
Kami semua sudah berada di dalam mobil dan bersiap untuk menuju ke kediaman rumah keluarga Imandar.
Kali ini Kak Reno yang menyetir mobil menggantikan Pak Budi yang duduk tenang di samping Kak Reno.
Sementara itu, aku dan Ummah berada di kursi kedua dan Wirda duduk di belakang ku dan Ummah bersama Bik Inah.
Fariz masih terlelap tidur dalam seat carnya.
Selama di perjalanan pulang aku masih melihat ekspresi wajah penuh kecemasan dan kekhawatiran dalam raut paras Ummah juga Wirda.
Dan beberapa kali aku pun berusaha mengusap lembut jemari tangan Ummah untuk menenangkannya.
Ummah menatap ku sambil tersenyum kecil dalam ekspresi kecemasan yang berusaha ia tutupi dari ku.
Perjalanan pulang yang kami lalui pun berjalan dengan lancar tanpa kendala apa pun. Dan beberapa jam kemudian mobil yang di kemudikan oleh Kak Reno sudah tiba halaman rumah kediaman keluarga Imandar.
Kami semua mengucapkan hamdalah.
Begitu pun diri ku yang merasa sangat senang sekali dapat kembali ke rumah ini.
Pak Budi lebih dahulu turun untuk membantu Wirda dan Bik Inah menurunkan Fariz dari seat car.
Aku pun juga bersiap untuk turun. Tetapi pandangan mata ku tertuju pada Ummah yang masih diam terpaku dalam lamunan nya yang dalam.
"Ada apa Ummah?, " tanya ku sambil mengusap lembut jemari tangan Ummah.
Ummah kembali menatap diri ku lekat.
Namun, kali ini Ummah mengusap wajah ku dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa sayang, "jawab Ummah sambil tersenyum dengan di paksakan pada ku.
Aku menatap wajah Ummah penuh kerisauan juga. Karena aku mengerti akan hal apa yang membuat perasaan Ummah menjadi gundah.
" Apakah Ummah masih mencemaskan Rani karena Rani dan Kak Reno memutuskan untuk pulang sekaligus menemui Kak Roy dan putrinya?, "tanya ku pelan.
Ummah menganggukkan kepalanya dan mengenggam jemari tangan ku.
Kak Reno yang mendengar percakapan diri ku dan Ummah pun langsung menoleh ke arah kami dan tersenyum ke arah ku juga Ummah.
" Lebih baik sekarang Ummah masuk ke dalam bersama Rani untuk beristirahat. Pasti Ummah keletihan setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, "kata Kak Reno berusaha untuk mengalihkan beban pikiran Ummah.
Ummah menggelengkan kepalanya dan sekarang menatap serius pada Kak Reno.
" Reno, apakah keputusan mu dan Rani untuk berkunjung ke kediaman rumah keluarga Roy tidak bisa kalian batalkan saja. Ummah merasakan ada sesuatu yang tidak baik jika kalian bertemu. Tolong kamu pikirkan lagi keputusan mu.
Ummah tidak ingin jika Rani sampai terluka dan bersedih lagi Reno, "ucap Ummah sedikit resah.
Kak Reno memandang ke arah ku sebentar lalu menghela napasnya pendek.
"Ummah, " ucap Kak Reno dengan dalam.
Ummah dan diri ku pun memandang ke wajah Kak Reno secara bersamaan.
"InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja Ummah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala lebih mengetahui hal apa pun yang baik dan buruk pada kehidupan Reno dan Rani, " jelas Kak Reno.
Ummah terdiam sambil menghela napasnya setelah mendengarkan perkataan Kak Reno.
Aku pun dengan segera langsung mengajak Ummah untuk turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, Kak Reno dan Pak Budi mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil dan di bantu oleh asisten rumah tangga lainnya.
Sesampainya di dalam rumah keluarga Imandar Abi dan Enjid menyambut kedatangan kami semua dengan penuh suka cita.
Setelah bertemu dengan Abi dan Enjid.
Wirda segera menuju ke dalam kamar untuk menidurkan Fariz.
__ADS_1
Sementara aku, Kak Reno, Ummah, Abi dan Enjid masih mengobrol di ruang keluarga sembari menikmati susu jahe hangat yang di buatkan oleh asisten rumah tangga lainnya.
Setelah satu jam mengobrol dengan semuanya. Aku pun berpamitan untuk membersihkan badan ku sekaligus beristirahat. Ummah pun juga melakukan hal yang sama pada ku. Sementara Kak Reno masih asyik berbicara dengan Abi, Enjid dan Pak Budi.
----
Keesokan paginya aku dan Kak Reno tengah bersiap-siap untuk berkunjung ke rumah Kak Roy.
Tetapi kali ini Ummah tidak mengizinkan diri ku dan Kak Reno untuk pergi berdua saja.
Pak Budi dan Ummah pun turut serta dengan kami. Sementara itu Wirda yang di temani Bik Inah tetap berada di rumah menjaga Fariz yang masih kelelahan karena perjalanan jauh. Sementara itu, Abi dan Enjid pergi bekerja untuk melihat dan memeriksa perusahaan juga beberapa pekerjaan penting.
Selama di perjalanan menuju ke rumah Kak Roy.
Ummah secara terus menerus menunjukkan wajah cemasnya. Meskipun sudah berulang kali diri ku berusaha untuk menenangkan Ummah. Tetapi tetap saja ikhtiar ku gagal karena ketakutan Ummah yang berlebihan terhadap diri ku sungguh sudah benar-benar tertanam di dalam pikiran dan hatinya.
Beberapa kali lisan Ummah meminta kepada Kak Reno dan diri ku untuk tidak meneruskan niat kami berdua mengunjungi Kak Roy dan putrinya. Tetapi dengan santai, santun dan sikap tenang yang Kak Reno tunjukkan selalu dapat mematahkan keresahan Ummah. Meskipun tidak lama setelah itu kecemasan yang Ummah rasakan akan muncul lagi ke permukaan hatinya.
Dan aku hanya bisa diam memandang wajah Ummah sembari mengusap lembut jemari tangannya.
Tidak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Pak Budi sudah tiba di kediaman rumah Kak Roy.
Seperti sebelumnya saat kami semua sudah bersiap untuk turun. Ummah masih terasa berat dan sukar untuk melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Hingga aku pun harus membujuk Ummah sembari mengusap punggungnya. Barulah setelah itu Ummah bersedia turun dari mobil meskipun aku tahu ia melakukannya dengan rasa sangat terpaksa.
Pak Budi dan Kak Reno membawa beberapa buah tangan yang sengaja sudah ku persiapkan untuk Rani dan Kak Roy. Aku berharap mereka akan menyukai pemberian dari ku.
Semakin mendekati pintu masuk rumah Kak Roy wajah tegang dan cemas Ummah semakin terlihat jelas.
Aku pun dengan cepat segera mengenggam tangan Ummah dan berulang kali mengusap lengannya.
Tidak butuh waktu yang lama hingga kami semua pun sudah berada tepat di depan pintu masuk utama rumah Kak Roy.
Dimana kedatangan kami semua langsung di sambut oleh asisten rumah tangga Kak Roy yang dengan segera mempersilahkan kami semua untuk masuk ke dalam rumah.
Aku, Ummah , Pak Budi dan Kak Reno duduk menunggu kedatangan Kak Roy dan putrinya di ruang tamu rumahnya.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit berlalu hingga hampir mendekati tiga puluh menit waktu berlalu. Kami semua masih menunggu kehadiran Kak Roy dan putrinya yang belum juga tiba kehadirannya.
"Apakah Roy nya ada di rumah Bik?, " tanya Kak Reno pada asisten rumah tangga Kak Roy yang sedang menata makanan dan minuman di atas meja.
Sang asisten rumah tangga menggangguk pelan, "Nak Roy ada di dalam Nak Reno. Ia sedang bersiap-siap. Dan mohon tunggu sebentar sekalain Nak Reno bersama yang lainnya mencicipi dahulu makanan dan minuman yang sudah saya sajikan film atas meja. "
"Iya Bik. Terima kasih, " balas Kak Reno sambil menatap kepergian bibi asisten rumah tangga yang berlalu pergi.
Namun, setelah menunggu beberapa menit kembali. Kak Roy juga belum muncul dan memperlihatkan tanda-tanda kedatangannya.
Ummah pun terlihat semakin kesal dan gelisah.
"Sampai berapa lama lagi kita berada di sini dan menunggu Roy datang sayang, " kata Ummah pada ku.
Aku mengangguk dan mengerti akan maksud dari perkataan Ummah.
Karena aku juga merasakan jika Kak Roy memang sedang ingin mengulur waktu untuk dapat menemui kami semua.
Sambil mengusap punggung Ummah pelan aku pun berkata kepada Ummah untuk menunggu sebentar lagi kedatangan Kak Roy. Namun jika dalam beberapa menit ini Kak Roy juga tidak kunjung menemui kami. Maka aku mengatakan kepada Ummah jika kami semua dapat segera meninggalkan kediaman rumah Kak Roy.
Ummah, Kak Reno dan Pak Budi pun setuju akan saran yang ku sampaikan.
Dan benar saja setelah sekitar sepuluh menit berlalu Kak Roy pun juga tidak menunjukkan akan tanda-tanda kehadirannya.
Hingga saat asisten rumah tangga Kak Roy yang menyambut kedatangan kami menemui kami semua lagi.
Dengan wajah pucat dan seperti ketakutan.
Ia tidak berani memandang ke arah wajah kami semua. Ia hanya mengatakan permintaan maaf jika saat ini Kak Roy beserta putrinya belum siap dan mau untuk bertemu dengan kami semua khususnya diri ku.
Mendengarkan akan perkataan yang di sampaikan oleh sang asisten rumah tangga Kak Roy sungguh membuat Ummah semakin terlihat kesal dan marah.
__ADS_1
"Apa-apa'an ini kenapa Roy mempermainkan kami semua?.
Jika sejak awal ia tidak ingin bertemu dengan kami semua seharusnya ia tidak membuat kami semua menunggu dirinya seperti ini, " ucap Ummah kesal.
Aku pun berusaha untuk menenangkan Ummah dengan segera mengajaknya pergi dari kediaman rumah Kak Roy.
Tetapi rasa kekesalan dan kecewa yang Ummah rasakan lebih dahulu memenuhi rongga hati dan pikiran Ummah.
Dengan serius dan terbawa emosi Ummah pun berkata lagi kepada asisten rumah tangga Kak Roy tersebut.
"Bik tolong sampaikan kepada Roy. Setelah ini jangan pernah sekali pun ia meminta bahkan mengemis untuk bertemu dengan putri saya Rani. Meskipun dengan berbagai alasan dirinya akan kondisi anak perempuan yang sedang kritis. Saya sudah cukup baik dan berbesar hati meminta putri saya untuk bersimpati terhadap keadaan putrinya. Tetapi setelah niat baik putri saya dan kami semua kemari. Roy malah mengacuhkan kami semua seperti ini.
Ckckckck.. Sungguh keterlaluan Roy itu, " ujar Ummah panjang lebar dengan rasa kesal di dalam hatinya.
"Sudah Ummah. Istighfar Ummah, " kata ku mengingatkan Ummah sambil menarik tubuh Ummah untuk segera menjauh pergi dari ruang tamu di rumah Kak Roy.
Ummah sempat menolak dan ingin meneruskan perkataannya. Tetapi dengan cepat dan santun Kak Reno mengingatkan Ummah dengan perkataannya yang sedikit banyak dapat membujuk hati Ummah agar dapat luluh. Sehingga Ummah bersedia untuk segera pergi dari rumah Kak Roy.
Namun, sebelum pergi dari kediaman rumah Kak Roy. Aku pun menitipkan buah tangan yang ku bawa untuk Kak Roy dan putrinya kepada asisten rumah tangga Kak Roy.
Setelah itu kami semua berpamitan dengan asisten rumah tangga Kak Roy dan melangkah pergi menuju ke dalam mobil lagi.
Sesekali aku menoleh ke belakang untuk melihat keadaan sekitar rumah Kak Roy.
Hingga tanpa sengaja ku dapati Kak Roy yang memandang jauh ke arah kami semua dari jendela rumahnya di lantai dua.
Namun, saat ia mengetahui aku melihat dirinya dengan cepat Kak Roy bersembunyi dan menghilang dari pandangan mata ku.
Aku terkejut dan sedikit terdiam melihat sikap aneh Kak Roy seperti itu.
Apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya hingga ia bersikap aneh seperti ini batin ku di dalam hati.
Kak Reno segera membukakan pintu untuk Ummah agar dapat langsung masuk ke dalam mobil.
Kemudian giliran diri ku yang masuk ke mobil.
Sebelum aku masuk ke dalam mobil untuk beberapa saat pandangan mata ku bertemu dengan pandangan Kak Reno. Dimana tanpa kami sengaja telapak tangan kami berdua sakit bertemu dan bersentuhan saat jemari tangan ku memegang pintu mobil.
Kak Reno tersenyum memandang ke arah ku sambil mengusap kepala ku pelan.
Ummah yang semula terlihat kesal dan marah kini berubah tersenyum juga bahagia menyaksikan kedekatan diri ku dan Kak Reno.
Dan tanpa aku juga Kak Reno sadari.
Kak Roy dari kejauhan terus menatap ke arah kami berdua dengan tatapan penuh kebencian dan rasa tidak suka.
Tidak lama kemudian Kak Reno meminta ku untuk segera masuk ke dalam mobil.
Dan aku pun segera mematuhi permintaannya.
Ummah mengusap wajah ku dengan penuh kasih sayang saat aku sudah duduk di samping nya di dalam mobil.
Brukk.
Kak Reno menutup pintu mobil lalu ia pun bergegas masuk ke dalam mobil juga.
Tidak lama kemudian mobil yang di kendarai Pak Budi sudah melaju pergi meninggalkan kediaman rumah Kak Roy.
Di dalam mobil Ummah kembali pada perasaan kesalnya akan sikap kekanak-kanakan yang di tunjukkan oleh Kak Roy dengan membuat kami semua harus menunggu dirinya.
Aku pun mendengarkan keluh kesah Ummah sekaligus menenangkannya dengan perkataan ku yang setidaknya dapat menghibur perasaannya yang masih merasa kesal.
" Tidak apa-apa Ummah mungkin saat ini Kak Roy masih terpukul akan kepergian kedua orang tuanya. Sehingga ia belum cukup mampu untuk menemui kita semua di kediaman rumahnya. kita do'akan saja semoga Kak Roy dan putrinya dapat kuat dan mampu untuk melewati ujian yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada mereka."
"Aamiin ya rabbal'alamiin. Benar sekali apa yang di katakan oleh Rani itu Ummah. Jadi Ummah tidak usah terlalu memikirkan sikap Roy.
Reno yakin saat ini Roy pasti sangat terguncang dan sangat bersedih akan kepergian kedua orang tuanya itu. Untuk itu kita berikan saja waktu bagi Roy supaya dapat menenangkan dirinya terlebih dahulu. Sehingga ia tidak lagi menolak untuk bertemu dengan kita semua khususnya bertemu secara langsung dengan Reno dan Rani, " imbuh Kak Reno dengan ucapannya .
__ADS_1
Ummah pun mengangguk dan terdiam setelah mendengarkan perkataan dari diri ku dan juga Kak Reno.
Kami semua pun terdiam hingga tanpa sadar mobil yang di kendarai oleh Pak Budi sudah hampir tiba di kediaman rumah keluarga Imandar.