
Dokter pun menyuruh kami semua menunggu diluar untuk memeriksa kondisi kakek.Aku masih membisu dalam langkahku yang pelan.Setibanya diluar ruangan Bu Sri dan Pak Sugeng berterima kasih padaku.Air mata mereka mengalir sambil memegang jemariku.Sementara Kak Reno hanya memandangku dengan wajahnya yang sembab.Aku masih tidak bergeming dengan kebisuanku.Hingga Wirda datang dengan wajah panik menghampiriku.
"Ran,ayo cepat ikut.Bunda tiba-tiba mendadak kondisinya drop lagi,"ucap Wirda cemas.
Aku pun tersentak dari kebisuanku dan segera berlari menuju ruangan bunda diikuti Wirda dan Kak Reno.Di depan ruangan bunda ada Kak Roy yang sedang menunggu sambil berdiri mondar-mandir.Dengan panik dan rasa takut.Aku segera menghampiri Kak Roy untuk mengetahui keadaan bunda,"Kak bagaimana bunda?,"tanyaku dengan sangat cemas.
Kak Roy yang melihatku begitu tertekan dan ketakutan berusaha menenangkanku,"Saat ini bunda sedang diperiksa Ran.Rani yang sabar dan do'akan bunda saja.Satu hal lagi Rani harus tenang ya Ran,"pinta Kak Roy.
Aku sungguh gelisah dan begitu tidak tenang sehingga air mataku mengalir.Wirda yang melihat kondisiku segera menghampiriku dan mengajakku duduk.
"Wir,kenapa bunda bisa drop kembali.Bukankah tadi bunda baik-baik saja kan.Kenapa bisa begini?bagaimana jika bunda sampai kritis lagi?Ya Allah,hikssss...,"ucapku sambil menangis.
Wirda memelukku untuk membuatku tenang.
"Ran,istighfar ya.Kamu harus berpikiran yang positif.In syaAllah bunda akan baik-baik saja,"ucapnya pelan sambil menyeka air mataku.
Tidak lama kemudian Bu Sri dan Mbak Riska datang.Bu Sri langsung menghampiriku.Ia mengusap kepalaku perlahan dan memelukku yang terlihat begitu khawatir.
"Yang sabar ya sayang,"bisiknya pelan.
__ADS_1
Sementara aku terus tidak dapat menahan air mataku yang ingin terus mengalir.Rasanya sesak dan begitu sakit.Perasaanku sungguh tidak tenang.Dalam dekapan lembut Bu Sri kubasahi lisanku dengan berdzikir memuji kebesaran Sang Illahi.
Dan tidak lama kemudian dokter keluar.Aku yang mendengar pintu ruangan bunda terbuka lalu bergegas berdiri menghampiri dokter.
"Bagaimana dok keadaan bunda saya?,"tanyaku sangat panik.
Dokter memandangiku begitu lama hingga akhirnya ia pun berkata,"Kami sudah mengupayakan yang semaksimal mungkin untuk kesembuhan bundanya adik.Tetapi selebihnya semua atas izin dari Allah.Maka sekarang yang dapat kita lakukan hanyalah berdo'a untuk mengharapkan pertolongan dari Allah bagi kesembuhan bunda adik ya.Saya masih memantau perkembangan dari pasien,"ucap dokter.
"Lalu apakah saya bisa menjenguk bunda dok?,"tanyaku dengan berharap.
Melihat kondisiku yang begitu pucat dan cemas.Dokter pun mengizinkanku menjenguk bunda ditemani perawat walaupun hanya sebentar.Tetapi sebelum aku masuk ke dalam ruangan bunda aku meminta Kak Roy untuk membelikan setangkai mawar merah kesukaan bunda.Tanpa menolak Kak Roy pun langsung mengiyakan permintaanku dan segera membelikan bunga mawar untuk bunda.
"Bun...bundaaa....hikssss....hikssss,"ucapku lirih dengan suara parau memanggil bunda dengan harapan bunda dapat mendengar suaraku.
Aku terus menangis tiada henti hingga tidak kusadari Kak Roy sudah masuk di ruangan membawa setangkai bunga mawar yang kulitnya untuk bunda.
"Bun,bunda lihat ini bunga mawar merah yang bunda sukai,lihatlah Bun.Mawarnya begitu cantik Bun.Rani letakkan bunganya disamping bunda ya Bun.Tetapi Rani mohon bunda harus segera sadar.Bunda harus segera sehat kembali Bun.Rani sayang.....sayang sekali dengan bunda.Hikssss....hikssssss,"ucapku sambil terus menangis berlinang dengan air mata.
Kak Roy yang melihatku pun ikut menangis tanpa bisa berkata-kata.Aku pun hanya tertunduk pada ranjang tempat bunda berbaring dan menunggu keajaiban dari Allah hadir menjamah bunda agar dapat segera sadar.Dan benar saja Allah mengabulkan do'aku.Perlahan jemari bunda bergerak.Aku pun yang melihat hal tersebut menjadi sedikit bahagia dan memberi tahu kan keadaan bunda pada perawat.Setelah itu perawat pun segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan bunda.Sambil menunggu dokter datang.Aku terus berada di sisi bunda dan terus memanggil bunda,"Bun,ini Rani Bun.Bunda lihat Rani Bun,"ucapku pelan dan terus menangis.
__ADS_1
Sayup-sayup kelopak mata bunda terbuka dan memandang kearahku dengan wajahnya yang sudah sangat lemah.
"Ran..Raniiiii..put...putri...Bun.....daaa,"ucap bunda gemetar.
"Iya bun,Rani disini.Bunda lihat Rani bawakan bunda bunga mawar merah kesukaan bunda.Lihatlah Bun.Betapa cantiknya mawar ini seperti bunda,"ucapku lirih sambil terus menangis.
Bunda hanya melihatku tanpa berkata.Dan tidak lama kemudian dokter dan perawat pun datang memeriksa keadaan bunda.Aku bangkit dari dudukku memberi ruang pada dokter melihat keadaan bunda.Meskipun rasanya aku tidak ingin menjauh dan pergi jauh dari bunda.Namun Kak Roy menguatkanku.Ia terus berada di sampingku menemaniku dalam ketakutanku yang begitu sangat dalam.
Mataku terus memandang ke arah bunda.Dokter dan perawat terlihat cekatan dan fokus mengecek kondisi bunda.Hingga dimana aku benar-benar merasa rapuh dan lemas terjebak dalam gelisah menyaksikan kondisi bunda seperti itu.Aku pun segera mendekati bunda dan terus mengenggam jemarinya.
***
Setangkai mawar untuk bunda.
Merahnya menyala dalam guratan senyum bunda yang sendu.Parasnya tidak lagi berkilau saat raganya berjuang melawan sakit yang ia derita.Kedua matanya tampak redup memandangku,peluhnya basah membasahi wajahnya yang renta.Saat itu hatiku nelangsa,ketakutan yang menjamah naluri dan detak irama jantung yang berpacu.Air mataku ingin tumpah seketika,saat kuusap jemarinya perlahan.Bertahanlah Bun,demi aku ucapku dalam hati.Bunda terus menatapku seolah ia mengerti kesedihan yang kurasakan namun ia tetap tidak bergeming.Tangisku kemudian pecah tidak tertahan saat napas bunda mulai tersengal.Aku berteriak memanggil dokter dan perawat yang ada di dekatku untuk memastikan keadaan bunda.Derai air mataku terus mengalir,tubuhku dingin,jemariku gemetar dan hatiku terasa begitu sangat sakit.Seolah-olah pertanda dari Sang Kuasa yang membuat hatiku tersayat.Dokter menatapku perlahan,ekspresi wajahnya penuh misteri.Ia berjalan mendekatiku seraya memegang bahuku untuk menguatkanku,
"Kamu yang sabar dan ikhlas ya dik.Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya.Bundamu telah berpulang dik,"ucap dokter lirih.
Napasku terasa berhenti,semua melayang berputar,pandanganku samar dalam bayangan gelap.Tubuhku lemas tidak berdaya seperti separuh bagian jiwaku hilang.Bruggghhhh...aku terjatuh tidak kuasa menahan derita kehilangan bunda.
__ADS_1