Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
pilihanku.


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Pak Budi sudah tiba di halaman parkir kediaman keluarga Imandar. Terlihat wajah tegang dan bahagia yang tergambar dalam samar pada paras Ustad Fariz. Secara perlahan Pak Budi dan Ustad Fariz turun secara bersamaan, langkah kaki mereka dengan segera menuju ke ruang tamu dimana Ummah, Abi dan Enjid sedang menunggu.


"Assalamu'alaikum, " ucap Ustad Fariz dan Pak Budi secara bersamaan.


Semua orang yang berada di ruang tamu pun menjawab salam yang diucapkan oleh Pak Budi dan Ustad Fariz, "Wa'alaikumussalam Warohmatulohi Wabarokatuh. "


Ustad Fariz menyalami dengan mencium tangan Ummah, Abi dan Enjid secara bergantian. "Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah tiba di rumah nak, " ucap Ummah terlihat senang.


"Kenapa kalian berdua agak telat dan lama sampai di rumah? Apakah ada sesuatu dengan Nak Roy?, " tanya Enjid memandang ke arah Pak Budi dan Ustad Fariz secara bergantian.


Pak Budi tersenyum meringgis dan duduk tidak jauh dari Enjid duduk, sedangkan Ustad Fariz duduk di samping Ummah.


"Saat kami pulang Nak Roy masih dalam pemeriksaan dokter Njid, tetapi saat saya dan Nak Fariz ingin turun menunju tempat parki tiba-tiba kami berdua di kejutkan oleh kehadiran Ibunda nya Nak Aisyah, " ucap Pak Budi.


Ummah pun terlihat tidak senang akan berita yang disampaikan oleh Pak Budi, "Mau apa lagi ibunya Aisyah menemui kalian Pak Budi?Apakah ada hal yang ia katakan?."


Pak Budi menunjukkan ekspresi wajah tidak nyaman akan pertanyaan dari Ummah. Di dalam hati Pak Budi ada penyesalan mengapa ia mengatakan bertemu dengan ibunda Kak Aisyah.


Ummah menatap Pak Budi serius dan menunggu Pak Budi menjawab pertanyaan darinya, tetapi Pak Budi seketika terdiam.


"Pak Budi kok malah diam , " ucap Ummah.


Pak Budi pun tersentak, "Akh, itu Bu Putri hanya... hanya. "


Pak Budi terlihat gugup dan terbata.


Melihat keadaan Pak Budi yang demikan, akhirnya membuat Ustad Fariz yang menjelaskan kepada Ummah.


"Tidak apa-apa Ummah, ibunda Ukhti Aisyah hanya ingin Fariz menemui Ukhti Aisyah, " jelas Ustad Fariz sambil megenggam tangan Ummah.


Ummah terlihat cemas memandang Ustad Fariz, "Lalu apakah kamu menemui Aisyah, nak?."


Ustad Fariz menggelengkan kepalanya, "Tidak Ummah. Fariz dan Pak Budi langsung bergegas pulang, sesuai permintaan dari Ummah. "


Ummah tersenyum kecil dengan raut wajahnya yang terlihat lega sembari menepuk pelan wajah putra sulungnya itu.


Sementara Pak Budi juga merasa lega karena terbebas dari cecaran pertanyaan Ummah.


Abi yang sejak tadi menyimak perbincangan semuanya, kini mulai ikut bertutur mengenai hal pernikahan Ustad Fariz dan diriku.


"Baiklah kalau begitu, segera kita segerakan pernikahan antara Fariz dan Rani. Oh ya Fariz apakah kamu setuju jika menikah pada hari ini juga dengan Rani?, " tanya Abi serius.


Ustad Fariz tersenyum, "InsyaAllah kapanpun waktunya Fariz sudah siap Bi. Lalu bagaimana dengan Dek Rani, apakah ada yang bertanya kepadanya?."


Ummah menepuk pundak Ustad Fariz pelan, "Tenang saja Nak, Ummah akan berbicara dengan Rani selepas ini. "


Ustad Fariz pun mengangguk, "Baiklah Ummah, tetapi Fariz minta Ummah jangan memaksa Dek Rani jika memang Dek Rani belum siap untuk menikah dengan Fariz hari ini juga maka tidak apa-apa Ummah. Biarkan Dek Rani sampai ia benar-benar siap. "


Ummah tersenyum memandang ke arah wajah Ustad Fariz, "Baiklah nak. "


Kemudian Ummah berdiri dari duduknya dan berpamitan kepada semua orang yang ada di ruang tamu untuk menuju ke kamarku.


***

__ADS_1


Aku masih duduk di beranda bersama Bik Siti menikmati coklat hangat sembari mengobrol akan banyak hal. Tidak lama kemudian, Ummah sudah tiba di dekat ku dan Bik Siti.


"Hmm, rupanya kalian berdua disini. Dari tadi Ummah memanggil tidak ada yang jawab. Sehingga Ummah langsung saja kemari saat mengetahui pintu kamar Rani tidak terkunci. Apakah Ummah menganggu Rani?, " tanya Ummah kepadaku.


Aku mengangguk dan tersenyum kecil kepada Ummah, "Tidak menganggu kok Ummah. Ada apa Ummah?. "


Ummah tersenyum sambil berjalan dan menarik kursi untuk duduk tepat di hadapan ku. Sementara aku dan Bik Siti hanya mengamati apa yang Ummah lakukan. Setelah Ummah duduk tepat di hadapnku, secara perlahan Ummah mengenggam kedua jemari tanganku. Dimana pandangan mataku dan Bik Siti menatap serius ke paras wajah Ummah.


"Sayang, " panggil Ummah padaku.


"Iya Ummah, " jawabku dengan nada sedikit tegang.


"Ada sesuatu yang ingin Ummah katakan kepada Rani. Apa boleh Ummah mengatakannya?, " tanya Ummah memandangi wajahku.


Dengan wajah yang serius dan penuh ketegangan aku pun menganggukkan sedikit kepalaku, "Iya Ummah katakan saja, apa yang ingin Ummah katakan kepada Rani. "


Ummah terlihat senang dengan sedikit membuat lekukkan senyum simpul di kedua pipi nya, "Sayang, apakah kamu siap untuk menikah dengan Fariz hari ini juga memenuhi permintaan Ummah. "


DEG...


Hatiku langsung berdebar, "Hari ini juga Ummah? Mengapa mendadak Ummah?."


Ummah beralih memegangi pipiku, "Tidak mendadak sayang, ini adalah permintaan Ummah demi menjaga dari berbagai pengaruh dari hal yang tidak Ummah inginkan yang dapat menganggu pernikahan kalian. Oleh sebab itu, Ummah meminta Rani dan Fariz menikah pada hari ini juga, sayang. Bagaimana nak?Apakah Rani setuju memenuhi permintaan


Ummah?."


Untuk beberapa saat aku pun terdiam sesaat untuk berpikir dan mencerna apa yang Ummah katakan kepada ku, dan Ummah juga Bik Siti terlihat memandangi wajahku sembari menunggu lisanku menjawab pertanyaan yang telah Ummah sampai kan kepada diriku.


Pandangan ku menatap Ummah dengan menghela napas dalam-dalam.


Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu, kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi Keputusan yang sebaik-baiknya, " ucapku lirih.


Ummah menatap diriku serius, "Bagaimana keputusan mu sayang?. "


"Bismillah, InsyaAllah Rani siap menikah dengan Ustad Fariz hari ini juga Ummah, " kataku.


Ummah tersenyum senang dan memeluk tubuhku erat, "Barokallah Fiik sayang. Semoga Alloh memberkahimu . "


"Wa Fiik Barokalloh.Dan juga keberkahan Allah untuk Ummah, " balas ku.


Ummah tersenyum senang, "Baiklah jika begitu, Ummah segera mempersiapkan perlengkapan pernikahan kalian ya nak. "


Ummah lalu memandang ke arah Bik Siti, "Bik saya titip Rani ya Bik. "


"Baik, Bu Putri, " jawab Bik Siti.


Setelah itu, Ummah segera turun ke ruang tamu untuk memberikan berita bahagia ini kepada Ustad Fariz, Abi dan Enjid juga Pak Budi.


Kabar yang Ummah sampaikan ini pun sungguh membuat semua orang bahagia dan dengan segera Abi, Ummah, Enjid dan dibantu dengan Pak Budi serta beberapa asisten rumah tangga mereka menyiapkan dengan cepat semua dekorasi kilat untuk acara ijab qabul antara diriku dan Ustad Fariz.


***


Bik Siti memegang jemariku, "Nak Rani sudah yakin akan keputusan yang nak Rani pilih saat ini?. "

__ADS_1


"InsyaAllah, iya Bik Siti, " jawabku.


Bik Siti tersenyum, "Alhamdulillah, jika memang Nak Rani sudah yakin akan keputusan yang sudah Nak Rani ambil. Bibi berharap semoga apa yang telah Nak Rani putuskan adalah pilihan terbaik sekaligus membawa keberkahan bagi Nak Rani dan semua. Bibi hanya berharap dan berdoa semoga Nak Rani senantiasa dilimpahkan dengan kebahagiaan ya nak. "


Aku tersenyum, "Aamiin ya Rabb, Terima kasih banyak ya Bik. "


"Sama-sama Nak, " ucap Bik Siti.


Tidak lama kemudian, Ummah sudah masuk kembali ke kamarku dengan membawa penata rias dan juga pakaian yang akan aku kenakan di acara ijab qabul.


"Ayo sayang lekas bersiap-siap, " ajak Ummah sambil menarik tanganku lembut.


Aku pun langsung berdiri dari duduk ku dan mengikuti langkah kaki Ummah.


"Rani membersihkan diri terlebih dahulu ya nak sebelum dirias, " ucap Ummah.


Aku pun mengangguk dan segera menuju kamar mandi. Sementara Ummah dan yang lainnya mempersiapkan gaun pengantin untuk acara akad nikah.


Dan di dalam rumah pada ruang tamu yang biasa digunakan untuk menjamu keluarga terdekat dalam jumlah yang banyak karena ukirannya begitu besar, sangat luas dan representatif di keluarga Ustad Fariz,pun sudah tampak beberapa orang yang sedang mendekorasi ruangan tersebut dengan nuansa serba putih dengan konsep minimalis tetapi terlihat nuansa mewahnya.Warna putih pada inspirasi dekorasi akad nikahku dan Ustad Fariz dipilih langsung oleh Ummah.Menurut Ummah warna putih pada acara akad nikah akan dapat memberikan kesan mewah dan juga melambangkan suci, bersih serta elegan.Terlihat backdrop berwarna putih,ditambah tirai dengan warna senada di kedua sisinya dengan penataan hiasan bunga berwarna putih, pastel, soft grenn yang masih segar dan harum dan terdapat namaku dan nama Ustad Fariz yang terletak pada tengah backdrop dengan warna gold.


Akad nikah yang digelar akan mengusung konsep lesehan, dimana terdapat ukuran meja akad nikah bundar berukuran kecil sebagai tempat prosesi akad, seperti ijab kabul, tanda tangan buku nikah, dan lain-lain juga terdapat bantal khusus sebagai alas duduk. Kesemuanya itu terletak pada karpet berwarna senada dengan ornamen terkuat dan di tata dengan sangat manis ditambah pot dengan bunga cantik yang masih segar dan harum sebagai hiasan di meja akad .Sehingga menghasilkan latar dekorasi yang terlihat sangat bagus.


Dengan cepat beberapa orang tersebut sudah selesai mendekorasi tempat berlangsungnya akad nikah yang sebentar lagi akan dilangsungkan secara intimate dan hanya dihadiri oleh keluarga terdekat dari keluarga Ustad Fariz saja, sengaja Ummah, Abi dan Enjid meminta tidak terlalu banyak tamu yang hadir agar acara ijab qabul yang dadakan ini lebih bermakna dan sangat sakral.


Sementara di dalam kamar jemari tanganku masih dihias dengan henna berwarna putih dimana motifnya menyebar dari punggung tangan hingga lengan bawah. Pelukis henna dengan fokus membuat garis yang mengelilingi jari-jari, lalu membuat garis yang menyambung ke lengan bawah dengan begitu cekatan dan terampil. Kemudian,ia memberikan motif-motif indah di sekitar garis untuk meramaikan hiasan henna di tangan ku. Tidak perlu menunggu waktu yang lama pengaplikasian henna putih ini langsung cepat kering setelah menyentuh kulit.


Selanjutnya, dibantu Ummah, Bik Siti dan penata rias aku mulai menggenakan gaun untuk acara ijab qabul. Ummah memilihkan gaun putih dengan payet di seluruh bagian. Ummah tersenyum memandangi diriku, "Gaun ini akan tampak sangat indah dikenakan saat putri Ummah menggunakannya."


Dengan tetap menjaga kesyari'ian dalam gaun yang ku kenakan.Ummah tetap memadukan gaun yang kupakai dengan kerudung yang menjuntai menutupi dada. Kemudian untuk membuat penampilan lebih tegas, Ummah telah mempersiapkan wedding veil senada dengan warna gaun yang ku kenakan, yang memiliki aksen bordir untuk ku kenakan ditambah dengan menggunakan aksesoris mahkota yang diletakkan pada bagian atas hijabku.


"MasyaAllah Tabarakallah. Putri Ummah mendapatkan tampilan yang berkelas bak putri kerajaan!, " puji Ummah.


Aku tersipu malu dan hanya tersenyum kecil mendengar apa yang Ummah katakan.


Begitu pula Bikin Siti yang terlihat begitu sumringah dan senang sekali menatap diriku, "MasyaAllah, bibi sampai pangling melihat Nak Rani."


Aku masih terdiam dengan senyuman kecil menghias wajahku tanpa ada suara yang keluar dari bibirku.Perasaan ku tiba-tiba berdegup kencang dalam tarikan napas yang dalam sehingga membuat ketegangan di dalam diriku semakin menguat.


Ummah memegang pundakku pelan, "Sayang Ummah turun dulu ke bawah untuk mengecek dan melihat keadaan ya nak. Sampai Fariz selesai mengucapkan ijab qabul dengan penghulu kamu tetap disini di temani Bik Siti ya sayang. "


Aku menganggukkan kepalaku untuk merespon perkataan Ummah.


Tidak lama Ummah pun turun bersama penata rias yang memake up diriku. Setelah itu, aku duduk dengan tenang sembari berdzikir untuk menghilangkan rasa ketegangan yang ada dalam diriku. Sementara itu, Bik Siti sedang mengganti pakaiannya yang telah Ummah juga siapkan untuk Bik Siti.


Dari kamar tempatku berada hampir tidak terpengar suara gaduh di bawah, hanya sesekali secara samar pantulan akan lantunan ayat suci terdengar nyaring lalu pelan. Dalam diamku, pandangan mataku sesekali melihat pantulan akan refleksi diriku di cermin datar yang tidak jauh dari tempat ku berdiri.


Aku kembali larut dalam pikiranku.


Bunda, hari ini Rani akan menjalani kehidupan Rani yang baru bersama laki-laki yang telah Allah pilihkan dan jodohkan untuk Rani. Semoga apapun yang telah menjadi pilihan akan keputusan dari Allah akan membawa keberkahan untuk hidup Rani dan semua orang, ucapku di dalam hati penuh dengan rasa harus yang hampir membuat air mataku akan jatuh menetes, tetapi dengan cepat aku pun menyekanya dengan tisu yang ada di dekat ku.


Tidak lama kemudian Bik Siti pun telah selesai mengganti pakaiannya dengan gamis berbalut hijab, setelah itu Bik Siti memoles sedikit wajahnya dengan mengangkat hijab yang menghiasi kepalanya. Setelah ia rasa penampilan nya terlihat cukup baik. Bik Siti pun berjalan di dekat diriku dan duduk di samping ku, sambil sesekali melemparkan guyonan kecil yang membuat diriku tertawa melepas akan rasa ketegangan yang hilang timbul menyeruak di hati dan pikiran ku.


Ughhh.. aku menarik napas panjang dan dalam secara berulang-ulang, dan Bik Siti tidak henti-hentinya terus menggoda diriku dengan candaannya yang menggelitik dan membuat ku terus tersenyum ceria.

__ADS_1


Bik Siti seakan tahu jika saat ini , hatiku dan pikiranku merasakan ketegangan menunggu pengucapan ijab qabul antara Ustad Fariz dan penghulu.


__ADS_2