Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kembalinya Kak Roy.


__ADS_3

Ummah, Ustad Fariz dan Pak Budi sudah tiba di ruangan tempatku dirawat.


Saat Ummah buru-buru masuk sambil mengucapkan salam. Bik Siti pun menjadi menjawab salam dari Ummah dan menghampiri Ummah, "Nak Rani sedang tertidur pulas Bu Putri. "


"Ohh, " sahut Ummah mengecilkan suaranya.


Ummah lalu mengajak Ustad Fariz untuk menemui dokter dan meminta diriku untuk dapat dirawat jalan di rumah. Sementara Pak Budi bersama Bik Siti menemani diriku yang sedang tertidur pulas di ranjang pasien di ruangan rawat inap.


Setelah Ummah dan Ustad Fariz pergi. Pak Budi lalu menceritakan kedatangan kedatangan kedua orang tua Kak Aisyah sekaligus dengan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah keluarga Imandar.


Pak Budi dan Bik Siti yang sedang asyik mengobrol tidak menyadari jika aku sudah terbangun dan mendengarkan percakapan mereka berdua. Tidak hanya Bik Siti yang terkejut , diriku pun terkejut mendengar kabar yang di sampaikan oleh Pak Budi tersebut.


"Astaghfirullah, bena-benar tidak tahu diri ya Nak Aisyah itu. Padahal sudah jelas Bu Putri dan Nak Fariz menolak dirinya, eh.. bisa-bisanya meminta kedua orang tuanya untuk melamar Nak Fariz. Saya pun jika menjadi Bu Putri pastinya akan meradang juga Pak Budi, " ucap Bik Siti dengan suara penuh kekesalan dan nada agak keras.


Pak Budi lalu meminta Bik Siti untuk mengecilkan volume suaranya, supaya tidak menganggu diriku yang sedang tertidur. Kemudian, Bik Siti pun meringgis, "Maaf Pak Budi terbawa suasana saya, " ucap Bik Siti pelan.


Pak Budi lalu terdiam sambil memikirkan sesuatu. Bik Siti yang melihat perubahan ekspresi raut muka Pak Budi langsung saja menanyakan apa gerangan yang sedang Pak Budi pikiran.


Dengan sedikit lemas dan khawatir Pak Budi pun mengungkapkan perasaan kecemasanny kepada Bik Siti. "Saya memikirkan Nak Aisyah Bik. "


Bik Siti semakin heran dan serius menatap Pak Budi, "Lho kenapa Pak Budi memikirkan Nak Rani. Apakah ini berkaitan dengan Nak Aisyah Pak?. "


Pak Budi mengangguk, "Yah, kurang lebih seperti itu Bik. "


"Kenapa Pak?, " tanya Bik Siti.


"Saya berpikir Bik. Mengapa tidak ada henti-hentinya ujian menerpa kehidupan Nak Rani. Saya kira setelah ini Nak Rani akan memiliki kehidupan yang bahagia setelah lepas dari keluarga Nak Reno, tetapi ada-ada saja cobaan yang silih berganti menguji Nak Rani. "


"Yah, namanya orang hidup Pak, pasti tidak akan berhenti dan lepas dari yang namanya ujian. Apalagi Nak Rani anak yang baik tentu Allah akan semakin sayang kepada dirinya. Yah salah satunya dengan terus memberikan cobaan kepada Nak Rani untuk menempa dirinya menjadi hamba yang semakin baik lagi dan dekat kepada Sang Kuasa. Yang penting kita berdua terus do'a kan saja Nak Rani agar memperoleh kebahagiaannya selalu Pak, " sahut Bik Siti.


Pak Budi pun menganggukkan kepalanya.


Dan tidak lama kemudian Ummah bersama Ustad Fariz datang disertai dokter dengan kedatangan mereka. Kedatangan dokter tidak lain untuk memeriksa keadaan diriku sebelum akan dibawa pulang oleh Ummah untuk pengobatan rawat jalan.


"Loh Rani sudah bangun?, " tanya Ummah yang ikut masuk mengikuti langkah dokter.


Aku tersenyum kecil dan menganggukkan kepala sedikit. Lalu Ummah berjalan di sisi kanan ku sambil melihat dokter yang terus memeriksa keadaanku.


"Bagaimana dok?, " tanya Ummah cemas tetapi ingin tahu keadaan diriku.


Dokter pun menjawab pertanyaan dari Ummah, "Alhamdulillah keadaan Nak Rani baik-baik saja dan boleh dibawa pulang Bu."


Ummah tersenyum senang sambil mengusap kepalaku, lalu Ummah memanggil Bik Siti, Pak Budi dan Ustad Fariz yang sedang duduk di sofa tunggu untuk segera bersiap-siap dan mengemasi semua barang-barangku yang harus dibawa pulang. Dan tanpa berlama-lama lagi Bik Siti dan Pak Budi segera menyiapkan dan mengemasi barang -barangku, sementara Ummah dan Ustad Fariz keluar lagi dari ruangan tempatku dirawat untuk membayar semua administrasi tagihan perawatan selama diriku dirawat di rumah sakit. Dan dokter pun juga telah keluar dari ruangan, setelah ia memeriksa dan meresepkan obat yang harus ku minum saat pengobatan rawat jalan.


Pandangan mataku menerawang pada langit-langit ruangan tempat ku dirawat. Kak Aisyah begitu menekan di pikiranku saat ini. Sebegitu dalam kah perasaannya kepada Ustad Fariz, hingga ia mampu berbuat nekat dengan melukai dirinya sendiri hanya demi mendapatkan cinta dari Ustad Fariz. Astaghfirullah, cinta macam apa itu yang tidak melibatkan akal dan kerasionalannya untuk berpikir secara benar, batinku di dalam hati.


Mendadak Bik Siti menghampiri diriku yang sedang duduk di atas ranjang pasien.


Bik Siti dengan lembut mengusap punggungku,"Apa yang Nak Rani pikirkan?."


"Akh, tidak ada Bik, " jawabku.

__ADS_1


Lalu aku meminta bantuan dari Bik Siti untuk turun dari ranjang pasien.


Tidak lama kemudian Ummah dan Ustad Fariz sudah kembali dan Bik Siti juga Pak Budi sudah selesai mengemasi barang-barangku. Dengan dituntun Ummah dan Bik Siti, aku berjalan perlahan menuju lift untuk pulang ke rumah keluarga Ustad Fariz.


"Seharusnya kamu memakai kursi roda dulu sayang, kan fisikmu masih lemah, " ungkap Ummah kepada ku.


"Tidak apa-apa Ummah. InsyaAllah Rani kuat dan sudah merasa jauh lebih baik, " jawabku.


Ummah tersenyum sambil mengusap pundakku seraya memeluk diriku.


Kami semua masih berdiri di depan pintu lift dan saat pintu lift mulai terbuka. Kami semua pun bersiap-siap untuk masuk, tetapi pandangan mataku dikejutkan akan sosok Rere yang berada di hadapan diriku.


"Rere!, " teriakku.


Rere pun terlihat kaget dan panik melihat diriku ada di hadapannya. Dia yang berdiri sambil mendorong seorang laki-laki di kursi roda dan ditemani juga dengan seseorang pria tinggi besar yang sepertinya adalah bodyguard nya, dengan cepat ingin menekan tombol pintu lift agar tertutup kembali. Tetapi, usahanya sia-sia karena kami semua sudah masuk ke dalam lift dan Rere terdesak mundur dengan kehadiran kami semua. Sementara itu pria tinggi besar di sampingnya telah keluar terlebih dahulu dari lift meninggalkan Rere yang tertinggal di dalam lift.


Wajah Rere semakin sangat tegang dan panik sekali, ia begitu ketakutan dengan terus memegang kursi roda dengan kedua tangannya. Aku pun semakin curiga menatap Rere, terlebih lagi saat laki-laki yang ada di kursi roda menggunakan masker dan topi menatap diriku lekat sungguh membuat rasa penasaran di hatiku berkecamuk.


"Apa yang Nak Rere lakukan disini?, " tanya Bik Siti.


Rere terlihat gagap dan seperti orang yang linglung menjawab pertanyaan dari Bik Siti.


Hingga saat laki-laki yang duduk di kursi roda itu memegang tangan Pak Budi secara refleks dan lirih memanggil namaku.


"Rani!, " suaranya pelan namun jelas.


Sontak membuat kami semua semakin terkejut, terlebih lagi diriku. Aku merasakan jika suara itu tidak asing lagi bagiku.


Rere semakin ketakutan dan berusaha untuk menutup mulut laki-laki yang duduk di kursi roda dengan tangan kanannya supaya tidak bersuara, tetapi tindakan yang dilakukan Rere seolah mendapatkan perlawanan dari laki-laki yang duduk di kursi roda itu dengan terus menggerakkan kepala nya.


Rere seakan tidak suka mendengar perkataan ku, "Kamu diam saja Rani, tidak usah ikut campur urusanku!, " bentak Rere kasar.


"Aku hanya mengingatkan dirimu Re, jika apa yang kamu lakukan tidak baik , " balas ku lembut.


Tetapi Rere semakin tidak suka mendengar perkataan dariku dengan memandangi wajahku penuh dengan kebencian.


Sementara itu laki-laki yang berada di kursi roda itu memanggil namaku lagi pelan dan tidak melepaskan tangannya dari mengenggam lengan Pak Budi.


"Mengapa laki-laki ini tahu namaku?, " ucapku pelan.


"Iya Nak Rani, Bibi juga mendengarnya jika laki-laki ini memanggil nama Nak Rani. Dan suaranya tidak asing bagi Bibi, " sahut Bik Siti.


Maka dengan cepat Rere berkelit, "Kalian salah dengar kali. "


"Akh tidak mungkin Bibi salah dengar, jelas-jelas Bibi benar-benar mendengar jika laki-laki ini memanggil nama Nak Rani kok, " bantah Bik Siti.


Rere pun semakin tersudut dan bingung untuk membantahnya, sambil berupaya untuk terus menutup mulut laki-laki yang duduk di kursi roda tersebut supaya tidak bersuara. Hingga tali masker yang mengikat pada wajah laki-laki itu terputus karena ia terus memberontak melawan akan tindakan kasar yang dilakukan oleh Rere.


Semua pandangan mata kami tertuju pada laki-laki itu dan sontak kami semua terkejut dan sangat terkejut melihat masker yang menutupi wajah laki-laki itu terbuka.


Jantungku seakan ingin lepas dan tidak percaya akan hal yang kulihat di hadapan ku. Begitu pula dengan semua orang.

__ADS_1


"Kak Roy, " ucapku kaget.


Rere semakin ketakutan dan berusaha untuk lari. Tetapi Bik Siti dengan tenaga yang kuat berasal dari mana memegangi lengan Rere.


Dengan segera Ustad Fariz lalu menelpon polisi untuk mengamankan Rere. Dan hal ini sungguh membuat Rere semakin ketakutan dan berteriak-teriak dengan histeris, sehingga membuat dirinya jatuh pingsan.


"Hati-hati Nak Fariz jangan tertipu, siapa tahu Nak Rere hanya bersandiwara saja. Biar Pak Budi juga ikut berjaga memegangi tangannya bersama Bik Siti, " kata Pak Budi.


Sementara itu, Ustad Fariz memeriksa apakah benar laki-laki yang duduk di kursi roda itu adalah Kak Roy.


Ya Allah, hatiku begitu tersentak seakan tidak percaya melihat laki-laki yang berada di hadapan ku itu ternyata benar-benar adalah Kak Roy.


"Kak Fariz, " ucap Kak Roy lemah dengan matanya yang berkaca-kaca.


Semua orang pun sangat terkejut melihat dengan mata kami masing-masing, jika sosok Kak Roy yang sudah kami anggap meninggal dunia ternyata masih hidup dan berada di hadapan kami semua.


Pintu lift terbuka kami semua pun keluar secara perlahan, dan benar saja saat pintu lift terbuka Rere ingin berusaha kabur. Tetapi Pak Budi dan Bik Siti sudah tahu akan akal bulus dan kelicikan Rere sehingga mereka berdua memegangi tangan Rere sangat kencang sekali.


Tidak berapa lama laki-laki tinggi besar yang bersama Rere sebelumnya,ingin membantu melepaskan Rere dari genggaman Bik Siti dan Pak Budi. Dengan sikapnya yang arogant dan ingin bertindak kasar kepada Pak Budi, namun Ustad Fariz yang melihatnya dengan cepat membantu Pak Budi supaya tidak mendapatkan tindakan kasar dari laki-laki itu.


Ummah pun dengan erat tidak melepaskan pelukannya dari tubuhku, beliau betul-betul menjaga diriku supaya terhindar dari amukan laki-laki itu.


Dan beruntung saja aparat kepolisian akhirnya tiba di waktu yang tepat, dan dengan segera memborgol laki-laki yang ingin menyerang Pak Budi dan Ustad Fariz sekaligus membawa Rere. Dan kami semua pun turut ikut serta dengan pihak kepolisian untuk memberikan keterangan, tetapi sebelum pergi ke kantor kepolisian Ummah langsung menelpon Tante Desi untuk segera menyusul kami yang akan bergegas ke kantor kepolisian untuk memberikan pernyataan terkait peristiwa yang terjadi.


Kak Roy yang terduduk di kursi roda sambil dibantu oleh Pak Budi yang mendorong kursi rodanya menuju mobil terus menatap diriku tanpa henti. Ummah yang terus mengamati akan tatapan yang ditujukan Kak Roy padaku dengan segera membawa diriku berjalan terlebih dahulu mendahului Kak Roy dan Pak Budi.


Pak Budi pun sepertinya menyadari akan sikap Ummah yang tidak suka jika Kak Roy terus menatap diriku, sambil mendorong kursi roda Kak Roy. Pak Budi pun mengajak bicara Kak Roy, "Apakah keadaan Nak Roy baik-baik saja Nak Roy?, " tanya Pak Budi.


Kak Roy pun menganggukkan kepalanya dan tidak mengucapkan kata-kata apapun.


Aku yang berjalan sambil di peluk Ummah larut dalam perasaanku. Semuanya terasa seperti mimpi yang begitu menghentak diriku.


Ummah meminta Pak Budi dan Ustad Fariz bersama Kak Roy di mobil kepolisian, sementara Rere dan pria bertubuh besar dibawa dengan mobil tahanan satunya, sedangkan aku bersama Bik Siti satu mobil dengan Ummah, dimana Ummah sendiri yang menyetir mobil.


Ketiga mobil pun melaju dengan cepat menuju kantor Kepolisian yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempatku di rawat.


Di dalam mobil pikiranku terus berkelana dengan berbagai pertanyaan yang terus menyeruak dalam hati dan pikiran ku.


Jika Kak Roy masih hidup, lalu kornea mata siapa yang ada di mataku ini, tanyaku di dalam hati.


Ternyata kecurigaan Wirda dan Tante Desi selama ini memang benar, jika warna bola mata ku berbeda sekali dengan bola mata Kak Roy.


Aku menghela napas panjang untuk membuat pikiranku tenang.


"Sayang jangan berpikir yang macam-macam ya nak. Ummah tidak ingin kamu jadi sakit karena memikirkan sesuatu yang akan membuatmu semakin down, " pinta Ummah sambil fokus menyetir mobil.


"Iya Ummah, " jawabku.


Bik Siti pun terus mengusap punggung ku pelan dan lembut, ia seolah tahu jika saat ini aku benar-benar begitu sangat terkejut sama halnya dengan dirinya yang seakan-akan merasakan mimpi lalu terbangun dari tidur .


Mobil yang dikendarai oleh Ummah pun telah tiba dan berhenti di halaman parkir kantor kepolisian. Begitu pula dengan kedua mobil lainnya yang membawa Ustad Fariz, Pak Budi, Kak Roy, Rere dan Pria bertubuh besar.

__ADS_1


Dengan segera Bik Siti membantu diriku turun dari mobil dibantu dengan Ummah.


Kami semua diam dalam pikiran masing-masing. Entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini.


__ADS_2