
Untuk beberapa saat aku terbangun dan sedikit tersentak. Setelah mengetahui jika diri ku tertidur sambil mengenggam jemari tangan Kak Reno.
Ku lihat kondisinya saat ini yang masih tertidur dan belum terbangun.
Perlahan ku dekatkan jemari tangan ku mendekati wajahnya, dan ku letakkan di dekat hudungnya.
"Alhamdulillah, " ucap ku pelan penuh rasa syukur karena aku masih dapat merasakan hembusan napas Kak Reno.
Dan tiba-tiba terdengar suara pelan Kak Reno yang mengagetkan diri ku.
"Aku masih hidup Ran, dan aku tidak akan meninggal dengan semudah itu, " ucap Kak Reno pelan dengan mata terpejam.
Aku terkejut melihat dirinya, apalagi saat jemari tangannya menarik tangan ku. Hingga membuat tubuh ku memeluk dirinya.
"Apa yang kamu lakukan Kak Reno?, "tanya ku padanya.
" Sssst, pelan kan suara mu Rani. Teruslah seperti ini, seolah-olah diri mu sedang memeluk ku erat, "jawab Kak Reno sambil terus berbisik pelan pada ku.
" Apa maksud mu Kak Reno?, "tanya ku.
Kak Reno semakin mendekap tubuh ku dan mengenggam jemari tangan ku.
DEG... DEG..
Jantung ku kembali berdegup kencang tanpa dapat untuk hindari.
Aku semakin terhanyut dalam dekapan hangat Kak Reno, yang benar-benar membuat ku semakin merasakan sensasi kejutan listrik di sekujur tubuh ku.
Aku berusaha untuk melepaskan diri ku darinya, tetapi dengan cepat Kak Reno berkata.
" Diamlah Rani, dan nikmati kebersamaan kita. Karena dengan cara seperti ini aku dapat berkomunikasi dengan mu. Aku masih berpura-pura tidak sadarkan diri saat ini. Supaya aku dapat mencari celah untuk kita keluar dari tempat ini, "bisik Kak Reno pada ku.
Aku terdiam mendengarkan suaranya yang menggema dan menembus lapisan indra pendengaran ku.
Bulu roma ku tetap merinding, meskipun hijab sudah menutupi kepala ku. Tetapi, hembusan napasnya yang hangat terus mengalir mengetarkan setiap aliran nadi ku.
" Ran, "panggil Kak Reno pelan.
" Iya, "jawab ku.
" Mengapa engkau diam?. Apakah pelukan ku begitu sangat hangat, hingga engkau begitu menikmatinya?, "goda Kak Reno pada ku.
Mendengarkan ucapan nya, aku pun segera berusaha melepaskan diri ku darinya.
Tetapi tangan Kak Reno menahan tubuh ku.
" Aku hanya bercanda Rani. Tolong jangan marah atau pun kesal pada ku. Karena hanya diri mu yang menguatkan diri ku saat ini, "ucap Kak Reno pelan.
" Baiklah, kalau begitu jangan bercanda. Kita harus memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini. Dimana kamar ini pun sudah terpasang CCTV yang terus mengawasi pergerakan kita, Kak Reno, "kata ku.
" Iya aku tahu Ran. Oleh sebab itu, aku meminta mu untuk memeluk ku. Agar kita dapat berbicara, sekaligus melepaskan rasa rindu ku padamu. "
"Jangan mulai lagi Kak Reno. Di saat kita sedang berada dalam bahaya seperti ini. Engkau malah masih tetap bercanda saja, " gumam ku sedikit kesal.
"Aku tidak bercanda Ran, aku serius. Aku benar-benar merindukan mu. Pelukan mu ini setidaknya mengobati dan memberikan kekuatan untuk ku saat ini.
Apakah engkau tidak merindukan ku Ran?, " tanya Kak Reno lagi pada ku.
"Kak Reno, ku mohon serius lah, " bisik ku pada telinga nya dan ia semakin mendekap tubuh ku erat.
__ADS_1
Ughhh.
Getaran yang luar biasa menjalar semakin kuat dalam raga ku. Letupan-letupan gemuruh perasaan yang seakan-akan tidak dapat ku kendalakan.
Saat ujung indra penciuman nya mengenai pipi ku dan bermain di atasnya.
Hati ku seakan terbakar dalam nyala panas cinta Kak Reno.
Untuk beberapa saat aku dan Kak Reno terdiam dalam kebersamaan kami yang begitu membius perasaan hati masing-masing.
Aku semakin tenggelam dalam dekapan hangat nya, dan tanpa ku sadari jiwa ku seakan terus menikmati sentuhan lembut bibirnya yang bermain di wajah ku.
"Aku mencintai mu Ran dan aku sangat merindukan mu, " bisik Kak Reno beruang kali pada diri ku.
Aku terdiam dan tidak membalas ucapan nya, meskipun diri ku berusaha untuk sekuat mungkin menjauh darinya. Tetapi aku tidak kuasa menolak dekapan nya.
"Biarkan Ran. Tolong biarkan tubuh ini merasakan hangatnya pelukan mu. Aku ingin dekat dengan mu Ran, dan menumpahkan sedikit rasa rindu yang terus bergejolak di hati ku."
Tidak lama kemudian, lampu di ruangan tempat ku dan Kak Reno mati.
Aku pun terkejut dan tersentak.
"Ya Allah, lampunya mati Kak Reno, " ucap ku pelan dan berusaha untuk melepaskan diri darinya.
"Iya aku tahu Ran, " jawabnya dan terus menarik tubuh ku semakin dekat padanya.
Semakin dekat dan hangat, ku rasakan hembusan napas Kak Reno yang menyapu wajah ku berulang kali.
Dimana dapat ku rasakan irama napasnya yang tersenggal-senggal.
Wajah kami begitu dekat dalam kegelapan ini. Namun, sorot matanya yang bercahaya dalam remang malam masih dapat ku lihat.
Tubuh ku terasa lemas dan seakan tidak berdaya dalam sentuhan lembut Kak Reno.
Tangan nya memegang wajah ku. Dimana hembusan napas ku dan Kak Reno menjadi satu. Hati semakin bergemuruh dalam irama napas yang tidak menentu.
Basah, lembut dan penuh gairah.
Kak Reno berulang kali mengecup dan mencumbu ku.
Alam seakan terus berusaha untuk menyatukan kedekatan kami.
Secara pelan namun pasti.
Tidak lama lampu di ruangan ini menyala lagi. Kak Reno meminta ku untuk segera berpura-pura tidur sambil memeluk dirinya.
Dan benar saja tidak lama setelah lampu menyala, pintu di ruangan ini pun terbuka.
Aku sedikit melirik untuk melihat siapa yang datang. Ternyata sosok berjubah hitam dan wanita yang menutup wajahnya, di ikuti dua orang laki-laki bertubuh besar.
Dengan tatapan penuh kebencian sosok berjubah hitam itu mendekat ke arah ku dan Kak Reno.
Dia terdiam sesaat memandangi kedekatan ku dan Kak Reno.
Lalu, tiba-tiba ia melemparkan barang-barang ke lantai dengan rasa amarah dan kesalnya.
Aku terkejut dan ingin segera bangun.
Tetapi Kak Reno menahan diri ku dan berbisik.
__ADS_1
"Tetap diam dan berpura-pura tidur Ran. "
Aku pun akhirnya diam dan menuruti apa yang di minta Kak Reno.
"Ada apa bos?. Apa yang terjadi?," tanya laki-laki bertubuh besar itu pada sosok berjubah hitam itu.
Tetapi sosok berjubah hitam itu tidak berkata apa pun, dan terus melemparkan barang-barang ke lantai dengan keras.
Tidak lama kemudian.
Ia pun berteriak dengan keras.
Arrghhhh.
Aku semakin takut mendengar nya, tetapi Kak Reno meminta ku untuk diam.
Semakin sosok berjubah hitam itu melihat kedekatan ku dan Kak Reno. Dia akan semakin marah dan melemparkan sesuatu ke lantai.
Kemudian, wanita yang menutup wajahnya itu. Segera menarik tangan sosok berjubah hitam itu untuk keluar dari ruangan tempat ku dan Kak Reno berada.
Awalnya ia menolak, tetapi setelah wanita yang menutup wajahnya itu terlihat kesal dan marah akan sikap sosok berjubah hitam itu. Membuat dirinya berteriak keras.
"Hentikan, sikap mu itu!. Ayo sekarang ikut dengan ku, " pekik wanita yang menutup wajahnya itu sambil menarik tangan sosok berjubah hitam keluar dari ruangan ini.
Bruaakkk.
Pintu tertutup dengan keras, lalu mereka menguncinya dari luar.
Aku segera berbisik pada Kak Reno.
"Mereka sudah keluar Kak Reno. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?, " tanya ku padanya.
"Tetaplah terus memeluk ku seperti ini, Ran, " jawab Kak Reno.
"Kak Reno, ku mohon jangan bercanda. "
Terdengar tawa lembut dan pelan Kak Reno tepat di telinga ku.
"Iya Ran. Kita harus merusak CCTV itu terlebih dahulu, " ucap Kak Reno.
"Tetapi bagaimana caranya Kak Reno?, " tanya ku.
Kak Reno semakin memeluk ku erat.
"Berikan aku satu lagu ciuman di pipi ku. Maka aku akan memberi tahu caranya pada mu Ran, " goda Kak Reno lagi pada ku.
"Kak Reno, " ucap ku sedikit kesal.
"Iya Rani sayang, " sahut Kak Reno.
Tidak lama kemudian, lampu di kamar ini pun mati lagi.
Dengan cepat Kak Reno langsung mencium pipi dan kening ku lagi.
"Ini saat Ran. Kamu tetap berjaga di sakelar dan usaha kan agar lampu nya tetap mati. Selama aku merusak CCTV itu, " pinta Kak Reno pada ku.
Aku pun mengangguk.
Kak Reno segera bangun dan melepas selang infus dari tangannya, lalu segera menaikki meja dan merusak CCTV.
__ADS_1
Sementara itu, aku tetap berjaga-jaga di bawah dan melihat keadaan di sekitar.