Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Hancur


__ADS_3

Sungguh aku benar-benar hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.Semuanya terasa sangat menyakitkan.Orang yang semula kuanggap sebagai malaikat penolong untukku.Namun dalam sekejap saja kebaikan itu menjadi sirna tertutup mendung kelabu.


Bunda menatapku sambil terus meneteskan air mata.Perlahan jemari lemahnya mengenggam tanganku lembut.Tetapi diriku begitu sangat syok dengan semua yang terjadi.Air mataku pun terasa begitu sulit lagi untuk menetes.Perih dan sakit seperti beribu anak panah menghujam hatiku.Bibirku keluh membatu,perlahan dalam pandanganku yang sayu kutatap wajah Pak Sugeng dan Bu Sri.Hatiku bertambah sakit,mereka yang kuanggap layaknya orang tuaku sendiri dalam sekejap menjadi pasangan penjahat yang mengelabuhiku.Mengapa aku begitu sangat bodoh menganggap niat mereka tulus membantuku.Mengapa mereka tega menipuku.Aku terus menatap mereka khususnya Pak Sugeng seorang tersangka utama yang mengubah seluruh kehidupanku dan bunda.Karenanya pula aku harus kehilangan almarhum ayahku.Seandainya ia bertanggung jawab saat itu.Seandainya ia tidak kabur saat menabrak ayahku.Mungkin saat ini aku masih dapat melihat ayahku.Mungkin ayahku masih dapat diselamatkan.Tetapi ia justru kabur dan meninggalkan ayahku.


Dadaku sesak,tanganku gemetar dalam kepalan amarah.Rasanya aku ingin mendekatinya dan berteriak meluapkan semua kemarahan dan rasa kecewaku padanya.Namun sekali lagi Pak Sugeng hanya dapat menangis dan menundukkan kepala tanpa mampu untuk memandangku dan bunda begitu pun dengan istrinya Bu Sri.


Suasana menjadi kelabu dalam kesedihan masing-masing.Wirda terus memegangiku sambil mengusap pelan bahuku.Sesekali pandangan mataku dan matanya bertemu untuk mengisyaratkan diriku agar tetap tenang dan tidak bertindak sembarangan.Dalam kesadaranku aku pun mengangguk perlahan memberi tanda kejelasan pada Wirda bahwa aku memahami maksudnya.Perlahan kutarik napasku dalam ketenangan kedua kelopak mataku yang terpejam.


" Astagfirullahaladzim. Artinya:Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung,"ucap lisanku perlahan.


Kulangkahkan kakiku perlahan mendekati bunda.Pandangan matanya sayu menatapku.Aku memahami derita bunda,rasa sedih dan kesal yang teramat sangat tergambar jelas dalam raut wajahnya.Rasanya hatiku hancur melihat kondisi bunda seperti itu.Ingin aku menangis sekencang-kencangnya.Namun aku mencoba tegar dan kuat di hadapan bunda agar tidak bertambah lagi kesedihannya.Kuseka air mata bunda perlahan,tatapan bunda begitu dalam memandangiku.Begitu tidak tega aku melihat bunda sehingga dengan lembut kupeluk tubuhnya yang lemah.


"Bunda jangan nangis bun.Bunda harus cepat sembuh supaya kita dapat bersama lagi Bun,"busukku pelan.


Bunda semakin kuat mendekapku.Suara Isak tangisnya begitu sangat menyayat hati.


Dalam isak tangisnya suaranya lirih berucap padaku,"Bunda sangat menyayangi Rani."Kemudian napasnya tersengal.


"Bun...Bun..Bunda kenapa,"tanyaku panik.


Namun bunda tidak merespon.Aku begitu sangat ketakutan,tubuhku terasa dingin dan gemetar sambil terus memanggil bunda.

__ADS_1


Semua orang lalu perlahan menghampiriku untuk melihat keadaan bunda.Lalu Kak Roy dengan cepat keluar untuk segera memanggil dokter.Tidak lama kemudian dokter dan perawat datang dan menyuruh kami semua untuk keluar.Dengan berat hati pun aku keluar dengan rasa cemas dan khawatir yang semakin menjadi-jadi.Aku begitu sangat takut melihat kondisi bunda seperti itu.


Diluar Wirda terus berada di sampingku,ia seolah mengetahui ketakutan yang kurasakan.Kak Roy pun datang menghampiriku sambil memberiku sebotol air mineral.


"Ran,minum dulu ya.Kamu terlihat pucat dan lemas,"ucap Kak Roy sambil menyodorkan botol air mineral padaku.


Dengan pelan dan lemah aku pun menolaknya,


"Terima kasih kak,tetapi Rani nggak haus kak,"ucapku.


"Minumlah sedikit Ran sejak tadi Rani terlihat lemas.Minum sedikit ya,"bujuk Kak Roy.


Melihat Wirda dan Kak Roy yang terus menerus membujukku.Akhirnya aku pun luluh dan segera meminum air mineral tersebut.Mereka berdua pun terlihat tersenyum kecil padaku.


Di sudut yang agak jauh di sampingku sekilas aku melihat Kak Reno yang menatapku.Wajahnya datar tetapi tidak terlihat sinis.Namun dengan segera aku memalingkan muka darinya.Aku malas dan lelah harus berurusan dengannya lagi.Sementara Pak Sugeng dan Bu Sri masih duduk lemas di dampingi Mbak Riska dan pengacara mereka Pak Gukul beserta kakek.Aku tidak terlalu memusingkan mereka,karena saat ini yang kucemaskan adalah keadaan bunda saja.


Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa lagi dengan bunda,ucapku dalam hati.


Tidak lama kemudian pintu kamar bunda terbuka tampak dokter dan perawat membuka pintu lebar serta beberapa perawat baru berdatangan.Aku semakin cemas dan khawatir saat troli ranjang tempat bunda tidur dibawa keluar.Aku pun langsung berdiri mendekat kesana.Kulihat wajah bunda yang lemah dan tidak sadarkan diri,dimana tabung oksigen dan infus menancap pada tubuhnya yang lemah.


Kudekati dokter dengan panik diikuti langkah Wirda dan Kak Roy,

__ADS_1


"Dok,apa yang terjadi dengan bunda saya?bagaimana keadaannya?dan mau dibawa kemana bunda dok?,"tanyaku panik dan takut.


Dokter pun menjawab dengan tergesa-gesa,


"Pasien dalam kondisi sangat kritis,sehingga harus dilarikan ke ruang ICU untuk mendapatkan pertolongan segera,"jawab dokter berlalu dengan terburu-buru diikuti beberapa perawat.


Aku begitu syok dan hampir tidak kuat menopang tubuhku.Namun aku tetap berusaha mengikuti langkah dokter dan perawat membawa bunda hingga ke ruang ICU.Semua orang pun mengikutiku hingga langkahku terhenti saat dokter dan perawat menutup pintu ruang ICU karena tidak mengizinkanku masuk kedalam.Wirda cemas melihat kondisiku,ia terus memegangiku,


"Ran,yang kuat ya.Kita duduk dulu di situ ya Ran,"ucap Wirda pelan sambil menuntunku duduk.


Pak Sugeng dan yang lainnya tiba dan melihat ke arahku.Namun tidak ada satu pun kata-kata yang keluar dari bibir mereka.Hanya kakek yang menghampiriku pelan dan mengenggam jemariku lembut.Matanya berkaca-kaca memandangiku dan bibirnya pun membisu.


Namun aku terlalu larut dalam memikirkan keadaan bunda hingga tidak terlalu banyak aku merespon kakek.Sebelum pergi kakek mengusap kepalaku perlahan lalu ia duduk di kursi belakangku.Jantungku terus berdetak kencang,tubuhku lemas rasanya duniaku seolah runtuh perlahan.Aku benar-benar takut akan kondisi bunda.


Kak Roy menghampiriku,


"In syaAllah,bunda baik-baik saja Ran.Rani jangan terlalu khawatir ya.Rani juga harus memikirkan kondisi Rani.Serahkan semuanya kepada Allah,kita hanya mampu berdo'a dan bertawakal.Kakak yakin Rani kuat dan mampu menghadapi ujian dari Allah,"ucapnya pelan sambil menatapku.


Aku hanya memandang lemas pada Kak Roy yang berusaha membuatku tegar dan kuat.


Senyumnya terbingkai kecil namun teduh.Ia terus berada di sampingku bersamaku untuk menguatkanku.

__ADS_1


__ADS_2