
Kami semua sudah tiba di depan ruangan tempat Kak Roy di rawat. Sebelum masuk ke dalam Immah memegangi tangan ku dengan tatapannya yang masih ragu dan bimbang jika aku menemui Kak Roy. Aku berikan senyuman kecilku kepada Ummah supaya meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Begitu pula dengan Mas Fariz yang mengusap pundak Ummah seraya menganggukkan kepalanya untuk mengajak Ummah lekas masuk ke dalam. Ummah menatap Mas Fariz lekat secara bergantian dengan diriku. Dari sorot mata Ummah masih dapat kurasakan akan rasa ketidaknyamanannya berada disini, apalagi mengajak diriku dan Mas Fariz untuk ikut serta masuk ke dalam membesuk Kak Roy. Aku dan semua orang memberikan Ummah jeda waktu untuk membuat zona nyaman bagi dirinya sendiri sebelum beliau benar-benar mantap dan yakin masuk ke dalam ruangan dimana Kak Roy di rawat
Tetapi, di dalam ekspresi keraguan Ummah. Tiba-tiba pintu ruangan tempat Kak Roy di rawat terbuka.
Cekrek...
Tante Desi rupanya yang berada di pintu dan langsung berhadapan dengan kami semua. Dan tidak perlu lama lagi untuk Ummah berpikir, karena dengan cepat Tante Desi langsung memeluk Ummah dan menarik pergelangan tangan Ummah untuk masuk ke dalam. Ummah hanya terdiam dalam kebisuan nya. Sementara kami semua hanya dapat memandangi wajah Ummah yang terkejut tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
Abi, Enjid, diriku dan Mas Fariz lalu masuk mengikuti langkah kaki Ummah yang dituntun Tante Desi. Keadaan ruangan tempat Kak Roy di rawat tampak sepi dan hanya terlihat Tante Desi dan Om Surya saja, dimana mereka berdua lalu menyambut kedatangan kami dengan penuh suka cita. Begitu pun saat Tante Desi melihat diriku, dengan cepat pula ia memeluk diriku erat.
"Rani... terima kasih ya nak karena kamu bersedia datang kemari. Tante dan Om sangat senang sekali, " ucap Tante Desi sambil memegang pipiku.
Aku pun tersenyum kepada Tante Desi, "Iya tante sama-sama. Kak Roy nya sedang tidurkah tante?. "
"Iya sayang, Roy baru saja tertidur setelah meminum obat. Sejak kemarin Roy gelisah dan tidak tenang, ia hanya terus memanggil namamu saja nak. Dan terkadang air matanya pun mengalir tanpa ia sadari dalam pandangan matanya yang satu. Tante benar-benar gusar memikirkannua Ran, " ucap Tante Desi dengan raut wajahnya yang sangat penuh kecemasan. Kemudian, Om Surya pun mempersilahkan kami semua untuk duduk di sofa tunggu pasien bersamanya dan juga Tante Desi.
Sambil menyeka air matanya, Tante Desi memandang ke arah kami satu persatu, "Sudah sejak dari kemarin saya menghubungi Rani, Nak Fariz dan Bu Putri untuk meminta kalian kemari. Tetapi nomor kalian sedang sibuk dan sulit untuk di hubungi. Saya benar-benar bingung Bu Putri, " tutur Tante Desi sambil memegang tangan Ummah.
Ummah menatap wajah Tante Desi serius, "Bingung kenpa Bu Desi?. "
Tante Desi lalu menatap Ummah lekat dengan bibirnya yang bergetar, "Saat ini Rere di rawat juga di rumah sakit ini. "
Tante Desi terdiam dan tidak meneruskan perkataannya, beliau seperti mencari momen yang tepat untuk menceritakan semuanya akan beban yang mengandalkan di hatinya.
Semua orang terdiam menunggu Tante Desi berbicara lagi, tetapi setelah cukup lama beliau terdiam. Akhirnya rasa keingintahuan diriku membuat diriku segera bertanya perihal Rere.
"Memangnya Rere sakit apa Tante?bukankah terakhir kali Rere berada di rumah tahanan sampai menunggu kasusnya dalam penyidikan pihak berwajib kan tante, " tanyaku menatap wajah Tante Desi.
Tante Desi mengangguk dan menatap diriku. Mimik wajahnya berubah seketika saat mendengar pertanyaan diriku, dan dengan air matanya yang berlinang. Membuat kami semua cemas dan semakin penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
Hiks... Hiks... Hiks...
"Rere saat ini sedang mengandung anak nya Roy, Rani!, " ucap Tante Desi sambil menatap diriku.
Semua orang terkejut termasuk diriku.
"Bagaimana bisa Rere hamil Bu Desi? setahu saya Roy tidak pernah mencintai Rere kan Bu Desi, " tanya Ummah penasaran.
Tante Desi sambil berlinang air mata berusaha menjelaskan kepada kami, "Rere menjebak Roy, Bu Putri. Dan saya bingung akan semua hal ini. Di satu sisi ada keraguan di hati saya jika janin yang ada di dalam rahim Rere adalah anaknya Roy. "
Mendengar ucapan dari Tante Desi, aku pun dengan segera merespon, "Maaf Tante Desi, bukannya Rani bermaksud membela Rere. Tetapi Rani cukup kenal Rere dengan sangat baik sebab dia adalah sahabat Rani sewaktu di bangku sekolah menengah pertama. Meskipun, apa yang ia lakukan kepada Kak Roy itu tidak benar. Tetapi bukan berarti Rere adalah perempuan gampangan tante. Dia sangat mencintai Kak Roy, dan rela melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Kak Roy. Meskipun tindakannya itu sangat salah dan tidak layak , tetapi Rere itu perempuan yang setia tante. InsyaAllah Rani yakin jika janin yang ada di dalam rahimnya adalah buah cinta antara dirinya dan Kak Roy. "
Tante Desi terdiam mendengarkan perkataan dari ku.
"Lalu setelah Bu Desi mengetahui jika Rere sedang mengandung anaknya Roy. Apakah Bu Desi akan tetap melanjutkan kasusnya yang sedang ditangani oleh pihak berwajib?, " tanya Ummah kepada Tante Desi.
Tante Desi terdiam dan terlihat bingung. Lalu Om Surya yang sedari tadi diam, kini ikut berbicara, "Hal itulah yang memberatkan pikiran istri saya Bu Putri. Di satu sisi kami sebagai orang tua sangat senang karena akan memiliki cucu dan akan menjadi kakek nenek. Tetapi di sisi lain hati kami begitu menyayangkan jika cucu kami lahir dari rahim perempuan yang kejam seperti Rere. Apalagi jika Roy mengetahui akan hal ini, kami tidak yakin dia akan sanggup menerimanya. Kami berdua betul-betul bingung. "
Di saat semua orang menyimak apa yang dikatakan oleh Om Surya. Enjid lalu ikut memberikan sarannya, "Maaf sebagai Pak Surya dan Bu Desi, jika menurut hemat saya. Akan jauh lebih baik jika anda berdua sebagai ketua orang tua dari Nak Roy, harus memberitahu kan kebenaran akan kabar kehamilan Rere kepada Roy. Terlepas dari bagaimana keadaan Nak Roy sekarang, tetapi ia berhak tahu apa yang terjadi. Karena Nak Roy akan memiliki kewajiban penuh untuk bertanggungjawab terhadap janin yang ada di dalam rahim Nak Rere. Karena jika semakin lama anda berdua menyembunyikan hal ini dari Roy, tentu akan sangat tidak baik kami Roy sendiri. Dan jika anda berdua belum yakin dan sangat ragu akan keabsahan janin yang berada dalam kandungan Rere adalah anaknya Roy, kalian berdua dapat menempuh dengan jalur tes DNA. "
__ADS_1
Tante Desi dan Om Surya mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Enjid, yang dimana beliau adalah orang teepandang dan disegani boleh banyak orang.
Tida lama berselang Abi pun ikut menambahkan dari argument yang Enjid sampaikan, "Apa yang dikatakan Enjid mengenai tes DNA ada benarnya Pak Surya dan Bu Desi.Kini, tidak lagi harus menunggu sampai bayi yang dikandung oleh Nak Rere lahir untuk bisa melakukan tes DNA, demi mengetahui kebenaran ayah si jabang bayi.Apakah benar atau tidaknya jika Nak Roy adalah ayah biologis dari janin yang saat ini berada di dalam kandungan Nak Rere. Menurut saya langkah ini lebih bijak agar tidak menimbulkan prasangka yang bukan-bukan sekaligus untuk menjawab keraguan siapa sebenarnya ayah dari bayi yang sedang dalam kandungan Nak Rere. Semakin cepat dilakukan maka akan semakin baik Pak Surya dan Bu Desi. Supaya anda berdua dapat menentukan langkah selanjutnya, setelah mengetahui hasil dari tes DNA. "
Om Surya dan Tante Desi menganggukkan kepala, seakan mereka berdua mengerti akan apa keputusan yang akan mereka ambil.
"Dengan mengetahui kebenarannya, anda berdua nanti akan merasa yakin. Dan tidak merasa bersalah atau berdosa di kemudian hari, jika secepatnya atau segera mungkin Pak Surya dan Bu Putri mengetahui Nak Rere tengah mengandung cucu anda berdua.Sehingga anda berdua tidak mengabaikan keberadaan cucu anda dengan mengetahui kebenarannya. Begitu pula dengan Nak Roy, pasti akan menerima jika janin di dalam rahim Rere adalah benar-benar keturunan biologis nya yang sah. Intinya sekarang anda berdua segera mengambil tindakan tersebut dan langsung berkonsultasi dengan dokter, selagi keduanya masih berada di rumah sakit. Sehingga memudahkan tes DNA. Guna menghindari pikiran negatif dan prasangka yang bukan-bukan dimana justru akan semakin memperkeruh masalah, " tutur Enjid.
Om Surya dan Tante Desi seakan mendapatkan pencerahan dari saran yang diberikan Enjid, dengan memantuk-mantukkan kepalanya seraya mengerti dan paham akan ucapan Enjid.
Enjid lalu memandang ke arah Om Surya dan Tante Desi, "Saran dari saya jika anda berdua berkenan yaitu seandainya nanti memang benar akan dilakukan tes DNA pada Nak Rere terhadap janin yang dikandungnya. Akan lebih baik sebelum melakukan tes tersebut kalian berdua memberitahu kan terlebih dahulu hal ini kepada Nak Roy, karena Nak Roy sendiri yang dapat mengetahui dan meyakini apakah janin yang dikandung Nak Rere adalah anaknya atau tidak. Dan jika tidak didapati titik temu atau pun Nak Roy juga ragu barulah kalian lakukan tes DNA. "
Om Surya menganggukkan kepalanya,"Iya Enjid. InsyaAllah akan kami pertimbangkan saran dari Enjid. "
Enjid tersenyum, "Satu hal lagi, yang mungkin ini berat untuk kalian berdua terima tetapi manfaatnya sangat banyak. "
"Apa itu Njid?, " tanya Om Surya.
"Jika memang nanti terbukti janin yang di kandung Nak Rere adalah benar darah daging putra kalian. Maka saran dari saya lagi, lebih baik kalian mencabut tuntutan terhadap Nak Rere. Meskipun tindakannya tidak dapat untuk diterima, tetapi belajarlah untuk memaafkannya. Setidaknya demi kelangsungan dan perkembangan bayi yang ada di dalam kandungan Nak Rere. Apakah kalian tega membiarkan Nak Rere yang sedang dalam kondisi megandung harus berada di balik jeruji besi. Dimana pastinya hal ini akan sangat berpengaruh besar bagi psikis dan fisik Nak Rere sendiri yang berhubungan langsung dengan bayi yang ada di dalam kandungannya. "
Om Surya dan Tante Desi terdiam memikirkan semua perkataan dari Enjid.
Lalu dalam lamunan Tante Desi, beliau memegang wajahku, "Sebenarnya saya sudah mempersiapkan berkas perceraian Roy dan Rere. Besar harapan saya agar mereka dapat segera berpisah. Dan menginginkan Roy dapat merengkuh kebahagiaannya sendiri yaitu dapat mempersunting Rani menjadi istrinya. Karena itulah keinginan dan harapan terbesar Roy di dalam hidupnya. "
Aku menjadi tersentak mendengar ucapan Tante Desi, dimana sebelumnya raut wajah ku yang terlihat tertawa kini menjadi datar dan melirik ke arah Mas Fariz yang juga melihat diriku. Terlebih lagi Ummah yang tidak senang mendengarkan ucapan Tante Desi. Dengan segera Ummah ingin mengatakan kepada Tante Desi jika diriku sudah menikah dengan Mas Fariz. Tetapi Abi menghentikan Ummah untuk berucap perihal pernikahan diriku dan Mas Fariz.
"Semuanya itu takdir Bu Desi. Kita semua disini tidak pernah tahu akan jodoh, rezeki, dan maut yang sudah Allah Subhanahu Wa Ta'ala tetapkan untuk kita, maka dari itu yang bisa kita lakukan hanyalah dengan berikhtiar dan bertawakal saja. "
Tante Desi mengangguk, "Benar sekali apa yang Enjid katakan. Tetapi mendapatkan menantu seperti Rani adalah keberkahan tersendiri. "
Ummah semakin terlihat tidak sabaran, sehingga Enjid berdeham untuk meminta Ummah tenang.
Mendengar kode dari Enjid, Ummah pun terdiam dan berusaha untuk tenang meskipun di dalam hatinya ia sungguh tidak sabar untuk segera memberitahukan kepada Tante Desi tentang pernikahan ku.
Melihat ketegangan di antara Ummah dan Abi juga Enjid. Aku pun langsung bertanya kepada tante Desi di ruangan mana Rere di rawat. Setelah Tante Desi memberitahu, maka aku segera mengajak Mas Fariz untuk ikut bersama diriku membesuk Rere.
Dengan perlahan aku pun mulai bangun dari dudukku diikuti juga dengan Mas Fariz.Dimana kami berdua lalu berpamitan kepada semua orang yang ada di ruangan Kak Roy.Dan ketika aku berdiri ,pandangan mata Tante Desi tertuju kepada punggung tanganku yang masih terlukis ukiran henna berwarna putih . Tampak wajah penuh tanya yang tergambar jelas pada paras Tante Desi. Apalagi ketika Mas Fariz memegang pundakku untuk keluar. Maka raut penuh tanya dalam ekspresi Tante Desi semakin menjadi.Dimana tatapan matanya memandang diriku dan Mas Fariz lekat hingga bayang kami berdua menghilang dari jangkauan matanya.
Ummah, Abi dan Enjid melihat ekspresi wajah Tante Desi tanpa mengatakan apapun. Hingga Tante Desi sendiri bertanya akan rasa penasarannya yang sudah tidak dapat lagi ia bendung.
Sorot mata Tante Desi menatap ke arah Ummah, Enjid dan Abi secara bergantian.
"Maaf sebelumnya, kenapa saya lihat Nak Fariz dan Rani terlihat begitu dekat. Sampai Nak Fariz, mohon maaf lagi, " ucap Tante Desi canggung dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Iya katakan saja Bu Desi, tidak apa-apa, " ucap Abi.
Tante Desi pun memberantas dirinya, "Saya tahu Nak Fariz sangat sholeh, dan tidak pernah saya lihat sebelumnya memperlakukan Rani dengan begitu. "
Tante Desi terdiam sebentar.
__ADS_1
Ummah memandang serius wajah Tante Desi dan ingin segera menjawab pertanyaan Tante Desi, tetapi di hentikan oleh Abi.
"Memperlakukan Rani dengan begitu, maksudnya bagaimana Bu Desi?, " tanya Abi.
Tante Desi sedikit tersenyum kecil, "Seperti tadi sedikit memegang pundak Rani dan menatap Rani dalam. Padahal mohon maaf sebelumnya mereka berdua kan orang asing. Dimana Rani bukan muhrimnya Nak Fariz, sehingga tidak enak lah jika dilihat orang lain. Apalagi kita tahu jika Nak Fariz itu juga seorang ustad, tidak baik menurut saya tidak dapat menahan pandangannya. "
Ummah yang mendengar penuturan Tante Desi akan Mas Fariz menjadi tidak terkendali dan tak mampu lagi menahan lisannya untuk bertutur ,meskipun Abi sudah berusaha untuk mencegahnya tetapi kali ini usaha Abi tidak mampu mengontrol perasaan Ummah yang sedikit tersinggung mendengar ucapan Tante Desi yang seolah-olah menyudutkan Mas Fariz.
"Alhamdulillah Bu Desi, putra saya Fariz adalah karunia terbesar dari Allah Ta'ala yang memberikannya akhlak baik, sopan santun dan InsyaAllah sangat paham akan nilai kebaikan atau kebenaran. Termasuk menjaga pandangan nya dan perilakunya dari lawan jenis. "
Tante Desi berdesir hatinya mendengarkan ucapan Ummah yang terlihat marah dan tidak senang akan perkataannya. Lalu dengan cepat Tante Desi berusaha untuk menjelaskan kepada Ummah.
" Maafkan saya Bu Putri saya tidak bermaksud untuk mencela atau menghina Nak Fariz. Saya hanya ..."
Perkataan Tante Desi pun terputus dengan tindakan Ummah yang mengangkat telapak tangannya ke arah Tante Desi, yang bermaksud untuk menghentikan ucapan Tante Desi dengan tidak perlu bertele-tele menjelaskan kepada Ummah.
"Tidak apa-apa Bu Desi saya mengerti akan maksud dari ucapan yang Bu Desi katakan.Ada alasan mengapa Allah memberikan kita manusia dilengkapi dengan akal pikiran yaitu untuk mengimbangi lidah kita. Dimana lidah itu tidak bertulang sehingga kita itu diwajibkan untuk berpikir dahulu sebelum mengeluarkan kata-kata. Apakah perkataan kita itu bernilai baik atau buruk? Apakah perkataan kita itu membawa kebaikan atau tidak?.Dan apakah perkataan kita itu menyinggung perasaan orang lain atau tidak?."
Tante Desi pun semakin terpojok dan merasa sangat tidak enak mendengar ucapan Ummah. Ia pun hanya diam karena merasa bersalah. Sementara Ummah semakin berapi-api melanjutkan perkataan nya, "Kami ke sini mempunyai niat yang baik untuk membesuk putra BU Desi yaitu Nak Roy, sekaligus juga memenuhi permintaan Bu Desi untuk mengajak Rani kemari. Dan memberikan kabar bahagia dari keluarga kami ."
Tante Desi mengkerut kan dahinya, "Kabar bahagia apa Bu Putri?. "
Ummah tersenyum lebar, menunggu momentum untuk mengucapkan perkataan yang ingin ia ucapkan sedari tadi, "Kabar bahagia atas pernikahan putra kami Fariz. "
Tante Desi tersenyum bahagia, "Alhamdulillah, selamat ya Bu Putri, Pak Iwan dan Enjid. Saya turut berbahagia. Tetapi kenapa istrinya Nak Fariz tidak di ajak sekalian kemari Bu Putri. "
"Siapa bilang istrinya Fariz tidak diajak kemari, dia juga ikut dengan kami, " sahut Ummah seraya bermain teka-teki.
Tante Desi dan Om Surya terlihat bingung dan melihat ke sekitar karena tidak ada siapapun lagi yang ikut serta dengan mereka di ruangan ini.
"Saya tidak melihat ada orang lain disini Bu Putri, selain kita. Apakah istrinya Nak Fariz masih berada di mobil?, " tanya Tante Desi penasaran.
Ummah menggeleng kan kepalanya, maka Tante Desi semakin terlihat bingung dan penasaran. Abi dan Enjid berdeham bersama-sama supaya Ummah menghentikan bermain teka-teki nya dengan Tante Desi. Ummah menoleh ke arah Abi dan Enjid seraya mengangguk dan mengerti akan maksud Abi dan Enjid.
Dengan segera Ummah pun berkata kepada Tante Desi yang menunggu perkataan dari Ummah.
"Istri Fariz sedang keluar bersama Fariz, yaitu Rani, "ucap Ummah dengan tersenyum lebar.Sementara Tante Desi yang tadi sedikit menundukkan kepalanya, kini menunjukkan ekspresi wajahnya begitu tercengang setelah mendengar perkataan Ummah.
Dalam keterbataan ucapannya,Tante Desi bertanya kepada Ummah," Maksud Bu Putri.Istrinya Nak Fariz adalah Rani? ."
Tante Desi menunjukkan ekspresi wajahnya yang tidak percaya akan berita yang baru saja ia dengar.
Ummah pun menganggukkan kepalanya, "Iya betul Bu Desi.Rani telah resmi menjadi istri putra saya Fariz. Dimana Fariz dan Rani Alhamdulillah sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah di hadapan agama dan hukum.Mohon maaf kami tidak mengundang Bu Desi dan keluarga .Karena pada saat pernikahan Fariz dan Rani,kondisi Nak Roy sedang tidak baik sehingga kami tidak ingin membuat fokus Bu Desi dan keluarga terhadap Nak Roy terganggu. "
Tante Desi terdiam dan tidak dapat berkata-kata ,rasanya dirinya bagaikan tersambar sengatan listrik yang membuat hatinya terasa nyeri sekali.
Semua orang terdiam seketika dan tetapi Tante Desi terlihat begitu sangat syok sekali. Tanpa semua orang sadari Kak Roy rupanya telah mendengar semua percakapan semua orang sejak dari tadi, termasuk mengenai pernikahanku dengan Mas Fariz,dan hal itu membuat Kak Roy yang terbaring di ranjang tempat tidur pasien merasa hancur dan terluka.Kak Roy lalu berteriak keras memanggil namaku, "Rani!. "
Sontak hal ini membuat semua orang terkejut mendengarnya. Sementara itu, Tante Desi langsung berlari menghampiri Kak Roy yang terus meronta dan berteriak-teriak dengan histeris.
__ADS_1