Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Akhirnya Bunda Siuman


__ADS_3

"Aduh sakit,"ucapku kepada Kak Reno yang terus menarik tanganku.


Tetapi dia hanya diam dan terus berjalan sembari menarik tangan kiriku dengan kuatnya.Hingga langkahnya terhenti pada sebuah lorong sepi di rumah sakit.Lalu ia mendorong tubuhku Kedinding dan terlepaslah tangannya dari tanganku,


"Bukk,aduh...auww,"ucapku karena terhempas ke dinding.


Aku pun memegangi pergelangan tanganku yang ditarik kuat olehnya.Sesaat kutatap wajahnya.Akh benar -benar pria yang kasar dan pemarah,ucapku dalam hati.Lalu kupalingkan wajahku darinya dan mencoba sedikit menjauh.


Namun tangannya menarik pergelangan tanganku untuk kembali ke posisi awal tempatku berdiri.


"Auww...sakit,"ucapku perlahan.


Akan tetapi Kak Reno tampak tidak peduli.Ia semakin mendekatiku dengan sorot matanya yang begitu tajam.Kutarik kepalaku kebelakang agar wajahku tidak terlalu dekat dengan wajahnya.Mau apa anak ini,batinku.


Tangannya diletakkan di dinding di samping kepalaku.Ia semakin mendekat hingga dapat kurasakan hembusan napasnya.


Aku yang sudah merasa tidak nyaman dan sedikit takut akan sikapnya mencoba untuk menjauhinya.Namun sekali lagi aku tak berdaya melawan kekuatan genggaman tangannya.


"Apa yang kamu inginkan?,"tanyaku.


"Kamu!,"jawab Kak Reno dengan serius.


"Lepaskan aku!,"pintaku.


Kak Reno pun menjawab dengan sedikit senyum dunianya, "Melepaskanmu...hmm..tidak akan,"gertak Kak Reno.


"Lalu apa maumu?,"tanyaku dengan lantang.


Pandangan mataku dan matanya kembali bertemu,


"Kamu itu ternyata gadis yang licik ya.Tidak sebodoh yang aku kira,"ucapnya dengan kecut.


"Maksud Kamu apa?," ucapku sambil sedikit kesal.


"Sudah jangan berpura-pura tidak tau.Semua ini adalah rencananya dan bundamu bukan!,agar kamu bisa menikah denganku dan menjadi orang kaya.Betul kan?,"ucapnya ketus.


"Terserah apa pendapatmu,aku tidak peduli,"ucapku sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.


"Dasar perempuan licik.Aku tidak menyangka jika kamu begitu naif.Ckckck...apakah sekarang kamu sudah merasa senang."


Aku hanya diam dan terus berusaha melepaskan diri darinya.


"Jangan kamu kira aku akan menerimamu sebagai istriku.Aku berjanji akan membuat kehidupanmu seperti di neraka.Aku akan membalas setiap perbuatannya.Akan kupastikan hidupmu akan menderita.Camkan itu baik-baik,karena ini barulah sebuah awal dari kisah kehidupanmu yang nelangsa."


"Baiklah,terserah apa maumu.Aku tidak peduli,"ucapku santai.


"Owh,rupanya kamu menantangku!,"ucap Kak Reno dengan wajahnya yang semakin kesal.


"Jika kamu sudah selesai berbicara,maka lepaskan aku pergi."


"Tidak semudah itu,"gertak Kak Reno.


"Baiklah jika kamu memaksa,jangan salahkan aku,"ucapku sambil mengigit tangannya.

__ADS_1


"Auwwww....akh...akh...,"ucap Kak Reno kesakitan.


Aku pun dapat terlepas darinya dan bergegas pergi menjauh darinya.Namun sekali lagi ia kembali menarik tanganku.Kali ini ia semakin kuat menekan tubuhku ke dinding.Aku terkunci.


"Kamu mau kemana?aku nggak akan biarin kamu pergi begitu saja dengan mudah,"teriak Kak Reno dengan kesal.


"Oh ya,"tantangku.


Matanya kembali memandangku,wajahnya hampir terlalu dekat dengan wajahku.Aku berdebar,takut melihat sosok dirinya yang liar.Sehingga aku pun berteriak,


"Tolong....tolong,"ucapku.


Tetapi Kak Reno dengan cepat menutup mulutku.Aku pun terus berusaha melepaskan diri darinya dan berdo'a semoga Allah menolongku dari api kemarahannya,Hingga tiba-tiba suara langkah kaki terdengar memanggil namaku,


"Ran..Raniiii....".


Kak Reno terkejut mendengar suara itu dan menoleh,


"Roy?ngapain kamu disini?,"tanyanya sambil melihat ke arah Kak Roy.


Aku yang melihat Kak Reno mulai lengah langsung berusaha melepaskan diri darinya.Dengan cepat kugigit kembali tangannya sehingga membuatnya merintih,


"Auwwww !,"ucapnya sambil menarik tangannya yang kugigit dan sedikit mengibaskannya karena sakit.


Melihat gengaman tangannya yang sudah terlepas aku segera pergi menjauh darinya dan Kak Roy.


"Aduh,sialan anak ini,"ucap Kak Reno kesakitan.


Sementara itu Kak Roy terus menatapku.Aku sekilas menatapnya lalu berlalu darinya dan pergi menjauh dari mereka.


Sesampainya di sana Mbak Riska duduk menungguku,


"Ran,dari mana?oh ya Reno mana?,"tanya Mbak Riska.


"Sama Kak Roy mbak,"jawabku.


"Oh yaudah kalau begitu.Rani ganti baju dulu aja di toilet ya,"ucapnya sambil memberikan baju untukku.


"Loh mbak,ini kan bukan baju Rani".


Mbak Riska tersenyum sambil berjalan mendekatiku,"Ini baju Rani kok,mama yang beliin.Rani pakek ya biar mama seneng".


"Tapi mbak baju ini kan mahal,"ucapku sambil memandang ke arah Mbak Riska.


"Hmmm...ini nggak seberapa Ran.Lagi pula sekarang kan Rani juga putrinya mama adik Mbak Riska juga jadi sudah selayaknya Rani mendapatkan ini semua.Lagian ini kan cuma baju doang Ran,nggak bisa ngalahin kebahagiaan yang Rani berikan buat keluarga mbak".


"Tapi mbak..".


"Udah nggak usah tapi-tapian,Hayuk segera ganti baju,"ucap Mbak Riska sambil mendorong pelan tubuhku ke toilet.


Aku pun masuk ke dalam toilet dan mengganti baju.Setelah selesai aku pun keluar.Aku sedikit terkejut karena ada Kak Reno dan Kak Roy serta Pak Sugeng dan Bu Sri di ruangan kakek.


Mata mereka tertuju padaku.

__ADS_1


"Maa'syaAllah,adik mbak cantik banget pakai gamis syar'i merah mudanya,"ucap Mbak Riska sambil merangkulku.


Bu Sri dan Pak Sugeng pun menimpali,"Iya Rani terlihat menawan".


Aku pun tersenyum kecil dan mengucapkan terima kasih kepada Bu Sri karena telah memberiku baju.


Sementara itu Kak Reno dan Kak Roy terus memandang ke arahku.


"Iya maa'syaAllah Rani memang cantik sekali,"ucap Kak Roy tersipu memandangku.


Aku tersenyum mendengar ucapan Kak Roy.Sementara Bu Sri seperti tidak senang mendengar Kak Roy memujiku,


"Husss...Roy, udah,nggak boleh memandang Rani seperti itu,"sambil mendekatiku untuk menjauh dari pandangan Kak Roy.


"Akh...iy...iya tante,"jawab Kak Roy.


Pak Sugeng pun memecah ketegangan antara istrinya dan Kak Roy,


"Ran,ayo ke ruangan bundamu nak.Alhamdulillah tadi setelah papa menemui dokter.Dokter bilang bundamu sudah sadar dan bisa dijenguk".


"Apa?yang bener pa?,'tanyaku penasaran.


"Iya Ran,bener,"jawab Pak Sugeng sambil tersenyum kepadaku.


"Alhamdulillah ya Allah,"ucapku senang sambil memeluk Bu Sri karena kegirangan.


Bu Sri membalasa pelukanku dengan lembut,


"Ya udah kita kesana yuk.Dan Riska disini dulu temani kakek ya nak,nanti jika mama sudah selesai kita gantian besuk bundanya Rani,"ucap Bu Sri lembut.


"Reno nggak usah ikut ma,Reno disini aja yang jagain kakek,"ucapnya malas.


"Nggak,kamu harus ikut Ren.Biar mbakmu yang jagain kakek,"jelas Bu Sri dengan tegas.


"Tapi mah".


"Udah nggak ada tapi-tapian Reno,"ucap Bu Sri mengultimatum Kak Reno dengan wajahnya yang serius.


Kak Reno tidak bisa membantah lagi.Dan terpaksa memenuhi perintah Bu Sri.Sementara itu,Kak Roy masih terdiam,matanya sekilas memandang kearahku dan aku tersenyum padanya.Ia pun mengangguk pelan kepadaku dan terus menatap.Aku merasa ada sesuatu yang ingin ia katakan.Namun,Bu Sri melihatku dan Kak Roy lalu menggandeng tanganku berjalan bersamanya.


Tidak lama kemudian,aku dan yang lain tiba di kamar bunda.Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu bunda.Dengan perlahan kubuka pintu kamar bunda,terlihat dari jauh bunda sedang berbaring di atas ranjang tempat tidurnya.Aku pun berjalan mendekatinya disusul yang lainnya.Kuhampiri bunda yang menatap sayu melihat kedatanganku.


Senyumku merekah melihat tawa kecil menghiasi wajah lesu bunda.


Kutatap wajahnya dalam dan kugenggam tangannya dengan lembut perlahan kucium keningnya.Tess,air mataku mengalir.


"Bunda,Rani sayang bunda.Bunda harus segera sehat kembali ya Bun,"ucapku pada bunda.


Bunda mengangguk perlahan karena masih lemas setelah operasi.


Kupeluk perlahan tubuhnya yang terbaring lemas.Atmaku meronta,membuka tabir kesedihan.Aku larut dalam air mata kebahagiaan melihat bunda yang telah siuman.


Tuhan,jagalah bundaku.Karena aku tidak mampu kehilangan dirinya,pintaku dalam hati.

__ADS_1


Air mataku jatuh tiada henti.


__ADS_2