
Keesokan harinya kami semua pamit pulang kepada Tante Desi untuk meninggalkan kediaman rumahnya.
Tante Desi memeluk erat dan mengusap kepalaku yang tertutup hijab khimar syari warna navy.
Huhuhuhuhu... Huhuhuhuhu....
Terdengar suaranya yang terisak menangis kembali. Yang membuat hatiku terasa bergetar dan pilu mendengarnya. Kurasakan kesedihan yang mendalam dari kehangatan dekapan pelukannya.
"Ran, apakah kamu tidak bisa lebih lama lagi disini untuk menemani Tante. Hiks... Hiks... Hiks.., " ucapnya sambil terisak sambil melepaskan dekapannya dari tubuhku dan mengusap wajahku.
Ummah yang mendengar perkataan Tante Desi dengan segera menjawabnya, "Bu Desi, InsyaAllah setelah kami menemani Rani untuk memeriksa keadaan matanya agar dapat dengan segera melakukan tindakan operasi mata. Kami akan kemari lagi mengunjungi Bu Desi dan keluarga ya, " ucap Ummah pelan sambil mengusap pelan bahu Bu Desi.
Bu Desi pun mengangguk sambil memegang tangan Ummah yang bersandar di bahunya, "Hiks... Hiks.. Hiks.. Iya Bu Putri saya mengerti. Maafkan akan sikap saya yang tidak bisa menahan kesedihan saya. Dan terima kasih untuk semua yang Bu Putri lakukan untuk saya dan juga almarhum anak saya Roy. Saya telah banyak merepotkan Bu Putri, Nak Roy dan Nak Rafa".
Ummah tersenyum kecil seraya menggelrngkan kepalanya sedikit, " Bu Desi jangan berkata demikian. Kita sudah seperti keluarga bukan. Lagi pula saya dan kedua putra saya tidak merasa direpotkan. Kami justru senang dapat membantu Bu Desi. Ya sudah Bu Desi kalau begitu kami semua pamit pulang dulu. Bu Desi jaga diri baik-baik dan perbanyak berdzikir serta berdoa untuk mengingat Allah".
"Iya Bu Putri, " sahut Tante Desi pelan lalu memeluk tubuh Ummah erat.
Ummah pun membiarkan Tante Desi menangis melepaskan rasa kesedihannya.
Huhuhuhuhu..... Huhuhuhuhu......
Isak tangis Tante Desi kembali pecah dan semakin keras. Ummah pun membalas dekapan Tante Desi seraya mengusap bahunya pelan dan berdoa di dekat telinga Tante Desi.
__ADS_1
"LAA ILAAHA ILLALLOH AL-‘AZHIIM AL-HALIIM, LAA ILAAHA ILLALLOH ROBBUL ‘ARSYIL ‘AZHIIM. LAA ILAAHA ILLALLOH, ROBBUS SAMAAWAATI WA ROBBUL ARDHI WA ROBBUL ‘ARSYIL KARIIM. Tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah yang Maha Agung dan Maha Santun. Tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, Rabb yang menguasai ‘arsy, yang Maha Agung. Tiada ilah(sesembahan) yang berhak disembah selain Allah .(Dia) Rabb yang menguasai langit, (Dia) Rabb yang menguasai bumi, dan (Dia) Rabb yang menguasai ‘arsy, lagi Maha Mulia".
Ummah dengan perlahan melepaskan dirinya dari memeluk Tante Desi. Lalu Ummah mengajak Tante Desi untuk duduk sebentar pada kursi yang tidak jauh dari mereka berdiri. Dan Tante Desi pun menurut. Ummah menarik napas perlahan sambil menatap wajah Tante Desi dan mengenggam jemari Tante Desi.
"Suatu hal yang memberatkan manusia dan memenuhi dadanya sehingga membuatnya sangat bersedih adalah memperbanyak berdo'a dan mengingat Allah subhanahu wa ta'ala. Sebab obat dari ujian yang berat adalah dengan cara mentauhidkan Allah subhanahu wa ta'ala dan bermunajat kepada Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya.Saya paham dan tahu saat ini, Bu Desi dirundung duka dan kesedihan yang sangat mendalam karena kepergian putra satu-satunya Bu Desi yaitu almarhum ananda Roy. Tetapi Bu Desi tidak boleh berlarut lama dalam kesedihan.Karena keadaan kondisi kehidupan kita tidak selamanya harus dalam berduka atau sedih. Tetapi terkadang kita juga akan merasakan perasaan suka atau senang. Sebab suka dan duka akan terus silih berganti dalam kehidupan kita.Dan yang perlu Bu Desi tahu adalah bahwa takdir Allah subhanahu wa ta'ala itu begitu sangat baik. Namun, memang jika kita melihat dari satu sisi pandangan kita sebagai manusi mungkin terasa tidak enak dan sangat tidak adil bahkan menyakitkan, " tutur Ummah dengan lembut.
Tante Desi dan kami semua pun menyimak dengan sungguh-sungguh apa yang Ummah katakan. Kemudian Ummah melanjutkan ucapannya kembali. Dan kami semua pun duduk untuk mendengarkan perkataan Ummah.
"Seperti dalam Al-Qur'an surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6 yang berbunyi:
Fa inna ma’al ‘usri yusraa.
Artinya: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Artinya: Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.
Dari potogan kedua ayat tersebut dapat kita ambil sebuah pengajaran bagi hidup kita yaitu dimana di balik setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan yang begitu banyak.Yang telah Allah subhanahu wa ta'ala akan berikan. Sebab satu buah kesulitan mustahil akan dapat mengalahkan dua kemudahan. Sehingga Bu Desi tidak perlu terus- terusan bersedih.Memang
tidak mudah untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi.Namun,niatkan semua karena Allah ta' ala.Karena jalan keluar itu begitu dekat bagi orang yang bertakwa kepada Allah. Dan pertolongan dari Allah akan mudah datang jika kita bersabar.Sehingga Bu Desi jangan terus bersedih.Dengan terus berusaha menjaga hati, lisan dan anggota badan lainnya dari berkeluh kesah yang dapat menimbulkan kesedihan berkepanjangan.
Bu Desi harus ridho akan takdir Sang Ilahi.
Dengan menjadikan sabar sebagai jalan meraih pertolongan dariNya.
__ADS_1
Karena sejatinya musibah yang datang menguji kita akan semakin mendewasakan diri kita untuk semakin dekat dengan Allah ta'ala.Dan semakin meninggikan derajat kita di sisi Allah.Semoga Allah menjadikan kesedihan dan duka Bu Desi serta keluarga akan cepat berlalu.
Dan semoga Allah menjadikan Bu Desi menjadi orang yang bersabar dan bertawakal.
Semoga Allah membalas kesabaran Bu Desi dan keluarag dengan balasan JANNAH".
" Aamiin ya robbal'alamiin," sahut kami semua bersamaan.
Setelah mendengarkan perkataan dari Ummah. Tante Desi pun terlihat jauh lebih baik dan sudah berhenti menangis. Beliau seperti sudah berusaha mengikhlaskan atas kepergian Kak Roy dan bersabar menerima ujian yang sudah Allah gariskan untuknya.
Ummah memeluk Tante Desi kembali dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dan Tante Desi pun terlihat jauh lebih tenang dan tidak histeris dengan kesedihannya.
Lalu kami semua pun beranjak pergi meninggalkan kediaman rumah Tante Desi.
Semua larut dalam perasaan yang haru meninggalkan Tante Desi yang masih dirundung rasa kesedihan akan kehilangan Kak Roy.
"Kita semua pulang dulu ke rumah untuk beristirahat sebentar. Setelah itu Ummah, Fariz dan Rani akan pergi menemui dokter ke rumah sakit untuk berkonsultasi mengenai operasi donor mata pada Rani. Dan setelah itu Rafa beserta Wirda dapat memantau Nak Rere untuk mengawasinya, " ucap Ummah kepada kami semua.
Dan kami pun mengangguk setuju akan saran dari Ummah. Setelah itu, kami semua segera masuk ke mobil.
Aku, Ummah, Ustad Fariz, Kak Rafa dan Wirda berada dalam satu mobil yang dikendarai oleh Kak Rafa. Sementara Pak Budi, Bik Siti dan Bik Inah berada pada mobil satunya.
Suara mesin mobil pun menderu meninggalkan Tante Desi yang menatap pilu penuh kesedihan seraya melambaikan tangannya melepaskan kami semua pergi meninggalkan kediamannya.
__ADS_1