Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kakek pulang ke rumah


__ADS_3

"Turun!,"ucap Kak Reno kasar.


Aku menatapnya sekilas.


"Kamu dengar nggak sih,aku bilang turun sekarang.Kamu bisa meneruskan dengan jalan kaki kan ke sekolah.Sudah untung dapat tumpangan gratis,"ucapnya dengan menggerutu.


Tanpa menoleh ke arahnya aku pun langsung turun dari mobilnya.Akh,sudah kuduga sedari awal.Mana mungkin pria jahat seperti dirinya dapat berubah menjadi pria yang baik dalam sekejap,batinku dalam hati.


Aku pun terus melangkah meninggalkan mobilnya di belakangku.


TIINNN....TIINNN....


Bunyi klakson mobilnya mengagetkanku,


Aku menoleh ke belakang.Kak Reno membuka kaca jendela mobilnya,


"Hei,kalau jalan itu minggir!bukan di tengah,kamu apa mau ditabrak!,"ucapnya kasar.


Mobil Kak Reno pun melaju pergi meninggalkanku.


"Rani..Ran,"ucap seseorang.


Aku mencari ke arah sumber suara yang memanggil namaku.Kulihat dari kejauhan seorang anak perempuan yang tidak asing bagiku sedang melambaikan tangan memanggilku.


"Wirda...,"ucapku.


Ia pun berjalan menghampiriku.


"Ran,kok diam di pinggir jalan,"ucapnya.


"Akh,nggak apa-apa Wir,"ucapku.


"Ran,kepala dan bibirmu kenapa,"ucapnya khawatir.


"Oh,nggak apa-apa Wir,cuma terjatuh."


"Tetapi kok bisa sampai seperti itu Ran,"ucap Wirda sambil memegang lembut perbanku.


"Akh,nggak apa-apa Wir.Alhamdulillah aku nggak kenapa-napa kan Wir,"jawabku dengan tersenyum.


"Serius nih Ran,"ucapnya sedikit ragu.


Aku tersenyum kecil sambil mengangguk.


"Ya udah kalau begitu Ran,yuk bareng ke sekolah sama aku aja.Masih jauh loh Ran,"ajak Wirda.


"Nanti ngerepotin kamu Wir,"ucapku sungkan.


"Aduh kayak sama siapa aja sih Ran,ayo!,"ajak Wirda sambil menggandeng tanganku.


Aku pun tidak kuasa menolak permintaannya.Setelah itu Aku dan Wirda bergegas ke mobilnya dan menuju ke sekolah.


***


Sesampainya di sekolah aku dan Wirda turun di depan gerbang.Lalu kami pun meneruskan langkah kami menuju ke kelas.Tidak berapa lama Kak Roy menghampiriku,


"Ran,kamu baru nyampe?bukannya tadi kamu...,"ucap Kak Roy yang terputus kalimatnya karena Wirda menimpali,


"Eh Kak Roy,"sapa Wirda sambil meneruskan ucapannya,"Iya nih kak,tadi ketemu Rani di pinggir jalan lagi termenung.Untung Wirda lihat kalau nggak bisa telat Rani masuk sekolah,"jelas Wirda.


"Ha?pinggir jalan?,"ucap Kak Roy sedikit terkejut lalu meneruskan ucapannya,"Bukannya tadi Rani barengan..".


Aku langsung memotong pembicaraan Kak Roy,


"Maaf kak kita duluan ya masuk ke kelas,"ucapku sambil menarik Wirda menjauh.


Kak Roy terdiam melihatku dengan raut wajah penuh tanya yang tergambar jelas di parasnya.Lalu aku pun berlalu pergi dari sana.


Sesampainya di kelas,aku langsung menuju tempat dudukku.Namun aku begitu terkejut ketika kulihat ada sekuntum mawar merah yang terhias dengan pita berwarna ungu di atas mejaku.

__ADS_1


Wirda yang melihat pun berkata,


"Cieeeeee...dari pengagum rahasia nih ye,"goda Wirda.


"Apaan sih Wir,salah kirim tuh orang mungkin Wir,jangan-jangan buat kamu Wir,"ucapku membalas godaannya.


"Akh bisa aja Ran,kamu ngeles nya.Mana aku lihat Ran,siapa tau ada nama pengirimnya,"ucap Wirda sambil memeriksa bunga tersebut dengan mencari-cari petunjuk pengirimnya.Tiba-tiba jemarinya berhenti bergerilya dan berhasil menemukan potongan kartu kecil yang terselip,


"Nah kan ketemu.Coba kita lihat dari siapa.


Gadis sederhana dan tangguh yang kukenal.Teruslah memancarkan kilauan kebaikan akan tulus dan sucinya atmamu.Karena kutahu kamu berbeda dari yang lainnya.


Aku yang selalu ingin menggepakkan sayap-sayapku untuk selalu menjagamu.


Roy."


Wirda membacanya dengan penuh penghayatan.


"Cieeeeee.....dari Kak Roy,si pengagum rahasia Rani.Ehemmmmm....so sweet Ran,"ucap Wirda yang terus menggodaku.


"Astaghfirullah Wir,udah jangan berkata seperti itu lagi Wir.Nggak enak di dengar yang lain.Malu Wir,"ucapku memohon pada Wirda.


Wirda yang melihat ekspresi mukaku terlihat serius akhirnya berhenti menggodaku.


Aku kembali duduk terdiam dalam rotasi pikiranku.Apa yang harus ku katakan pada Kak Roy,supaya ia tidak terlalu berharap padaku.Oh Ya Allah seandainya hidupku tidak serumit ini aku ingin menjalani kehidupan normalku seperti semula yaitu hanya ada aku dan bunda dengan ikhtiarku dalam menggapai semua mimpiku untuk membahagiakan bunda.Namun,semua telah berubah dengan begitu cepat,batinku dalam hati.Lalu aku melanjutkan berdo'a agar Allah memudahkan segala urusanku,


"Robbanaa'aatinaa miladunka rohmatan,wahayyi'lanaa min amrinaa rosyadaa.Yang artinya Ya Allah,berikanlah kepada kami Rahmat dari sisi-sisiMu,dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.Aamiin ya Robbal'alamiin,"ucapku lirih.


***


TEETT.....TEETT


Bunyi bel sekolah berbunyi,sudah waktunya untuk pulang.Aku bergegas merapikan perlengkapan sekolahku.Sudah tidak sabar aku ingin berjumpa dengan bunda dan melihat keadaannya.Wirda lalu menggandengku,


"Ran,pulangnya aku antar ya?,"tanyanya padaku.


"Nggak usah Wir,"balasku.


"Nggak usah Wir,"ucapku pelan.


Aku pun menarik tangan Wirda pelan sambil melangkah meninggalkan ruang kelas.Tidak berapa lama kemudian aku dan Wirda sudah sampai di parkiran sekolah.


"Ran,beneran nggak mau aku antar nih,"tanya Wirda ulang.


"Iya Wir,"jawabku tegas.


"Ya udah kalau begitu,aku pulang duluan ya Ran.Assalamu'alaikum,"ucap Wirda berlalu.


"Wa'alaikumussalam,"balasku sambil tersenyum ke arah Wirda.


Setelah Wirda masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi.Aku kemudian melangkah menuju gerbang sekolah.Namun lagi-lagi Kak Reno datang secara tiba-tiba dan menarik tanganku menuju mobilnya.


"Aduh sakit...lepaskan,"ucapku meronta.


Akan tetapi ia tetap tidak mengubris rintihanku.Ia tetap menarikku dan mendorong tubuhku masuk ke dalam mobilnya.


Bughhh..aku terduduk,lalu dengan cepat ia menutup pintu mobil dan bergegas masuk.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?,"tanyaku pada Kak Reno.


Dengan ketus ia pun menjawab,"Udah diem nggak usah berisik.Banyak anak perempuan yang ingin duduk di mobilku ini.Kamu termasuk beruntung bisa duduk disini."


"Astaghfirullah,"ucapku pelan.


"Pakai sabuk pengamannya,masih ingat bukan.Atau perlu aku bantu lagi,"ucapnya dengan sedikit menyerengai padaku.


"Tidak usah,aku bisa sendiri,"ucapku.


"Bagus kalau begitu,"ucapnya datar lalu ia berkata lagi,"Dan ingat hari ini kakek akan pulang ke rumah,jadi bersikap manislah denganku.Ingat kita hanya berpura-pura di depan kakek saja.Selebihnya jangan pernah berharap lebih padaku.Kamu paham bukan!,"ucapnya ketus.

__ADS_1


Aku hanya diam.Sungguh bagaimana Kak Reno berpikir jika aku mengharapkan semua ini dan menyukainya,astaghfirullah,ucapku dalam hati.


Kemudian mobil Kak Reno melaju menuju ke rumahnya.


***


Sesampainya di rumah Kak Reno.Semua anggota keluarga sudah berkumpul.Ada Bu Sri,Pak Sugeng,kakek dan Mbak Riska.


Mereka semua menyambutku dan Kak Reno.


"Rani,cucu kakek,"ucap kakek memelukku.


"Iya kek,Alhamdulillah kakek sudah sehat sekarang,"ucapku dengan penuh kebahagiaan.


"Iya nak,semua berkat do'a-do'a kalian semua dan kehadiran Rani di rumah ini khususnya,"ucap kakek.


Lalu kakek memeluk Kak Reno.Semua tampak larut dalam kebahagiaan.


Bu Sri menghampiriku,


"Bagaimana keadaan putri mama sekarang,"ucapnya sambil memegang lembut daguku.


"Alhamdulillah baik Bu..ehh..ma,"jawabku.


Bu Sri tersenyum melihatku,


"Ya udah Rani ganti baju dulu ya nak.Setelah itu kita makan sama-sama.In syaAllah sore atau malamnya mama akan ajak Rani menjenguk bunda."


"Akhh...benarkah ma,"ucapku tidak percaya.


"Iya sayang,"jawab Bu Sri sambil mengelus kepalaku.


Mbak Riska pun menghampiriku untuk mengantarkanku ke kamar,


"Ayo Ran,mbak antar ke kamar ya dek,"ajaknya sambil menggandeng tanganku.


Aku pun tidak menolak sebab hatiku merasa sangat senang karena akan bertemu dengan bunda.Setibanya di lantai atas Mbak Riska mengajakku ke kamar lain,


"Loh mbak kita mau kemana,"tanyaku.


"Ke kamar Rani,"jawab Mbak Riska.


"Bukannya Rani di kamar Mbak Riska ya mbak?,"tanyaku penasaran.


"Nggak dek,mulai sekarang Rani punya kamar sendiri ya,"ucap Mbak Riska sambil menarikku perlahan.


"Kok nggak bareng sama Mbak Riska aja mbak?,"tanyaku.


"Nggak apa-apa dek,ini perintah mama,papa dan kakek.Supaya Rani leluasa punya kamar sendiri,"ucapnya sambil tersenyum sambil menekan tombol pada lift untuk menuju lantai selanjutnya.


Aku terdiam di dalam lift.Dan tiba-tiba pintu lift terbuka.Mbak Riska mengajakku keluar,


"Nah,sudah sampai deh,"ucap Mbak Riska sambil menggandengku berjalan.


Aku dan Mbak Riska melangkah menuju kamar yang akan kutempati.Begitu sangat luas sekali rumah ini,batinku.


Tidak lama Mbak Riska membuka pintu transparan lalu mengajakku masuk.


"Ran,yang disamping kiri itu kamar Rani ya dek.Sekaligus berhadapan dengan kamar Reno di depannya,"jelas Mbak Riska padaku.


Aku terdiam membisu.Hatiku seketika menjadi begitu sangat terkejut.Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka.Ternyata Kak Reno keluar dari pintu kamarnya.Ia melambaikan tangan dan tersenyum ke arahku.


Akh,rencana apa lagi yang kali ini ia akan mainkan,pikirku.


Wajahku pucat dan kaku,Kak Reno sepertinya sudah mengetahui semua ini.Ia tampak senang melihat ekspresi mukaku.


Perlahan ia berjalan ke arahku dan Mbak Riska.


Dengan senyumnya yang penuh misteri dan kiasan akan niatnya yang terselubung.

__ADS_1


Ya Tuhan,bantulah aku.Pintaku dalam kebisuanku.


__ADS_2