
Setelah kepergian Kak Aisyah pun juga tidak membuat Ummah merasakan perasaan tenang akan hubunganku dan Mas Fariz. Meskipun Abi, Enjid dan Mas Fariz sudah berusaha menjelaskan kepada Ummah, tetapi ketakutan Ummah rupanya lebih besar dari apa yang ia lihat.
"Ran.Ummah sangat menyayangi dirimu nak. Semoga kamu tahu apa yang menyebabkan Ummah bersikap demikian, " ucap Ummah kepada diriku.
Aku pun hanya bisa diam sambil memandang wajah Ummah dan mengiyakan permintaannya.
Dan hari terus bergulir setiap detiknya tanpa dapat terhenti untuk menjeda kehidupan. Berita duka pun terus datang silih berganti menghampiri, dari kepergian Kak Aisyah kini berita duka itu kembali hadir dari Tante Sinta yaitu mamanya Rere.Rasa kesedihannya yang mendalam melihat kondisi Rere, membuat Tante Sinta tidak dapat menahan beban dan cerita kehidupannya. Hatinya hancur dan begitu terluka, dimana setiap hari Tante Sinta pun hanya mengurung dirinya di kamar dan terus menangisi akan jalan kehidupan Rere. Rere dan Om Nugroho yang mengetahui kepergian Tante Sinta pun merasa sangat terpukul dan depresi. Begitu juga dengan Rere, yang terus larut dalam kesedihannya dan mempengaruhi kesehatan dirinya dan janin yang ada di dalam kandungan nya.
Beberapa bulan berlalu setelah meninggalnya Tante Sinta. Keadaan Om Nugroho juga semakin tidak terurus. Dia berusaha kesana kemari mencari keberadaan Kak Roy dan keluarga nya tetapi tidak dapat di temukan.
Hingga pada suatu sore, saat cahaya matahari mulai terbenam. Om Nugroho yang tampak linglung dalam pikiran nya. Tidak mengetahui jika saat menyebrang jalan ada mobil yang melaju kencang ke arahnya.
Bruaghhhhh.....
Tubuh Om Nugroho terlempar jauh dalam kondisi yang terluka parah. Semua orang berkerumun untuk membantu ataupun sekedar melihat peristiwa kecelakaan yang mengenaskan tersebut. Tetapi dari deretan banayknya lautan manusia ada Bude Ayu yaitu kakak perempuan dari Tante Desi mamanya Kak Roy. Terlihat melihat kerumunan kecelakaan tersebut. Dan berapa terkejutnya Bude Ayu saat melihat, orang yang sedang mengalami kecelakaan adalah papanya Rere. Dengan segera Bude Ayu meminta bantuan semua orang yang ada disana untuk membantunya membawa Om Nugroho ke rumah sakit terdekat. Dengan mengesampingkan perasaan benci kesak dan marahnya terhadap keluarga Rere. Tetapi sifat empati akan kepedulian dirinya terhadap sesama tidak menghiraukan akan kesalahan yang telah Rere lakukan terhadap keponakannya yaitu Kak Roy.
Setelah tiba di rumah sakit dan segera mendapatkan pertolongan. Dokter langsung memanggil Bude Ayu jika Om Nugroho ingin bertemu dengan dirinya. Maka dengan segera Bude Ayu pun menemui Om Nugroho yang berada di ruang ICU. Bude Ayu begitu terkejut melihat kondisi Om Nugroho.
Dengan perlahan Bude Ayu pun lalu mendekati Om Nugroho yang memandang dirinya. Dengan napas tersengal-sengal dan suara terbata. Om Nugroho menceritakan kondisi keluarganya termasuk kematian Tante Sinta dan kondisi Rere yang drop.
Om Nugroho meminta kepada Bude Ayu, supaya Kak Roy dan keluarga nya mau menemani Rere yang sebentar lagi harus melahirkan bayinya secara prematur karena kondisi kesehatan Rere dan bayinya yang tidak baik. Om Nugroho pun lalu memberi tahukan keberadaan Rere. Bude Ayu pun terlihat berkaca-kaca kedua matanya melihat keadaan Om Nugroho yang terlihat begitu kesakitan, tetapi tetap memaksakan untuk berbicara. Tidak lama setelah mengatakan semuanya kepada Bude Ayu. Om Nugroho pun menghembuskan napas terakhirnya. Sontak hal ini membuat Bude Ayu syok dan sangat terkejut.
Dalam perasaan penuh kecemasan dan ketakutan, akhirnya Bude Ayu memberitahu kan akan hal kematian papanya Rere dan keadaan Rere yang juga drop kepada Kak Roy dan Tante Desi.
Setelah mengetahui akan hal ini, Kak Roy pun juga langsung bergegas menuju ke rumah sakit tempat Rere di rawat, ditemani Tante Desi, Om Surya dan Bude Ayu.
Mereka semua terlihat sangat cemas, setelah melihat keadaan Rere yang begitu memprihatinkan. Dokter datang menemui Kak Roy dan keluarga nya, untuk mengabarkan kondisi Rere yang tidak mungkin dapat mempertahankan kedua nya sekaligus. Dan harus memilih salah satu antara ibu atau bayinya yang harus di selamatkan. Mendengar akan hal itu Kak Roy dan keluarganya menjadi bingung dan gusar. Hingga Rere mendengar apa yang dokter katakan dan meminta dokter untuk menyelamatkan bayinya saja dari pada dirinya. Mendengar ucapan Rere semua orang terkejut, tetapi Rere tetap bersikeras terhadap pilihannya. Dengan wajahnya yang begitu pucat dan napas yang tersengal-sengal. Rere menatap dalam wajah Kak Roy dengan linangan air matanya.
__ADS_1
"Kak Roy maafkan perbuatan ku selama ini kepadamu. Aku mencintaimu dengan cara yang salah, tetapi kumohon setelah kepergian diriku. Berikan dan limpahkan cintamu pada anak kita, dia berhak mendapatkan cintamu. Cinta yang tidak pernah engkau berikan sedikitpun padaku. Maka ku mohon jangan lakukan hal itu pada anakku yang juga darah daging mu, " kata Rere sambil menarik napas nya yang semakin sulit.
Kak Roy terdiam menahan hatinya yang tiba-tiba tersentuh akan kesedihan Rere.
Tidak lama setelah itu, dokter dibantu perawat segera membawa Rere masuk ke ruang operasi mengingat tidak banyak waktu tersisa.
Kak Roy dan keluarganya menunggu di luar ruang operasi dengan perasaan cemas dan khawatir.
Dan beberapa jam kemudian, terdengar suara tangisan bayi yang nyaring.
Oek... Oek... Oek...
Kak Roy terperanjat dengan hatinya yang bergetar, begitu pula dengan keluarganya yang lain.
Dokter meminta Kak Roy masuk,setelah mengabarkan berita bahagia jika bayi yang terlahir itu berjenis kelamin perempuan.
Tangan Kak Roy bergetar, saat bayi mungil itu berada dalam dekapan nya saat ia mengumandangkan adzan pada telinga putrinya.
Mata Kak Roy berkaca-kaca, begitu pula yang lain.
Rere yang masih menatap wajah Kak Roy terlihat semakin pucat. Hingga ia meminta Kak Roy untuk mendekat kepada dirinya untuk melihat putri kecilnya.
Air mata Rere mengalir perlahan lalu semakin deras. Dibantu oleh Tante Desi dan Bude Ayu, Rere dengan perlahan mencium kening putrinya dengan bibir bergetar.
Semua orang menangis terharu melihat kondisi Rere yang begitu rapuh, terlepas dari semua kesalahan yang telah Rere lakukan. Rere memanggil Kak Roy untuk mendekat padanya, dengan napas tersengal-sengal dan kesulitan untuk bernapas. Rere tetap memaksakan dirinya, meskipun semua orang meminta dirinya untuk tidak banyak berkata . Rere tetap menolaknya, "Tidak, aku tidak akan diam. Karena aku tahu waktuku tidak banyak lagi, " ucap Rere dengan suara paraunya dan menahan sesaknya.
"Jangan berbicara seperti itu Re!, " pinta Kak Roy.
__ADS_1
Rere terlihat tersenyum kecil menatap Kak Roy, lalu meminta Kak Roy mengulurkan jemari tangannya.
Kak Roy pun tidak menolak dan membiarkan Rere mengenggam jemari tangannya.
"Aku senang karena Kak Roy sedikit peduli padaku, " ucap Rere berusaha menarik napas nya.
"Berikan nama putri kita Rani, Kak. Karena aku ingin engkau mencintai putriku seperti cintamu yang besar terhadap Rani. Jagalah dia, dan cintai dia seperti engkau memuja Ranimu!. "
Hahhhh.... Ughhhh....arghhhh..
Napas Rere semakin terdengar tersengal-sengal lebih keras.
Kak Roy menatap haru Rere, dimana kali ini hatinya benar-benar tersentuh akan ketulusan Rere.
"Aku memang tidak mendapatkan cintamu Kak, tetapi aku bahagia karena setelah kepergian diriku. Aku dapat memberikan mu kebahagiaan yang tidak pernah ku berikan padamu. Aku tidak menyesal pernah mencintaimu, dimana cinta sendiri yang ku punya akan kubawa pergi bersamaku. Jagalah Rani untukku Kak, dan buatlah dirinya selalu bahagia.... "
Arghhh.... Uhh... Arghh... Ukh....
Rere mengenggam jemari tangan Kak Roy kuat dan menatap wajah Kak Roy dalam linangan air matanya.
"Rere!," teriak Kak Roy sambil menangis terisak.
Air mata semua orang tumpah menatap kepergian Rere.
Semua terasa hening dan sayup, dimana sesekali terdengar gemuruh luapan tangis yang menyayat hati.
Kak Roy tertunduk dalam kesedihan nya sembari masih memandang raga Rere yang tak lagi bernyawa.
__ADS_1