Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Gejolak batin


__ADS_3

Kakiku terkilir dan bengkak.


Rasanya sakit sekali


Perlahan kulepaskan high heels dari kakiku.


Aku merasa lebih baik namun,gerah dan tidak nyaman dengan gaun pengantin yang kukenakan.


Mbak Riska menyetir mobil dengan sangat kencang tanpa berkata apapun.


Ia terlihat sangat marah sekali.


Aku pun hanya diam dan sesekali memandangnya.


"Semuanya..hancur....berantakan,"teriaknya sambil memukul setir kemudi mobilnya.


Mendengar ucapannya aku kaget.


Kenapa Mbak Riska seperti ini,tanyaku dalam hati.


Sesekali ia menatap ke arahku tajam dan terasa sinis kurasakan.


Tapi aku tidak ingin berpikiran buruk.


Brmmmmmmmm.....


Deru suara mesin mobil melaju sangat kencang.


Prakkkkkk....


Mobil Mbak Riska menabrak sesuatu.


"Astaghfirullah,"teriakku terkejut bercampur takut.


Dadaku berdebar kencang hampir saja kami mengalami kecelakaan.


Alhamdulillah,Allah masih menjagaku dan Mbak Riska ucapku dalam hati sambil menghela napas panjang.


Kulihat wajah Mbak Riska dan memastikan bahwa ia baik -baik saja.


"Mbak nggak apa-apa?,"tanyaku.


Namun,Mbak Riska hanya diam membisu tanpa menoleh ke arahku.


Ia seperti membatu dengan ekspresi wajah yang masih sangat kesal dan marah.


"Mbak,jika Mbak lelah tidak usah di paksa menyetir.Kita berhenti sejenak dulu saja Mbak supaya Mbak lebih tenang,"saranku.


Tetapi,Mbak Riska tidak menyukai pendapatku.Ia masih di selimuti emosi.


"Sudah...kamu diam saja Ran!,"bentaknya kasar.


Hatiku tersentak mendengar ucapan kasar Mbak Riska padaku.


Setahuku Mbak Riska tidak pernah berbicara kasar,ia sosok lembut dan baik hati yang ku kenal selama ini.


Tetapi entah apa yang terjadi secara mendadak perangrainya berubah menjadi pemarah dan emosional.


"Maaf mbak,Rani tidak bermaksud.....,"ucapku terhenti.


"Sudah diam Ran.Jika kamu masih ngomong terus lebih baik kamu turun di sini saja!,"ucapnya kasar dan sinis memandang ke arahku.


Brmmmmmmmm.....


Mobil melaju kembali.


Aku dan Mbak Riska tiba di kediaman Keluarga Suprapto.


Mbak Riska bergegas turun dari pintu mobil tanpa menyapaku.


Ia menutup pintu mobil dengan sangat keras dan kasar.


Aku pun kaget di buatnya.


Perlahan aku pun keluar dari mobil.


"Auwww,"ucapku menahan rasa sakit di kakiku.


Aku berjalan dengan tertatih masuk ke rumah.


Tidak berapa lama Mbak Riska keluar dari rumah dengan membawa sesuatu lalu berjalan menuju mobil tanpa menyapaku.


Aku memanggilnya "Mbak..Mbak mau ke mana?,"tanyaku.


Tetapi,ia tidak menyahut lalu berlalu pergi dengan mobilnya.


Aku hanya memandangi laju mobilnya yang berlalu pergi.


Ku hela napas pendek,lalu beranjak masuk ke dalam rumah dengan tertatih.


Bik Siti asisten rumah tangga di kediaman keluarga Suprapto melihatku jalan tertatih segera mendekatiku dan menolongku.


"Nak Rani kenapa?,"tanyanya cemas.


"Nggak apa-apa bi,paling cuma terkilir,"ucapku sambil memegang kakiku.


"Coba Bik Siti lihat ya nak,"pintanya.


Aku mengangguk mengizinkannya,"Iya Bik,"ucapku.

__ADS_1


"Ya Allah nak Rani,ini bengkak.Keseleo ini.Bibi ambilkan obat keseleo ya nanti di oleskan kalau nggak di obati nanti nak Rani ndak bisa jalan,"ucapnya sambil mengambil salep.


Sambil menunggu Bik Siti mengambil obat.Perlahan aku berjalan menuju kamarku.


Rasanya aku sudah gerah memakai gaun ini.


Bik Siti selesai mengambil salep lalu membantuku menuju kamar.


Ia dengan lembut mengoleskan salep pada kedua jari-jari hingga pergelangan kakiku yang keseleo.


"Sambil bibi pijat ya nak Rani.Bibi bisa kok pijat keseleo,"ucapnya.


Aku merasa tidak enak merepotkannya,"eghh...nggak usah Bik,ngerepotin Bik Siti.Cukup salep aja Bik,"ucapku


"Nggak apa-apa nak.Bik Siti nggak merasa di repotkan,"ucapnya sambil menarik kakiku pelan lalu memijatnya.


"Terima kasih ya Bik,"ucapku sambil menatapnya.


"Iya nak sama-sama."


"Senarusnya nak Rani tidak usah tinggal disini,"ucapnya tiba-tiba.


"Memang kenapa Bik?,"tanyaku kaget dan penasaran.


"Hmmmm...begini nak...."


Namun,ucapan Bik Siti terputus oleh suara telepon genggam milikku yang berbunyi nyaring.


Bik Siti membantuku mengambil telepon genggam yang letaknya jauh dariku.Lalu ia memberikannya padaku.


Panggilan masuk dari Wirda tulisan di layar telepon genggam.


"Ada apa Wirda meneleponku?,"ucapku pelan.


Kulihat di panggilan tidak terjawab dari Wirda sebanyak dua puluh kali.


Hatiku semakin cemas.


Lalu aku mengangkat telepon dari Wirda.


"Assalamu'alaikum,halo Wir,"ucapku.


Namun,Wirda tidak membalas salamku.


Terdengar suara isak tangisnya dan terus memanggil namaku.


"Huhuhhuhu.....Ran....huhuhuhu....Rani,"sambil menangis sengugukkan.


Aku cemas dan khawatir mendengar suara Wirda seperti itu.


"Halo Wir! Wirda!ada apa Wir?,"tanyaku panik.


"Iy ..iya Wir,in syaAllah aku kesana.Kamu kirimin alamat rumah sakitnya ya.Kamu jangan nangis terus Wir,istighfar.Yang tenang ya.Tunggu aku Wir,sebentar lagi aku kesana,"ucapku berusaha menenangkannya.


"Iy...iya Ran,huhuhu....huhuhu....,"sahut Wirda.


Tututut...............


Telepon terputus.


"Kenapa nak Rani?,"tanya Bik Siti.


"Temanku Wirda yang sering kesini Bik,papanya terkena serangan jantung tiba-tiba dan kondisinya kritis sekarang,"jelasku cemas.


"Ya Allah,"ucap Bik Siti sambil memegang dadanya.


"Yaudah Bik,Rani mau sholat dan ganti baju lalu langsung ke rumah sakit ke tempat papa Wirda di rawat,"ucapku sambil berdiri perlahan.


"Tapi kaki nak Rani masih sakit kan.Apa ndak apa-apa nak?,"ucap Bik Siti cemas.


"In syaAllah nggak apa-apa Bik.Alhamdulillah setelah dipijat dan di olesi salep sama Bik Siti sakitnya agak berkurang sedikit,"jawabku.


Bik Siti memandangiku.


"Hati-hati ya nak Rani,"ucapnya sambil memegang pipiku.


"Iya Bik,makasih ya Bik,"ucapku sambil menggenggam tangannya.


 


Sesampainya di rumah sakit aku langsung mencari Wirda.


Dari kejauhan kulihat Wirda duduk bersama mamanya.Ia bersandar di bahu mamanya sambil menangis.


Aku berjalan cepat meski tertatih.


"Assalamu'alaikum tante,"ucapku.


"Wa'alaikumussalam,"jawab Mama Wirda sambil menoleh kepadaku.


Lalu aku mencium tangan Mama Wirda.


"Rani,"ucapnya sambil mengelus kepalaku.


Wirda menatapku dengan berurai air mata.


Wajahnya sembab dan matanya bengkak.


Tidak lama suster memanggil Tante untuk menemui dokter yang akan menjelaskan tentang kondisi suaminya.

__ADS_1


"Ran,Tante tinggal dulu ya.Tante titip Wirda sebentar."


"Iya Tante,"jawabku.


Tidak lama Tante pergi bersama suster menuju ruangan dokter.


Sementara itu aku segera duduk di samping Wirda dan berusaha membuatny tenang.


Huhuhhuhu.....


Huhuhhuhu......


Suara tangisan Wirda bertambah kencang.


"Sudah Wir,istighfar,"ucapku sambil mengusap lembut bahunya.


"Ran..,"ucap Wirda sambil mengusap air matanya.


"Iya,"jawabku.


"Papaku...jatuh sakit ...semua ..karena keluarga Kak Reno,"ucap Wirda terbata dengan suara parau.


Hatiku tersentak seketika mendengar ucapan Wirda.


"Bagaimana bisa Wir?,"tanyaku.


"Apa yang tidak bisa mereka lakukan Ran.Dengan uang dan kekuasaan yang mereka miliki.Mereka menghancurkan bisnis papaku dalam sekejap Ran.Mereka memfitnah papaku."


"Tetapi kenapa?kenapa mereka melakukan itu?mereka orang yang baik selama ini aku mengenalnya."


Kali ini Wirda menatapku tajam dan mengusap air matanya kembali.


"Baik...mereka semua orang jahat Ran,"ucap Wirda dengan marah.


Aku terdiam mendengarkan Wirda berbicara.


"Ran,selama ini mereka berpura-pura baik padamu.Kamu tahu apa yang sudah mereka lakukan pada keluarga Kak Roy.Sama seperti yang mereka lakukan padaku Ran.


Itu semua demi menjauhkanmu dari Kak Roy.


Agar rencana Kak Reno berjalan lancar.


Ia tidak berubah Ran.


Kak Reno masih seperti dulu seorang laki-laki angkuh,jahat dan kejam.


Ia rela melakukan segala cara untuk membalas dendam.


Untuk menyakitimu Ran,"ucap Wirda panjang lebar.


Aku seperti tersambar petir mendengar ucapan Wirda.


Lidahku keluh.


Dadaku terasa sesak dan penat.


"Ran,maka dari itu aku mohon kamu pergi dari rumah itu.Dan jauhi mereka,"ucap Wirda memegang pundakku.


Tetapi aku tidak bergeming.


Benarkah apa yang di katakan Wirda,batinku dalam hati.


"Sekarang semua aset dan barang berharga kami sudah tidak ada lagi Ran.Aku....aku khawatir dengan kondisi papa.Bagaimana dengan biaya perawatan papa?huhuhuhu....huhuhuhu.....aku takut terjadi hal yang buruk pada papa Ran,"ucap Wirda ketakutan.


"Tidak Wir....in syaAllah tidak akan terjadi hal yang buruk pada papamu.Kita berdoa kepada Allah meminta kesembuhan papamu ya.Dan nanti aku akan bicara pada keluarga Kak Reno tentang masalah ini."


"Jangan Ran...jangan,"ucap Wirda ketakutan.


"Aku takut terjadi apa-apa padamu Ran."


"In syaAllah tidak Wir,ada Allah subhanahu wa ta'ala yang akan selalu menjaga dan melindungi ku Air,jadi kamu tidak perlu cemas ya,"ucapku menenangkannya.


Tidak lama kemudian mama Wirda datang.


"Oh ...ya Wir,sebentar aku beli minum untuk Tante dan kamu dulu ya.Nanti aku kembali lagi."


Wirda mengangguk.


Aku pun berjalan pelan sambil menahan rasa nyeri di kakiku.


Tetapi pikiranku mengalahkan rasa sakitnya.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi ya Allah?


Bantulah dan tunjukanlah aku jalan kebenaran.Jalan yang Engkau ridhoi.


Berilah aku petunjuk ya Allah,batinku dalam hati.


Dan tidak sengaja dari kejauhan aku melihat Mbak Riska ,Bu Sri ,Pak Sugeng dan Kakek di rumah sakit ini.


Mereka masuk ke dalam ruangan.


Itu pasti tempat Kak Reno di rawat.


Aku ingin mengetahui kondisinya,batinku.


Pintunya tidak tertutup rapat dan tidak di kunci.Mungkin mereka lupa menutupnya.


Sayup-sayup kudengar suara mereka berbincang dan terselip gelak tawa.

__ADS_1


Aku mendengarkan percakapan mereka.


__ADS_2