
"Assalamu'alaikum Pak Budi dan Bik Inah. Apakah mama Rani ada?," ucap putri Kak Roy dengan lembut.
"Wa'alaikumussalam.Ehh... Ada Non Rani, " sahut Pak Budi tersenyum dan beranjak dari duduknya.
Bik Inah pun juga turut berdiri dari duduknya, dan menghampiri Kak Roy yang datang dengan putrinya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh Non Rani. Mama ada di kamarnya. Sebentar ya Bik Inah panggilkan."
"Iya Bik Inah, terima kasih ya. "
"Sama-sama cantik, " balas Bik Inah memegang pipi Rani dengan gemas.
Bik Inah lalu berjalan menyusuri tangga menuju kamar tidurku. Sementara itu, Pak Budi mengajak Kak Roy bersama putrinya duduk di dekatnya.
"Tumben sepi Pak, kemana semua orang Pak?, " tanya Kak Roy sambil memangku Rani duduk di pangkuannya.
"Oh, semua orang sedang mengantar Nak Rafa ke bandara. Sebentar lagi juga akan pulang. "
"Ohh, pantas saja. Rani kok tidak ikut Pak? Apakah Rani sakit?, " tanya Kak Roy.
Pak Budi mengeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak Nak Roy. Alhamdulillah Nak Rani sehat. Nak Rani bersama bapak dan Bik Inah baru saja pulang dari membagikan sedekah selepas subuh. "
"Wah, berarti kedatangan saya dan Rani, menganggu Rani yang sedang beristirahat ya Pak?, " tanya Kak Roy lagi.
"Kalau itu bapak kurang tahu Nak Roy, " jawab Pak Budi sambil tersenyum meringgis.
Kemudian Pak Budi permisi sebentar, untuk meminta asisten rumah tangga lainnya membuatkan minum untuk Kak Roy dan putrinya.
Tidak lama kemudian, Bik Inah turun seorang diri dan menghampiri Kak Roy dengan anaknya.
Rani kecil melihat ke sekitar mencari keberadaan diriku, hingga ia tidak dapat menemukannya. Lalu bertanya pada Bik Inah, "Bik Inah, mana mama Rani? Kok tidak bersama Bik Inah?. "
Bik Inah menghampiri putri Kak Roy, sembari mengusap lembut pipinya, "Mama Rani sepertinya sedang tidur Non. Soalnya bibi panggil dan ketuk pintu kamarnya tidak di buka. "
Wajah putri Kak Roy berubah murung seketika, "Tapi Rani ingin ketemu mama. "
"Iya sayang, nanti kalau mama Rani sudah bangun ya. Mama pasti kelelahan, hingga tertidur pulas seperti sekarang ini. "
Bik Inah berusaha membujuk putri Kak Roy, tetapi ia masih tidak mau mengerti dan terus merengek. Meskipun Kak Roy pun sudah berusaha membujuknya.
Putri Kak Roy tetap bersikeras ingin di antar menuju kamarku. Karena terus merengek dan menangis. Akhirnya Bik Inah pun tidak tega dan terpaksa mengantar putri Kak Roy untuk ke kamar tidurku. Tetapi, baru beberapa langkah berjalan.
__ADS_1
Tiba-tiba, Ummah dan yang lainnya sudah pulang. Kak Roy dengan segera menghampiri Ummah dan yang lainnya, sembari mencium tangan Abi dan Enjid.
"Eh.. Ada Roy. Sudah lama disini Roy?, " tanya Ummah.
"Baru saja Ummah. Dari kemarin Rani mengajak ingin kemari untuk bertemu Rani. Tetapi saat tiba disini, Rani sedang tidur. Bik Inah mengatakan Rani mungkin kelelahan setelah membagikan sedekah, " ucap Kak Roy menjelaskan pada Ummah.
Ummah mengangguk, "Iya Roy. Biasanya memang setelah pulang dari membagikan barang-barang dan salat dhuha. Rani pasti tidur, maklum fisiknya tidak sekuat dulu. Dia memang harus banyak beristirahat, dan tidak boleh kelelahan. Padahal Ummah, Abu dan Enjid sudah melarangnya untuk ikut membagikan barang-barang yang akan di sedekahkan. Tetapi kamu tahu sendiri, bagaimana Rani."
Kak Roy menganggukkan kepalanya, mengerti akan perkataan Ummah.
Tetapi putri Kak Roy tetap merengek dan menangis ingin menuju kamar tidurku, dan bertemu dengan diriku. Ummah lalu memberikan pengertian kepada putri Kak Roy, dengan mengajaknya bermain bersama putra Wirda yaitu Fariz di ruangan bermain.
Rani akhirnya diam dari menangis, dan mengikuti Ummah, Wirda dan Bik Inah menuju ruang bermain.
Sementara itu, Kak Roy bergabung dengan Abi, Enjid dan Pak Budi berbincang-bincang di ruang keluarga.
Aku tertidur cukup pulas dan lama. Hingga Rani yang bermain dengan Fariz akhirnya kelelahan dan tertidur di ruang bermain. Tidak lama kemudian, aku pun keluar dari kamar ku. Lalu Bik Inah menghampiri diriku, dan memberitahukan kedatangan Kak Roy dan Rani yang telah lama menungguku. Mendengar apa yang di sampaikan oleh Bik Inah, maka aku pun segera menuju ruang bermain. Dan benar kulihat Rani sudah tertidur karena kelelahan bermain.
Ummah dan Wirda melihat kedatangan ku, lalu mereka berdua menceritakan bagaimana Rani terus menerus menanti kedatangan diriku, hingga ia kelelahan.
Ngilu dan sedih hatiku mendengar nya. Maka dengan perlahan dan hati-hati.Aku pun mengangkat tubuh mungil Rani menuju kamarku. Dalam sayup-sayup pandangan matanya, yang menahan kantuk. Ia pun masih sempat tersenyum kecil ke arahku, sambil menyebut namaku. Lalu tertidur lagi.
Dengan di ikuti Ummah, Bik Inah dan Wirda yang menggendong Fariz.
Aku mendekap tubuh Rani dengan penuh kasih sayang, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurku.
Ku usap kepalanya perlahan, sembari mencium keningnya, "Sayang, maafkan mama yang telah membuatmu lama menunggu. "
Ummah mengusap punggungku dengan lembut, "Dia sangat menyayangimu sayang. Besar keinginannya untuk menjadikan dirimu, benar-benar menjadi mamanya. Ummah tidak tahu, ikatan apa yang menghubungkan dirimu dan putri Roy. Tetapi, kehidupannya seolah-olah tergantung padamu nak. "
Aku memandang Ummah dengan diam, lalu mencium tangan Rani.
Wirda yang menggendong Fariz pun juga mengatakan hal sama seperti yang Ummah katakan.Aku diam dan terus diam, karena diriku tahu kemana arah akan maksud perkataan Ummah dan Wirda.
Tidak lama kemudian Ummah dan Bik Inah berlalu dari kamarku. Sementara Wirda tetap berada di kamar ku, dan membaringkan Fariz yang juga tertidur di samping Rani.
Setelah itu, Wirda menatap diriku dan bertanya akan keadaan ku.
Aku pun mengatakan kepadanya, jika diriku baik-baik saja, dan menceritakan semua pertemuan ku dengan Kak Reno.
Dan membuat Wirda semakin terkejut.
__ADS_1
Apalagi saat ku katakan kepada Wirda, jika setiap aku melihat Kak Reno. Maka selalu ku lihat wajah almarhum Mas Fariz yang tersenyum ke arahku.
Wirda terdiam dan terus mendengarkan cerita ku, hingga ia menanyakan kepada diriku tentang perasaan ku terhadap Kak Reno.
Aku pun berterus terang kepada Wirda, dan menceritakan semua rasa sensasi aneh, pada diriku,yang tak pernah ku rasakan sebelumnya, saat bertemu dengan Kak Reno.
Wirda kembali terdiam dan tak bergeming.
Dimana semua surat dan rekaman suara Kak Reno yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran ku tunjukkan pada Wirda.
Wirda pun semakin tersentak kaget, mendengarkan suara Kak Reno yang sedang membaca ayat-ayat suci Al-Quran, terdengar persis dan serupa dengan suara almarhum Mas Fariz.
"Aku bingung Wirda, sebenarnya apa maksud dari Allah, dengan mempertemukan diriku lagi dengan Kak Reno. Dalam keadaan seperti ini, " ucapku pada Wirda dengan serius.
Wirda menatap ku serius, namun tidak berkata-kata.
"Dan kamu tahu Wirda, saat diriku selesai melakukan salat dan berdo'a kepada Allah, maka wajah Kak Reno selalu terlintas di dalam benakku, selepas aku bertemu dengannya. Padahal, aku tidak pernah memikirkan dirinya sama sekali. Tetapi, entah mengapa ia selalu berada di dalam anganku. Meski, hatiku tidak menginginkannya, "tuturku dengan wajah bimbang.
Wirda memegang tanganku dan memandang diriku lekat, " Ran, Jangan-jangan kamu dan Kak Reno berjodoh. Mungkin Kak Reno adalah jodoh yang Tuhan pilih kan untukmu. "
"Tidak mungkin Wirda, " bantah ku.
"Apa yang tidak mungkin Rani, semua bisa terjadi jika Allah sudah berkehendak. "
"Iya aku tahu itu Wirda. Tetapi aku sama sekali tidak menginginkan akan hal itu. "
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).Ini adalah sebuah kaidah agung yang memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan orang-orang yang memahaminya dan mengambil petunjuk dengan petunjuknya. Ini adalah kaidah yang memilliki hubungan dengan salah satu pokok keimanan yang agung, yaitu iman dengan Qadha’ dan Qadar, " jelas Wirda padaku dengan tegas dan lantang.
"Iya Wirda, tetapi itu tidak mungkin, " bantah ku lagi.
Wirda memegang wajahku dan berkata, "Allah lebih mengetahui segala sesuatu, sedang kamu tidak mengetahui apa yang terbaik untukmu, Rani. "
Aku terdiam mendengarkan perkataan Wirda, dimana aku pun sedikit terkejut akan sikap dan perkataannya, yang tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Aku memandangnya dengan penuh rasa heran, sembari memikirkan perkataannya yang mulai mempengaruhi pikiran ku.
"Aku hanya ingin kamu bahagia dan mendapatkan hal terbaik dalam kehidupan mu Rani. Meskipun, satu-satunya orang di dunia ini yang dapat membuat dirimu bahagia, hanyalah Kak Reno. Aku akan tetap mendukung mu, " ujar Wirda lagi.
Aku semakin tidak menyangka jika Wirda dapat mengatakan hal ini, apalagi berkaitan dengan Kak Reno. Orang yang amat dia benci, karena telah banyak menyakiti ku. Tetapi, saat ini tidak sedikit pun kulihat kebencian itu di mata Wirda.
Aku diam dan tidak bergeming dalam lamunanku sendiri. Sementara itu, Wirda juga diam dan membiarkan diriku berpikir, untuk mencerna dan memahami perkataannya padaku.
__ADS_1