Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Laki-laki yang hadir secara tiba-tiba.


__ADS_3

Kulangkahkan kaki kiriku dahulu seraya membaca do'a keluar masjid:


"Allahummaghfir lii dzunuu bii waftah lii abwaa ba fadhlika Artinya, “Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah pintu-pintu kemurahan-Mu.”


Mataku terus mencari-cari dimana keberadaan Pak Budi di tengah hiruk pikuknya jama'ah yang hadir di masjid ini.


Sesekali aku melihat ke langit memastikan


Apakah hari sudah cerah.


Aku berjalan menuju halaman masjid sambil membuka telapak tanganku.Sekiranya apakah sudah tidak hujan maksud hatiku.


Nampaknya,hujan telah berhenti.


Tetapi,keadaan langit masih terlihat mendung dan gelap.


Sepertinya hujan hanya berhenti sementara,batinku.


Sambil terus melihat-lihat sekitar aku terus mencari keberadaan Pak Budi yang juga belum kutemukan.


Sementara dari kejauhan mobil yang dikendarai Pak Budi masih ada di parkiran.


Kemana perginya Pak Budi?,tanyaku dalam hati.


Seketika mataku terpikat akan keindahan air mancur dan taman yang ada di sekitar masjid.


Semilir angin berhembus memainkan kerudung dan pakaianku pelan.


Dan udara dingin yang menyapa tidak menghentikanku untuk melangkah kesana.


"MasyaAllah indahnya,"ucapku pelan sambil duduk di kursi dari batu.


Aku menikmati keindahan dan kesejukan ini.


Perasaan damai yang untuk sementara dapat kurasakan.


Sebelum menghadapi kepahitan dan rasa sakit setelah ini.


Kupejamkan kedua mataku menikmati semilir angin,aroma bunga melati dan kenanga yang harum membius Indra penciumanku.


Syahdu aku terasa terbuai dalam lantunan gemercik suara semburan air mancur.


"Rabbana ma khalaqta haza baṭila, sub-hanaka fa qina 'azaban-nar."


(Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka),"ucapku pelan.


"Nak Rani...,"teriak seseorang memanggilku dari kejauhan.


Aku tersentak dari ketenanganku lalu melihat sekitar mencari orang yang memanggil namaku.


Tampak dari kejauhan seseorang melambaikan tangannya kepadaku seraya menunjukkan bahwa ia yang memanggilku untuk mendekatinya kesana.


Aku memicingkan mata melihat siapa gerangan disana.


Oh....ternyata Pak Budi,batinku.


Segera aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju ke tempat Pak Budi.


"Nak Rani dari mana saja?Pak Budi nyariin nggak ketemu?,"ucapnya.


"Lho Rani juga nyariin Pak Budi ,pak.Tadi selepas salat ashar Rani keluar tetapi tidak terlihat Pak Budi di manapun juga.Jadi,akhirnya Rani menunggu disini pak,"jelasku.


"Oh...iya nak,Tadi selepas salat Pak Budi sedang ngobrol dengan anak teman bapak semasa kecil dulu.Kakeknya adalah teman baik bahkan sahabat karib almarhum kakek nak Rani,"cerita PakBudi.


"Oh....lalu orangnya dimana pak?,"tanyaku penasaran.


Pak Budi menoleh ke kanan dan kiri mencari seseorang.


"Ta...tadi...ada disini.Sekarang kemana ya?,"ucap Pak Budi terlihat bingung.


"Mungkin sudah pulang atau pergi kali pak,"kataku.


"Nggak nak Rani.Dia belum pamit kok sama bapak,"bantah Pak Budi.


"Mungkin kelupaan pak atau barangkali dia ada urusan mendadak yang penting pak.Sehingga tidak sempat pamit Pak Budi,"sahutku.


"Mungkin ya nak,"ucap Pak Budi dengan raut wajah sedikit kecewa.


"Nanti jika diizinkan Allah,Pak Budi pasti bisa bertemu lagi,"ucapku membesarkan hatinya.


Pak Budi mengangguk lesu.


"Ya udah pak.Ayo kita pulang,Rani takut Pak Budi dimarahin nanti,"ajakku.


Aku dan Pak Budi melangkah perlahan.


Tes....tes ...Tess....


BYURR......BYURR......BYURRR.......


Hujan turun tiba-tiba dengan sangat derasnya.


"Nak Rani,ayo kita berteduh di situ dulu supaya tidak kehujanan,"teriak Pak Budi.


Namun,sebelum aku dan Pak Budi beranjak.


Datang seseorang mendekatiku dan Pak Budi lalu memayungi kami dan tersenyum.


Sambil memberikan satu payung lagi kepada Pak Budi.


Aku melihat dengan bingung ke arah orang tersebut.


Siapa dia?


Aku tidak mengenalnya sama sekali.


Apakah ia sedang menyewakan payung?,gumamku dalam hati.


Sepintas orang itu memandang ke arahku lalu dengan cepat memalingkan padangannya dariku dan menatap ke arah Pak Budi.


Pak Budi membalasnya dengan senyuman senang.


Kulihat ekspresi wajah Pak Budi yang sepertinya mengenal orang ini.


"MasyaAllah,terima kasih ya Riz,"ucap Pak Budi pada laki-laki yang memberinya payung.


"Iya Pak sama-sama.Lebih baik berteduh dulu pak.Ini hujannya semakin lebat.Ayo kesana saja bersama saya,"ucap laki-laki tersebut santun.


"Iya,bapak kirain tadi kamu kemana nak Fariz.Bapak kirain kamu sudah pulang,"ucap Pak Budi senang.


Tetapi laki-laki itu hanya tersenyum tipis.


Sementara itu Pak Budi membuka satu payung lagi dan diberikannya padaku.


"Nak Rani pakai payung ini supaya tidak basah.Kita berteduh dulu ya nak,hujannya deras lagi ini,"saran Pak Budi.


Aku mengangguk setuju dengan saran Pak Budi.


Tidak lama setelah itu aku,Pak Budi dan laki-laki itu berjalan di bawah guyuran hujan angin yang lebat.


Ia berjalan di depanku dan Pak Budi menuntun kami mengikutinya.


Wuzzzzz....wuzzzzzz....


Angin bertiup semakin kencang.


Payungku terlepas dari pegangan jemariku.

__ADS_1


"Astaghfirullah,"ucapku sedikit berteriak.


Pak Budi dan laki-laki itu menoleh ke arahku mendengar suaraku.


Ia ingin memberikan payungnya padaku begitu juga Pak Budi.


Namun,


BYURR......


Hujan mengguyur tubuhku seketika.


Aku basah kuyup.


Pak Budi memandang ke arahku dengan cemas.


"Nak Rani pakai payung bapak.Bapak biar berdua dengan nak Fariz memakai payungnya,"ucap Pak Budi sambil memberikan payungnya.


Tubuhku terasa dingin dan menggigil.


Pak Budi menyuruhku dan laki-laki tersebut untuk melangkah dengan cepat.


Akhirnya,kami sampai di sebuah gedung di sebelah samping kanan masjid yang masih satu komplek halaman dengan masjid.


Sambil menyilangkan kedua tanganku di lengan aku melihat-lihat sekitar.


Gedung apa ini,batinku.


Hingga mataku tertuju pada sebuah tulisan sekretariat dewan kesejahteraan masjid.


"Nak Rani tidak apa-apa?,"tanya Pak Budi cemas dengan kondisiku.


Dengan menggigil kedinginan aku pun menjawab,"iy...iya pak."


"Tapi nak Rani basah kuyup.Bagaimana jika Pak Budi ambilkan tas nak Rani yang berisi pakaian.Supaya nak Rani bisa mengganti pakaian.Pak Budi khawatir jika nak Rani kenapa-napa,"ucap Pak Budi.


Laki-laki yang bernama Fariz tersebut mendengarkan percakapanku dan Pak Budi.


"Iya benar apa yang dikatakan Pak Budi.Nanti ukhti dapat menggantinya di ruang akhwat yang semuanya tertutup dan aman,"ucapnya padaku.


"Bagaimana nak Rani?,"tanya Pak Budi padaku.


"Baiklah pak,tetapi hujan masih lebat disertai angin pak,"sahutku.


"Tidak apa-apa nak.Yang penting itu kondisi nak Rani.Sebab nak Rani baru pulih dari sakit,"ucap Pak Budi lembut.


Lalu ia meneruskan kembali kata-katanya.


"Oh...ya nak Fariz,bapak pinjam lagi payungnya ya.Sekalian kalau bapak parkir mobilnya di depan sini apa bisa dan diperbolehkan?,"tanya Pak Budi.


"Na'am tafadhol (iya silahkan) pak."


"Terima kasih nak Fariz.Jika begitu saya tutup nak Rani sebentar ya,"pinta Pak Budi.


"In syaAllah iya pak."


"Sebentar ya nak Rani,bapak tinggal sebentar,"ucap Pak Budi sambil pergi membawa payung melewati guyuran hujan.


Aku mengangguk dan menatap Pak Budi yang berlalu.


"Ukhti silahkan duduk dulu.Oh..ya afwan,ukhti mau minum apa?tanya laki-laki yang bernama Fariz tersebut.


"Hmmm...terima kasih.Tidak usah pak?,"ucapku.


Lalu ia tertawa kecil.


"Hahaha....apakah saya terlihat tua sehingga di panggil pak?sepertinya kita hampir seumuran atau mungkin berbeda lima atau tujuh tahun ,"tanyanya padaku.


"Maaf,jika tidak berkenan pak..eh kak,"ucapku bingung.


"Tidak apa-apa senyaman ukhti saja.Oh..ya kita belum berkenalan bukan.Perkenalkan nama saya Fariz.Dan ukhti?,"tanyanya.


"Oh...Rani.Apakah ukhti putrinya Pak Budi?,"tanyanya.


"Bukan,"jawabku.


Tidak lama kemudian Pak Budi datang dengan mengendarai mobil dan memarkirnya di depan gedung ini.


Lalu Pak Budi keluar memakai payung dan membawa tasku yang berisi pakaian ganti selama aku di rawat di rumah sakit.


"Ini nak Rani,"ucap Pak Budi memberikan tas yang ia bawa padaku.


"Terima kasih banyak pak,"jawabku.


"Sebentar saya panggilkan teman saya ukhti Aisyah yang akan mengantar ukhti Rani,"ucap Fariz.


Lalu ia ke dalam memanggil temannya.


Dan tidak lama kemudian temannya yang bernama Aisyah keluar bersamanya.


"Mari ukhti ikut saya,"jawab perempuan yang bernama Aisyah.


Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya.


Perempuan yang bernama Aisyah tersebut menemaniku.Ia duduk di luar menungguku berganti pakaian.


"Alhamdulillah sudah selesai ukhti,"tanyanya padaku.


Aku pun mengangguk.


Lalu ia tersenyum manis dalam balutan hijab coklat mudanya.


"Ukhti kita belum berkenalan.Kenalkan nama saya Aisyah.Dan Ukhti?,"tanyanya padaku sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Rani,"jawabku sambil menyambut uluran tangannya.


"Astaghfirullah,tangan ukhti dingin sekali.Sebentar...,"ucapnya sambil mencari sesuatu di saku gamisnya.


"Nah,ukhti bisa pakai minyak kayu putih ini supaya ukhti merasa hangat tidak kedinginan,"ucapnya sambil menyodorkan botol minyak padaku.


Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil minyak tersebut dan masuk kembali ke kamar mandi (toilet) perempuan untuk memakai minyak.


"Terima kasih kak,"ucapku setelah kembali dari kamar mandi.


"Iya sama-sama.Panggil Mbak saja ya,"pintanya.


"Baik Mbak,"ucapku.


"Senang berkenalan dengan ukhti Rani,"ucapnya.


"Iya mbak.Mbak panggil saya Rani saja agar cepat akrab,"kataku.


"Oh...ya...ya,"ucapnya dengan tersenyum.


Lalu kami berdua kembali ke tempat Pak Budi menungguku.


"Sudah ustad Fariz,"ucap perempuan yang bernama Aisyah.


"Iya syukron ukhti Aisyah,"balas Fariz.


"Sama-sama Tad, kalau begitu saya izin masuk dulu untuk melanjutkan beberapa file yang belum selesai,"ucap Mbak Aisyah.


Mbak Aisyah pun lalu masuk ke dalam.


Aku memandangnya melangkah ke dalam lalu ia menghilang dari pandanganku.


"Nak Rani,duduk dulu disini.Ini nak Fariz sudah buatkan susu kambing hangat bagus katanya untuk nak Rani,"ucap Pak Budi.

__ADS_1


Aku lalu duduk di sebelah Pak Budi bersebrangan dengan laki-laki bernama Fariz.


"Terima kasih untuk minumnya kak,"ucapku pada laki-laki bernama Fariz.


Dan Kak Fariz hanya mengangguk.


"Ini loh nak Rani yang bapak ceritakan tadi.Bapak bertemu dengan nak Fariz.Kakeknya nak Fariz ini adalah sahabat kakeknya nak Rani.Dan ayahnya nak Fariz berteman dengan Pak Budi,"ucap Pak Budi sambil menyeruput kopi panasnya.


SRUuupppppp...


Akhhhhh.........


"MasyaAllah,nikmatnya cocok dengan hawanya,"ucap Pak Budi.


Aku tertawa kecil melihat Pak Budi.


"Nak Rani diminum juga susunya supaya hangat badannya,"ucap Pak Budi sambil memberikan gelas padaku.


"Ehhh...iya pak,"jawabku sambil menerima gelas dari Pak Budi.


"Nak Fariz ini baru pulang dari Mesir nak Rani.Baru satu tahun pulang ke Indonesia.Nah,tadi yang ceramah dan jadi imam salat itu nak Fariz,"jelas Pak Budi.


Aku hanya diam menyimak Pak Budi berbicara.


"Sekarang nak Fariz sudah jadi ustad,"ucap Pak Budi tersenyum.


"Pak Budi bisa saja,ilmu itu titipan dari Allah pak.Saya masih belajar masih fakir ilmu pak,"ucap Kak Fariz dengan merendah.


"Akh bisa saja ustad Fariz,"canda Pak Budi.


Dan mereka berdua tertawa lepas bersama.


"Saya kira tadi Rani ini putri bapak."


"Bukan nak ,tetapi sudah saya anggap selayaknya putri kandung saya sendiri,"ucap Pak Budi sambil mengusap kepalaku lembut.


Mendengar ucapan Pak Budi aku terharu hingga membuat mataku berkaca-kaca.


"Nanti kapan-kapan Pak Budi berkunjunglah ke rumah.Kakek dan ayah pasti senang sekali.Nanti saya kirim alamat rumah Fariz yang baru ke nomor telepon Pak Budi."


"Iya nak,in syAllah...nanti sekalian bapak ajak nak Rani juga.Pasti kakek dan ayahmu kaget,"ucap Pak Budi.


Pak Budi dan Kak Fariz asyik mengobrol.


Sementara aku masih memandang hujan yang turun semakin lebat.


Dreetttt......dreeettttt.....


Aku terkejut tas yang kupangku bergetar.


Kulihat isi di dalamnya ternyata telepon genggam ku bergetar.


Kubuka banyak panggilan tidak terjawab dari Kak Reno,Kak Roy dan Wirda.


Lalu ku buka pesan dari Wirda dan membacanya:


Ran,tadi aku ke rumah sakit.


Namun pihak rumah sakit bilang kamu sudah pulang.


Ran,kamu dimana sekarang?


Dari tadi aku telepon nggak di angkat,aku Wa belum kamu buka dan balas.


Kak Roy juga menanyakan kamu Ran.


Aku khawatir kamu kenapa-napa.


Setelah membaca pesan dari Wirda aku pun langsung membalas pesannya.


Alhamdulillah aku baik-baik saja Wir.


Saat ini aku bersama Pak Budi berteduh di masjid karena hujan yang sangat lebat disertai angin.


Lalu ku tekan tombol kirim.


Pesan dari Kak Roy kemudian kubaca:


Assalamu'alaikum Ran,kamu ada dimana sekarang?


Kakak mencemaskan keadaanmu.


Tolong balas pesan kakak setelah kamu membacanya.


Tanpa berpikir panjang dengan segera kubalas pesan dari Kak Roy.


Wa'alaikumussalam kak,


Alhamdulillah Rani baik-baik saja.


Rani sedang berteduh di masjid bersama Pak Budi karena cuaca sedang tidak memungkinkan.


Kak Roy tidak perlu mencemaskan Rani.


Setelah kukirim aku ingin memasukkan telepon genggam ku.


Namun,terlihat pesan dari Kak Reno yang kuabaikan tanpa membacanya.


"Pak Budi,apa kita pulang sekarang?sepertinya hujannya tidak akan reda dengan cepat.Lagipula hujannya sudah tidak disertai angin.Rani takut Pak Budi di marahin dari keluarga Kak Reno,"ucapku cemas.


Glek....glek....glek...


Pak Budi meminum kopinya dengan cepat.


"Iya nak,lho susunya belum nak Rani minum.Sampai sudah dingin,ayo nak Rani minum dulu,"suruh Pak Budi.


"Iya pak,Rani lupa,"ucapku pelan.


"Bismillahirrahmanirrahim.Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,"ucapku sambil meminum susu dengan perlahan.


"Alhamdulillah,"ucapku setelah menghabiskan susu.


"Ya sudah nak Fariz,bapak pamit pulang dulu ya.Terima kasih banyak sudah diperbolehkan berteduh dan untuk kopinya,mantap,"ucap Pak Budi sedikit bergurau.


"Sama-sama Pak Budi.Fariz tunggu kedatangannya di rumah ya pak,"jawab ustad Fariz.


"Terima kasih kak...eh...ustad,"ucapku canggung.


"Panggil saja kakak tidak apa-apa,"ucapnya dengan tersenyum.


Aku mengangguk.


Pak Budi dan Kak Fariz bersalaman.


Dan kami berpamitan.


Aku dan Pak Budi masuk ke dalam mobil.


"Bismillah,"ucapku dan Pak Budi bersamaan.


Kutarik napas panjang.


Bersiap menghadapi babak baru yang akan kuhadapi selanjutna di kediaman keluarga Suprapto.


Brmmmmmm....


Mobil melaju menembus guyuran hujan.

__ADS_1


Aku bergantung kepadaMu ya Allah,batinku.


__ADS_2