
Ummah mengusap kepalaku pelan, dimana diriku masih terbaring di atas ranjang pasien. Selang infus terpasang di pergelangan tanganku dengan khimarku yang masih terkena noda darah.
"Nak, tolong kamu minta Bik Siti untuk dihantarkan Pak Budi mengambil pakaian ganti untuk Rani. Kasihan melihat khimar dan gamisnya banyak terkena noda darah, " pinta Ummah kepada Ustad Fariz.
"Baik Ummah, " jawab Ustad Fariz yang segera bergegas keluar ruang IGD.
Saat berada di luar ruang IGD, Ustad Fariz langsung menyampaikan apa yang diminta oleh Ummah kepada Bik Siti dan Pak Budi.
"Oh ya, Enjid dan Abi sebaiknya ikut dengan Pak Budi dan Bik Siti untuk pulang dan beristirahat , biar Fariz dan Ummah yang menjaga Rani disini, " kata Ustad Fariz.
"Iya sudah kalau begitu, tetapi sekarang Enjid ingin melihat keadaan Rani dulu sebelum pulang, " kata Enjid.
"Abi juga, " sahut abi.
Kemudian Enjid dan Abi masuk ke ruang IGD untuk melihat kondisiku.
"Enjid tidak menduga jika perbuatan yang dilakukan Aisyah dapat mengakibatkan Rani dalam posisi sekarang ini. "
Enjid berjalan mendekati diriku yang terbaring di atas ranjang pasien, lalu tangan kanannya ia letakkan di kepalaku yang tertutup kain khimar dengan banyak noda darah.
"Amsihil ba’sa rabbannaasi biyadikas syifaa’u laa kaasyifa lahu illa anta.
Hilangkanlah rasa sakit wahai Rabb manusia, di tangan-Mu lah segala kesembuhan, dan tidak ada yang dapat menyingkap penyakit tersebut melainkan Engkau, " ucap Enjid seraya mendo'akan diriku.
"Ummah, nanti setelah Rani tersadar segera Ummah panggillkan dokter dan tanya secara keseluruhan apakah luka robek dan benturan di kepalanya berpengaruh pada kondisi mata Rani, " kata Abi.
Ummah terlihat cemas menyimak perkataan dari Abi.
Abi yang melihat kecemasan dalam raut wajahnya Ummah dengan segera mengusap lembut punggung Ummah untuk menenangkan istrinya tersebut.
"Ummah tidak perlu khawatir, kita berdo'a saja semoga Rani dalam keadaan baik-baik saja. Perkataan yang abi sampaikan hanyalah untuk memastikan agar keadaan Rani benar-benar dalam kondisi yang baik, " ucap Abi berusaha menenangkan Ummah.
Ummah pun mengangguk dengan perasaannya yang masih belum tenang memikirkan keadaan diriku.
"Ummah dengan Fariz disini dulu ya. Abi dan akan menemani Enjid untuk pulang, setelah itu Abi akan kembali kemari bersama Bik Siti dan Pak Budi, " ucap Abi kepada Ummah.
"Iya Bi.Hati-hati ya Bi. Jika Abi lelah, lebih baik Abi istirahat saja, biar Ummah, Fariz dan Bik Siti juga Pak Budi yang menemani Rani disini, " sahut Ummah.
"Iya Ummah nanti Abi lihat keadaan, jika memungkinkan Abi usahakan untuk kembali kemari. Tetapi Abi minta supaya Ummah jangan overthinking yah. Serahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, " pinta Abi.
Tidak lama kemudian, Abi dan Enjid keluar dari ruang IGD dan bergantian dengan Bik Siti dan Pak Budi yang melihat keadaan diriku.
"Ya Allah , Nak Rani kenapa sampai seperti ini, hiks.. hiks.. hiks.... "
Tangis Bik Siti pecah melihat keadaanku, karena takut menganggu diriku Ummah meminta Bik Siti untuk keluar hingga tangisnya tidak meledak histeris.
Mengingat waktu sudah semakin malam, maka Pak Budi, Bik Siti, Enjid dan Abi segera pulang. Sementara Ustad Fariz dan Ummah menemani diriku di ruang IGD.
***
Semalaman Ummah dan Bik Siti menemaniku di dalam ruang IGD, sementara Ustad Fariz dan Pak Budi menunggu diluar. Pagi harinya setelah aku terbangun dokter lalu memeriksa keadaanku dan memastikan tidak ada indikasi medis yang membahayakan untukku. Ummah pun juga tidak lupa untuk menanyakan perihal keadaanku terkait apa yang dipesankan oleh Abi.
Dokter pun lalu meminta agar selama 2-3 hari aku menjalani rawat inap supaya kondisiku membaik dan melihat apakah ada dampak serius yang terjadi setelah beberapa hari selama masa recorvery. Ummah dan Ustad Fariz pun tidak keberatan akan hal itu.
Beberapa perawat pun memindahkan diriku menuju ruang rawat inap. Sesampainya di ruang rawat inap Ummah, Bik Siti dibantu perawat mengganti pakaianku yang sudah kotor dengan noda darah. Setelahnya Ummah menyuapi ku makanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit dan memberikan obat yang harus segera ku minum atas anjuran dokter.
"Bagaimana keadaan mu sekarang sayang, " tanya Ummah sambil mengusap kepalaku.
__ADS_1
"Alhamdulilah Ummah jauh lebih baik, hanya tinggal nyeri dan sakit di kepala saja, " ucapku pelan.
"Iya nak, itu nyeri akibat di jahit dan benturan yang mengenai kepalamu Nak. Ya sudah setelah minum obat Rani kembali beristirahat ya, supaya keadaan Rani jauh lebih baik dan kembali sehat lagi, "tutur Ummah dengan matanya yang berkata.
Aku pun memandang ke arah Ummah dengan perasaan yang tidak enak karena membuat dirinya menjadi sedih.
" Ummah maafkan Rani, karena selalu merepotkan Ummah dan keluarga Ummah, "kataku sambil memegang tangan Ummah.
" Rani mengapa bicara seperti itu. Ummah tidak suka mendengarnya. Ummah ikhlas dapat menjaga Rani, lagi pula hal ini terjadi bukan karena kesalahan Rani, sayang,"ucap Ummah memegang pipiku.
Aku terdiam memandang wajah Ummah yang menatap diriku lembut, lalu Bik Siti menimpali perkataan Ummah.
"Iya Nak Rani. Apa yang dikatakan Bu Putri benar. Nak Rani tidak boleh merasa sungkan atau tidak enak kepada Bu Putri. Sekarang Nak Rani fokus saja pada kesembuhan Nak Rani ya Nak, " sahut Bik Siti sambil mengusap kepalaku.
Aku tidak berkata apapun dan hanya mengangguk.
Tidak lama kemudian Ustad Fariz masuk bersama Pak Budi dengan membawa banyak bungkusan makanan. Kemudian Ustad Fariz meminta Ummah dan Bik Siti untuk makan.
Saat Ummah, Bik Siti dan Pak Budi sedang makan. Ustad Fariz lalu beranjak mendekat ke arahku dengan duduk pada kursi di dekat ranjang pasien tempatku duduk bersandar.
"Bagaimana keadaan Dek Rani sekarang?, " tanya Ustad Fariz.
"Alhamdulillah, jauh lebih baik Ustad, " jawabku.
"Alhamdulillah, saya senang mendengarnya Dek Rani, " kata Ustad Fariz seraya memikirkan sesuatu.
Sementara Ummah, Bik Siti dan Pak Budi yang sedang makan terlihat berusaha untuk mengetahui apa yang Ustad Fariz katakan kepada diriku.
"Maafkan atas tindakan yang Ukhti Aisyah lakukan kepadamu Dek Rani. Hal ini adalah salah saya ,sehingga Ukhti Aisyah meluapkan rasa kecewa, amarah dan frustasinya kepada Dek Rani ,"ucap Ustad Fariz dengan wajah yang menyesal .
Aku terdiam sambil melirik ke arah Ustad Fariz yang sedikit tertunduk.
Ustad Fariz pun tidak bergeming ,ia seakan memikirkan sesuatu yang sangat membuat hati dan pikirannya begitu berat untuk mengungkapkannya kepadaku. Lalu dengan keberanian aku pun menanyakan kepada Ustad Fariz apa yang memberatkan hatinya.
" Maaf ,Ustad hal apa yang membuat Ustad Fariz terlihat seperti memikirkan sesuatu. Rani lihat Ustad Fariz terlihat begitu gusar seperti itu ?,"tanyaku sambil melirik ke arah Ustad Fariz.
Ustad Fariz pun sedikit tersentak mendengar perkataanku. Dia seolah ingin berusaha menjawab pertanyaanku, tetapi ekspresi wajahnya terlihat bingung untuk memulai awal percakapan dengan bertutur kepadaku.
Aku diam menunggu Ustad Fariz untuk menjawab pertanyaan dariku.
Tidak lama kemudian pintu kamar tempat diriku dirawat terbuka.
"Assalamu'alaikum, " ucap suara beberapa orang bersamaan.
"Wa'alaikumussalam warohmatulohi wabarokatuh, " jawabku dan semua orang yang berada di ruangan ini bersamaan.
"Ya Allah Rani!, " pekik suara Wirda menghampiri diriku.
Air mata Wirda tumpah bersamaan dengan Tante Warti yang berjalan bersamanya.
"Aku benar-benar sangat terkejut Ran. Mendengar dari Abi dan Enjid, jika dirimu berada di rumah sakit dalam kondisi seperti ini, hiks... hiks.. hiks... Aku sungguh tidak menyangka jika Kak Aisyah bisa berbuat seperti ini kepadamu Ran, " ucap Wirda sambil menangis.
"Sudah Wirda. Alhamdulillah sekarang aku baik-baik saja. Maafkan aku karena telah membuatmu cemas dan mengganggu masa rehatmu dengan Kak Rafa, " ucapku merasa tidak enak.
"Kamu itu bicara apa Ran, seharusnya aku dikabarkan mengenai keadaan mu juga tadi malam. Aku dan Kak Rafa malah telat informasi akan keadaanmu Ran, " ujar Wirda sambil memegang jemari tanganku.
Aku menghela nafas sambil menatap Wirda.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Wir, InsyaAllah aku baik-baik saja. Lagipula kamu kan baru saja menggelar pesta acara ngunduh mantu, dan pastinya kamu dan Kak Rafa capek. Lebih baik kalian berdua quality time dengan menghabiskan dan menikmati kebersamaanmu dengan Kak Rafa, jadi tidak usah terlalu memikirkan diriku Wirda. Disini banyak yang menjagaku, sehingga kamu tidak usah khawatir padaku, " pintaku pada Wirda.
Wirda tetap tidak setuju akan saranku,ia terus menangis melihat keadaanku.Kak Rafa pun berusaha untuk menenangkan Wirda begitu pula dengan diriku.
Sementara itu Tante Warti dan Om Akmal berbicara dengan Ummah dan Bik Siti menceritakan kronologi peristiwa berdarah yang membuat diriku terluka. Dan disisi lain aku melihat Ustad Fariz bersama dengan Abi, Enjid dan Pak Budi seperti sedang membicarakan sesuatu yang penting, dan aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Kemudian aku fokus lagi berbicara kepada Wirda dan Kak Rafa.
" Kak Rafa dan Wirda, sebaiknya kalian berdua segera bersiap-siap untuk keberangkatan bulan madu kalian.Dimana beberapa jam lagi pesawat yang akan membawa kalian ke Swiss akan lepas landas kan. Aku mohon kalian berdua jangan terlalu mencemaskan keadaanku Insya Allah aku akan baik-baik saja , karena ada Allah subhanahu wa ta'ala yang senantiasa menjagaku dan tidak ada penjagaan yang terbaik dari penjagaan dari Allah Ta'ala terhadap makhlukNya. Jadi sekarang lebih baik Kak Rafa dan Wirda lekas bergegas sebelum ketinggalan pesawat, "bujuk ku.
Wirda dan Kak Rafa terlihat berat untuk meninggalkanku dalam kondisi seperti ini, tetapi setelah aku meminta dengan sungguh-sungguh dan membujuk mereka akhirnya mereka berdua pun mau memenuhi permintaanku, dan tidak lama Kak Rafa dan Wirda pun pergi dari ruangan tempatku dirawat untuk segera bergegas menuju bandara dengan tujuan keberangkatan bulan madu pernikahan mereka .Sementara itu Tante Warti dan Om Akmal pun setelah menyapa dan mendo'akanku juga ikut turut mengantar keberangkatan Wirda dan Kak Rafa.
Setelah kepergian Kak Rafa, Wirda dan kedua orangtuanya. Ummah, Abi, Enjid, Pak Budi dan Bik Siti datang mendekat kepadaku.
Ummah mengusap kepalaku lagi pelan.
" Ran, ada hal penting yang ingin kami sampaikan kepadamu, semoga kamu tidak salah paham dan dapat menerimanya dengan bijak tanpa ada paksaan dan intimidasi, "kata Ummah.
Aku sedikit mengkerut kan dahiku mendengar penuturan Ummah, dan merasa sangat ingin tahu hal penting apa yang akan di sampaikan oleh Ummah kepadaku.
Kemudian, Abi pun memanggil Ustad Fariz yang duduk seorang diri di sofa tunggu pasien, wajahnya terlihat tegang.
Aku hanya terus membatin di dalam hati, ada apakah ini. Sambil menatap ke arah sekelilingku.
Ustad Fariz berjalan perlahan, seraya memanjatkan do'a di dalam hatinya kepada Allah Ta'ala.
Allahumma innaka taqdiru wa laa aqdiru wa laa a’lamu wa anta ‘allaamul ghuyuubi. Fa in ra’aita li fii Nur'aini azzahra binti almarhum Sugeng Widiyanto khairan fi fini wa aakhirati faqdirhaa lii.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mentakdirkan dan bukanlah aku yang mentakdirkan. Dan (Engkau) Maha Mengetahui apa yang tidak kuketahui. Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang gaib. Maka jika Engkau melihat kebaikan antara diriku dan Nur'aini azzahra binti almarhum Sugeng Widiyanto untuk agama dan akhiratku, maka takdirkanlah aku bersamanya.
Ustad Fariz terlihat begitu tegang tetapi tidak dengan semua orang yang terlihat bahagia dan senang. Aku semakin bertanya-tanya di dalam hatiku tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada semua orang di sekitarku.
Dalam keheningan Ustad Fariz.
Abi lalu mempersilahkan Ustad Fariz untuk segera menyampaikan apa maksud dan tujuannya.
DEG....
Hatiku pun juga ikut berdebar dan tegang.
Namun, Ummah perlahan mendekati diriku sambil memegang bahuku seraya mengusapnya lembut.
Dan juga Bik Siti yang terus melemparkan senyumannya yang khas menandakan sesuatu akan terjadi.
Aku semakin tegang dalam debar-debar detak jantung ku.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dengan disaksikan oleh Abi, Ummah, Enjid, Pak Budi dan Bik Siti. Aku ingin belajar mengenalmu secara terbuka ,walaupun tanpa pacaran tetapi memiliki tujuan pasti yaitu ke jenjang pernikahan,jika Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengizinkan Nya. Wahai engkau adinda Nur'aini azzahra binti almarhum Sugeng Widiyanto bersediakah engkau menikah dengan diriku Fariz Syarfan Imandar, untuk menjadi pendamping dan penyempurnaan ibadahku dalam mengarungi kehidupan ini hingga ke surgaNya nanti, InsyaAllah bersamamu, " ucap Ustad Fariz lantang kepadaku.
Jantung ku berdegup kencang kembali.
DAG.. DIG.. DUG....
Aku terdiam dan begitu terkejut mendengar Ustad Fariz langsung meminta diriku untuk menjadi calon istrinya.
Rasanya seperti mimpi yang sulit untuk dapat ku bedakan antara nyata dan ilusi nya.
Semua terasa begitu cepat,
__ADS_1
secepat aliran darahku yang mengalir dalam tarikan napas panjangku yang terasa sedikit sesak dalam debar.
Semua orang tersenyum menatap diriku dan Ustad Fariz, dan tidak sabar menunggu jawaban yang akan kuberikan dalam keterkejutan diriku.