
Wirda dan Kak Rafa sudah duduk di ruang tunggu untuk bertemu dengan Kak Reno.
"Apa tidak apa kita kemari Kak Rafa?, " tanya Wirda sambil melihat Kak Rafa yang duduk di sebelahnya.
"Tidak apa-apa Dek Wirda. Sudah kewajiban kita memberitahukan perihal keadaan Bu Sri yang sudah meninggal dunia kepada Dek Reno, agar ia mengetahuinya. Sebab bagaimana pun juga Dek Reno adalah putranya." Kak Rafa menatap Wirda serius.
Wirda seraya memikirkan apa yang di ucapkan oleh Kak Rafa kepada dirinya.
"Hmmm,memang benar apa yang Kak Rafa katakan. Tetapi hati Wirda terasa berat dan malas saja Kak untuk bertemu dengan Kak Reno. "
Kak Rafa tersenyum kecil ke arah Wirda.
"Iya Kak Rafa tahu apa yang menyebabkan Dek Wirda berkata demikian. Tetapi sebagai sesama muslim yang baik kita harus membantukan jika ada saudara kita yang membutuhkan bantuan. Lagi pula kita disini hanya untuk memberitahu kabar meninggalnya Bu Sri saja kepada Dek Reno setelah itu kita langsung pergi. "
"Wirda tidak keberatan membantu keluarga mereka Kak. Hanya Wirda malas saja bertemu Kak Reno, " ujar Wirda dengan wajah cemberut nya.
Dan di saat mereka berdua sedang bercakap-cakap, Kak Reno yang memakai pakaian tahanan di temani oleh petugas kepolisian masuk ke ruangan dimana Wirda dan Kak Rafa menunggu.
Wirda langsung terdiam melihat kedatangan Kak Reno. Matanya terus menatap wajah lusuh dan lesu Kak Reno, yang membuat Wirda hampir tidak mengenali jika itu adalah Kak Reno.
"Kak Rafa, apa benar ini Kak Reno?, " bisik Wirda pada Kak Rafa.
Kak Rafa pun mengangguk, "Benar Dek Wirda. Laki-laki yang duduk di hadapan kita adalah Dek Reno. "
Wirda tercengang seakan tidak percaya dengan penampakan Kak Reno yang sangat jauh sekali berbeda dan berubah menjadi kumal tidak terurus.
Kak Reno yang sudah duduk , lalu memandangi wajah Wirda yang sejak tadi menatap dirinya.
"Mengapa kamu memandangiku seperti itu Wirda? Apakah ada yang aneh dariku?, " kata Kak Reno yang tidak nyaman dengan tatapan Wirda kepada dirinya.
Mata Wirda terbelalak mendengarkan ucapan Kak Reno, lalu membuat ia melirik ke arah Kak Rafa yang juga memandangi dirinya.
Kak Rafa pun memberi isyarat kepada Wirda untuk diam dan tidak merasa takut akan kehadiran Kak Reno.
Maka dengan cepat Kak Rafa pun berusaha untuk langsung mengatakan perihal maksud kedatangannya menemui Kak Reno. "Maaf sebelumnya Dek Reno kedatangan kami mungkin kurang berkenan di hati Dek Reno. Saya dan Wirda datang menemui Dek Reni untuk menyampaikan berita penting."
"Berita penting apalagi yang ingin kalian sampaikan kepadaku, " sela Kak Reno dengan wajah dinginnya dan juga terlihat sinis.
Kak Rafa berusaha untuk menyusun kembali kata-katanya yang telah dipotong oleh Kak Reno, sambil menghela sedikit nafas untuk mengatur tempo pembicaraannya.
"Baiklah langsung saja Dek Reno, saya akan menyampaikan tiga kabar penting mengenai keluarga Dek Reno;
Yang pertama yaituPak sugeng selaku papanya Dek Reno dan kakek Dek Reno sekarang berada di sel tahanan."
Kak Reno sedikit tercengang mendengar berita pertama yang Kak Rafa katakan. Kak Reno hanya menatap ke wajah Kak Rafa serius ,tetapi tidak mengatakan sedikit kata apapun.Dia hanya diam sambil terus menatap Kak Rafa yang berbicara dengannya.
Kemudian Kak Rafa juga melihat ekspresi wajah Kak Reno yang terpaku setelah mendengar ucapannya. Lalu Kak Rafa meneruskan perkataannya kembali.
"Dan berita yang kedua adalah mengenai Riska yaitu mbaknya Dek Reno yang sekarang berada di rumah sakit jiwa karena mengalami depresi berat dan juga gangguan akan tekanan jiwa dan mentalnya."
Kak Reno semakin menjadi tercengang dan matanya semakin terlihat melotot setelah mendengar akan berita kedua yang disampaikan oleh Kak Rafa. Kak Reno tidak dapat mengatakan sedikit kata apapun dari bibirnya yang mungkin terasa keluh dan berat.
" Berita ketiga ini dalam berita yang penting dan mungkin akan membuat dirimu terguncang, oleh karena itu saya berharap Dek Reno ikhlas untuk menerima berita terakhir yang akan saya sampaikan yaitu innalillahi wa inna ilaihi rojiun mamahnya Dek Reno telah berpulang menghadap Allah subhanahu wa ta'ala dan saat ini juga jenazah almarhumah sedang dalam proses pemakaman yang sedang Kak Fariz, Pak Budi dan Ummah saya sedang urus proses pemakamannya, sesuai permintaan dari Dek Rani. Karena tidak ada satu pun pihak keluarga yang dapat mengurus pemakaman beliau. "
Kak Reno terpaku dengan wajahnya yang sangat kaku dan begitu tegang menatap wajah Kak Rafa.
Kak Reno begitu terguncang hingga ia terlihat membatu dalam kesunyian yang menyergap dirinya.
Tes.. Tes... Tes...
Air matanya pun mengalir dalam ekspresi wajahnya yang masih sangat terkejut dan syok.
Kak Rafa pun lalu mengajak Wirda untuk berdiri dan pergi dari ruangan itu.
Namun,sebelum pergi Kak Rafa mendekat kearah Kak Reno dengan menepuk bahunya seraya berkata, "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Aku turut berduka cita atas meninggalnya Mamamu Dek Reno. Semoga almarhumah Mama Dek Reno meninggal dalam keadaan yang husnul khotimah,dan Dek Reno serta keluarga diberi ketabahan juga kesabaran.Saya dan Dek Wirda pamit pulang dulu Dek Reno."
Kemudian Kak Rafa dan Wirda pun pergi meninggalkan Kak Reno yang masih terdiam tanpa membalas perkataan dari Kak Rafa. Kak Reno masih terpaku dengan tatapan mata yang kosong dan air matanya yang terus mengalir. Tidak lama setelah itu, petugas yang berjaga pun membawa Kak Reno kembali masuk ke dalam sel tahanan. Di dalam sel tahanan Kak Reno pun tertunduk lesu bersandar pada dinding sel tahanan dan duduk di atas lantai sambil menekuk kedua lututnya dan merangkul kan kedua tangannya pada kedua lututnya yang ia tekuk, kepalanya tertunduk lesu dalam benaman lekukan kedua lututnya. Perlahan dalam kebisuannya suara tangisnya terdengar semakin lama semakin keras dalam rintihan kepedihan yang begitu menyayat hati dan jiwanya. Kak Reno begitu rapuh dan hancur ,dia benar-benar tidak kuasa menahan semua peristiwa yang begitu sangat di luar nalar dan kemampuan dirinya untuk menerimanya.
Sementara itu, Kak Rafa dan Wirda pun sudah masuk ke dalam mobil dan menuju ke tempat sel tahanan lain di mana Pak Sugeng dan kakek di penjara. Kak Rafa terus mengemudikan laju mobilnya.
__ADS_1
Dan Wirda pun tidak dapat mengalihkan pikirannya dari Kak Reno, dia masih tidak dapat menduga jika Kak Reno sangat berbeda,begitu drastis perubahan penampilannya.Wirda sungguh tidak menyangka Kak Reno akan terlihat begitu pucat dan kumal seperti itu, sungguh sangat di luar dugaannya.
"Apa yang kamu pikirkan Dek Winda?," tanya Kak Rafa sembari menyetir mobilnya.
Wirda menoleh ke arah Kak Rafa yang bertanya kepadanya.
"Hanya masih memikirkan Kak Reno,Kak."
Kak Rada terkejut.
"Memikirkan Reno? Untuk apa Dek Wirda memikirkannya?," tanya Kak Rafa heran.
"Hmmm,Wirda sangat terkejut saja kak melihat penampilannya yang sekarang,begitu sangat jauh berbeda dengan Kak Reno yang Wirda kenal."
Kak Rafa menoleh sedikit ke arah Wirda.
"Maksudnya dengan Reno yang Dek Wirda kenal?."
"Ya.. iya sangat jauh berbeda Kak Rafa. Kak Reno yang Wirda dulu kenal itu sangat bersih penampilannya, rapi pokoknya enak dipandang dan sangat tampan lah. Meskipun ya sifatnya minus."
" Wah berarti kak Rafa harus berpenampilan seperti Dek Reno sebelumnya dong," celetuk Kak Rafa sambil sedikit tersenyum meringis.
" Mengapa Kak Rafa berkata seperti itu?". Pandang Wirda menatap Kak Rafa yang menyetir, lalu kak Rafa pun sama menatap Wirda dan pandangan mata mereka bertemu sebentar. "Ya supaya Dek Wirda bisa memuji Kak Rafa tampan seperti memuji Dek Reno,hehehe".
Wirda sedikit cemberut.
"Tuh kan mulai lagi bercandanya ."
"Hehehe,iya Dek Wirda maaf.Bercanda sekali- kali tidak apa kan."
Dan lampu lalu lintas pun menyala merah.
Mobil yang dikendarai Kak Rafa berhenti.
Wirda memalingkan wajahnya menatap keluar jendela dan dari sudut pandangan matanya ia melihat Rere yang sedang mendorong seorang pria yang duduk di kursi roda.Dan pria itu menggunakan topi dan masker yang menutup wajahnya ,tetapi dari kejauhan saat Rere berhenti mendorong kursi roda itu untuk menuju mobilnya.Wirda seolah mengenal laki-laki yang duduk di kursi roda itu.
Maka Kak Rafa pun segera menoleh dan melihat dari dalam mobil menuju keluar jendela mengalihkan pandangannya pada perempuan yang ditunjuk oleh Wirda,yang berada di seberang jalan.Kak Rafa mulai mengamati perempuan itu dengan seksama.
"Iya itu memang Rere,"jawab Kak Rafa.
"Kak Rafa coba perhatikan pria yang duduk di kursi roda itu, sepertinya Wirda mengenalnya dan tidak asing.Bagaimana dengan Kak Rada?,"ucap Wirda kepada Kak Rafa.
Kak Rafa pun mulai mengamati pria yang Wirda bilang sedang duduk di kursi roda dengan diam tidak banyak bergerak itu.
"Mmm, kakak tidak terlalu dapat melihat wajahnya karena tertutup topi dan masker Dek," sahut Kak Rafa.
"Kak Rada apa kita mulai mengikuti Rere sekarang?,"tanya Wirda menatap Kak Rafa.
"Sepertinya tidak bisa Dek Wirda, jalannya berlawanan.Lagi pula setelah ini kita harus menemui Papa dan kakeknya Dek Reno untuk memberitahukan pemakamannya Bu Sri kan," sahut Kak Rafa.
Wirda terlihat sedikit kecewa dan lesu.
"Iya ya," ucap Wirda yang tidak melepaskan pandangannya dari Rere.
" Ya sudah nanti kalau urusan kita sudah selesai kita dapat mengawasi dan membuntuti Rere,ya,"ucap Kak Rafa kepada Wirda untuk membesarkan hatinya karena terlihat kecewa.
Namun Wirda tidak menggubris perkataan Kak Rafa,matanya terus tertuju kepada pria yang berada di kursi roda dekat Rere itu. Entah kenapa Wirda begitu ingin terus melihat sosok pria itu dan tidak ingin melepaskan pandangannya dari pria itu. Dia merasakan hal yang aneh dan mencurigakan dari Rere. Tidak lama setelah itu, lampu lalu lintas menyala hijau mobil yang dikendarai Kak Rafa pun melaju perlahan. Dan dari pandangan Wirda terlihat Rere dengan bantuan seorang laki-laki membawa masuk pria yang ada di kursi roda menuju mobilnya.
Rere dan pria di kursi roda itu pun menghilang dari pandangan mata Wirda.
Ughhhh....Wirda sedikit melenguh.
Pikirannya kini terus berusaha untuk mengenali pria yang berada di kursi roda itu.
Tidak lama setelah itu mobil yang dikendarai Kak Rafa pun berhenti di kantor kepolisian di tempat Pak Sugeng dan kakek ditahan.
Mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam kantor kepolisian dan meminta izin untuk bertemu dengan Pak Sugeng dan kakek, setelah menyampaikan maksud kedatangan mereka. Lalu kak Rafa dan Wirda menunggu di ruang tunggu untuk menantikan kehadiran Pak Sugeng dan juga kakek.Wirda sedari tadi hanya diam dan terus memikirkan pria yang bersama dengan Rere. Kak Rafa yang terus melihat Wirda yang terlihat gusar dan hanya memikirkan Rere, lalu membuat lamunan Wirda buyar. "Dek Wirda masih memikirkan pria yang bersama Rere tadi kah?," tanya Kak Rafa pelan .
Wirda pun menggangguk," Iya Kak."
__ADS_1
" Ya sudah nanti jika urusan kita sudah selesai. Kak Rafa tadi bilang kan, kita dapat mengawasi Rere.Namun,Kakak minta sekarang Dek Wirda jangan terlalu cemas dan terlalu banyak berpikir, nanti malah akan membuat kepalamu menjadi pusing Dek," pinta Kak Rafa sambil memegang kepala Wirda.
Sontak saja Wirda terkejut dan membuat matanya menatap Kak Rafa yang juga menatapnya.
Nyesssss.....hati Wirda terasa meleleh.
Pandangan mata mereka berdua bertemu.
Kak Rafa melepaskan senyumannya yang memukau menghipnotis Wirda untuk terus menatap wajah Kak Rafa yang mengalihkan matanya.
Dan tanpa mereka berdua sadari Pak Sugeng dan Kakek pun sudah duduk tepat di hadapan mereka. "Ada apa kalian berdua kemari mencari kami?," tanya kakek dengan suara lantang yang mengagetkan Kak Rafa dan juga Wirda.
" Astaghfirullahaladzim," ucap Wirda yang terkejut mendengar suara kakek.
Kak Rafa pun lalu membenarkan posisi duduknya dan memandang wajah kakek dan Pak Sugeng yang juga melihat dirinya dengan tatapan sinis dan tidak suka.
"Maaf sebelumnya Pak Sugeng dan Pak Suprapto atas kehadiran kami yang mungkin mengganggu dan kurang berkenan bagi kalian berdua.Tetapi saya dan Dek Wirda kemari datang untuk memberitahukan perihal Bu Sri ,"ucap Kak Rafa.
Namun perkataannya di sela langsung oleh Pak Sugeng. "Ada apa dengan istri saya dan mengapa kamu yang datang memberitahukan kabar istri saya kepada kami?," tanya Pak Sugeng dengan terburu-buru dan rasa ingin tahu yang besar.
Kak Rada pun menghela nafas pendeknya melihat ketidak sabaran akan sikap Pak Sugeng akan perkataannya yang belum selesai.
" Begini Pak Sugeng atas permintaan Dek Rani saya kemari memberitahukan bahwa istri bapak Ibu Sri sudah meninggal dunia dan sekarang kakak saya bersama Pak Budi sedang mengurusi pemakaman jenazah almarhumah istri bapak."
" Tidak kamu pasti berbohong kan. Saya tidak percaya akan perkataanmu,"teriak Pak Sugeng kasar.
Melihat sikap Pak Sugeng yang tidak terkendali, lalu Kak Rada menunjukkan surat kematian dari rumah sakit dan memberikannya kepada Pak Sugeng .Pak Sugeng yang dengan kasar mengambil surat dari tangan Kak Rafa.Lalu membaca surat tersebut sambil berdiri ,dan membuat tubuhnya bergetar dan roboh seketika setelah membaca surat kematian tersebut.
BRAKkkk....
"Sugeng!," teriak kakek panik.
Kak Rafa pun ingin membantu Pak Sugeng yang jatuh pingsan di lantai tetapi segera di hardik oleh kakek secara kasar.
"Pergi kamu! jangan kamu sentuh anak saya dan tinggalkan kami berdua di sini!," bentak kakek secara kasar.
Lalu mendengar kegaduhan dan teriakan dari kakek petugas kepolisian yang berjaga pun datang membantu membawa Pak Sugeng untuk mendapatkan pertolongan. Sementara kakek juga ikut serta dengan tubuhnya yang juga lemas setelah mendengar kematian menantunya.
Kak Rafa dan Wirda pun terdiam tidak dapat berkata apa-apa setelah melihat kejadian yang baru saja terjadi, lalu kak Rafa dengan segera mengajak Wirda untuk pergi meninggalkan tempat tersebut dan kembali menuju rumah sakit. Sembari menelpon Ustad Fariz Apakah sudah selesai melakukan pemakaman terhadap jenazah Bu Sri dan memerlukan bantuannya.
" Halo Assalamualaikum Kak Fariz," ucap Kak Rafa memberi salam dari sambungan telepon.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh ya Dek Rafa.Ada apa Dek?,"tanya Ustad Fariz.
"Apakah pemakaman Bu Sri sudah selesai?," tanya Kak Rafa.
"Iya sudah selaesai Dek. Bagaimana Dek,kamu sudah selesai mengabari keluarganya Dek Reno?."
" Sudah Kak dan semuanya tampak terkejut dengan sikap tempramental mereka masing-masing yang mereka tunjukkan kepada Rafa dan juga Wirda."
"Ya sudah tidak apa-apa, yang penting kita sudah gugur kewajiban dengan mengabarinya".
" Oh ya Kak. Apakah Rafa dan Wirda menyusul Kak Fariz di sana?."
" Tidak usah Dek, sebentar lagi Kakak,Pak Budi dan Ummah akan pulang ke rumah sebentar untuk membersihkan diri. Lebih baik Dek Rafa dan Dek Wirda menuju ke rumah sakit saja, dan ada Enjit juga Abi di sana.InsyaAllah nanti Kakak dan Ummah menyusul jika sudah membersihkan diri dan berganti pakaian."
"Oh ya, baiklah Kak kalau begitu. Ya sudah Kak Fariz.Rafa tutup teleponnya ya."
"Iya Dek,kamu hati- hati ya menyetir mobilnya."
"Iya siap Kak Fariz.Assalamualaikum,Kak." " Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh,Dek Rafa."
Dan sambungan telepon pun terputus.
"Ayo Dek Wirda,kita kembali menuju ke rumah sakit," ajak Kak Rafa.
" Baik kak," sahut Wirda.
Kak Rafa dan Wirda pun lalu berjalan meninggalkan kantor kepolisian dan menuju mobil untuk kembali ke rumah sakit menemani diriku untuk menjalani operasi mata.
__ADS_1