
Semua orang bergegas mempersiapkan diri.
Aku dan Mas Fariz duduk berdekatan di taman depan rumah memandangi gemercik suara aliran kolam ikan. Langit tampak tidak terlihat cerah seperti biasanya, gumpalan awan berwarna kelabu sedikit menutup tirai langit. Tidak jauh dari tempatku dan Mas Fariz duduk, tampak Pak Budi, Bik Siti dan beberapa asisten rumah tangga lainnya sibuk memasukkan koper besar dan beberapa barang di dalam mobil. Tidak lama Ummah datang bersamaan dengan Wirda, lalu disusul oleh Abi dan Enjid.
Tampak mereka semua memakai pakaian warna pastel senada mengikuti busana yang ku kenakan dengan Mas Fariz.
Paras mereka terlihat sendu tetapi berusaha untuk menampakkan senyum bahagia. Aku dan Mas Fariz berdiri bersamaan menghampiri kedatangan mereka semua. Dimana Ummah dan Wirda langsung menyambutku dengan pelukan yang membuat suasana menjadi harus seketika. Perlahan dalam pelan, suara isak tangis Ummah mulai terdengar lirih dan menyayat hati. Semua terdiam dan tidak mampu untuk memberikan kata penenang untuk hati Ummah yang gusar.
Sesekali terlihat jemari tangan Abi mengusap punggung Ummah lembut untuk menguatkannya. Ummah memandang wajahku lekat dan mendaratkan ciuman kasih sayangnya bertubi-tubi pada kening dan wajahku, lalu memeluk erat.
Enjid yang melihat sikap Ummah tidak dapat menahan lisannya untuk berucap, "Masih belum terlambat put, jika memang hatimu berat melepaskan Fariz dan Rani untuk tinggal sementara waktu di luar negeri. Maka mereka bisa membatalkan nya juga saat ini. "
Ummah melepaskan pelukannya dari tubuhku, lalu menyeka air matanya hingga kering.
"Tidak Njid. Saya kuat dan tegar, ini hanyalah kesedihan sesaat untuk kebahagiaan mereka. Jika pun kerinduan di hati tidak tertahankan, saya akan mengunjungi Fariz dan Rani dalam waktu dekat, " ucap Ummah dengan tegas.
Enjid tampak berpikir lalu menarik napasnya perlahan, "Ya sudah, jika itu yang menjadi keputusan dirimu. Maka jangan terus larut dalam kesedihan, dimana kepergian Fariz dan Rani itu juga memenuhi permintaan darimu."
Ummah mengangguk mengerti dan memaksakan dirinya untuk benar-benar tegar melepaskan kepergianku dan Mas Fariz.
Tanpa berlama -lama lagi, kami semua menaikki dua mobil yang berbeda untuk segera menuju ke bandara.
Ummah sengaja meminta satu mobil dengan diriku dan Mas Fariz, dimana Ummah duduk di antara kami berdua. Selama di perjalanan Ummah tidak pernah berhenti melepaskan genggaman jemari tangannya dariku dan Mas Fariz. Ummah seakan-akan tidak menginginkan kami pergi dari sisinya, tetapi sisi hatinya yang lain Ummah ingin agar diriku dan Mas Fariz tetap pergi. Tidak ada air mata lagi yang menghiasi paras Ummah yang terlihat sembab dan bengkak, karena terlalu banyak menangis. Aku pun tidak banyak berkata, hanya bahasa tubuh yang terurai menjawab akan sikap Ummah padaku.
Di dalam keheningan , tiba-tiba Ummah berkata kepada Bik Siti untuk menjaga diriku sebaik-baiknya selama di Mesir. Bik Siti mengangguk dan mengatakan kesanggupannya, yang membuat Ummah memiliki banyak pesan dan permintaan kepada Bik Siti.
Bik Siti tersenyum dan mendengarkan apa yang Ummah katakan, sebab Bik Siti memahami kegelisahan yang Ummah rasakan saat ini.
Pak Budi terus melajukan mobil yang dikendarainya, di ikuti mobil yang ditumpangi Abi dan Enjid di belakang mobil kami.
Pandangan mataku beralih ke luar kaca jendela mobil, dan menatap keadaan langit yang berubah mendung gelap.
"Masih pagi hari. Tetapi langit sudah sangat gelap ,seperti mau turun hujan, " celetuk Bik Siti.
Semua orang terdiam dan juga sesekali melihat keadaan di luar mobil. Pak Budi segera memacu laju kendaraan mobilnya, supaya kami tiba di bandara sebelum hujan turun.
__ADS_1
Suara deru mesin mobil pun memecah keheningan pagi yang berselimut mendung.
"Tidak perlu terburu-buru Pak Budi, " ucap Mas Fariz mengingatkan.
"Iya Nak Fariz, " sahut Pak Budi.
Ummah terlihat tampak sedikit tidak terlalu tegang, setelah mendengar apa yang di katakan oleh Mas Fariz. Sesekali ku pandangi wajah Ummah yang juga memandang balik kepada diriku, lalu melempar senyum kecil getir yang kutangkap. Dari pandangan matanya, aku merasakan bahwa Ummah ingin mengungkap kepada ku, bahwa dirinya tidak apa-apa. Meskipun hal itu berbeda dari isi hatinya yang sebenarnya.
Tidak lama setelah itu, mobil yang membawa diriku dan seluruh keluarga Imandar telah tiba di bandara. Dengan cepat Mas Fariz turun, diikuti Bik Siti, Wirda dan diriku. Namun, ku lihat Ummah masih terdiam duduk di dalam mobil. Hingga dengan perlahan ku usap punggung Ummah untuk mengajak dirinya turun bersamaku.Wajah keterkejutan mewarnai paras Ummah, lalu ia memandangi wajahku sesaat. Barulah beberapa detik setelahnya, ia turun menyambut uluran tanganku.
Pak Budi dan Bik Siti membantu Mas Fariz menurunkan koper dan beberapa barang lainnya. Kemudian Abi, Enjid dan pak sopir yang mengemudikan mobil mereka datang bersamaan di belakang kami semua.
"Ayo kita segera masuk dan menunggu di dalam, " ajak Abi sambil merangkul tubuh Ummah.
Semua orang pun segera mematuhi ajakan Abi. Aku pun berjalan dengan Wirda yang tidak melepaskan gandengan tangannya dari lenganku.Mas Fariz berjalan beriringan dengan Enjid. Sementara itu, Pak Budi,Bik Siti dan Pak sopir mendorong koper dan barang yang akan ku bawa dengan troli.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kami semua berada di dalam.
Beberapa menit kemudian Mas Fariz bersiap-siap menuju ke loket untuk melaporkan tiket keberangkatan kami. Mas Fariz terlihat sabar menunggu, meskipun di depannya terdapat barisan panjang orang-orang yang juga sedang mengantri.Sesekali Mas Fariz melemparkan pandangannya ke arahku yang masih duduk menanti bersama Ummah dan yang lainnya. Semakin lama penumpang pesawat memenuhi ruangan tempat kami berada. Yang menandakan waktu keberangkatan akan segera tiba.
Suasana haru kembali datang,saat Mas Fariz telah selesai melaporkan tiket keberangkatanku dan dirinya.Momen dimana satu persatu dari anggota keluarga Imandar memberi salam perpisahan kepadaku dan Mas Fariz.Seiring berputarnya sang waktu, panggilan petugas di bandara pun semakin bergema untuk mengingatkan keberangkatan penumpang. Barang-barangpun hanya tinggal yang disandang ,sementara yang lainnya sudah melewati bagian pemeriksaan untuk di cek keadaannya dan ditimbang beratnya.Selesai sudah urusan barang, yang berikutnya tinggal rombongan penumpang termasuk diriku dan Mas Fariz nantinya akan beringsut untuk menuju ruang yang panjang sekaligus melakukan pemeriksaan identitas diri.
Mas Fariz dan diriku memeluk Ummah lagi sebelum benar-benar masuk ke ruangan keberangkatan.
"Ummah Fariz , Dek Rani dan Bik Siti berangkat dulu ya Ummah, " ucap Mas Fariz pelan dan lirih.
Ummah terdiam dengan bibirnya yang bergetar. Berpisah dengan orang yang disayang bukanlah hal mudah bagi siapa saja. Meskipun perpisahan tersebut hanya sementara waktu tetapi rasa berat melepaskannya pergi pasti ada.
Sama seperti yang dirasakan oleh Ummah. Dimana saat ini hatinya begitu berat melepaskan Mas Fariz dan diriku pergi. Meskipun semua ini adalah permintaan dari Ummah sendiri, tetapi hatinya masih begitu sangat berat untuk melepaskan. Sehingga tampaklah kesedihan dalam parasnya. Yang membuat hatinya menjadi gundah.
"Kenapa Ummah, kok Ummah diam?," tanya Mas Fariz.
Sambil berusaha menyembunyikan rasa sedih dan takutnya, perlahan jemari tangan Ummah menepuk lembut pipi Mas Fariz. Seraya ia memejamkan kedua matanya perlahan. Ummah berserah diri pada Kuasa Allah karena Dia-lah zat Yang Maha Menentukan. Taqdir perjalanan urusan Allah, di dalam hati Ummah berdo'a agar Mas Fariz dan diriku diberi keselamatan dan kemudahan hingga di tempat tujuan.
Ummah membuka matanya perlahan lalu menatap wajah Mas Fariz lekat kemudian memeluknya erat dan bergantian memeluk diriku. Semua keluarga memandang dengan tatapan penuh haru kegetiran.Tidak ada lagi kata yang terucap banyak, hanya tetesan air mata perpisahan dan lantunan do'a yang mengiringi kepergian ku dan Mas Fariz. Panggilan boarding untuk penumpang segera memasuki pesawat terus berulang.
__ADS_1
Dengan berat hati dan perasaan sedih, Ummah akhirnya melepaskan pelukan nya dariku juga Mas Fariz. Kemudian mencium kening ku dan Mas Fariz bergantian.
Aku dan Mas Fariz tersenyum, memandang wajah Ummah yang begitu dalam menatap kami. Perlahan jemari tangan Ummah dan diriku terlepas, dengan langkah kakiku dan Mas Fariz yang mulai menjauh pergi dari Ummah dan semua keluarga.
Mas Fariz , diriku dan Bik Siti berhenti sejenak memandang sekali lagi ke arah semua anggota keluarga, sembari melambaikan tangan dari kejauhan.
Kesedihan kembali menyeruak, termasuk juga di dalam hatiku. Mas Fariz mengenggam jemari tanganku lembut, untuk segera melangkah masuk ke dalam ruang keberangkatan.
Huftt.
Aku menghela napas pelan sambil memandang wajah Mas Fariz dan Bik Siti.
"Allaahumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa wathwi ‘annaa bu’dahu allaahumma anta ashshoohibu fissafari walkholiifatu fil-ahl. Ya Allah, mudahkanlah kepergian kami ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam bepergian, dan Engkau pula yang melindungi kami sekeluarga, "ucap Mas Fariz pelan sebelum melangkahkan kakinya lagi.
" Aamiin ya robbal'alamiin, "sahutku dan Bik Siti bersama-sama.
Aku, Mas Fariz dan Bik Siti melangkah masuk menuju ke dalam pesawat.
Sementara itu, Ummah memeluk Wirda memandang kepergian diriku, Mas Fariz dan Bik Siti dari kejauhan yang akhirnya menghilang pergi dari jangkauan pandangan mata semua orang.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan identitas diri . Aku, Bik Siti dan Mas Fariz segera masuk ke dalam pesawat mencari tempat duduk kami.
Mas Fariz mempersilahkan Bik Siti dan diriku duduk terlebih dahulu, setelah itu baru Mas Fariz duduk. Sambil memasang safety belt Mas Fariz membaca do'a kembali dengan khusyuk dan pelan, dimana diriku dan Bik Siti mengikutinya.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Subhanalladzi sakkhoro lana hadza wa maa kunnaa lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibun, allahumma inna nas’aluka fii safarinaa hadzal birro wat taqwa wa minal ‘amal maa tardho, allahumma hawwin ‘alaina safarona hadza wa athwi ‘annaa bu’dahu, allahumma antas shohibu fis safari wal kholifatu fil ahli, allahumma inni a’udzubika min wa’tsaais safari wa kaabatil mandzhori wa suuil munqolibi fil maali wal ahli.
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha suci Allah yang telah menundukkan (pesawat) ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Allah lah kami kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridloi. Ya Allah, permudahkan lah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga.Aamijn ya robbal'alamiin. "
Pesawat yang kami naikki mulai terbang.
Bressss..
Hujan deras turun seketika dengan lebat disertai gemuruh suara guntur yang bersahut-sahutan. Ummah bersama yang lainnya masih duduk memandang ke arah pesawat terbang yang kami tumpangi terbang meninggi ke angkasa menembus guyuran hujan lebat.
Abi terus mengusap punggung Ummah lembut yang terus menitikan air mata.
__ADS_1
Bandara menjadi saksi haru perpisahan Ummah dengan diriku dan Mas Fariz.