Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Perasaan Wirda.


__ADS_3

Ummah terus mendesakku dan Mas Fariz untuk segera menepi dari kota tempat dimana kami tinggal. Entah ketakutan apa yang membuat Ummah begitu menginginkanku dan Mas Fariz untuk segera melaju pergi dari tempat ini. Setelah banyak memikirkan pertimbangan. Mas Fariz menginginkanku dan dirinya untuk sementara waktu menetap di Mesir. Tempat yang jauh menurut ku, tetapi karena banyak pertimbangan dan akan keinginan Mas Fariz supaya diriku meneruskan pendidikanku lagi. Mesir menjadi pilihan terbaik bagi Mas Fariz dan untukku ucap Mas Fariz padaku.


Ummah tidak keberatan akan hal itu, dan senang mendengarnya.


"Jarak tidak menjadi masalah, Ummah bisa kapanpun datang mengunjungi kalian. Asalkan kalian berdua jauh dari orang-orang berniat jahat kepada kalian, " ujar Ummah.


Setelah Mas Fariz memutuskan tujuan tempat kami untuk tinggal. Dengan segera pula Ummah meminta Mas Fariz mengurus bisa paspor dan visa.


Bik Siti pun juga ikut bersama kami, dia tidak ingin berada jauh dariku. Dan Ummah atau pun Mas Fariz tidak keberatan akan hal itu.Aku ditemani Wirda dan Bik Siti mulai mengemasi barang-barangku dan Mas Fariz. Tampak raut wajah Wirda terlihat lesu dan sedih memandang diriku.


"Aku tidak tahu apa yang membuat Ummah begitu menginginkanmu dan Kak Fariz segera menjauh dari tempat ini. Jujur Ran, aku sedih dan tidak senang sebenarnya akan permintaan Ummah yang menurut ku terlalu over. Tetapi mau bagaimana lagi, apa yang menjadi keinginan Ummah harus dipenuhi. Dan kini aku menjadi sendirian disini, " ucap Wirda sedih.


Aku lalu meletakkan pakaian yang sedang kulipat dan memandang Wirda, "Kan ada Ummah disini, Wirda. "


"Iya Ran, tapi berbeda jika di rumah ini juga ada dirimu dan Bik Siti. Rasanya pasti seru dan tidak sepi, "sahut Wirda cemberut.


" Kalau begitu Nak Wirda ikut saja bersama kami, sekalian tinggal di Mesir bersama Nak Fariz dan Nak Rani, "saran Bik Siti.


" Tidak bisa seperti itu Bik. Lalu Ummah , Abi, Enjid dan yang lainnya bagaimana? jika kita semua pergi dari rumah ini, "kataku pelan.


" Hehehe, iya juga ya, "jawab Bik Siti sambil tersenyum meringgis.


Aku lalu memegang bahu Wirda pelan seraya mengusapnya, " InsyaAllah Mas Fariz dan diriku tidak lama Wirda. Kepergianku dan Mas Fariz setidaknya dapat membuat perasaan dan pikiran Ummah tenang. Nanti jika Ummah sudah merasa rileks dan tenang, kami akan pulang kemari secepatnya. "


Wirda memandang wajahku dengan sedikit cemberut, lalu memelukku, "Aku pasti akan sangat merindukan dirimu Ran."


Ku usap punggung Wirda perlahan dan membalas peluakannya, "Aku belum pergi dan masih berada disini, Wirda. "


"Iya aku paham Ran.Tetapi tetap saja kamu akan pergi juga kan Ran. "


Wirda tidak dapat menyembunyikan rasa kesedihannya dariku. Bik Siti memandang ke arahku dan Wirda, lalu mengusap kepala kami berdua dengan lembut dalam wajahnya yang penuh haru.


Aku tidak ingin larut dalam kesedihan yang akan membuat Wirda semakin merasa sedih. Maka dengan cepat ku sapu air mataku yang masih mengambang di sudut mata dekat ujung hidung.


Ummah mengintip dari balik pintu kamar tidurku dan Mas Fariz,langkahnya terhenti melihat keharuan yang ia saksikan.Dimana hati Ummah begitu tersentuh melihat pemandangan yang menguras air matanya. Ummah menyadari akan permintaannya yang akan membawa kesedihan di keluarganya, tetapi rasa takutnya akan kemalangan yang mungkin dapat lagi menimpa diriku atau Mas Fariz, mengharuskan dirinya melawan rasa kesedihannya. Sambil menyeka air matanya, Ummah ingin berlalu pergi. Tetapi, pandangan mata Bik Siti menangkap raga Ummah yang hendak berbalik menjauh. Dengan cepat Bik Siti berdiri dan berjalan menuju kearah Ummah,lalu menarik pergelangan tangan Ummah untuk masuk ke dalam kamar. "Bu Putri, kenapa di depan pintu? ayo masuk!, " ajak Bik Siti.


Ummah tampak tekejut mengetahui keberadaan Ummah yang sudah ada di dekatnya. Ummah ingin menolak untuk masuk ke dalam kamar, untuk menghindari perasaannya yang takutnya akan semakin rapuh, mendekati beberapa hari lagi keberangkatan diriku dan Mas Fariz ke Mesir. Namun, Ummah tidak kuasa menolak permintaan Bik Siti. Maka dengan langkah pelannya.Ummah pun masuk ke dalam kamar dimana ada diriku yang masih menenangkan Wirda, agar ikhlas dan tidak larut dalam kesedihan akan kepergianku dan juga Mas Fariz.

__ADS_1


Ummah duduk perlahan di dekatku dan Wirda, lalu mengusap kepalaku dan Wirda yang tertutup hijab dark grey secara bersamaan. Mendapati sentuhan lembut Ummah, membuat pandangan mataku dan Wirda langsung menatap pada raga Ummah yang duduk tepat di hadapan kami.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Ummah memandang lekat Wirda sambil memegang wajahnya yang sudah sangat basah dengan linangan air mata.


"Ummah tahu akan permintaan yang Ummah minta, it's not as easy as we hope. Itu tidak semudah yang kita harapkan. Tentang melepaskan orang yang sangat kita sayangi pergi menjauh dari kehidupan kita, walaupun hanya untuk sementara waktu saja. Karena memang sulit untuk berusaha ikhlas berpisah dengan yang tersayang. Hal itu juga berlaku pada perasaan dan pikiran Ummah, sayang, " ucap Ummah kepada Wirda.


Wirda menatap Ummah dengan wajahnya yang sudah terlihat sembab dan memberanikan lisannya untuk bertanya pada Ummah akan keputusan ibu Ummah.


"Lalu bagaimana Ummah bisa meminta Rani dan Kak Fariz untuk pergi menjauh dari kita, sedangkan hati Ummah sendiri pun belum mampu tegar dan kuat, untuk melepaskan Rani dan Kak Fariz menetap ke Mesir? , " tanya Wirda dengan air matanya yang mengalir.


Ummah mengangguk pelan dan menatap Wirda dan diriku secara bergantian. Dan Bik Siti langsung duduk disamping Ummah.


Ummah menghela nafas nya sebentar, dan menahan bibirnya yang bergetar untuk dapat menjelaskan kepada Wirda akan keputusannya.


Aku, Wirda dan Bik Siti pun menatap Ummah lekat.


"Everybody want to be happy. No body want to be sad.Setiap orang ingin bahagia. Tidak seorang pun ingin sedih. Termasuk juga Ummah. Melepaskan kepergian orang yang sangat kita sayangi untuk menjauh dari kehidupan kita, memang sebenarnya tidak pernah mudah bagi setiap orang. Baik itu hubungan, pertemanan, ego, bahkan pekerjaan. Mungkin sulit bagi beberapa orang ,yang termasuk bagi Ummah sendiri juga memiliki kesulitan tersebut,untuk melepaskan keterikatan ketika kita tidak benar-benar menginginkannya.


Namun, hal tersebut terkadang perlu dilakukan untuk membuat hidup lebih maju dan bisa membuat orang yang kita sayangi dapat menjalani kehidupan yang lebih bahagia dan memuaskan, khususnya untuk Rani dan Fariz agar mereka berdua dapat melanjutkan kehidupan baru mereka. Setelah melewati semua ujian yang memberikan kegetiran dalam rumah tangga mereka berdua."


Wirda terdiam menyimak setiap perkataan yang keluar dari bibir Ummah.


Wirda terdiam mencerna setiap kata yang Ummah katakan kepada dirinya. Hatinya luluh dalam getir, dia benar-benar berusaha memahami keinginan dan isi hati Ummah.


"Wirda seharusnya tidak bersikap demikian. Maafkan Wirda Ummah, yang menyangsikan atas keinginan Ummah. Padahal disini, Ummah lah yang paling bersedih jika Kak Fariz dan Rani pergi, " sahut Wirda sambil menitikan air mata.


Ummah pun mengusap air mata Wirda lembut, lalu mendekap tubuh Wirda dalam pelukannya. Aku pun memandang haru pada keduanya, lalu Ummah menarik tubuhku perlahan dan memeluk ragaku pula dalam dekapan nya. Bik Siti memandang haru dalam isak tangisnya, melihat ikatan kasih sayang yang terjalin erat dan begitu menyentuh batinnya.


Hari itu aku, Ummah dan Wirda benar-benar larut dan menumpahkan rasa sesak akan detik-detik waktu yang tersisa. Sebelum keberangkatan ku dan Mas Fariz ke Mesir.


Banyak hal yang kami bicarakan dan agendakan, untuk menikmati momen-momen kebersamaan kami yang semakin menipis digerus sang waktu.


Wirda dan Ummah meminta ku untuk tidur bersama mereka, dimana sepanjang malam banyak canda dan tawa yang terurai. Di tambah lagi candaan yang Bik Siti lemparkan, sungguh membuat kesedihan di antara diriku, Ummah dan Wirda menghilang pergi tanpa dirasa.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di dalam kehidupan ku setelah ini. Tetapi saat ini ragaku ingin benar-benar menikmati semua kenangan indah bersama Wirda dan Ummah. Sebelum hari dimana langkah kakiku dan Mas Fariz pergi menjauh dari rumah yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang padaku.


Kulihat Ummah dan Wirda sudah terlelap tidur, begitu pula Bik Siti. Dengan perlahan-lahan aku beranjak bangun dari tempat tidur supaya tidak membangunkan mereka.

__ADS_1


Pandangan mataku tertuju pada jam dinding di dalam kamar tidur Wirda yang menunjukkan pukul 3 pagi. Aku segera memakai hijab ku kembali dan merapikan nya. Setelah itu, ku langkahkan kakiku dengan pelan keluar dari kamar.


Begitu hati-hati dan tidak menimbulkan suara yang dapat menggangu tidur mereka.


Dukk..


Kututup pintu kamar perlahan.


Indra pendengaranku mulai menangkap sesuatu. Aku tersenyum lebar.


Akh, itu lantunan suara merdu dari Mas Fariz yang sedang membaca kalam ilahi, gumamku pelan.


Suara indahnya menuntun langkah kakiku untuk mendekatinya.


Cekrek..


Kubuka pintu kamar yang tidak terkunci, lalu kuucapkan salam.


Mas Fariz rupanya tidak mengetahui kedatanganku, karena begitu khidmat dan fokusnya ia menenggelamkan diri, hati dan pikirannya dengan Al-Qur'an.


Aku yang tidak ingin menganggu dirinya yang begitu sangat menikmati tadarusnya.


Membuat ku berjalan perlahan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah selesai, Mas Fariz pun masih terlihat khusyuk. Aku pun juga tidak ingin menganggunya,dan dengan perlahan jemari tangan ku meraih mukena dan sajadah untuk menunaikan ibadah qiyamul lail.


Indahnya suara lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang di bacakan Mas Fariz terus menggema indah di telingaku, bahkan sampai akhir diriku memanjatkan do'a kepada Sang Kuasa.


Saat ku tangkupkan kedua jemari tanganku ke wajah, seraya mengucapkan Aamiin dan membuka kedua mataku perlahan.


Pandangan mataku dikejutkan dengan paras Mas Fariz yang sudah berada di hadapan diriku.


Senyumnya merekah sembari jemari tangannya mengusap kepalaku dengan lembut. Pandangan mata kami bertemu dalam senyumanku yang terpaut padanya.


Mas Fariz menarik tubuh ku dekat masuk ke dalam dekapannya.


"I love you not because of who you are, but because of who I am when I am with you...

__ADS_1


Saya mencintaimu bukan karena siapa kamu, tetapi karena apa yang ada di dirimu ketika saya bersamamu..., " ucap Mas Fariz lembut sembari mengecup keningku.


__ADS_2