Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kabar pahit.


__ADS_3

Kepulangan Ummah dan yang lainnya di rumah, di sambut berita dari putri Kak Roy yang di sampaikan oleh asisten rumah tangga dan juga Pak Satpam.


Ummah merasa sedikit cemas akan kabar yang ia dengar, jika kabar ini akan dapat mempengaruhi hubungan ku dan Kak Reno. Tetapi untuk sesaat Ummah dapat merasa lega, karena sudah menikahkan diri ku dengan Kak Reno. Perlahan raut wajah kecemasan dan kegusaran yang menyelimuti paras Ummah memudar secara perlahan.


Ummah bersama Abi dan Enjid duduk di ruang keluarga sambil mengobrol, sementata Wirda sedang menidurkan Fariz di dalam kamar. Tidak berapa lama kemudian, Bik Inah datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman yang ia sajikan di atas meja.


Ummah segera mengambil secangkir susu jahe hangat yang Bik Inah buatkan untuknya. Dengan melafadzkan basmallah, Ummah menyesap susu jahe hangat dari cangkir.


Bik Inah lalu permisi untuk kembali ke dapur, setelah Ummah mempersilahkan nya.


Abi yang duduk dengan santai pun langsung membuka obrolan tentang diri ku dan Kak Reno.


"Menurut Abi, akan jauh lebih baik jika Rani dan Reno tidak tinggal di kota ini lagi. Setidaknya untuk menghindari pengaruh dan gangguan dari hal-hal juga orang-orang yang tidak menyukai hubungan mereka, " ujar Abi.


Enjid yang telah selesai meminum jahe hangatnya, pun ikut merespon akan ucapan yang telah di sampaikan oleh Abi.


"Enjid juga setuju dengan pendapat mu Nak.Kita tahu bagaimana selama ini Rani menjalani masa-masa sulitnya, dan kita semua menginginkan kebahagiaan untuk nya. Meskipun, berat rasanya jika harus membiarkan Rani berada jauh dari kita. Tetapi, demi kebahagiaan dan kebaikan nya, kita harus melakukan nya, " sahut Enjid sambil memandang Ummah.


"Dan kamu yang bisa menjelaskan juga melakukan hal itu kepada Rani, Putri, " ucap Enjid kepada Ummah.


Ummah pun mengangguk mengerti akan perkataan Enjid.


Belum sempat Ummah merespon perkataan Abi dan Enjid. Tiba-tiba, asisten rumah tangga yang lain datang ke ruang keluarga memberitahukan kedatangan Om Surya dan Bude Ayu yang ingin bertemu dengan diriku.


Ummah, Abi dan Enjid pun menjadi terkejut akan kedatangan mereka.


"Bagaimana ini Abi?, "tanya Ummah cemas.


Abi lalu meminta Ummah untuk bersikap tenang dan tidak usah cemas yang berlebihan. Sambil mendekati Ummah Abi pun berkata, " Ayo kita temui mereka Ummah, "ajak Abi dengan suara lembut.


Ummah masih terdiam dan tampak berpikir.


" Jika Ummah merasa cemas, biar Abi saja yang menemui mereka, "kata Abi.


Ummah menggelengkan kepalanya, " Tidak Bi,Ummah ikut bersama Abi. Tapi, apakah sebaiknya kita tidak menemui mereka saja Bi?, "tanya Ummah.

__ADS_1


Abi tersenyum sambil mengusap punggung Ummah perlahan," Tidak baik Ummah, jika kita tidak menemui mereka. Dimana kedatangan tamu harus kita muliakan, bukan?. "


Ummah mengangguk dengan senyuman nya yang berat. Lalu, mengikuti Abi dengan langkah beratnya menuju ruang tamu.


Dengan wajah tegang dan gelisah Ummah menyambut kedatangan Bude Ayu dan Om Surya, sembari mempersilakan mereka duduk kembali dan meminta asisten rumah tangga yang lain untuk membuatkan minuman.


Tanpa basa basi lagi Om Surya meminta maaf atas perlakuan mereka terakhir kali bertemu, hal serupa juga di katakan oleh Bude Ayu dengan wajah penuh bersalahnya.


Abi tersenyum dan mengatakan jika mereka dan seluruh keluarga tidak masalah akan hal itu, juga sudah melupakan semuanya yang telah terjadi.


Setelah meminta maaf, Bude Ayu menjelaskan keadaan putri Kak Roy yang sedang berjuang untuk kesembuhannya dan memerlukan kedatangan diriku untuk berada di dekat nya.


Berbicara lebih jauh lagi, Bude Ayu pun menyampaikan maksud keinginan hatinya yang lain, yaitu untuk meminta diri ku agar dapat menjadi ibu sambung bagi putri Kak Roy dan bersedia menikah dengan Kak Roy.


Bude Ayu berkata sambil menangis tersedu-sedu, karena ia tidak kuasa melihat keadaan adiknya Desi yaitu mama Kak Roy,Kak Roy dan putrinya berada dalam keadaan yang penuh nelangsa. Dengan sangat memohon Bude Ayu terus meminta dengan menangkupkan kedua tangannya di dada sembari menghadap Ummah dan Abi, agar dapat membujuk diri ku supaya mau menikah dengan Kak Roy.


DEG...


Jantung Ummah dan Abi berdegup kencang, mendengarkan perkataan Bude Ayu. Ummah dengan perlahan mendekati Bude Ayu dan memintanya untuk berhenti memohon dan menangis, karena Ummah merasa tidak enak dan nyaman. Tetapi Bude Ayu tetap bersikeras pada permintaannya.


Ummah dan Abi saling berpandangan satu sama lain, dengan perasaan yang tidak enak hati dan gelisah.


Ummah menganggukkan kepalanya perlahan pada Abi, untuk meminta suaminya berterus terang akan keadaan Rani saat ini. Karena Ummah sungguh tidak mampu untuk memberitahukan kabar ini pada Bude Ayu juga Om Surya, yang tentu akan menyakiti perasaan mereka.


Tetapi, bagaimana pun juga mereka harus tahu akan kebenaran yang sudah terjadi pada ku.


Bude Ayu dan Om Surya menunggu jawaban dari Abi , sembari menanyakan keberadaan diri ku.


Abi tersenyum dan masih bersikap tenang, sambil meminta Bude Ayu dan Om Surya untuk meminum minuman yang telah di sedia kan di atas meja. Namun, keduanya menolak dan ingin segera mengetahui jawaban dari Abi, atas maksud kedatangan mereka.


Abi yang semula tenang pun juga tampak gelisah dan bingung untuk mengatakan dan memulainya dari mana. Hingga tiba-tiba Enjid datang dan duduk di samping Abi. Lalu menjelaskan semuanya yang telah terjadi dengan perkataannya yang tegas dan santun.


"Jodoh itu memang hanya ada di tangan Tuhan. Tidak ada yang tahu siapa, kapan dan bagaimana orang akan menemukan jodohnya, oleh karena itu, manusia yang ingin segera mendapatkan jodoh hanya bisa berikhtiar mencarinya dan Tuhan adalah yang menentukan.


Dan banyak juga yang bertemu sebentar dan langsung menikah. Artinya bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mentakdirkan jodoh yang ideal baginya. Begitu pula yang terjadi pada Rani, putri kami, "jelas Enjid.

__ADS_1


Bude Ayu dan Om Surya saling memandang satu sama lain dengan wajahnya yang terlihat sangat bingung.


" Apa maksud perkataan bapak?, "tanya Bude Ayu menampakkan gurat wajah penuh kecemasan.


Ummah sedikit menundukkan kepala nya, sambil mengusap lembut punggung Bude Ayu, untuk membuat nya tenang.


Tetapi, kegelisahan Bude Ayu terus merajai ekspresi dirinya.


Enjid menghela napasnya, lalu meneruskan perkataannya.


" Tidak ada yang dapat menentang kehendak Nya. Begitu pula untuk takdir yang terjadi pada Rani. Tidak mengurangi rasa hormat kami kepada keluarga anda, dan kami haturkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya bahwa putri kami Rani tidak dapat menikah dengan Roy, "ucap Enjid.


" Tetapi kenapa Pak?, "tanya Bude Ayu dengan spontan dan sedikit keras.


Enjid tersenyum sambil melihat ke arah Bude Ayu dan Om Surya.


" Apakah keponakan saya Roy tidak baik untuk Rani?, "tanya Bude Ayu lagi dengan rasa kecewa.


Enjid pun berusaha menjelaskan lagi kepada Bude Ayu.


" Kami tidak dapat menentukan baik atau buruk seseorang untuk menjadi pendamping cucu saya Rani. Tetapi yang menentukan semau itu adalah hak nya Allah Subhanahu Wa Ta'ala, termasuk dengan jodohnya."


Bude Ayu semakin terus mengejar perkataan Enjid.


"Tolong pak! Jangan berputar-putar! Katakan ada apa yang sebenarnya, saya tidak mengerti akan ucapan bapak yang penuh konotasi, " ujar Bude Ayu sedikit marah.


Melihat ketegangan di wajah Bude Ayu. Abu segera mengambil alih pembicaraan dan menjelaskan semau yang terjadi kepada diri ku, termasuk pernikahan ku dengan Kak Reno yang sudah di langsung kan.


Dan betapa terkejut dan syoknya Bude Ayu juga Om Surya mendengar berita pernikahan ku, yang memantik kemarahannya dengan seketika.


Dengan kasar Bude Ayu segera menjauhkan tangan Ummah dari tubuh nya, dan meminta Om Surya untuk segera bergegas pulang dalam rasa kemarahan yang memenuhi rongga hatinya.


Dan sebesar apapun Ummah ingin menjelaskan, tetap saja Bude Ayu tidak peduli dan tidak ingin mendengarkan.


Abi, Ummah dan Enjid hanya dapat memandangi kepergian Bude Ayu dan Om Surya dengan tatapan penuh khawatir dan kecemasan.

__ADS_1


__ADS_2