
Setelah menempuh perjalanan sekitar 16 jam lebih, akhirnya Ummah dan Abi tiba di bandara. Lalu kedatangan mereka disambut oleh pihak otoritas setempat, yang segera mengantarkan Abi dan Ummah menuju rumah sakit tempat diriku di rawat. Selama di dalam perjalanan kecemasan dan rasa tegang terus menghinggapi perasaan Ummah dan Abi. Lisan mereka tidak pernah berhenti untuk berdzikir. Pihak KBRI dan perwakilan otoritas setempat menceritakan sedikit demi sedikit kronologi jatuhnya pesawat yang membawa diriku, Mas Fariz dan Bik Siti.
Pihak berwenang menambahkan bahwa pesawat itu gagal memenuhi jadwal untuk menghubungi pengendali lalu lintas udara. Saat hendak mendekati wilayah otoritas setempat, lalu menghilang dari radar.Pesawat mengalami beberapa turbulensi di sepanjang jalan.Setelah mendapatkan laporan terkait jatuhnya pesawat di dekat pesisir laut Merah. Tim penyelamat Mesir segera mengevakuasi korban dan juga membuat pusat pertolongan untuk membantu keluarga korban penumpang pesawat. Akhirnya setelah menempuh rute yang sulit,tim penyelamat bisa mencapai lokasi kecelakaan. Setelah waktu evakuasi lama terhambat oleh cuaca buruk. Dimana petugas yang pertama kali tiba di lokasi jatuhnya pesawat, menyebutkan tubuh pesawat hancur mengapung di atas lautan dan kemungkinan besar seluruh penumpang beserta kru diduga tewas.
Air mata Ummah dan Abi tidak terbendung mendengarkan penuturan jatuhnya pesawat tersebut. Hati mereka tersayat perih, membayangkan bagaimana detik-detik peristiwa tersebut telah merenggut putra kesayanga mereka. Seketika, suara tangis terdengar pecah. Tidak ada kata yang terucap, hanya air mata menetes dan pelukan yang saling menguatkan antara Abi dan Ummah.
Pihak perwakilan KBRI pun meminta maaf dan menghentikan narasi cerita mereka, setelah melihat kesedihan yang teramat sangat begitu menghampiri Ummah dan Abi.
Abi dan Ummah menggangguk pelan sambil menyeka air mata mereka.
"Tidak apa-apa Pak, kami hanya masih terbawa suasana kesedihan akan rasa kehilangan putra kami, " ucap Abi dengan suara lirihnya.
"Semoga bapak,ibu dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, keikhlasan dan yang meninggalkan diberi tempat terbaik oleh Tuhan Yang Maha Esa.Kami turut berduka cita atas meninggalnya putra bapak dan ibu, " ujar perwakilan KBRI kepada Abi.
"Aamiin," ucap Abi sambil mengenggam jemari tangan Ummah yang masih terus meneteskan air mata.
Semua orang di dalam mobil langsung terdiam dalam kebisuan mereka masing-masing. Sambil memandang hamparan padang pasir yang luas dan pohon-pohon palem yang tinggi menjulang.Tampak begitu banyak awan mengumpal di langit hampir di sepanjang jalan.Sehingga hampir tidak bisa melihat matahari. Dimana warna biru pekat gelap membentang hingga ke cakrawala, pada musim dingin ini. Dengan suhu udara turun hingga 15°pada siang hari dan selalu diatas nol pada malam hari. Apalagi Setelah matahari terbenam, suhu turun dengan cepat.
Abi segera mengusap tubuh Ummah yang sudah merasa dingin meskipun keadaan masih siang hari. Ummah menyandarkan kepalanya pada bahu Abi.
Sementara Abi, terus mengenggam jemari tangan Ummah. Sembari melihat kearah luar kaca jendela mobil.
Pandangan mata Abi tidak terlalu merasa terasing ketika mengunjungi Mesir, karena secara sosiologis kota di Mesir memiliki kemiripan dengan kota-kota besar di Indonesia.Dimana lalu lintas di Kairo tidak terlalu berbeda dengan di Indonesia.
Perbedaannya, jalanan di Indonesia didominasi oleh sepeda motor sedangkan di Mesir lebih banyak mobil yang berlalu-lalang. Pemandangan yang cukup membuat perasaan Abi bergemuruh rindu seketika. Dimana pikirannya melayang mengingat kenangan dirinya bersama Mas Fariz. Seketika rindu itu memuncah, meneteskan air mata keharuannya. Dengan cepat Abi segera menekan air matanya, agar tidak tumpah membasahi wajahnya.
Saat ini, Abi ingin tegar dan kuat. Untuk menjadi pondasi yang kokoh bagi Ummah. Sebab setelah ini, tidak akan ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi setelahnya.
__ADS_1
Huftt,
Napas Abi naik turun dalam rasa ketegangan yang bergemuruh penuh dengan kerisauan.
Beberapa kali ia tampak menutup kedua matanya, seolah-olah berharap pada Sang Kuasa agar semua baik-baik saja.
Debar jantungnya semakin berdetak kencang dan cepat. Saat mobil yang membawa dirinya dan Ummah memasuki kawasan rumah sakit tempat diriku dirawat.
Ummah segera duduk tegap dan mengenggam jemari tangan Abi kuat.
Megahnya bangunan rumah sakit yang tinggi menjulang, sungguh seakan-akan memberikan lambaian kesedihan yang menakutkan bagi Ummah dan Abi.
Mereka berdua pun saling berpandangan satu sama lain, sebelum keduanya turun dari mobil.
"Ya Allah, semoga semuanya akan baik-baik saja, " pinta Ummah lirih sambil memejamkan mata.
Semua orang turun dari mobil, begitu pula Abi dan Ummah.
Kerinduan dan rasa khawatir nya padaku, terus memaksa langkah kaki Ummah dan Abi mengikuti beberapa orang yang sudah berjalan memandu mereka.
Telapak tangan Ummah semakin dingin, dan lisannya tidak berhenti beristighfar.
Pintu lift terbuka, semua orang pun masuk.
Jlekkkk...
Dengan perasaan berdebar dan penuh kegelisahan.
__ADS_1
Lift itu semakin membawa Ummah dan Abi mendekat pada diriku.
Dada Ummah terasa sesak bercampur ketakutan yang tidak bisa dibendungnya.
Abi terus merangkul tubuh Ummah supaya tetap tegar berada di sisinya.
Pelan dan pelan,
langkah kaki Ummah dan Abi terus mengikuti beberapa orang yang terus menuntun mereka berdua, untuk semakin dekat padaku.
Hingga tiba di depan ruang ICU.
Langkah kaki semua orang terhenti, begitu pula dengan Ummah dan Abi.
Pandangan mereka bertemu dalam diam dan kegetiran akan perasaan takut yang merajai diri Ummah dan Abi.
Abi mengangguk pelan kepada Ummah, mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Ummah pun membalas isyarat Abi dengan mengangguk pula, sembari menghembuskan napasnya berulang kali, hingga dirinya merasa jauh lebih tenang.
Beberapa orang perwakilan KBRI membantu Ummah dan Abi untuk dapat masuk ke dalam ruang ICU.
Setelah mendapatkan izin dari dokter, Ummah dan Abi menggenakan pakaian pembesuk ICU. Pembesuk sangat dibatasi dan lebih ketat jika dibandingkan dengan membesuk pasien yang dirawat dibangsal atau dikamar perawatan biasa. Kekhususan lainnya adalah pembesuk yang akan masuk kedalam ruang ICU diharuskan memakai gaun luar yang sudah disediakan oleh rumah sakit berwarna hijau polos, biru atau berwarna putih, gaun luar ini berfungsi sebagai penutup bagi seluruh pakaian yang dipakai pembesuk dari atas sampai kebawah.Ummah dan Abi pun memakai gaun terusan berwarna hijau masuk keruangan ICU untuk membesuk diriku. Ruangan tempat perawatan intensif di rumah sakit atau (intensive care unit) dibuat sedemikian rupa khusus untuk merawat pasien yang memerlukan perhatian serius pasien harus diawasi secara terus menerus dan dalam perawatan yang sangat serius, pasien yang dirawat kebanyakan berada dalam keadaan sadar dan tak sadar sehingga suasana dalam ICU sedikit mencekam.
Ummah dan Abi masuk secara bersamaan dipandu oleh perawat yang menuntun langkah kaki mereka. Perasaan mereka semakin berdebar, apalagi bunyi suara peralatan monitoring yang terpasang, untuk memantau denyut nadi atau jantung dan pernafasan, selang infus untuk memasukkan bahan nutrisi ,serta selang untuk mengeluarkan urine, cairan lambung atau cairan dari bagian tubuh lain menambah suasana menjadi semakin tak biasa dan sangat mencekam di hati kedua nya.
Pandangan mata Ummah dan Abi terus mencari dan melihat sekeliling, untuk menemukan keberadaan diriku.
Ummah dan Abi saling berpegangan tangan, dan menguatkan satu sama lain.
__ADS_1