Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kehadiran Kak Roy


__ADS_3

"Stop...stop...berhenti...berhenti...,"teriakku pada Kak Roy.


Aku berusaha menghentikan Kak Roy untuk tidak memukuli Kak Reno.


Namun,usahaku sia-sia belaka.


Hingga tubuhku terdorong dan jatuh di atas podium wedding.


"Auwwwww......aduhhhh,"teriakku kesakitan.


Setelah mendengar teriakkanku Kak Roy tiba-tiba menghentikan pukulannya kepada Kak Reno.


Ia segera bergegas membantuku.


Tetapi,aku menolaknya dan berusaha menjauh darinya.


Melihat sikapku Kak Roy seperti kecewa dan terkejut.


"Ran, ini kakak.Apakah Rani sudah melupakan kakak?,"ucapnya lembut dan pilu.


"Tidak kak,kamu bukan Kak Roy yang dulu ku kenal.Kak Roy yang kukenal tidak seperti ini.Dia tidak menyukai kekerasan.Kak Roy yang ku kenal sangat baik dan tidak sekejam ini,"ucapku sambil berusaha berdiri sempoyongan.


Melihatku akan terjatuh lagi ia dengan sigap ingin menolongku.


Tetapi aku menolaknya kembali.


"Tidak jangan mendekat kak,"ucapku sambil membuka lima jari tanganku untuk membuatnya berhenti.


"Tetapi Ran...,"ucapnya resah.


Kulihat sekelilingku banyak para tamu menyaksikan.


Sementara Kak Reno terlentang di atas podium wedding bersimbah darah.


Aku ingin menolongnya tetapi Kak Roy menghentikan ku.


"Jangan Ran....jangan kau bantu dia.Reno pantas mendapatkannya,"ucap Kak Roy melarangku.


Aku menoleh ke arahnya dengan wajah penuh pertanyaan pada Kak Roy.


"Apa?Kenapa Kak Reno pantas untuk dipukuli seperti ini?Apa kesalahannya kak?,"tanyaku pada Kak Roy.


Kak Roy menatapku dengan wajah berkaca-kaca dan lusuh.


"Ikutlah dengan kakak Ran.Nanti akan kakak jelaskan semuanya padamu.Tetapi,kakak mohon Rani pergi dari sini.Jauhi keluarga Reno.Kakak mohon Ran.Ayo!,"ucapnya sambil menyodorkan tangannya mengajakku pergi.


"Hah?Apa yang Kak Roy katakan?Seharusnya Kak Roy yang pergi dari sini dengan datang secara tiba-tiba dan langsung memukul Kak Reno tanpa sebab,"ucapku gemetar.


Kak Roy tertegun menatapku lama.


"Ada sebabnya Ran,kakak melakukan semua ini,"jawabnya tertunduk lesu menatapku.


"Lalu apa alasannya?,"cecarku pada Kak Roy.


"Itu karena kakak sangat mencintaimu Ran dan Kakak tidak ingin engkau terluka dan terus terluka,"Kak Roy menjelaskan padaku.


"Kamu egois kak.Hanya karena kakak mencintaiku lalu kakak melampiaskan semua kekecewaan dan amarahmu pada Kak Reno sampai menyakiti fisiknya.Kamu begitu jahat Kak Roy,"teriakku.


"Terserah apa yang Rani pikirkan tentang kakak tetapi sungguh Ran,Reno tidak pantas dan sangat tidak pantas mendapatkan dirimu,"ucapnya tegas penuh amarah.


"Ran....Rani.....,"ucap Kak Reno memanggil namaku pelan.


Melihatnya terbujur bersimbah darah aku kasihan dan mendekatinya.Dan lagi Kak Roy berusaha melarangku.


Namun,kali ini usahanya sia-sia hingga polisi datang dan membawanya pergi.

__ADS_1


Ia meronta sambil berteriak memanggil namaku.


"Ran...Rani....dengarkan kakak.Pergilah dari keluarga Suprapto.Jauhi mereka.Pergilah Ran....kakak mohon.Jangan percaya pada mereka...mereka semua pendusta....,"teriaknya memecah keramaian.


Dengan tangan di borgol dan di seret dua aparat kepolisian Kak Roy pergi.


Wajahnya begitu pilu dan kusut.


Sungguh aku kasihan melihatnya.


Namun aku bingung harus melakukan apa.


Sementara itu ambulans datang dan membawa Kak Reno pergi.


Kulihat Bu Sri menangis terisak melihat kondisi putranya.


Aku terpaku melihat semua kejadian ini.


Dan secara tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tanganku.


Aku kaget dan tersentak.


Saat kulihat ternyata Wirda.


"Wir,kamu dari mana saja?," tanyaku cemas.


Wirda menatapku takut dan bingung.


"Ran,sebenarnya ini yang ingin ku katakan.Menjauhlah dari keluarga Kak Reno Ran," ucapnya gelisah.


"Tetapi kenapa Wir?,"tanyaku bingung dan penasaran.


"Kak Roy memberitahukan padaku jika...,"ucap Wirda terputus.


"Apa yang kamu lihat dan rasakan semuanya tidak benar Ran. Seluruh keluarga Suprapto itu bersekongkol membantu Kak Reno untuk menghancurkan kehidupanmu.Mereka semua berpura-pura baik padamu Ran.Karena....," ucap Wirda terputus.


Plakkkkk...


Mbak Riska menampar wajah Wirda dengan keras.


Aku tersentak melihat sikap dan tindakan Mbak Riska.Begitu pun Wirda.


Ia tampak bingung dan melonggo sambil memegang pipinya yang terasa sakit.


"Kamu kurang ajar ya Wir,berani sekali menjelek-jelekkan keluarga saya.Kamu ini bekerjasama dengan Roy kan ingin mempengaruhi Rani bukan?,"ucap Mbak Riska kasar.


"Akh...tidak..tidak...Mbak.Aku tidak bermaksud seperti itu.Tetapi,itu memang benar adanya aku mendengar sendiri percakapan Kak Reno dengan Mbak Riska dan Bu Sri,"bela Riska.


Mbak Riska melihat ke arahku dengan melirik lalu berkata kasar kembali pada Wirda.


"Sudahlah kamu nggak usah bohong.Mbak tahu tujuanmu kamu ingin memisahkan Rani dengan Reno. Karena kamu suka dengan Reno bukan?,"ucap Mbak Riska.


Aku membatu melihat perilaku Mbak Riska.Ia begitu kasar tidak seperti Mbak Riska yang kukenal selama ini.


Ia berubah liar dan garang seperti orang lain.


"Itu tidak benar Mbak,"bantah Wirda.


"Sudahlah kamu jadi perempuan jangan munafik.Kamu sengaja menjadi sahabat Rani karena kamu iri dan ingin mencuri Reno darinya kan?lalu kamu membuat rencana dengan Roy dan memutar balikan fakta.Kamu memang perempuan tidak tahu diri Wirda.Perempuan rendahan!,"ucap Mbak Riska sangat kasar sambil mendorong tubuh Wirda.


Aku yang melihat perlakuan Mbak Riska terhadap Wirda begitu kasihan.


"Mbak sudah...jangan berkata seperti itu.Rani kenal Wirda,dia bukan orang seperti yang Mbak katakan,"belaku sambil memegang bahu Wirda.


Mata Wirda berkaca-kaca lalu menangis.

__ADS_1


Melihat Wirda menangis Mbak Riska tampak bahagia.


"Kamu tidak perlu pura -pura nangis,supaya dikasihani Rani.Itu tipu muslihatnya Ran.Kamu jangan percaya semua kata-katanya,"ucap Mbak Riska.


"Sudahlah Mbak...aku mohon jangan sudutkan Wirda,"pintaku sambil mengusap air mata Wirda.


"Ran,aku nggak berbohong.Kamu percayakan padaku.Aku dan Kak Roy ingin melindungimu agar menjauh dari keluarga mereka,"ucap Wirda sambil menunjuk ke arah Mbak Riska.


Melihat tindakan Wirda.


Mbak Riska seperti tersulut api kemarahan lagi.


Kembali ia ingin menampar Wirda namun,aku berhasil menangkisnya.


Dan Mbak Riska tampak kesal melihat tindakanku tersebut.


"Ran,kok kamu malah belain dia,"sambil menunjuk ke arah Wirda.


"Itu berarti kamu lebih percaya Wirda dari pada apa yang Mbak katakan,"ucap Mbak Riska penuh emosi.


"Bukan begitu maksud Rani Mbak...Rani hanya ...,"ucapku berusaha menenangkan Mbak Riska.


"Akh....sudahlah Ran."


Wajah Mbak Riska penuh dengan emosi kemarahan.


Lalu dengan memaksa ia menarik tubuhku menjauhi Wirda.


"Aduhhhh.....auwwwww....sakit Mbak,"ucapku pelan.


Namun,Mbak Riska tidak menggubris ucapanku.


Ia terus menarik tanganku pergi menjauhi Wirda.


Wirda menatapku sambil menangis dan berteriak.


"Ran,percayalah kata-kataku Ran,"teriak Wirda.


"Kamu harus menjauhi keluarga itu Ran,"teriaknya semakin keras.


Aku terus menatap Wirda yang masih memegangi pipinya.


Sungguh aku tidak kuasa melihat sahabatku bersedih seperti itu.


Tetapi aku tidak bisa melakukan apapun juga.


Sementara tanpa berkata apapun Mbak Riska terus memaksa menarik tanganku.


"Auwwwww..,"ucapku kesakitan.


Tubuhku tergelincir jatuh karena memakai high heels.


Nyeri rasanya tetapi Mbak Riska tetap tidak memperdulikan semua itu.


Ia terus menarik tubuhku.


Menjauh....dan menjauhi Wirda hingga aku tidak dapat melihat Wirda.


Pintu mobil dibuka.


Mbak Riska mendorong tubuhku masuk ke dalam mobil.


Brakkkkk.....


Pintu mobil di tutup sangat keras.

__ADS_1


__ADS_2