
Di temani Ummah aku pun masuk ke dalam ruang IGD untuk melihat kondisi Kak Reno.
Benar, apa yang dokter katakan.
Jika Kak Reno saat ini belum tersadar dan masih terbaring di atas ranjang pasien. Dengan selang infus dan tabung oksigen yang terpasang pada tubuhnya.
Iba dan miris hati ku melihat keadaannya. Tetapi, ini jauh lebih baik untuk Kak Reno dari pada melihat keadaannya yang sebelumnya.
Dokter mengatakan kepada ku. Untung Kak Reno cepat di bawa ke rumah sakit, jika terlambat sedikit saja. Kemungkinan besar ia sudah pergi dari dunia ini. Karena lukanya yang telah terinfeksi dan belum di tangani dengan baik sebelumnya.
Namun, kali ini aku dapat bernafas dengan lega. Karena dapat melihat keadaan Kak Reno yang sudah membaik dari sebelumnya.
Aku memandangi wajahnya lekat dan dalam.Dimana pandangan mata ku seakan tidak ingin berpaling darinya.
Ummah mengusap kepala ku pelan dan berkata.
"Jika setelah ini keadaan Reno membaik. Ummah meminta kalian, untuk segera meninggalkan kota ini sayang. Demi kebaikan kalian berdua, karena kita tidak pernah akan tahu. Orang-orang yang hendak mencelakai kalian berdua akan kembali lagi. "
Aku pun hanya diam mendengarkan perkataan Ummah, sembari terus memandang wajah Kak Reno yang masih terpejam.
Ummah kemudian keluar dari ruangan IGD dan meninggalkan ku berdua saja dengan Kak Reno.
Aku masih menatap wajah Kak Reno lekat, dimana pandangan mata ku seakan tidak ingin menjauh pergi darinya.
Tanpa ku sadari air mata ku pun menetes pelan dan akhirnya deras.
Sesuatu hal buruk yang tidak pernah sama sekali, ku harapkan terjadi pada Kak Reno.
Meskipun setelah apa pun yang ia perbuat sebelumnya kepada ku. Hati ku seakan tidak peduli dan terus mengkhawatirkannya.
Ku pegangi jemari tangannya dengan lembut dan pelan.
Sesekali ku genggam jemarinya dengan kedua tangan ku erat. Dimana kedua mata ku terpejam bersamaan dan mengharapkan kesembuhan juga kesehatan untuknya.
"Syafakallahu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa 'afaka fi dinika wa jismika ila muddati ajalika.
Wahai Kak Reno. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyembuhkan mu, mengampuni dosa mu, dan mengafiatkan mu dalam hal agama serta fisik mu sepanjang usia.
As-alullaahal 'azhiima rabbal 'arsyil 'azhiimi an-yasyfiyaka.
Aku memohon kepada Allah yang Agung, Tuhan pemilik 'Arsy yang megah agar menyembuhkanmu.
__ADS_1
Aamiin ya rabbal'alamiin, " ucap ku dengan penuh pengharapan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dan perlahan ku rasakan gerakan pelan dari jemari tangan Kak Reno yang menyentuh tangan ku.
Aku terperanjat dan segera membuka kedua mata ku untuk melihat keadaan Kak Reno.
Tetapi di luar dugaan ku.
Ternyata Kak Reno telah terbangun dari ketidaksadarannya, dan memandangi diri ku dengan wajahnya yang masih terlihat pucat juga lesu.
Bibirnya mengembang senyum kecil pada ku dan memanggil nama ku.
"Rani, " panggilnya lembut.
Aku pun mengangguk dengan linangan air mata yang masih membasahi pipi ku.
Kak Reno menatap ku begitu dalam dan menarik jemari tangan ku perlahan.
Kemudian ia genggam erat jemari tangan ku dan meletakkannya pada dadanya.
"Jangan menangis Ran.Aku tidak akan pernah mampu untuk melihat air mata mu, " ucap nya lirih dengan terus mengenggam jemari tangan ku.
Aku menyeka air mata ku dan mengatakan kepadanya. Bahwa diri ku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan nya. Namun, Kak Reno menolaknya.
"Tetapi dokter harus memeriksa keadaan mu Kak Reno, " bantah ku.
Kak Reno menggelengkan kepalanya dan seakan tidak peduli dengan apa yang aku katakan kepada dirinya.
Dengan perlahan ia memejamkan kedua matanya dan terus menggenggam jemari tangan ku dengan erat dan kuat.
Kak Reno terus menikmati kebersamaannya dengan diri ku. Pada hal aku sangat mengkhawatirkan kondisinya.
Dengan mata nya yang terpejam Kak Reno pun berkata, "Selama engkau berada di sisi ku Rani. Aku akan tetap kuat dan bertahan untuk melanjutkan kehidupan ku, sebab hanya engkaulah satu-satunya alasan ku tetap hidup hingga sekarang. "
"Jangan berkata seperti itu Kak Reno. Bagaimana pun juga dokter harus memeriksa lagi keadaan mu saat ini. Aku sangat mengkhawatirkan diri mu Kak Reno," kata ku.
Kak Reno membuka kedua matanya dan melepaskan tabung oksigen yang menutupi mulut nya.
Aku mencegahnya, tetapi ia tetap melakukan nya dan meminta ku untuk tetap diam.
Pandangan mata kami pun bertemu dan bertumpu dalam.
__ADS_1
"Mengapa engkau sangat mengkhawatirkan diri ku Ran?. Apakah karena engkau mulai mencintai diri ku?, " tanya Kak Reno dengan tatapan nya yang tajam dan serius.
Glekk.
Aku tersentak kaget akan pertanyaannya.
Lidah ku keluh dan tidak dapat berkata apa pun. Kemudian, aku berusaha menghindari nya dengan bangun dari duduk ku dan hendak beralasan untuk memanggil dokter.
Namun, sebelum aku dapat pergi menjauh darinya. Jemari tangan nya menarik tubuh ku kuat. Dan membuat diri ku jatuh tepat di dadanya. Kedua mata kami bertemu lagi dan dekat.
Dimana wajahnya begitu dekat dengan diri ku. Perlahan dan pelan jemari tangan nya merengkuh tubuh ku dalam dekapan nya.
Dimana bibirnya berbisik lembut pada ku.
"Aku mencintai mu Rani. Dan bagaiamana dengan perasaan mu pada ku?. "
Aku diam dan terus diam, dalam dekapan nya yang membuat diri ku merasakan perasaan debar yang semakin tidak menentu.
Setelah beberapa menit aku dan Kak Reno tenggelam dalam perasaan. Dengan segera aku pun berusaha untuk melepaskan diri ku dari dekapan nya.
Tentunya dengan bersusah-payah.
"Kak Reno tunggu sebentar di sini. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan mu dan akan segera kembali lagi, " kata ku kepada dirinya dengan berusaha melepaskan genggaman tangan ku darinya.
Namun, Kak Reno seakan tidak ingin membiarkan diri ku untuk pergi, bahkan menjauh darinya.
Aku menghela napas pendek dan memandangi nya.
"Aku mohon Kak Reno. Jangan bersikap seperti ini. Bagaimana pun juga, dokter harus memeriksa keadaan mu lagi. Ku mohon mengerti lah, " pinta ku pada nya.
Kak Reno menggeleng kan kepalanya dan terus menggenggam jemari tangan ku dengan semakin erat.
Aku pun menjadi sedikit kesal akan sikapnya.
Tetapi tiba-tiba Ummah masuk bersama Abi dan juga dokter.
Kak Reno tersenyum pada ku dah berkata.
"Bahkan Tuhan pun tahu Rani. Jika engkau memang tidak di perbolehkan menjauh dari ku. Meskipun itu hanya sedetik saja, " ucapnya sambil tersenyum pada ku dengan tawanya yang bahagia.
Aku menghela napas ku lagi dan melepaskan genggaman tangan Kak Reno dari jemari ku.
__ADS_1
Sebelum Ummah, Abi dan dokter semakin mendekat ke arah kami.