Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kak Rafa dan Wirda.


__ADS_3

Dalam perjalanan Kak Rafa mengantar Wirda dan Bik Inah menuju kediaman rumah Wirda.Kak Rafa berulang kali melirik ke arah Wirda.Ada sesuatu yang ingin Kak Rafa coba katakan kepada Wirda. Namun Kak Rafa berusaha mencari momentum yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.Wirda merasakan jika Kak Rafa selalu melihat para dirinya,sehingga membuat Wirda merasa tidak nyaman.Maka dengan spontan Wirda pun langsung bertanya perihal akan sikap Kak Rafa terus melirik kepadanya. "Mengapa Kak Rafa melihat ke arah Wirda terus? apakah ada sesuatu yang aneh pada diri Wirda?," ucap Wirda sambil mengkerutkan dahinya menatap muka Kak Rafa ya sedang fokus menyetir.


Kak Rafa tersenyum kecil,"Oh rupanya Dek Wirda merasakan yah,jika Kak Rafa berulang kali melirik ke arah Wirda."


Wirda sedikit mengangkat kepalanya.


" Tentu saja Kak Rafa, Wirda kan punya mata sehingga dapat melihat apa yang Kak Rafa lakukan. Jujur Wirda merasa tidak nyaman akan tatapan Kak Rafa.Lagi pula apa yang membuat Kak Rafa terus berulang menatap ke arah Wirda?."


Kak Rafa meringgis lalu tersenyum lebar.


"Dek Wirda mau tahu atau mau tahu aja...atau mau sangat tahu."


Wirda menaikkan sedikit bibirnya.


"Tuh kan Kak Rafa bercanda kalau Wirda tanya."


"Hehehe,Dek Wirda kalau lagi bete terlihat comel,"goda Kak Rafa.


"Comel?."


"Iya lucu, gemes-gemes gimana gitu."


"Aduh terserah Kak Rafa deh.Tetapi Wirda minta tolong Kak Rafa harus fokus melihat lurus ke depan ya,"ucap Wirda sambil tersenyum lebar tanpa memperlihatkan deretan giginya.


"Tidak bisa Dek,"sahut Kak Rafa.


"Lho,kenapa tidak bisa?,"tanya Wirda heran.


Kak Rafa tersenyum lebar.


"Sebab Dek Wirda mengalihkan pandangan mata kakak,"ucap Kak Rafa sambil menatap Wirda lalu melihat ke depan.


DEG....


Jantung Wirda berdesir mendengar ucapan Kak Rafa.


Sementara Bik Inah yang duduk di kursi belakang Wirda tersenyum.


"Wah,Nak Rafa rupanya pintar merayu juga yah, hehehehe,"sahut Bik Inah.


"Ini bukan rayuan Bik Inah, tetapi memang kebenaran dari isi hatinya Rafa untuk Dek Wirda."


Kak Rafa memandang lagi ke arah Wirda dengan pipinya yang mulai memerah.


"Oh begitu rupanya. Ya kalau menurut Bik Inah jika Nak Rafa sudah klik satu koneksi dengan Nak Wirda,lebih baik langsung di halalkan saja dari pada menunggu lama-lama,"ujar Bik Inah.


Hahahaha....


Terdengar Kak Rafa tertawa.


"Wah,MasyaAllah bahasa Bik Inah keren.Saya mau nya juga seperti itu Bik,tetapi saya sedang menunggu jawaban Dek Wirda,Bik Inah."


Wirda yang mendengar percakapan antara Kak Rafa dan Bik Inah semakin merasa canggung dan membuat dirinya merasa salah tingkah.


"Oh,berarti sekarang kunci untuk membuka koneksinya dari Nak Wirda.Hayuk,Nak Wirda jangan terlalu lama berpikir nya.Nanti keburu Kak Rafa berubah pikiran lho.Kalau Bik Inah yang menjadi Nak Wirda.Maka Bibi akan bilang yes."


"Yes,apa Bik?,"tanya Kak Rafa.


"Ya yes I want to marry you, honey."


Hahahaha.... hahahaha....


Kak Rafa tertawa mendengar ucapan Bik Inah,begitu pun juga Wirda yang tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"MasyaAllah,wah Bik Inah keren dan gaul.Bik Inah belajar dari mana Bik?pasti banyak nonton drama Korea dan sinetron ya Bik?,"tanya Kak Rafa sambil tersenyum.


Bik Inah tersipu malu.

__ADS_1


"Hehehe,tau aja Nak Rafa."


"Berarti Wirda harus belajar banyak dong dari Bik Inah ,"kata Kak Rafa.


"Belajar apa Nak Rafa?,"tanya Bik Inah dengan wajah polosnya .


Kak Rafa sambil menyetir pun berkata,"Itu yang bibi katakan tadi,yang menggunakan bahasa inggris."


"Oh...gampang itu Nak Rafa.Yang penting Nak Wirda nya mau atau tidak dulu menikah dengan Nak Rafa."


" Kalau itu,coba bibi bantu Rafa untuk menanyakan langsung kepada Dek Wirda Bik."


" Wah kalau itu Bibi tidak bisa membantu Nak Rafa."


"Lha kenapa Bik?,"tanya Kak Rafa.


"Yah Nak Rafa lah yang harus mengatakan itu langsung kepada Nak Wirda.Supaya Nak Wirda tahu akan kesungguhan niat dan hati Masak Bibi yang bilang seperti itu. Hehehe, "jawab Bi Inah sambil tersenyum


meringgis.


" Betul juga kata Bik Inah, "sahut Kak Rafa.


Wirda yang mendengar perbincangan antara Kak Rafa dan Bik Inah hanya diam dan mendengarkannya saja, sambil ia menahan perasaannya yang semakin tidak menentu.


Kak Rafa yang sedang menyetir sesekali melirik ke arah Wirda yang diam menatap ke luar jendela. Namun sesekali tatapan mata mereka berdua bertemu, dan hal itu membuat perasaan Wirda semakin dag dig dug.


" Dek Wirda kenapa diam?, "tanya Kak Rafa.


Wirda pun menoleh ke arah Kak Rafa.


" Tidak apa-apa Kak, "sahut Wirda singkat.


" Kebisuanmu membuat hatiku menjadi bertanya-tanya Dek. Apakah gerangan yang membuat bibirmu terdiam tanpa kata? Kakak lebih suka jika melihat senyum mengembang dari parasmu yang elok rupawan, "tutur Kak Rafa.


" Kak Rafa hanya membuat Wirda semakin malu saja dengan berkata seperti itu, "sahut Wirda.


" Nak Rafa seneng sekali menggoda Nak Wirda lho. Daripada seperti ini mending kapan Nak Rafa mengajak anggota keluarga Nak Rafa yang lain untuk silaturrahim ke kediaman rumah Nak Wirda, "sela Bik Inah.


" Untuk apa Bik?, "tanya Wirda.


Kak Rafa tersenyum dan menoleh ke arah Wirda.


" Untuk meminang Dek Wirda menjadi istri kakak, Dek."


Wirda kembali terdiam dengan perasaan yang semakin tidak menentu. Ucapan Kak Rafa seolah menyekak dirinya untuk berkata-kata.


"Nah benar itu. Kapan Nak Rafa?, " tanya Bik Inah penasaran.


"Secepatnya Bik Inah. InsyaAllah setelah Dek Rani selesai menjalani operasi mata, " jawab Kak Rafa.


"Iya bagus itu. Bibi setuju sekali. Semakin cepat semakin baik Nak Rafa. Lagi pula ini kan adalah niat yang baik. Bukankah begitu Nak Wirda?, " tanya Bik Inah.


Wirda terdiam dan bingung untuk menjawab apa.


"Lho Nak Wirda kok diam saja?, " tanya Bik Inah lagi.


"Dek Wirda sedang berpikir Bik. Untuk mempersiapkan dirinya ketika saya akan datang ke rumahnya untuk meminangnya. Benarkan Dek Wirda?, " tanya Kak Rafa.


Wirda semakin tidak dapat menahan rasa malu dan ketegangan yang menjalar pada dirinya. Kak Rafa begitu telah membuat hati Wirda semakin berdebar-debat tidak karuan. Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh kak Rafa telah tiba di depan kediaman rumah Wirda. Perlahan Kak Rafa mematikan mesin mobilnya ,lalu Bik Inah pamit untuk keluar duluan sambil membawa barang yang ada di dekatnya. Sementara itu, Kak Rafa masih duduk di dalam mobil bersama Wirda untuk mengungkapkan perasaannya.


"Dek Wirda maaf jika kata-kata membuatmu merasa tidak nyaman, tetapi sungguh apa yang kakak katakan kepadamu adalah kebenaran dari isi hati kakak. Insya Allah dalam waktu dekat, Kakak akan menunaikan niat kakak untuk datang ke rumah Dek Wirda dan melamarmu untuk menjadi istri Kakak. Dan Kakak akan menunggu jawaban dari Dek Wirda.Kakak harap Dek Wirda akan menyambut baik akan perasaan yang Kakak rasakan kepada Dek Wirda. Sungguh dari dalam lubuk hati kakak. Kakak ingin Dek Wirda menjadi pendamping hidup kakak dan menjalani hidup di dunia ini dalam senang maupun duka serta membenturk keluarga kecill kita yang bahagia,dan insya Allah hingga ke jannah Nya nanti. "


Wirda begitu tersentak mendengar ucapan yang keluar dari bibir Kak Rafa, hatinya semakin berdebar kencang dan gejolak hatinya seakan ingin berteriak mengungkapkan perasaan yang tertahan di hatinya. Namun Wirda sadar ia harus berusaha untuk menekan perasaannya sebelum momen yang tepat menghampiri dirinya. Matanya memandang Kak Rafa yang juga memandangnya dengan lekat dan dalam. Nyessss.....rasanya hati Wirda terasa dingin melebur menatap mata indah Kak Rafa yang mengunci pandangannya. Begitu pula dengan apa yang Kak Rafa rasakan atas keinginannya untuk menjadikan Winda menjadi istrinya semakin kuat tidak tertahankan .Wirda dan Kak Rafa seperti telah terhubung dalam sebuah ikatan yang bernama cinta. Dan mereka hanya tinggal untuk meresmikan akan perasaan mereka berdua di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan melegalkannya di hadapan semua orang.


Plugg...


Kak Rafa mengusap kepala Wirda dengan pelan sambil tersenyum dan mata Wirda sedikit terbelalak akan tindakan yang Kak Rafa lakukan. Rasanya sentuhan lembut dari tangan Kak Rafa membuat tubuh Wirda merinding bagaikan terkena sengatan listrik yang menjalar dari ujung kepala ke ujung kakinya. Namun Wirda berusaha untuk menahan dan menekan rasa itu.

__ADS_1


" Ya sudah Kak kita sudah sampai di rumah Wirda. Kak Rafa mau masuk dulu dan mampir?,"tanya Wirda memecah ketegangan di antara dirinya dan Kak Rafa.


" Tidak Dek Wirda kakak langsung saja menuju ke rumah sakit ya. Nanti kakak akan mampir ke rumahmu sekalian mengajak anggota keluarga kakak yang lainnya untuk segera melamar dirimu ,"ucap Kak Rafa sambil tersenyum dan kembali mengusap kepala Wirda dengan lembut.


Wirda pun semakin terenyuh hatinya dan tidak dapat berkata-kata mendengar ucapan Kak Rafa yang terus membuat kejutan di dalam hatinya. Wirda menarik nafasnya yang panjang untuk menghilangkan rasa sesak yang menahan di kerongkongannya, dan berusaha untuk membuat dirinya tidak semakin tegang dan kaku di hadapan Kak Rafa.


"Baiklah jika memang itu keinginan Kak Rafa. Wirda akan siap menunggu dan menyambut kedatangan Kak Rafa serta keluarga Kak Rafa lainnya, " kata Wirda dengan sedikit rasa malu-malu yang menghiasi wajahnya.


Kak Rafa yang mendengar jawaban dari Wirda pun terkejut dan tidak menyangka jika Wirda akan berkata demikian.


"Masya Allah, kakak senang sekali mendengar respon jawabanmu Dek. Insya Allah secepatnya Kakak akan menunaikan apa yang menjadi niat Kakak kepada Dek Wirda.Ya sudah kalau begitu Kakak akan mengantarmu masuk serta membawakan barang-barang Dek Wirda yang ada di bagasi, "ucap Kak Rafa dengan wajahnya yang sangat bahagia.


Wirda pun menggangguk pelan sambil melempar senyumnya yang menawan ke arah Kak Rafa.


Lalu kak Rafa pun membalas senyuman Wirda dengan senyumannya yang paling lebar dan bahagia. Mereka berdua lalu turun dari mobil. Wirda menunggu Kak Rafa yang sedang mengambil barang-barang Wirda yang ada di bagasi .Lalu mereka berdua berjalan bersama menuju ke teras rumah Wirda sambil sesekali pandangan mata mereka bertemu dalam rasa malu-malu yang menyertai keduanya.


"Benar Kak Rafa tidak mau mampir dan masuk dulu?,"tanya Wirda pelan.


"Iya dek ,sebenarnya kakak mau. Tetapi kasihan Ummah dan yang lainnya sudah menunggu kakak. Insya Allah kakak akan segera datang kembali ke rumah Dek Wirda, "jawab Kak Rafa.


Wirda tersenyum.


"Iya Kak. Wirda akan menantikan kedatangan Kak Rafa,"ucap Wirda sambil menahan rasa malunya.


"Ya sudah kalau begitu .Kakak pulang dulu ya Dek, dan tolong sampaikan salam kakak kepada tante dan om yang ada di dalam ya Dek. "


"Iya Kak Rafa. Dan nanti tolong kabari Wirda mengenai keadaan Rani ya Kak, " pinta Wirda.


"InsyaAllah tentu Dek. Kalau begitu Kakak pamit pulang dulu ya Dek. Assalamualaikum, "pamit Kak Rafa sambil memandang wajah Wirda dan mengusap kembali kepala Wirda dengan lembut.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Hati-hati di jalan Kak Rafa, "balas Wirda kepada Kak Rafa sambil melambaikan tangannya.


Pandangan mereka berdua kembali bertemu dan seolah enggan untuk melepaskan tatapan dari pandangan mata mereka masing-masing.


Dengan langkah yang berat Kak Rafa kembali melemparkan senyumnya dan meninggalkan Wirda yang masih terdiam menatap dirinya pergi masuk menuju mobil, dan kembali ke rumah sakit.


Breemmm...


Mesin mobil Kak Rafa terdengar menderu lalu melaju meninggalkan kediaman rumah Wirda.


Sementara Wirda masih termenung memikirkan ucapan Kak Rafa yang terus terngiang-ngiang di dalam pikirannya.


" Nak Wirda, "panggil Bik Inah sambil memegang bahu Wirda dan memecahkan lamunannya.


" Eh.. Iya Bik, "sahut Wirda.


"Kok melamun Nak.Oh ya Nak Rafa mana Nak Wirda. Bibi sudah buatkan minum di dalam, " kata Bik Inah sambil mencari-cari keberadaan Kak Rafa.


" Oh Kak Rafa barusan saja sudah pergi kembali ke rumah sakit Bik, "ucap Wirda. " Oh..pantas saja. "


"Pantas kenapa Bik?,"tanya Wirda dengan mengkerutkan dahinya.


"Ya pantas saja Nak Wirda terlihat termenung dan terlihat gusar, sebab Nak Rafa sudah pergi rupanya, "goda Bik Inah kepada Wirda.


"Akh Bik Inah bisa saja ,"jawab Wirda tersipu malu.


" Jadi bagaimana jawaban Nak Wirda terhadap keinginan Nak Rafa untuk meminang Nak Wirda. Apakah Nak Wirda menerimanya?, "tanya Bik Inah dengan rasa ingin tahu.


" Ikh, Bik Inah kepo mau tahu aja ya, "jawab Wirda sambil menggelitik pinggang Bik Inah.


" Aduh.. Bibi geli lho Nak. Akh, Bibi tahu jika Nak Wirda terlihat bahagia dan sumringah seperti ini, itu berarti tandanya Nak Wirda menerima akan niat baik dari Nak Rafa untuk menjadikan Nak Wirda sebagai istrinya Nak Rafa. Benar kan? ayo jujur dengan Bibi, "goda Bik Inah yang mencubit pipi Wirda dengan lembut.


Wirda pun semakin tersipu malu dan tersenyum kecil secara berulang menatap Bik Inah.


Kemudian dengan segera Wirda menarik lengan Bik Inah dengan merangkulnya untuk masuk ke dalam rumah.


Bik Inah tersenyum melihat sikap Wirda.

__ADS_1


__ADS_2