
Rutinitas ku setelah melaksanakan salat subuh, dengan meneruskan kebiasaan baik yang dilakukan oleh almarhum Mas Fariz, yaitu bersedekah. Dengan membagikan makanan, uang, sembako atau pakaian langsung kepada orang-orang yang membutuhkan. Seperti biasa, Bik Inah dan Pak Budi selalu setia mendampingiku.Dengan segera aku dan Ummah membantu Pak Budi dan Bik Inah memasukkan makanan dan sembako ke dalam mobil.
Ummah menarik tanganku pelan, "Sayang, kamu hati-hati dan jaga diri baik-baik ya nak."
Aku mengganguk pelan, menanggapi perkataan Ummah padaku.
Aku, pak Budi dan Bik Inah pamit kepada Ummah, lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu dari hadapannya.
Mobil Pak Budi terus melaju menembus udara selepas subuh yang masih terasa dingin dan segar. Mataku terus memandang ke arah depan, dengan perasaan jauh lebih tenang yang ku rasakan.
Beberapa saat kemudian, laju mobil yang Pak Budi kemudikan perlahan mulai pelan. Dimana pandangan nya sembari melihat ke arah luar mobil, untuk melihat orang -Orang-orang yang layak menerima bantuan, yang akan kami salurkan.
"Sepertinya kita berhenti di depan saja Nak Rani, " ucap Pak Budi.
"Iya Pak, " sahut ku.
Pak Budi mulai menepikan mobil yang ia kendarai, sementara itu Bik Inah dan diriku bersiap-siap untuk turun.
Tidak lama kemudian, aku di temani Pak Budi dan Bik Inah mulai mendistribusikan barang-barang yang kami bawa, satu persatu kepada orang-orang yang sedang menatap beku pada langit yang akan mulai memerah dalam jingga, sambil melipat kardus-kardus yang mereka jadikan alas tidur.Wajah lusuh mereka tergurat tawa bahagia dalam keterkejutan, lalu pelan dengan sedikit mengangguk, mereka mengucapkan terimakasih dan iringan do'a kepada kami. Sesuatu pemberian yang terkesan sederhana dan sangat biasa, namun sangat bernilai penuh arti bagi mereka. Pemandangan yang selalu membuat hatiku terenyuh dan sangat tersentuh, setiap kali jemari tangan ku memberikan langsung barang yang ku bawa dan menatap mata mereka yang terihat penuh kepasrahan juga kerapuhan. Pelajaran luar biasa yang selalu almarhum Mas Fariz katakan padaku yaitu,
"Salah satu perwujudan syukur atas karunia melimpah yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala ialah dengan bersedekah. Melalui sedekah, kita bisa merasakan bahwa membantu orang lain adalah hal yang begitu mulia. Sementara saat kita mengetahui orang lain yang sedang kita bantu merasa bahagia,sadar atau tidak, kiat pun akan turut merasa lebih bahagia darinya.
Sebab, bersedekah adalah moment untuk meningkatkan rasa syukur di dada. Tidak hanya itu, melalui sedekah, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih rendah hati dan lebih menghargai setiap rezeki yang kita dapatkan setiap harinya.Karena dengan bersedekah juga akan membuat perasaan jadi lebih tenang, nyaman serta terjaga."
Aku termenung dalam pikiran ku yang masih terbenam akan perkataan Mas Fariz yang pernah ia katakan padaku.
"Nak Rani!, " panggil Bik Inah mengusap lembut pundakku.
"Iya Bik, " sahut ku pelan yang terbangun dari lamunanku.
Bik Inah mengajakku kembali berjalan untuk membagikan barang -barang yang akan kami bagikan. Namun, pandangan ku terhenti melihat sosok yang ku kenal berada di hadapan ku. Ia tidak melihat diriku, dan sedang melakukan hal yang sama seperti yang sedang ku lakukan bersama Pak Budi dan Bik Inah.
Langkah kaki ku terhenti melihatnya dalam keterkejutan diriku, hingga suara Bik Inah yang memanggil namanya cukup keras, membuat dirinya menyadari keberadaan ku di dekatnya.
Pandangan kami bertemu sesaat, hingga dengan cepat aku dan dirinya segera menundukkan pandangan kami.
Kakiku ingin melangkah pergi menjauhinya, tetapi tubuhku terasa berat untuk di gerakkan. Hingga Pak Budi pun datang menyapa dirinya.
Aku masih diam dalam keheningan yang ku ciptakan sendiri. Lalu, ia mendekat ke arahku dan Bik Inah, untuk membantu membagikan barang-barang yang kami bawa. Maka dengan senang hati Bik Inah pun merespon, tapi diriku tetap diam dan tidak memandang dirinya.
"Assalamu'alaikum Rani, apa kabar?, " tanya nya pelan padaku.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Alhamdulillah baik, " jawabku pelan.
Aku melirik sekilas ke arahnya yang tersenyum mendengar jawabanku.
__ADS_1
"Alhamdulillah, senang melihat keadaan mu Baik-baik saja. Sungguh tidak terduga, kita dapat bertemu lagi.Dan benar kata orang,jika dua orang sudah ditakdirkan untuk bersama, maka dari sudut bumi manapun meraka berasal dan berada,pastilah mereka akan bertemu tanpa pernah mereka terka akan rencana Tuhan, " ujarnya.
Bik Inah dan Pak Budi lalu tersenyum mendengar perkataannya.
Aku merasa canggung dan tidak nyaman di dekatnya, sesuatu hal yang membuatku merasakan sensasi aneh dalam diriku, saat ia berada di dekatku.Aku pun mengajak Bik Inah untuk membagikan barang-barang yang kami bawa, agar cepat selesai.
Beruntung Bik Inah mengerti dan menuruti kemauan ku, dan aku pun berlalu dari hadapannya. Setelah Bik Inah mengucapkan permisi.
Tidak lama setelah itu, ia dan Pak Budi pun turut menyelesaikan membagikan barang-barang yang akan di sedekahkan.
Beberapa saat kemudian, kami semua pun telah selesai membagikan semua barang-barang yang ada di mobil.
Aku ingin segera pulang, tetapi ia meminta Pak Budi dan Bik Inah termasuk dengan diriku untuk ikut bersamanya. Menikmati bubur ayam untuk sarapan.
Aku berusaha menolaknya, tetapi Bik Inah dan Pak Budi menerima ajakannya. Ia pun tersenyum dan melangkah beriringan dengan Pak Budi, yang terlihat dekat tanpa rasa canggung serta tidak berjarak. Mereka berdua terlihat akur, dan seolah-olah telah lupa akan peristiwa terdahulu yang pernah membuat luka di hati Pak Budi.
Pak Budi pun juga seakan-akan tidak memiliki dendam padanya.
Aku masih diam dan berdiri terpaku memandang dirinya dan Pak Budi yang melangkah sedikit telah menjauh dariku.
"Ayo nak Rani!, " ajak Bik Inah.
Aku masih diam dan terasa enggan.
Karena, ketika tiba waktunya bagi kedua jiwa untuk bertemu, maka tidak ada apa pun di bumi ini yang dapat mencegah mereka untuk bertemu, di mana pun masing-masing mereka berada.Meskipun hatinya menolak, sebab Allah yang telah mengatur pertemuan mereka. "
Aku terdiam memandang wajah Bik Inah yang menganggukkan kepalanya, seraya mengajak diriku untuk segera menyusul Pak Budi yang semakin menjauh.
Setelah mendengar perkataan Bik Inah, aku pun tidak menolak lagi dan berjalan dalam gandengan tangannya.
Mataku terus menatap dirinya yang berjalan bersebelahan dengan Pak Budi.
Dia tampak sangat jauh berbeda dari dirinya sebelumnya, saat aku pernah bersamanya, dan terakhir kali melihatnya.
Penuh kesederhanaan dalam balutan pakaian islami, dan songkok yang terus ia kenakan.
Lama aku terbenam mengamati dirinya, tanpa ku sadari ia seakan merasa akan pandangan ku yang berusaha menelisik dirinya. Hingga saat ia menoleh ke belakang..
DeG....
Pandangan kami bertemu lagi, dan hal itu sangat mengejutkan diriku kembali.
Maka dengan cepat aku menundukkan pandangan ku darinya.
Sensasi perasaan aneh kembali menjalar di hatiku dan menjalar menuju jantungku yang tidak berhenti berdegup dengan kencang dan cepat.
__ADS_1
Aku terus beristighfar dan berdzikir pelan, untuk membuat gejolak aneh dalam diriku supaya menjadi tenang.
Tidak lama, ia dan Pak Budi tepat di dekat taman dan penjual bubur ayam yang biasanya menjadi langganan ku bersama Mas Fariz. Aku begitu terkejut, begitu pula dengan bapak penjual bubur ayam yang masih mengingat diriku.
"MasyaAllah, Nak Rani, " ucap bapak tersebut dengan tersenyum senang melihat diriku.
Aku pun menganggukkan kepala, dan tersenyum kecil padanya.
"Sudah lama, Nak Rani tidak datang kemari setelah...., " ucap bapak penjual bubur ayam tidak meneruskan ucapannya dan melihat ke arahku.
Aku ingin beranjak pergi dari tempat ini, tetapi Bik Inah menahan ku untuk tetap berada di situ.
"Nak Rani harus kuat, meskipun bibi tahu di tempat ini banyak tersimpan kenangan Nak Rani bersama Nak Fariz, " bisiknya padaku.
Hatiku bergemuruh dalam kerinduan yang datang begitu cepat menyergap diriku.
Bik Inah lalu menuntunku untuk duduk lesehan pada tikar yang telah di disediakan, setelah sebelumnya Kak Reno memesan bubur ayam yang biasa ku pesan bersama Fariz.
Sedikit kesal aku mendengar perkataan Kak Reno, yang menginginkan bubur ayam dengan toping yang sama persis ia minta mirip seperti yang biasa ku makan bersama Mas Fariz. Tetapi ia seakan tidak peduli, dan segera mengajak Pak Budi untuk duduk di dekatnya.
Sambil menunggu pesanan datang, aku dan yang lain duduk. Aku masih terduduk dengan pandangan tertunduk, dan tidak berani melihat ke sekitar. Aku takut, dan gelisah jika kenangan akan memori ku bersama Mas Fariz akan kembali menyeruak ke permukaan, hingga membuat diriku semakin terbenam akan semua kenangan lamaku.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Rani?, " tanya Kak Reno memecah lamunanku seakan tidak peduli dengan suasana hatiku.
Aku kembali terperanjat dari lamunanku, dan melihat ke arahnya. Kekesalanku padanya semakin menjadi, hingga lisanku tiba-tiba berkata ketus padanya.
"Apakah semua yang ku pikirkan, harus kuberi tahu padamu. "
Aku kira Kak Reno terdiam mendengar perkataan ku, tetapi ia malah terlihat bahagia dan tersenyum. Dan sikapnya semakin membuat diriku kesal.
Dasar orang aneh, gumamku di dalam hati.
"Apakah ada yang lucu, hingga dirimu tersenyum seperti itu?, " tanyaku ketus.
Kak Reno tersenyum lagi melihat ke arah ku dan mengelengkan kepalanya pelan.
"Tidak ada yang lucu Rani. Tetapi aku senang dan bahagia, karena dapat mendengar suara mu setelah sekian lamanya, " jawabnya.
Aku hanya dapat menghela napasku, setelah mendengarkan jawabannya.
Dia terlihat begitu sangat berbeda, tidak hanya penampilan tetapi juga sikap nya yang jauh lebih tenang dan santai.
Tidak ada amarah dalam parasnya yang dulu terkesan tempramental melekat padanya.
Dia sungguh berbeda, sangat jauh berbeda, hingga diriku seakan tidak percaya melihat akan perubahan dirinya menyerupai almarhum mas Fariz.
__ADS_1