Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Bunda Jatuh Sakit


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Ran,"ucap Kak Roy sambil menyodorkan bingkisan kado berwarna ungu padaku.Aku terheran,"ini apa kak?,"tanyaku sambil memandangnya.Dengan tersenyum ia pun menjawab,"buat kamu,Ran."Kak Reno memandang kearahku dan Kak Roy dengan sinis.Mengetahui hal itu Kak Roy menyapanya,"Hai Ren,"sambil menepuk bahu Kak Reno pelan.Namun Kak Reno tidak terlalu memperdulikannya.Hanya sedikit mengangkat wajahnya dengan alis agak sedikit terangkat,"Hmm,ngapain kamu disini Roy,"sambil memandang ke arah telepon gengamnya.Aku langsung mengucapkan terima kasih kepada Kak Roy dan menawarinya minum,"Kak Roy mau masuk atau duduk diluar?sekalian mau minum apa kak?,"tanyaku.Kak Roy pun menjawab,"Kakak duduk disini aja bareng Reno.Kalau nggak ngerepotin teh hangat aja Ran,"ucapnya dengan tarikan matanya yang sedikit terangkat keatas mengukir senyum simpul di wajahnya.


"Kamu teh juga kan Ren,"tanya Kak Roy.


"Nggak usah.Aku mau pulang habis ini,"jawab Kak Reno ketus.


Aku pun langsung masuk ke dalam membuatkan teh.Pandanganku sekilas menatap ke arah Mbak Riska yang masih tampak lahap menyatap makanan,"Ran,mbak makan dulu ya.Enak banget ini Ran."


"Iya mbak,tambah lagi kalau kurang,"ucapku sambil berjalan menuju dapur.


Kubuatkan dua cangkir teh hangat dan satu gelas es teh untuk Mbak Riska.Kulihat bunda yang sedang meladeni pembeli.Wajahnya tampak pucat.Kilau wajahnya tak secerah biasanya.Ya,semenjak pulang dari rumah sakit sikap bunda menjadi agak aneh dan berbeda.Kuhantarkan dua teh hangat untuk Kak Roy dan Kak Reno,"ini Kak Roy silahkan diminum,"Rani tinggal sebentar ya nganterin minumnya Mbak Riska."


"Iya Ran,makasih ya."Kak Roy memandangku begitu pun juga dengan Kak Reno.Tetapi dengan tatapan berbeda.Jika Kak Roy dengan senyuman maka Kak Reno dengan amarah.


Aku menghampiri Mbak Siska yang sedang asyik makan,"Mbak ini minumnya ya,es teh,"sambil meletakkan gelas di sampingnya.


"Ya ampun makasih ya dek,malah ngerepotin,"ucapnya dengan sumringah.


"Nggak ngerepotin kok mbak.Silahkan mbak dilanjutkan makannya lagi,Rani mau bantuin bunda dulu ya mbak."


Mbak Riska mengangguk .Sementara aku mendekati bunda,"Bun,apa bunda baik-baik saja?,"tanyaku sedikit cemas.

__ADS_1


"Bunda nggak apa-apa Ran,"tersenyum meyakinkanku.Kemudian ku pegang tangan bunda dan menatapnya dalam,"Bun,bunda istirahat saja ya.Biar Rani yang jualin.Muka bunda pucat banget.Sepertinya bunda sakit,"ucapku dengan gelisah.


Namun bunda terus menyangkal,"Nggak Ran bunda baik-baik saja nak "sambil meneruskan melayani pembeli.


Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa mendengar bunda berkata demikian.Maka aku teruskan membantu bunda melayani pembeli yang semakin ramai.


Setelah beberapa lama,saat sudah tidak ada pembeli dan makanan bunda sudah habis.Bunda masuk ke dalam rumah.Dan aku bersama Mbak Riska yang sudah selesai makan membersihkan


Warung dan menutupnya.Tidak lama kemudian terdengar bunyi benda yang jatuh dari dalam rumah,


PRANG..


Suaranya keras sehingga menarikku untuk melihatnya.Entah kenapa perasaanku sungguh tidak enak dan tidak tenang.Kupercepat langkahku menuju sumber suara,mataku mencari di sekeliling tapi tidak kutemukan.Akhirnya,aku menuju dapur.Dan betapa terkejutnya diriku saat melihat bunda sudah jatuh terkapar di lantai dapur.Aku pun sontak berterik dengan kencang,


Kupegang tangan bunda yang dingin,wajahnya pucat dn kugoyangkan wajahnya agar bunda sadar.Tapi bunda tetap tidak sadar juga.


Mbak Riska dan Kak Roy yang mendengar teriakkanku berlari mendekatiku.


"Ya Allah bun,"ucap Mbak Riska sedikit panik lalu ia mengambil tas selempang di bahunya dan mengambil sesuatu dari dalam tas.


Mbak Riska mengoleskan Roll on minyak angin di sekitar pelipis,telapak tangan dan meletakkan minyak didekat hidung.Agar bunda menghirupnya dn sadar.Namun juga tidak berhasil.

__ADS_1


Karena begitu panik aku terus menangis memanggil bunda,"Bun..bunda..bun,sdar bun.Ini Rani bun.Ayo buka matanya bun,"air mataku terus mengalir.Kak Roy dan Mbak Siska iba melihat tangisanku,"Ran,yang kuat ya,"ucap Mbak Riiska.


"Kita bawa ke rumah sakit saja mbak",usul Kak Roy.


Mbak Riska berteriak memanggil Kak Reno supaya masuk ke dalam untuk membantu.Mendengar Mbak Riska memanggilnya Kak Reno pun masuk.Ia juga sedikit kaget melihat kondisi bunda.Sekilas matanya memandangku.Lalu Kak Roy dan Kak Reno mengangkat bunda ke mobil.Sementara aku ditemani Mbak Riska mengunci pintu.Air mataku terus mengalir.Mbak Riska mengelus bahuku dan menguatkanku.Dan bergegaslah Kak Roy menyetir mobil.Sementara Kak Reno mengikuti dengan mobilnya dari belakang.


Aku terus mengenggam tangan bunda yang dingin,hatiku terasa kacau dan panik melihat bunda yang belum tersadar dari tadi.Kak Roy memacu mobilnya dengan cepat,sehingga tidak butuh waktu lama untuk tiba di rumah sakit.


Mbak Riska sudah menghubungi pihak rumah sakit dan dokter keluarganya untuk menanggani bunda.Sehingga saat tiba di rumah sakit.Perawat dan tenaga medis lainnya sudah siap menyambut.Dengan cepat mereka memindahkan bunda ke troli ranjang pasien dan masuk ke ruang ICU.Aku pun dilarang masuk begitu pun yang lainnya.Aku terus menangis memanggil nama bunda.Badanku terasa lemas,jantungku berdegup kencang.Aku takut...benar-benar takut jika harus kehilangan bunda,karena hanya bunda yang kumiliki di dunia ini.Badanku lunglai dan hampir terjatuh,namun Mbak Riska dengan sigap memegangku.Lalu mengajakku duduk di ruang tunggu.Aku menangis dalam pelukan Mbak Riska.


Kak Roy memandangku dengan mata berkaca-kaca.Sementara Kak Reno hanya membisu melihatku.


Mbak Riska terus menguatkanku,"Sabar ya Ran,Rani yang kuat,Ini syaAllah bunda akan baik-baik saja."


Namun kata-kata Mbak Riska tidak membuatku juga tenang.Entah kenapa hatiku begitu gelisah,aku begitu takut dan rasanya sangat sesak sekali di dada.Kemudian kuseka air mataku perlahan.Aku harus kuat,ucapku dalam hati.Kupejamkan mataku dan mengambil napas dalam agar hatiku sedikit merasa tenang,"Ughhhhh....akhhhhhh,"ucapku pelan.


Kemudian aku diam sejenak dan membasahi lisanku dengan dzikir.Setelah berdzikir hati dan pikiranku lebih tenang.Mbak Riska mengelus bahuku dan tersenyum,Lalu ia mengambil telepon genggamnya dan menelepon seseorang serta berjalan sedikit menjauh dari tempat duduknya di sampingku.Kak tersenyum padaku dan mengangguk,ia seperti mengisyaratkan padaku agar tenang dan kuat.


Sambil menunggu dokter memeriksa bunda aku pun berdua menengadahkan kedua tanganku menghadap langit,"Bismillahirrahmanirrahim.Yaa Hayyu Yaa Qoyyuum,bi-rohmatika as-taghiits,wa ash-lih lii sya'nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata'ainin abadan.Artinya:Wahai Rabb yang Maha Hidup,wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri(tidak butuh segala sesuatu),dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan,perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan darimu).Aamiin ya robbal'alamiin."


CEKREK

__ADS_1


Pintu ruang ICU terbuka.Aku pun langsung bangkit dari dudukku.


__ADS_2