Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kebahagiaan.


__ADS_3

Ummah terus memelukku erat dengan air mata yang berlinang penuh keharuan, dan aku membiarkan beliau meluapkan rasa haru bercampur bahagianya. Dokter dan perawat seakan memaklumi akan rasa kebahagiaan yang sedang Ummah rasakan.


Perawat menyingkirkan kursi dan alat medis yang menghalangi posisinya untuk Ummah mendekat kepadaku. Namun, Ummah menginsyafi akan sikapnya, yang membuat Ummah secara perlahan menyeka air mata kebahagiannya dan mulai membuka pembicaraan dengan dokter.


"Dok, jadi putri saya Rani sudah sepenuhnya pulih ya dok?, " tanya Ummah memastikannya kepada dokter.


Dokter mengangguk kepalanya dan menjawab pertanyaan yang Ummah ajukan.


"Alhamdulillah iya Bu Putri, sekarang Nak Rani dapat beraktivitas seperti biasanya dan nanti cukup tiga bulan sekali untuk jadwal kontrol pemeriksaan matanya. "


Ummah tersenyum dan mengucapkan banyak Terima kasih kepada dokter.


Dan tidak lama kemudian Bik Siti langsung datang memeluk diriku karena ia mengetahui dari Wirda jika penglihatanku sudah kembali seperti semula.


Aku, Ummah, dokter dan perawat terkejut dengan kedatangan Bik Siti yang tiba-tiba.


Aku dan semua orang yang berada di dalam ruangan pun memaklumi akan sikap spontan dari Bik Siti.


Huhuhu ....huhuhuhuhu...


Tangis bahagia Bik Siti pecah memenuhi ruangan, perasaannya ia tumpahkan dalam derai air mata keharuannya. Dan diriku membalas dekapan hangat Bik Siti yang begitu tulus menyayangiku. Dalam isak tangisnya, ucapan syukur tiada henti ia panjatkan kepada Sang Kuasa untuk kebesaran rahmatNya mengembalikan indra penglihatanku lagi. Diriku pun tidak menghentikan luapan kebahagiaan yang Bik Siti berikan kepadaku, di dalam pelukan kasih sayang Bik Siti mataku memandang ke arah pintu. Disana terlihat Wirda masuk disusul Pak Budi dan terakhir Ustad Fariz. Wajah kebahagiaan terus terpancar dari raut paras mereka. Begitu juga Ustad Fariz, untuk sesaat pandangan mata kami bertemu dan dengan cepat ia menundukkan pandangannya dalam senyum kecilnya.


Mereka bertiga menghampiriku dengan terus bersyukur kepada Sang Maha Pencipta untuk semua karunia-Nya yang hampir tidak pernah mereka dan diriku bayangkan sebelumnya, jika penglihatanku dapat kembali seperti semula.


"Alhamdulillah atas Izin dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan usaha keras dari Dek Rani untuk terus memanjatkan doa dengan tulus ikhlas dan memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah, maka Allah mengangkat penyakit yang di derita Dek Rani berkat kesabarannya selama ini dalam menerima ujian yang Allah berikan. Seperti dalam dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah ia berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:


Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya, maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa ta’ala. (HR. Muslim), "tutur Ustad Fariz yang berada di dekat Ummah.


Aku pun tersenyum mendengarkan apa yang Ustad Fariz sampaikan seraya berdoa di dalam hatiku memanjatkan pinta kepada Sang Khalik atas kesembuhan yang Dia berikan kepada diriku.


Alhamdulillahil ladzi bi 'izzatihi wa jalalihi tatimmush shalihat. Segala puji bagi Allah, melalui kemuliaan dan keagungan-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna.


Tidak lama setelah itu Ustad Fariz berkonsultasi dan menanyakan secara detail kondisiku sekarang ini, mengenai tentang apa yang harus aku lakukan, hal apa yang harus kucegah atau hindari demi terus menjaga kesehatan mataku. Sementara itu, Ummah, Wirda, Bik Siti mengajakku menunggu diluar dan Pak Budi mengambil obat yang telah diresepkan oleh dokter di apotek.


Aku duduk di dekat ruangan tempatku sebelumnya diperiksa dan diapit oleh Ummah dan Wirda. Jemari mereka terus mengenggam tanganku di tiap sisinya, mereka seolah lupa jika kini aku sudah dapat melihat. Sesekali kami bertiga melempar pandang dan senyum seakan bingung untuk mengatakan apa satu sama lain. Hingga Bik Siti yang duduk di samping Ummah melempar kata kepada diriku.


"Apakah setelah pulang dari rumah sakit Nak Rani ingin berjalan-jalan dahulu seperti ke taman atau ke waduk buatan sambil melihat hamparan sawah?. "


Aku melihat ke arah Bik Siti sambil memikirkan usul yang Bik Siti katakan.


"Apakah boleh dan diizinkan oleh dokter Ummah, untuk Rani segera keluar menikmati keindahan alam.Meskipun sebenarnya Rani ingin sekali, " ucapku ragu.


Ummah mengusap kepalaku pelan dan tersenyum, "Sepertinya boleh Nak. Tadi kan dokter mengatakan jika indra penglihatan Rani sudah memiliki kemampuan melihat yang optimal dan tidak ada infeksi atau keluhan indikasi medis lainnya. Tetapi bagaimana jika kita menunggu Fariz yang sedang berkonsultasi dengan dokter mata yang menanggani Rani saja ,untuk mengetahui apakah boleh atau tidaknya Rani beraktivitas di outdoor dan terpapar cahaya matahari langsung, " saran Ummah.


Aku yang sedari tadi memandang wajah Ummah pun mengangguk dan tersenyum.


Mataku seolah terbius lagi ketika menatap wajah Ummah yang teduh dalam senyuman kecilnya, seakan almarhumah bunda menatapku lekat. Mataku berkaca-kaca dan dapat kurasakan genangan basah yang memenuhi kedua mataku. Ummah memandang wajahku dengan berpikir melihat mimik wajahku berubah dalam melihatnya. "Ada apa Nak? Mengapa Ummah lihat matamu berkaca-kaca?. "

__ADS_1


Ummah memegang dahulu pelan, sementara Wirda dan Bik Siti yang mendengar ucapan dari Ummah mengalihkan perhatiannya kepada diriku juga dengan rasa kecemasan.


"Iya ada apa Ran, mengapa matamu berkaca-kaca? Apakah kamu sedih dan sedang memikirkan sesuatu?, " Wirda bertanya kepadaku seperti apa yang Ummah tanyakan.


Bik Siti pun lalu berdiri dan mengambil kursi bundar tunggal dan memindahkannya untuk duduk tepat di hadapanku.Tangan Bik Siti memegang jemariku, ia begitu tidak tenang jika melihat kesedihan menghampiri diriku.


MasyaAllah hatiku berucap akan ketulusan dan perhatian mereka bertiga yang luar biasa padaku. Dan dengan bibir yang bergetar, aku berusaha untuk bertutur supaya menghapus rasa gundah yang menghampiri mereka bertiga.


"Alhamdulillah Rani baik-baik saja Ummah, Bik Siti dan Wirda. Hanya saja saat Rani memandang wajah Ummah. Rani terkenang akan almarhumah bunda yang sudah meninggal, paras Ummah yang hampir mirip dengan bunda Rani membuat perasaan di dalam hati Rani bercampur aduk penuh keharuan. Seakan merasakan jika almarhumah bunda saat ini sedang bersama Rani di dalam wujud Ummah, "jelasku pelan.


"Oohh.. Ya Allah, " lirih Ummah lalu mendekap tubuhku di dalam pelukannya.


Ummah mengusap lembut pundakku dan mencium kepalaku berulang. Aku pun begitu menikmati setiap curahan kasih sayang dari Ummah yang begitu membangkitkan memori kenanganku bersama almarhumah bunda. Kupejamkan kedua mataku membayangkan dalam pikiranku bahwa Ummah adalah bunda, yang membuat perasaanku dipenuhi keharuan dan kedamaian.


Bik Siti dan Wirda tersenyum memandang ke arahku dan Ummah, sembari jemari tangan Wirda mengusap pundakku dan jemari tangan Bik Siti mengusap lenganku.


Tanpa kami sadari Ustad Fariz dan Pak Budi dari kejauhan sambil berjalan pelan sedikit tertegun memandang ke arah kami.


"Bu Putri begitu sangat menyayangi Nak Rani ya Nak Fariz, beliau tidak henti-hentinya memeluk Nak Rani selepas Nak Rani mendapatkan penglihatannya kembali. Sungguh saya tidak dapat membayangkan jika setelah ini Nak Rani akan meninggalkan dan keluar dari kediaman rumah Nak Fariz, " ucap Pak Budi.


Ustad Fariz yang mendengar ucapan dari Pak Budi juga memikirkan hal yang sama tentang apa yang akan terjadi kepada Ummahnya sepeninggal Rani nanti. "Itu juga yang menganggu pikiran saya Pak. Namun, biarlah waktu yang akan menjawabya nanti Pak. Sekarang biarkan saja dulu Ummah menikmati kebersamaan dengan Dek Rani sesering mungkin sebelum Dek Rani pindah menempati kediaman barunya nanti. "


Hufh....


Ustad Fariz menghela dan menghembuskan nafas, lalu berjalan beriringan dengan Pak Budi untuk menghampiri kami bertiga.


Setelah Pak Budi dan Ustad Fariz berada di dekat kami. Bik Siti langsung menanyakan perihal mengajak diriku untuk berjalan-jalan diluar ruangan menikmati pemandangan kepada Ustad Fariz. Dan semua orang pun tersenyum senang begitu juga diriku, bahwa dokter tidak ada memberikan larangan untukku beraktivitas di ruang terbuka. Maka setelah mendengar hal itu Ummah langsung mengajak kami semua menuju mobil dan bergegas untuk pergi ke waduk buatan yang tidak jauh letaknya dari rumah sakit tempatku diperiksa saat ini. Semua orang setuju dan tertawa bahagia. Namun, sebelum pergi Ummah sudah mengabari Enjid dan Abi serta Kak Rafa perihal keadaanku sekarang, sekaligus pamit memberi tahu jika kamu semua akan berjalan-jalan ke waduk buatan di dekat sini yang terkenal akan pemandangan alamnya yang asri dan begitu indah.


Di dalam mobil yang melaju perlahan dikendari oleh Pak Budi.Aku duduk dengan terus melihat ke luar dari balik kaca jendela mobil, sengaja Ummah membiarkan diriku untuk duduk di dekat pintu agar pandangan mataku tidak terhalang untuk melihat pemandangan yang kami lalui selama rute menuju ke waduk.Mataku kembali dibuat takjub menyaksikan kembali semua bentuk ciptaan Allah subhanahu wa ta'ala yang tersorot dalam mataku.Hatiku begitu gembira dan bersuka cita atas karunia kembalinya penglihatan netraku.Tidak sedikit aku merasa takjub akan pemandangan indah yang membuat perasaanku bahagia,dan semua orang yang berada di mobil seakan membiarkan diriku untuk beradaptasi dengan kornea mataku yang baru."MasyaAllah,Ummah tidak pernah melihat Rani begitu senang seperti sekarang ini,"ucap Ummah.


Aku menoleh memandang ke arah Ummah yang duduk di sampingku sambil tersenyum lebar ke arahnya. "Rani memang sangat cantik jika tersenyum,"puji Wirda secara tiba-tiba.


"MasyaAllah Tabarakallah,jangan menggodaku dengan memuji seperti itu Wirda,"ucapku tersipu malu.


Wirda menyeringai dalam tatapannya yang nakal untuk menggodaku. "Apa yang kukatakan itu benar apa adanya Rani sayang.You do look very beautiful if you laugh.That's Rani's truth and I'm not kidding about it.Benar tidak Kak Fariz?,"tanya Wirda dengan tawanya yang menyeringai.


Ustad Fariz yang mendapkan pertanyaan kejutan dari Wirda menjadi tegang dan bingung seketika.Ummah, Bik Siti dan Wirda tersenyum bersama-sama.


Akh, rupanya mereka bertiga bekerja sama untuk menggoda Ustad Fariz rupanya, batinku.


Mataku melihat wajah kebingungan Ustad Fariz dari kaca spion kecil di atas mobil kemudi dekat Pak Budi. Untuk membantu Ustad Fariz aku pun mengalihkan pembicaraan pada topik lain, supaya Ustad Fariz merasa jauh lebih baik. Dan benar saja wajah kelegaan terlukis dari paras putih dan berseri Ustad Fariz.


Dan dalam perbincangan kami tidak terasa membawa laju mobil yang di kendarai oleh Pak Budi terhenti di tempat waduk yang akan kami kunjungi. Ekspresi wajah penuh kebahagiaan merona dalam diriku.


Seperti biasa Ustad Fariz membukakan pintu mobil, namun kali ini mungkin ia lupa jika aku yang duduk di dekat pintu mobil. Pintu mobil pun terbuka dan sesaat pandangannya bertumpu pada tatapanku. Ustad Fariz terkejut dan menundukkan pandangannya begitu pula aku. Dalam suaranya yang pelan dan lirih, ia mempersilakan diriku untuk turun dan aku pun mengucapkan terima kasih. Sementara Ummah dan yang lainnya tersenyum dan saling memandang satu sama lain melihat kekakuan akan rasa canggung yang diperlihatkan Ustad Fariz kepadaku.


Kami semua pun turun dari mobil, dan kembali indra penglihatanku dibuat takjub akan keindahan alam yang sudah lama tidak pernah kulihat sebelumya.

__ADS_1


Dalam diamku merenungi akan kebesaran dari Sang Maha Pencipta, batinku menyerukan do'a dalam memaknai akan rasa takjub ku untuk semua keindahan ciptaan Nya yang kini dapat kunikmati dengan indra penglihatanku.


Rabbanaa maa khalaqta haaza baathilan Subhaanak, faqinaa 'adzaaban Naar.


Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.


Alhamdulillaahil-ladzii bini'matihi tatimmush-saalihaat. Segala puji bagi Allah dengan nikmat-Nya bisa sempurna segala kebajikan, batinku.


Ummah dan Wirda mengajakku dan yang lainnya duduk pada kursi yang melingkar dari kayu, dimana dari tempat duduk yang dipilih Wirda dan Ummah kami semua dapat melihat indahnya secara keseluruhan pemandangan di waduk itu beserta aktivitas orang-orang lainnya.


Setelah aku duduk, Ummah, Wirda dan Pak Budi pergi memesan makanan dan minuman. Dan tinggal diriku, Ustad Fariz dan Bik Siti. Sebelumnya Bik Siti juga ingin ikut serta dengan Ummah, tetapi aku cegah dan memintanya untuk duduk di sampingku dengan berbagai macam alasan yang Bik Siti utarakan. Namun, sesungguhnya aku tahu ini semua adalah bagian dari rencana Ummah dan Wirda untuk mendekatkan diriku dengan Ustad Fariz.


Sesekali aku melirik ke arah Ustad Fariz yang masih merasa canggung, ia begitu berbeda saat pertama kali diriku bertemu dengannya. Bibirku tersungging dalam tawa kecil melihat Ustad Fariz seolah takut berada dekat denganku.


"Mengapa Dek Rani tertawa? Apakah ada yang aneh dengan saya?, " tanya Ustad Fariz menelisik.


Aku pun menganggukkan kepala sambil tersenyum dan itu membuat Ustad Fariz semakin merasa salah tingkah. Kedua alisnya saling bertemu untuk menerka memikirkan arti tawa dan anggukan kepalaku. Melihat sikap Ustad Fariz yang seperti itu. Aku menjadi tidak tega dan segera bertutur kepadanya.


" Ustad Fariz tidak perlu memikirkan apa yang mendasari tawa Rani kepada Ustad Fariz, sebenarnya Rani merasa Ustad Fariz seperti takut berada di dekat Rani. Apakah Rani terkesan galak dan menakutkan? sehingga Ustad Fariz begitu canggung dan tidak seperti biasanya saat awal-awal dulu kita pertama bertemu,seingat Rani Ustad tidak demikian, "kataku.


Mendengar perkataanku Ustad Fariz sedikit tercengang ,dia mencoba untuk berlaku seperti biasanya.Tetapi tetap saja geksture tubuh dan mimik wajahnya memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari sikapnya.Tetapi aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Dan kini ia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun dari bibirnya yang terkunci rapat. Aku menghormati apa yang menjadi pilihannya untuk tidak menjawab pertanyaanku. Mungkin saat ini Ustad Fariz bingung atau tidak dapat menyusun kata-kata yang tepat untuk mengucapkannya kepada diriku .Dan aku pun hanya dapat tersenyum sambil memandang wajah Bik Siti yang sedikit tersenyum menyerinagi menatap Ustad Fariz yang semakin canggung.


Dan untuk menghilangkan rasa canggung pada diri Ustad Fariz aku pun beranjak dari dudukku, dan berjalan perlahan untuk memandangi panorama yang ada di sekitar waduk dari tempatku berdiri yang posisinya lebih tinggi dibandingkan dengan tempat yang lainnya. Angin terus bertiup perlahan dan semakin kuat menggoyangkan gamis dan hijabku dengan pelan, rasanya sejuk dan damai saat sang bayu menerpa lapisan kulit epidermis di tanganku.Seolah ia menjabat tanganku dan mengucapkan rasa bahagia atas kembalinya Indra penglihatanku seperti semula. Ku adaptasikan mataku untuk melihat semua objek benda mati maupun benda hidup yang ada di sekitarku, dan merekam setiap keindahan yang tergambar jelas yang ditangkap dari pandanganku. Rasanya aku seperti menemukan gairah hidup baru, setelah sekian lama hanya kegelapan yang terus mewarnai hidupku, dan kini dalam warna gelap itu Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menjadikannya bercahaya indah penuh dengan warna-warni yang menentramkan hatiku.Dengan mengucapkan basmallah, aku membulatkan azzam niatku agar siap untuk membuat langkahku tangguh menyusuri kehidupan baru yang sudah siap menanti dan menempa diriku.Aku berharap semoga kali ini aku mampu berdiri pada kedua kakiku sendiri,tanpa menggantungkan kehidupanku lagi kepada orang lain.


Ustad Fariz dari kejauhan memandangi diriku lama, sesekali senyumnya mengembang menambah keteduhan dari parasnya yang berseri. Dan tanpa Ustad Fariz sadari Bik Siti terus memperhatikan sikap Ustad Fariz dan menyergapnya dengan pertanyaan yang membuatnya menjadi malu.


"Ehemmmm, Nak Fariz kok senyum-senyum sendiri memandangi Nak Rani. Nah, ini sudah tanda-tanda lho Nak Fariz. Apa yah itu bahasa inggrisnya Mmmmmm, " kata Bik Siti sambil berpikir.


Sementara Ustad Fariz seperti merasa tidak enak akan ucapan Bik Siti yang membuatnya tersipu malu.


"Akh Bik Siti bicara apa sih Bik, " jawab Ustad Fariz berusaha tenang.


Bik Siti tersenyum menatap Ustad Fariz lalu soontan berkata, "Nak Fariz bibi sudah ingat. "


"Ingat apa Bik?, " tanya Ustad Fariz serius.


"Sudah ingat bahasa inggrisnya kalau Nak Fariz sedang falling in love dengan Nak Rani yah, Hehehehe..... "


Bik Siti tertawa senang, sedangkan Ustad Fariz seperti tersentak kerongkongannya mendengarkan ucapan Bik Siti yang kali ini begitu membuat dirinya benar-benar tidak mampu untuk berkelit atau lari dari sorot pandangan Bik Siti yang tajam.


Wajah Ustad Fariz memerah, saat Ummah bersama Wirda dan Pak Budi datang membawa banyak makanan dan minuman.


Dan dengan cepat Ustad Fariz berdiri dari duduknya beralasan ingin pergi ke toilet.


Bik Siti hanya semakin tertawa melihat tindakan Ustad Fariz. Lalu Wirda menghampiriku, sementara Bik Siti menceritakan kepada Ummah tentang apa yang terjadi kepada putra sulungnya itu.


Ummah, Bik Siti dan Pak Budi tertawa bersama.

__ADS_1


Namun, Ustad Fariz terus berjalan dalam debar jantungnya yang terus berdetak kencang dan membuatnya tegang. Hufh...


Ia menghembuskan nafas seraya beristighfar menenangkan perasaannya yang semakin tidak mampu untuk ia kendalikan.


__ADS_2