
Sesampainya di kediaman keluarga Immandar. Abi turun pertama kali dari mobil lalu membukakan pintu untuk Ummah, kemudian di susul Enjid setelah itu diriku dan Mas Fariz. Dengan perlahan dan beriringan langkah kaki kami semua menyusuri halaman rumah yang begitu luas. Wewangian aneka rupa bunga memberikan kesegaran tersendiri memenuhi indra penciuman. Begitu pula dedaunan dari pepohonan rindang seolah-olah bergoyang-goyang dalam tariannya menyambut kedatangan kami semua.
Wuzz... Wuzz... Wuzz
Angin berhembus sedikit kuat, lalu perlahan-lahan menjadi lembut dalam semilir sepoi-sepoinya. Tidak ketinggalan gemercik suara air mancur yang jatuh pada kolam menjadi iringan musik tersendiri berpadu dengan semilir angin.
Tampak dalam pandangan mataku, Enjid sudah berjalan di depan kami, lalu Abi yang merangkul tubuh Ummah dan Mas Fariz yang tersenyum ke arahku.
"Mengapa Mas Fariz terus tersenyum melihat ke arah Rani?Apakah ada yang lucu Mas?,"tanyaku heran yang berbalik menatapnya.
Mas Fariz lalu menatapku lama, lalu diriku yang tidak tahan akan tatapan matanya yang tajam dan dalam hingga membuat jantungku berdegup kencang karenanya. Dengan segera ku alihkan pandangan mataku lurus ke depan, dan hal ini memantik perkataannya kepadaku.
" Mengapa Dek Rani menundukkan pandangan matamu dek? Lalu menghindari tatapan mas? Padahal kedua mata ini ingin terus menatap dirimu dan tidak mampu melepaskan pandangannya dari menikmati keindahan paras yang telah Allah Ta'ala ciptakan, hingga terus memikat dan menarik pandangan mata ini tertuju kepadamu, "tutur Mas Fariz pelan dan sambil berjalan mendekat ke arahku.
Aku pun memandang kembali ke arah Mas Fariz, " Maafkan Rani Mas, bukannya Rani bermaksud untuk menghindari tatapan Mas Fariz. Tetapi pandangan mata itu, membuat jantungku berdetak kencang dan menyesakkan dadaku. Sebab itulah aku mengalihkan pandanganku dari pandangan matamu yang tak kuasa untuk terus kutatap. "
Mas Fariz tersenyum kembali, "Mas senang mendengarkannya, itu berarti cinta dan perasaan kasih yang Mas salurkan melalui tatapan Mas kepada Dek Rani ,mulai terhubung membuat aliran frekuensi perasaan kita menjadi terhubung secara perlahan."
Aku terdiam sambil sesekali melirik ke arahnya, hingga kedua mata kami terpaut dalam belenggu pandangan kami. Diriku seakan-akan terhipnotis akan pesona ketampanan dan keteduhan pandangan Mas Fariz yang menatap diriku lekat. Hingga diriku tidak menyadari ada undakan tangga kecil untuk naik ke teras rumah.
"Auwww!, "teriakku pelan menahan tubuhku yang hendak terjatuh.
Perasaan melayang akan ketakutan karena terjatuh, telah berubah menjadi ketegangan dan loncatan aliran listrik yang terasa menyengat di sekujur tubuhku.Saat kedua tangan kuat Mas Fariz menangkap tubuhku dalam dekapannya.
DAG... DIG... DUG...
Jantungku berdegup semakin kencang, saat kedua matanya begitu sangat dekat menatap diriku.
" Ehemmm, Cieeee.... Pengantin baru yang bawa'annya mau nempel saja, "ucap suara perempuan.
Aku segera menjauh dari Mas Fariz, dan sebaliknya pula Mas Fariz dengan perlahan melepaskan kedua tangannya dari mendekap diriku. Aku dan Mas Fariz merasa canggung dan malu, sambil menatap satu sama lain. Kemudian, pandangan mataku dan Mas Fariz mencari pada suara perempuan yang menggoda kami.
" Wirda!, "ucapku dan Mas Fariz bersamaan.
Wirda lalu berlari memelukku erat, begitu pula Kak Rafa yang menghampiri Mas Fariz dan memeluknya juga.
"Baarokalaahu laka wabaaroka 'alaika wajama'a bainakumaa fii khoirin.Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan, " ucap Kak Rafa kepada Mas Fariz.
"Aamiin ya robbal 'alamiin. Jazakallah khairan katsiran.Semoga Allah membalas mu dengan kebaikan, Dek Rafa, " sahut Mas Fariz.
"Wajazakallahu khairan Kak Fariz,semoga Allah membalasmu juga dengan kebaikan, " balas Kak Rafa.
"Kapan kalian tiba Dek?, " tanya Mas Fariz kepada Kak Rafa.
"Tidak lama setelah Kak Fariz keluar bersama yang lainnya. "
Mas Fariz menjewer pelan telinga Kak Rafa, "Kenapa kamu tidak memberitahu kakak jika akan pulang hari ini, sehingga kakak kan bisa menjemput mu dan Dek Wirda. "
"Aduh Kak sakit!, " teriak Kak Rafa bercanda.
"Kak Fariz ini bagaimana, orang adiknya baru pulang bukannya di sambut dengan baik malah dijewer, " ucap Kak Rafa sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Mas Fariz tersenyum, "Sebab adiknya sukanya membuat orang terkejut. "
"Hahaha.. Hahaha, " suara Kak Rafa tertawa.
Ummah, Abi dan Enjid hanya menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan Kak Rafa.
" Rafa sudah ayo!jangan bercanda saja, lekas kalian semua masuk. Masak kita semua harus berdiri di teras terus, "ucap Ummah sambil menggerakkan tangan kanannya untuk mengajak semua orang masuk ke dalam rumah.
Wirda menarik lenganku dengan cepat begitu pula dengan Kak Rafa yang mengajak Mas Fariz untuk segera masuk ke dalam. Abi, Enjid, dan Ummah tersenyum bahagia melihat keakraban kami berempat.
***
Malam hari saat semua keluarga berkumpul di ruang keluarga. Ummah mengutarakan keinginannya kepada kami semua. Beliau meminta diriku dan Mas Fariz untuk sementara waktu menetap di luar negeri, sekaligus supaya diriku dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Semua orang heran akan permintaan Ummah, termasuk juga diriku.
Mas Fariz yang merasa bingung dan tidak mengerti akan tujuan dari permintaannya Ummah, dengan segera menanyakan kepada Ummah latar belakang apa yang mendasari keinginan Ummah tersebut. Dan dengan raut wajah yang terlihat berat dan begitu banyak pikiran. Ummah berusaha mengutarakan akan kegelisahan hatinya untuk kelangengan rumah tangga ku dan Mas Fariz dari Pengaruh-pengaruh orang -orang yang tidak suka akan hubungan ku dan Mas Fariz dalam ikatan suci pernikahan. Semua orang merasa jika apa yang Ummah khawatirkan itu terlalu berlebihan, tetapi dengan sifat teguh Ummah. Beliau terus berusaha meyakinkan kepada semuanya akan firasat aneh yang ia rasakan.
"Ummah tahu, kalian semua pasti berpikir jika Ummah terlalu overthinking dan protective terhadap Rani dan Fariz. Tetapi percayalah, setelah Ummah melihat sendiri bagaimana tatapan Roy dan Aisyah membuat Ummah menjadi tidak tenang. Sebab mereka berdua terlalu terobsesi dan begitu ingin memiliki Rani dan Fariz. Sesuatu hal yang tidak wajar Ummah rasakan dalam tatapan mereka, " ujar Ummah.
Abi dan Enjid pun berusaha menjelaskan kepada Ummah. Jika sekarang Mas Fariz sudah menikahi diriku. Dan Mas Fariz yang berhak memutuskan perihal rumah tangga kami, mau dibawa kemana dan ke arah mana tujuannya. Begitu kurang lebih pemikiran Abu dan Enjid yang tersinkronisasi satu sama lain. Tetapi Ummah hanya diam, seakan tidak setuju apa yang menjadi pemikiran Abi juga Enjid.
"Ummah, istirahat dulu ke kamar. Ummah capek, " ucap Ummah yang kesal dengan wajah cemberut setelah Abi dan Enjid menolak permintaan Ummah.
Dengan segera aku ingin menyusul Ummah, tetapi dihentikan oleh Abi, "Ran,kamu disini saja. Biar Abi saja yang berbicara berdua dengan Ummah mu yah. "
Aku pun mengangguk dan kembali duduk di dekat Wirda. Sementara itu, Mas Fariz dan Kak Rafa ikut ke ruang kerjanya Enjid untuk membahas akan masalah perusahaan dan bisnis keluarga. Maka tinggal lah diriku dan Wirda. Dimana banyak hal yang Wirda ceritakan tentang perjalanan honeymoonnya dengan Kak Rafa. Tampak wajah Wirda begitu sumringah dan bahagia.
"Aku benar-benar tidak menyangka Rani, jika kita berdua dapat tinggal satu rumah menjadi sebuah bagian keluarga besar. Dimana jodoh kita membawa kita untuk tinggal di bawah atap yang sama. Sahabatku adalah iparku, hihihihi, " ucap Wirda berseloroh.
"Oh, sekarang aku baru memahami Ran, mengapa Ummah begitu menginginkan dirimu untuk segera menikah dengan Kak Fariz. Karena Ummah ingin dirimu terlindungi dari orang-orang jahat yang ingin menyelakai dirimu, supaya Kak Fariz dapat menjaga dirimu, " ujar Wirda dengan pemikirannya.
Wirda menatap wajah ku lekat, "Tetapi aku sungguh tidak menduga sama sekali Ran, jika Kak Aisyah dapat melakukan hal seperti itu kepada dirimu. Dan begitu nekatnya dia, hal ini mungkin yang menyebabkan Ummah untuk meminta dirimu dan Kak Fariz untuk menetap di luar negeri. Ummah begitu mengkhawatirkan akan dirimu dan Kak Fariz Ran. Saranku, ada baiknya dirimu dan Kak Fariz mempertimbangkan permintaan dari Ummah, karena biasanya naluri seorang ibu itu begitu kuat untuk melindungi anak-anaknya dari marabahaya. "
Aku terdiam memikirkan apa yang Wirda katakan, hingga tiba-tiba Bik Siti datang menghampiriku dan Wirda.
"Aduh, Nak Rani dan Nak Wirda asyik sekali mengobrolnya.Apakah ada yang mau Bibi buatkan coklat atau susu hangat?, " tanya Bik Siti.
Aku tersenyum melihat kedatangan Bik Siti lalu menyuruhnya duduk bersama diriku dan Wirda, " Tidak usah Bik, ayo bibi duduk saja ikut mengobrol bersama kami. "
"Tidak usah Nak Rani, " jawab Bik Siti sambil tersenyum kecil.
Wirda menatap heran ke arah Bik Siti, "Tumben sekali dan tidak biasanya Bik Siti menolak untuk ikut bercerita dengan Rani dan Wirda. "
"Hihihi... Hihihi, ya tentu saja Bibi menolak Nak Wirda. Pasti yang kalian obrolan mengenai pernikahan kalian kan? Soalnya Nak Wirda dan Nak Rani kan sama- sama pengantin baru, yang lagi kasmaran-kasmarannya. Iya kan, " ucap Bik Siti sambil mencolek pinggang Wirda.
Wirda tersenyum dengan pipinya yang memerah, "Akh, Bik Siti itu ngomong nya asal. "
"Apa iya?, " ucap Bik Siti menggoda Wirda kembali.
Karena Wirda merasa tidak nyaman dan malu terus di goda Bik Siti, lalu ia menarik tanganku, "Ayo Ran, ikut bersama ku."
"Kemana Wirda?, " tanyaku.
__ADS_1
Wirda menatap diriku sambil melirik ke arah Bik Siti, "Untuk memberikan dirimu banyak oleh-oleh yang kubawa dari Swiss. "
Dengan cepat Bik Siti pun berkata, "Nak Wirda, Bik Siti juga mau oleh-oleh nya. "
Bik Siti memegang lengan Wirda penuh harap.
"Tidak akh, soalnya Bik Siti suka menggoda Wirda dan Rani, " ucap Wirda tersenyum.
Dengan wajah memelas nya Bik Siti pun berkata, "Nak Wirda, Bik Siti kan hanya bercanda. "
"Hahaha.. Hahaha, " suara Wirda tertawa melihat ekspresi wajah Bik Siti.
Wirda lalu menggandeng tanganku dan Bik Siti bersama-sama, "Iya Bik, Wirda tahu. Ayo Bik Siti juga ikut, Wirda juga sudah membelikan hadiah dan oleh-oleh untuk Bik Siti. "
Wajah Bik Siti sumringah,dengan ekspresi tidak percaya, "Benarkah Nak Wirda?. "
Wirda menganggukkan kepalanya.
Aku, Wirda dan Bik Siti pun berjalan menuju ke kamar Wirda menyusuri anak tangga.
***
Kak Roy yang tersadar, kini hanya diam dan larut dalam pikirannya. Dia sungguh tidak menyangka jika Mas Fariz akan menikahi diriku, dimana semua impian yang Kak Roy telah rancang dan susun untuk hidup bersama dengan diriku menjadi hancur seketika. Di dalam pikirannya dia betul-betul kecewa dengan Mas Fariz yang sangat ia percayai selama ini, ternyata juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya terhadap diriku.
"Nak, makan dulu ya sayang, " ucap Tante Desi sembari membelai kepala Kak Roy.
Kak Roy menatap wajah Tante Desi lekat tetapi tetap diam tanpa mengatakan apapun.
Tante Desi mengenggam tangan Kak Roy, "Mama tahu nak, apa yang telah terjadi kepada dirimu adalah hal yang sangat menyakitkan untukmu. Khususnya... "
Tante Desi terdiam sebentar tidak melanjutkan ucapannya, lalu berusaha menghembuskan nafasnya untuk berkata kembali kepada Kak Roy.
Kak Roy pun hanya diam dan terus menunggu Tante Desi untuk melanjutkan perkataannya.
Tante Desi kembali mengenggam jemari tangan Kak Roy kuat, "Mama tahu nak, pernikahannya Rani dan Nak Fariz sangat menyakitkan bagimu. Tetapi mama berharap kamu ikhlas ya nak. Karena semua yang terjadi kepada dirimu, Rani dan Nak Fariz adalah ketetapan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. "
Tante Desi mengusap kembali kepala Kak Roy, "Mama berharap kamu ikhlas menerima pernikahan Rani dan Nak Fariz, dan juga ikhlas menerima takdir mu nak. "
Kak Roy hanya diam dalam wajahnya yang datar menatap Tante Desi.
Tante Desi sangat memahami akan perasaan Kak Roy yang begitu terluka akan berita pernikahan diriku dan Mas Fariz. Tetapi bagaimana pun juga Tante Desi ingin Kak Roy menjadi tegar dan tidak terus larut dalam hal yang tidak dapat direngkuh oleh kemampua putranya.
"Mama tahu kamu mendengar apa yang mama katakan Nak. Untuk itu tolong dan berusahalah untuk menerima semua ini. Sebesar apapun perasaan dan cintamu kepada Rani, tetapi jika dia tidak ditakdirkan untukmu maka kalian tidak akan dapat bersatu nak. Sebab Allah yang memilih jodoh dan pasangan untuk kita, dan kita hanya dapat berikhtiar dan menerimanya terhadap takdir yang Allah berikan. Mama percaya putra mama paham betul akan hal ini. Bukankah jika melihat Rani bahagia, kamu juga akan bahagia sayang. Maka ikhlaskan dia dan perlahan lepaskan perasaan mu untuknya. Biarkan Rani menjalani kehidupannya yang baru bersama Nak Fariz, karena dia juga berhak untuk bahagia setelah semua kesedihan dan penderitaan yang dia alami selama ini. Dan mama minta kamu juga memikirkan kehidupanmu bersama Rere dan buah cinta kalian yang sedang berjuang untuk tumbuh dan hidup di dalam rahim Rere. Maka berikan Rere kesempatan sekali lagi untuk mencintai dirimu nak. "
Air mata Kak Roy mengalir mendengarkan perkataan Tante Desi. Begitu pula Tante Desi yang berusaha menekan kesedihannya di hadapan Kak Roy yang saat ini sedang begitu terluka dan hancur.
Jemari tangan Tante Desi menyeka air mata Kak Roy dengan perlahan, lalu mencium keningnya dengan kelembutan seorang ibu.
Kali ini Tante Desi membiarkan Kak Roy menumpahkan semua air mata kesedihannya. Dengan harapan putranya itu dapat mampu berdiri tegak menerima kenyataan yang menyakitkan Untuknya.
Meskipun berat, tetapi Tante Desi percaya jika Kak Roy akan mampu melalui semuanya dengan baik.
__ADS_1