
Kak Reno terus menarik dan mengenggam tanganku kuat.
"Lepaskan tanganku,"ucapku sedikit berteriak dan memberontak.
Kak Reno menoleh ke arahku dengan salah satu tangannya yang ia masukkan ke saku celana.
Ia mendekatkan kepalanya ke arah kepalaku sambil terus berjalan.
"Kamu jangan kepedean ya! Ini semua hanya sandiwara,lagi pula aku juga tidak sudi memegang tanganmu ini,"ucap Kak Reno seraya berbisik di telingaku.
"Untuk apa kamu melakukan semua ini?,"tanyaku ketus.
Kak Reno menoleh lagi ke arahku lalu tersenyum sinis dengan menyeringai.
"Untuk membuatmu dan Roy terluka.Aku suka melihat kalian menderita terlebih lagi dirimu,"bisik Kak Reno kembali.
"Kak Roy itu sahabatmu bukan,kamu tega menyakiti sahabatmu sendiri!,"ucapku kesal.
"Sahabat??,"ucap Kak Reno sambil menoleh padaku.
"Sahabat itu harusnya mendukung keputusanku bukan malah menentang dan mencari masalah denganku,"kata Kak Reno kesal.
"Itu karena kamu jahat! pendusta! Kejam! dan penuh dengan dosa!,"ucapku dengan sedikit berteriak.
"Apa katamu aku pendosa,kejam dan jahat!
Baiklah akan kutunjukkan bagaiamana kekejamanku."
Wajah Kak Reno memerah,ia marah mendengar ucapanku.
Lalu dengan sengaja ia meluapkan amarahnya dengan meremas jariku yang terluka sekuat-kuatnya.
"AUWwwwwwwwww....,"teriakku merintih kesakitan.
"Rasakan itu!,"ucap Kak Reno senang.
Mendengar suara teriakkanku Kak Roy dengan cepat melepaskan gandengan tangan Rere.
Ia segera berjalan cepat menyusulku dan Kak Reno yang akan di depannya.
"Ran ada apa?apa yang terjadi?,"tanya Kak Roy cemas.
Aku masih meringgis menahan sakit memegang tanganku.
"Ya Allah Ran,tanganmu terluka lagi.Bagaimana bisa?,"ucapnya panik.
"Ini pasti ulahmu kan Ren?,"kata Kak Roy marah.
"Jika iya memang kenapa?apa yang akan kamu lakukan hah? Kamu itu pengecut dan tidak bisa berbuat apa-apa,"sahut Kak Reno sambil mendorong dada Kak Roy.
Melihat perlakuan kasar dan semena-mena dari Kak Reno.
Kak Roy terlihat marah dan ingin memukul Kak Reno.
"Kak Roy jangan!,"teriakku sambil melerai mereka.
"Sudah ku katakan kamu itu PENGECUT!,"ledek Kak Reno.
Aku berusaha menenangkan Kak Roy.
"Kak Roy istighfar,jangan terpancing dengan perkataan Kak Reno,"ucapku.
Kak Roy melihat ke arahku dengan napas naik turun.
"Astaghfirullah hal adzim,"ucap Kak Reno pelan.
"Ikuti ucapan Rani kak,"pintaku pada Kak Roy.
"Allahumma inni a’udzubika min asy-syaithan ar-rajim. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan yang terkutuk),"ucapku dan Kak Roy bersamaan.
"Salman al-Farisi ra pernah berkata: Janganlah marah! Kalaupun anda marah,kendalikan lisan dan tangan anda,"ucapku pada Kak Roy.
"Terima kasih Ran sudah mengingatkan kakak,"kata Kak Roy yang sudah menurun emosinya.
Aku mengangguk membalas ucapan Kak Roy.
Lalu berjalan mendekati Kak Reno.
"Allahumma innii a'uudzu Bika min jahdil balaa i wa darkisy syaqaai wa suuil qadlaai wa syamaatatil a'daai ( artinya: Ya Allah,sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari pada payah kemalangan dan jurang kecelakaan nasib yang malang dan ejekan musuh),"ucapku membaca do'a di hadapan Kak Reno.
Lalu aku meneruskan ucapanku,
"Satu hal yang harus kamu tahu Kak Reno.Allah Subhanahu wa ta'ala melihat segalanya atas kezaliman yang kamu dan keluargamu lakukan padaku dan Kak Roy.
Jika sampai saat ini aku diam dan tidak membalas bahkan menerimanya dengan ikhlas itu tidak serta merta karena aku takut atau lemah di hadapanmu.Percayalah semua harapan akan do'a kepayahanku yang engkau sebabkan bersama keluargamu akan Allah beri ganjaran di waktu yang tepat.Maka bertobatlah dan lekas sadar sebelum semua terlambat.Sebelum apa yang akan engkau lakukan akan menjadi sia-sia tidak berarti."
Kak Reno memandang ke arahku dengan wajah teramat marah,bibirnya menahan emosinya dengan sesekali giginya bergetak.
BRUUUkkkkk.....
Kak Reno mendorong tubuhku dengan keras hingga aku jatuh terlentang di lantai.
"Raniiiiii.....,"teriak Kak Roy dan Rere bersamaan.
__ADS_1
"Itu hasil dari ceramahmu.Perempuan lemah sepertimu tidak akan pernah menjadi kuat sebesar apapun kamu berdoa dan meminta kepada Tuhan,"ucapnya sambil memutarkan badannya untuk melangkah pergi.
Namun,Kak Reno berhenti melangkah dan kembali melihat padaku.
"Satu lagi camkan baik-baik.Jika sekali lagi kamu berani menceramahiku atau berani padaku.Maka,aku tidak sungkan-sungkan melakukan hal yang tidak akan pernah engkau duga bahkan lebih buruk dari ini.INGAT KATA-KATA KU INI!,"gertak Kak Reno sambil menunjuk ke arahku lalu pergi.
"Ran,apa kamu baik-baik saja?,"tanya Rere.
Aku menahan rasa sakit,nyeri di sekujur tubuhku.
Tetapi aku berpura-pura menyembunyikannya.
Kak Roy dan Rere membantuku berdiri.
"Ya ampun Ran,tanganmu terluka lagi,"ucap Rere histeris.
"Tolong jaga Rani.Saya ambil perban dan obat luka,"ucap Kak Roy pada Rere lalu ia pergi.
Sementara itu,Rere membantuku duduk.
"Ran,sebenarnya apa yang terjadi padamu?coba ceritakan padaku?,"pinta Rere sambil menarik kursi untuk duduk.
"Tidak ada Re,"jawabku sambil memegangi tanganku dan membalutnya dengan pakaianku.
"Ran,kumohon jangan menyembunyikan apapun juga dariku.Kamu sahabatku bukan?,"tanya Rere serius.
"Benar Re,"ucapku sambil meringgis menahan sakit.
"Tidak mungkin Ran.Sesuatu yang mengganjal pikiranku dari tadi.Bagaimana bisa kamu menikah dengan laki-laki kasar,tidak paham sopan santun dan tidak menghargai perempuan seperti Reno,"tutur Rere yang terlihat kesal.
"Ceritanya panjang Re,"ucapku.
"Meskipun panjang aku ingin tetap mendengar dan mengetahuinya Ran,please!,"pinta Rere.
"Sekarang bukan waktu yang tepat Re.
Aku mohon kamu mengerti dan segeralah pergi dari sini bersama Kak Roy,"pintaku.
"Kenapa kamu begitu khawatir Ran?aku semakin curiga?Keinginanku untuk mengetahui tentang dirimu semakin besar Ran,"ucap Rere.
Tiba-tiba Kak Roy bersama Bik Siti dan Pak Budi datang bersama.
Kak Roy membawa kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan).
"Ya Allah nak Rani,"ucap Bik Siti cemas dengan menitipkan air mata.
"Nak Rani tidak apa-apa?,"tanya Pak Budi yang khawatir dengan keadaanku.
Dengan cepat Kak Roy duduk di dekatku dan mengobati lukaku.
Rere melihat tindakan Kak Roy dan aku merasa tidak enak dengannya.
Aku menarik tanganku saat Kak Roy mengobati lukaku.
"Nanti biar Rani obati sendiri kak,"ucapku.
Namun,Kak Roy tidak menggubris ku.
Kembali ia menarik tanganku perlahan dan terus mengobati lukaku hingga selesai tanpa memperdulikan Rere yang sedari tadi mengamati tindakannya.
"Apakah sakit?,"tanya Kak Roy padaku.
Mendengar pertanyaannya aku melirik sedikit ke arah Rere.
Ia menatap ke arahku dan Kak Roy dengan ekspresi wajah banyak pertanyaan.
"Apakah sakit Ran?,"tanya Kak Roy kembali.
"Eg...eg...eh ..tidak,"jawabku terbata karena terkejut.
"Semenjak pulang dari rumah sakit nak Rani selalu mendapat perlakuan kasar dan buruk dari Nak Reno,Nak Roy,"ucap Bik Siti mengadu pada Kak Roy.
Lalu Bik Siti mengusap kepalaku lembut.
"Tetapi bibi tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Nak Rani,"ucap Bik Siti dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa tidak di laporkan ke polisi saja.Itu namanya KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).Bibi bisa jadi saksinya dan saya atau Kak Roy bisa membantu Rani.
Apa kita ke rumah sakit sekarang untuk melakukan visum?,"celoteh Rere seketika.
Semua orang terbelalak mendengar ucapan Rere termasuk diriku.
"Loh kenapa kalian semua terkejut?apa yang kukatakan salah?,"tanya Rere.
"Semua tidak semudah yang dibayangkan,nak,"sahut Pak Budi.
"Negara kita negara hukum pak.Ini bentuk kesalahan dengan membiarkan laki-laki bernama Reno itu berbuat semena-mena pada Rani.Dia harus mendapat pelajaran supaya merasakan efek jera,"ucap Rere kesal.
"Iya betul nak,tetapi uang dan kekuasaan bisa memanipulasi segalanya nak,"sahut Pa Budi.
"Maksudnya?,"tanya Rere bingung.
Mendengar ucapan dan pertanyaan Rere yang terlalu berani. Aku takut akan terdengar oleh Kak Reno dan anggota keluarga lainnya .
__ADS_1
Hal ini tentu akan membawa masalah untuk Rere.
Aku memberi isyarat pada Kak Roy agar ia segera pulang.
Meski kulihat raut wajah Kak Roy tetap ingin di dekatku.
"Apa maksudnya perkataan bapak?,"tanya ulang Rere pada Pak Budi.
Aku lalu memberi kode pada Pak Budi dengan tidak terlalu terbuka dan menanggapi ucapan Rere.
Dan untungnya Pak Budi paham.
"Eh....maaf permisi dulu ya nak,sepertinya bapak di panggil tuan itu,"ucap Pak Budi mengeles dari pertanyaan Rere.
Rere terlihat sedikit kesal atas sikap Pak Budi yang tidak mengindahkan pertanyaanya.
"Re,lebih baik sekarang kamu pulang dengan Kak Roy untuk mempersiapkan acaramu besok malam,"ucapku mengalihkan perhatiannya.
"Oh...ya Ran.Tetapi kamu bagaimana?,"tanya Rere.
"Jangan cemaskan aku ada Allah yang menjagaku,"jawabku dengan tersenyum.
"Kamu yakin Ran?,"tanya Rere lagi.
"In sya Allah iya Re."
"Baiklah jika begitu Ran,ayo Kak Roy kita pulang,"ajak Rere.
Namun,Kak Roy tidak menggubris ajakan Rere.
Ia tetap melihat ke arahku dan memikirkan sesuatu.
Tanpa berlama-lama menunggu jawaban Kak Roy.
Rere langsung menarik lengan Kak Roy.
Lamunan Kak Roy buyar.
"Ran,kami pulang dulu ya.Kamu jaga dirimu baik-baik.Sampai bertemu lagi besok di rumahku Ran.Dah....dada...Rani,"ucap Rere sambil menarik dan menggandeng tangan Kak Roy.
"Jaga dirimu Ran.Bik titip Rani ya,"ucap Kak Roy dengan wajah gelisah.
"Iya nak,"jawab Bik Siti.
Aku memandang ke arah Kak Roy dan Rere yang berjalan menjauh dariku.
Tak ...tak ...tak ...
Bunyi high heels Rere...
Semakin lama terdengar samar dan menjauh...
Hingga mereka menghilang dari hadapanku.
"Ayo nak kita masuk ke dalam,"ajak Bik Siti.
"Iya Bik,Rani sekalian mau melanjutkan menyapu dan mengepel,"kataku.
"Tidak usah nak,biar bibi saja tanganmu kan masih sakit,"ucap Bik Siti cemas.
"Nggak apa-apa Bik,in sya Allah Rani kuat,"jawabku.
Aku dan Bik Siti masuk kembali ke ruang makan.
Kulihat disana sudah tidak ada lagi anggota keluarga Suprapto.
Ughhhhh .....akhh.....
Kutarik napas panjang dan merasa lega.
Setidaknya aku dapat melakukan pekerjaan tanpa intimidasi dari mereka khususnya Kak Reno.
Aku mengambil sapu menyapu lantai yang kotor bececeran makanan di temani Bik Siti.
Srap....srup....srap....srup ...
Pelan dan hati-hati lantai ku sapu agar tidak ada pecahan piring dan gelas yang tertinggal.
Sehingga membuat kakiku terluka.
Namun,baru beberapa menit aku merasa tenang.
"Auwwww...astaghfirullah,"ucapku sedikit berteriak dengan terkejut.
Kak Reno telah berdiri tepat di hadapanku dan mengagetkanku.
Ku pegang dadaku seraya menenangkan jantungku yang berdetak cepat.
Kulihat senyumnya menyeringai.
Ia seperti hewan buas yang sedang kelaparan dan siap menerkamku kapan saja.
qoola Rabbi najjinii minal qawmiz zaalimiin (Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu),ucapku dalam hati.
__ADS_1