut berada di dalam pikiranmu,


Aku benar-benar nelangsa dalam cintaku,


dimana setiap helaan napas yang kuhirup dan ku hembuskan selalu terikat dalam memori ingatanku kepadamu.


Wahai Cinta yang telah pergi dariku,


Aku akan terus memuja dirimu dalam kesepian dan kesengsaraan hidup yang mendera hidupku,


meskipun engkau tidak peduli dan enggan memikirkan diriku,


Tetapi cintaku abadi dalam diam dan kesendirianku,


Bersamaan udara yang mengalir perlahan tiada batas, aku menitipkan setiap bait air mata kerinduanku kepada Sang Illahi untuk selalu menjaga hatiku dan terus mencintaimu,


Wahai gelora kerinduanku,


nantikan kebebasan diriku,


dimana saat bulan dan bintang bertemu,


saat itu pula aku akan merengkuh kembali cintaku yang telah hilang dan pupus darimu,


sebab hanya dirimulah tujuan kehidupanku bermula dan berakhir, dalam semunya kehidupanku.


Yang selalu mencintai Rani....

__ADS_1


Reno.


Kak Reno pun meletakkan tinta penanya dan menatap dinding penjara dalam lamunan yang membawanya pada ilusi kerinduannya.


__ADS_2