Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Bersama Wirda


__ADS_3

Musim berganti dari rintik-rintik butiran air menjadi kehangatan yang terik menyilaukan mata.


Pepohonan dan dedaunan yang basah berselimutkan embun butiran banyu telah ringan bergoyang menumbuhkan kuncup-kuncup kembang yang akan siap bermekaran.


Udara dingin pada periode musim hujan telah berlalu.


Bumi berada pada titik jauh dari matahari.


Berevolusi melampaui setiap detik kesendiriannya.


Hari,minggu,bulan dan tahun telah berganti memasuki era baru yang menyongsong.


"Rani....selamat ya....Ran,"ucap Wirda memelukku.


"Selamat Ran....kamu jadi lulusan terbaik dengan nilai sempurna.Bangga aku jadi temenmu Ran."


"Iya terima kasih ya Wir,"balasku dengan senyuman.


"Pasti almarhumah bundamu senang ya Ran jika beliau mengetahui prestasimu saat ini."


Aku mengangguk perlahan.


"Ehhh....Ran,bukan maksudku untuk membuatmu bersedih Ran."


"Iya Wir aku mengerti kok,santai saja,"jelasku.


"Oh ya Ran,sebelum pulang ayo kita jalan sebentar sambil ngobrol gitu.Gimana?,"tanya Wirda.


"Hmmmm....gimana ya?,"jawabku sambil berpikir.


"Ayo dong Ran.Sesekali kita jalan berdua sambil ngobrol diluar masak aku kalau ingin menemuimu harus ke rumahnya Kak Reno terus,"bantahnya.


Aku melihat ke arah Wirda yang terlihat begitu memelas.Rasa iba memandanginya.


"Hmmm...baiklah Wir,aku izin Bu Sri(mama Kak Reno) dulu ya,"sambil memegang pundaknya.


"Ok,"jawab Wirda senang.


Tidak lama kemudian aku mengeluarkan telepon genggam dari dalam tasku.


Kucari nomor telepon mama dan menghubungi beliau.


Tuttttttt.....


Telepon tersambung...


"Halo,Assalamu'alaikum mah,"ucapku pertama.


"Wa'alaikumussalam Ran, ada apa nak tumben kok telepon?Rani baik-baik saja kan?,"tanya Bu Sri sedikit cemas.


"Alhamdulillah iya mah,Rani baik-baik saja kok mah,"berusaha menenangkan dan memandang ke arah Wirda.


"Begini mah hari ini pengumuman kelulusan Alhamdulillah Rani menjadi lulusan terbaik dengan nilai sempurna..."


Belum selesai aku menjelaskan semua kepada Bu Sri.


Beliau sudah terdengar kegirangan mendengarnya.


"Alhamdulillah....MasyaAllah.Mama senang mendengarnya nak.Nanti mama akan sampaikan dengan papa dan kakek berita bahagia ini.Semua pasti senang banget mendengarnya nak.Oh....ya Rani juga langsung pulang ya nak,nanti mama akan buat perayaan,"jelasnya semangat.


"Hmmmmm....mah,"ucapku sedikit ragu.


"Iya Ran."


"Rani mau meminta izin sepulang sekolah ini sebentar saja .Wirda mengajak untuk makan diluar sebentar mah.Itu pun jika mama mengizinkannya mah,"kataku pelan.


"Iya Ran..boleh dong.Nggak apa-apa.Apa Pak Budi jemput Rani sekarang?,"tanya mama.


"Hmmm.....nggak usah mah,sopir Wirda yang akan mengantar Rani dan Wirda mah."


"Oh...yaudah kalau begitu.Rani hati-hati dan jaga diri ya nak."


"In syaAllah baik mah.Terima kasih ya mah atas izinnya."


"Iya nak sama-sama."


"Rani tutup teleponnya ya mah.Assalamu'alaikum mah,"ucapku senang.


"Wa'alaikumussalam nak."


Tittttttt...


Telepon pun mati.


Dengan cepat Wirda yang begitu senang dengan cepat menarik tubuhku untuk segera merapikan tas dan keluar ke halaman sekolah menunggu sopirnya.


 


Beberapa jam kemudian tibalah aku dan Wirda di resto bernuansa alam asri dengan makanan khas asli Indonesia.


Tempatnya nyaman dan menawarkan viewnya yang indah.


Sengaja kami berdua memilih tempat duduk lesehan sembari menikmati hamparan padi dan aliran sungai buatan.


Jejeran gubuk-gubuk kecil di atas kolam ikan buatan terlihat menyatu dengan alam.


Semilir anginpun berhembus lembut menggoyangkan dedaunan.


"Masyaallah,indah dan tenang,"kataku sambil melihat sekitar.


"Iya Ran.Oh...ya kamu mau pesan apa Ran?,"tanya Wirda.


"Terserah kamu aja Wir,"ucapku.


"Ya udah kalau begitu pesan kue jajanan pasar aja ya kayak klepon,kue thok,nagasari,mutiara,kue lumpur,onde-onde sama dadar gulung ya Ran,"tanya Wirda.


"Apa nggak kebanyakan Wir,"tanyaku.


"Nggak lah Ran. Ini kan cuma snack.Oh ya minum nya wedang uwuh apa wedang ronde atau es kembang tahu Ran?,"sambil melihat ke arahku.


"Hmmmm.....kayaknya panas seperti ini enaknya es kembang tahu aja deh Wir,"saranku.


"Iya aku juga lagi pengen es kembang tahu juga,"ucap Wirda.


Wirda memberikan pesanan kepada Pelayan Restoran (Waitress).


Sambil menunggu pesanan datang aku dan Wirda saling berbincang-bincang.


"Ran,setelah lulus SMA apa rencanamu?,"tanya Wirda memandang ke arahku.

__ADS_1


Aku melihat ke arah Wirda"Entahlah Wir belum terpikirkan tetapi aku ingin melanjutkan ke perguruan tinggi Wir jika Allah mengizinkannya."


"Lalu bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Kak Reno?Oh...ya sudah lama sekali aku nggak pernah melihat Kak Reno setelah ia memutuskan masuk pondok pesantren ya Ran."


Aku terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Wirda yang secara mendadak membuat jantungku berdesir.


"Entahlah Wir,kujalani saja mengalir,"jawabku datar.


Wirda memandangku dalam.


"Ran lalu apakah kamu memiliki perasaan kepada Kak Reno?,"tanyanya spontan.


Aku membisu lalu memandang ke arah Wirda.


"Untuk saat ini tidak ada Wir."


Wirda tersenyum dan menggodaku.


"Berarti kemungkinan nanti atau kapan akan ada perasaan untuk Kak Reno dong,"sambil mencolek pipiku.


Aku tersenyum kecil membalas godaan Wirda.


"Wallahualam bish-shawab yang artinya


Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya,"jawabku.


"Sekedar perkiraan Ran.Misalnya antara Kak Reno dan Kak Roy mana yang akan Rani pilih?,"tanya Wirda serius.


"Wir,kamu kok seperti wartawan saja nanyanya,"sambil sedikit terkekeh.


"Ikhh....ini penting Ran tentang siapa yang spesial di hati Rani.Aku tahu Ran kamu bertahan menjalani pernikahan siri dengan Kak Reno dulu karena almarhumah bunda dan sekarang karena penyakit kakek.Kalau aku simpulkan hati Rani lebih condong ke Kak Roy ya.....,"ucapnya menerka isi hatiku.


Huhfffffffh......


Kuatur tempo napasku berusaha menjelaskan kepada Wirda dengan nada yang akan mampu ia mengerti.


Kupandangi ia lembut dengan senyuman kecil namun tenang.


Ia pun seolah-olah menunggu rangkaian kata yang akan meluncur keluar dari bibirku.


Dahinya mengkerut menatapku serius.


"Ini pesanan nya ya mbak,"ucap Pelayan Restoran (Waitress) sambil menata dan menurunkan pesanan kami.


"Iya mbak,terima kasih,"jawabku dengan senyuman.


Ekspresi Wirda menghablur karena kedatangan Pelayan Restoran (Waitress).


"Minum saja dulu Wir,"ucapku sedikit bercanda.


Wirda yang tidak sabar menungguku berkata lalu menyela.


"Iya Ran...ayo cerita mumpung hanya kita berdua loh,"paksanya.


"Kenapa kamu begitu ingin tahu isi hatiku Wir?."


"Sebab kamu sahabatku Ran.Aku tidak ingin melihatmu tidak bahagia.Menjalani kehidupan atas doktrin pemikiran ataupun permintaan orang lain Ran.Kamu juga harus memiliki pilihan atas hidupmu sendiri Ran.Aku tidak ingin kamu menyesal nantinya Ran,"tutur Wirda dengan raut wajah iba sambil memegang tanganku.


Kurasakan perhatiannya padaku.


Aku memahami kegelisahan hatinya sebagai sahabatku.


Kubalas genggaman tangannya pelan seraya berkata padanya.


"Wir,aku memahami apa yang engkau cemaskan padaku.Tetapi biarlah semua menjadi rahasia Allah.In syaAllah aku ikhlas menjalani semua ini Wir.Dan apapun yang akan terjadi nantinya.Untuk saat ini aku tidak ingin terlalu pusing memikirkan apapun.Hatiku ingin berdamai dengan ketenangan menjalani setiap proses ujian kehidupan yang Allah telah gariskan padaku.Dan untuk itu kamu jangan terlalu cemas padaku Wir,"jelasku panjang lebar padanya.


"Iya aku tahu Ran, kamu memang perempuan yang tegar tetapi yang aku takutkan karena kamu itu terlalu baik dan mudah memaafkan kesalahan orang lain maka yang kutakutkan dirimu dimanfaatkan akan ketulusanmu,"ucapnya khawatir memandangiku.


Aku memandanginya sambil tersenyum kecil dan mencubit pipinya yang putih berseri pelan.


"Dulu saat almarhumah bunda masih ada.Beliau selalu mengingatkanku untuk percaya dan yakin akan ketetapan Allah.Sebab sesungguhnya hanya Dialah sebaik-baiknya pelindung yang terpenting kita ikhlas,ikhtiar dan tawakal Wir."


Wirda menatapku sungguh-sungguh.


"Baiklah Wir,aku bacakan ayat dan artinya ya,"kataku.


Wirda mengangguk pertanda ia setuju.


Akupun mulai membaca penggalan surat dalam Al-Qur'an.Wirda mendengarkan lantunan ayat-ayat yang kubacakan dengan khusyuk.


"Bismillahirrahmanirrahim yang artinya Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."


Kuambil napas pelan sesaat sembari memejamkan mata menghayati lantunan ayat yang akan kubaca.


"alladziina qaala lahumu alnnaasu inna alnnaasa qad jama'uu lakum faikhsyawhum fazaadahum iimaanan waqaaluu hasbunaa allaahu wani'ma alwakiil."


"Yang artinya,"membuka mata dan melihat kearah Wirda.


"(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung".


Kemudian kusambung ayat berikutnya dan Wirda masih menikmati dan menyimakku.


"fainqalabuu bini'matin mina allaahi wafadhlin lam yamsas-hum suu-un waittaba'uu ridhwaana allaahi waallaahu dzuu fadhlin 'azhiim."


"Yang artinya:Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."


"Al-Qur'an surat Ali imran ayat 173 sampai dengan ayat 174,"jelasku.


Wirda tersenyum dan begitu terkesima mendengar lantunan ayat-ayat Qur'an dariku.


"Masyaallah Tabarakallah artinya Inikah yang dikehendaki Allah, semoga Allah Memberkahimu Ran, suaramu begitu indah dan membuatku takjub Ran,"ucap Wirda.


"Jazakallah Khair yang artinya semoga Allah membalasmu dengan kebaikan Wir,"jawabku.


"Almarhumah bundamu beruntung Ran.Meskipun almarhumah bundamu sudah tiada namun ajaran dan didikan beliau terus hidup menuntunmu dalam kebaikan.In syaAllah beliau telah mendidikmu jadi anak yang sholihah Ran,"puji Wirda.


"Aamiin ya Allah.Wirda juga anak yang sholihah juga in syaAllah,"jawabku.


Wirda tersenyum sumringah sambil memakan kue jajanan pasar yang telah dipesan.


Hmmmmm.....


Nyammmm....


Nyammmm...


"Ayo Ran dimakan kuenya....enak loh,"sambil mengunyah dengan mulut penuh.


"Hmmmm....bismillah dulu kalau mau makan Wir,"ucapku mengingatkan.

__ADS_1


"Oh...ya Astaghfirullahaladzim sampai lupa,"menepuk dahinya lalu berkata"Bismillahirrahmanirrahim,"sambil mengunyah kue onde-onde lagi.


Aku tersenyum melihatnya.


"Oh...ya Ran lalu apa fadhilah dari Surat Ali Imran ayat 173 sampai dengan 174,"tanyanya sambil mengunyah kue.


"Intinya agar kita tetap bertawakal kepada Allah SWT dan meminta perlindungan-Nya."


Perlahan tanganku meraih es kembang tahu dan bersiap untuk meminumnya.


"Bismillahirrahmanirrahim.Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,"ucapku pelan.


Srupppp...


Srupppp....


Sruppppp....


"MasyaAllah nikmatnya es kembang tahu ini Wir,"melirik ke arah Wirda.


Lalu Wirda bergegas untuk mencobanya juga.


"Oh ya Wir,kamu tahu nggak asbabun nuzul atau asbab an-nuzul asbabun nuzul atau asbab an-nuzul dari Surat Ali imran tadi?,"tanyaku.


Wirda menggeleng sambil menyendokkan kembang tahu kedalam mulutnya.


"Asbabun nuzul atau asbab an-nuzul itu apa lagi Ran?,"tanya Wirda ingin tahu.


Aku tersenyum menjelaskan padanya.


"Asbabun nuzul atau asbab an-nuzul itu seperti hal atau sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat dalam Al-Qur'an Wir."


"Oh..aku baru tahu Ran,"sambil tersenyum meringis.


"Sebab turunnya surat ali imran ayat ini


berkaitan dengan perang Uhud, dimana pasukan kaum muslimin ditakut-takuti bahwa musuh telah menambah pasukannya untuk melawan mereka. Alih-alih takut, tentara muslim justru semakin semangat dan bertawakal kepada Allah  Subhanahu wa ta'ala.Kemudian, Allah meniupkan rasa takut kepada musuh-musuhnya."


Wirda mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang ku katakan sambil terus mengunyah kue-kue jajanan pasar dan sesekali tampak ia menyeruput es kembang tahu.


Sruuuuuuppppp.....akhhhh....


"Segarnya,"ucap Wirda.


"Ran,kamu pasti sangat sayang sekali dengan almarhumah bundamu ya.Sampai apa yang beliau sampaikan masih engkau ingat betul-betul."


"Wir...kurasa semua anak yang sholih dan sholihah pasti akan senantiasa menyayangi kedua orang tua mereka."


"Iya juga sih.Tetapi,ada juga yang nggak sayang dengan orang tuanya,"bantah Wirda.


"Kewajiban anak harus menyayangi orang tuanya tanpa terkecuali bagaimanapun kondisi orang tua mereka.Apalagi di dalam agama islam orang tua memiliki kedudukan yang agung sehingga anak-anaknya dianjurkan untuk berbuat baik dan berbakti. Berbuat baik dan berbakti kepada orang tua akan memberikan banyak keutamaan. Bahkan Allah Subhanahu wa ta'ala menjamin keselamatan di dunia maupun di akhirat bagi anak yang berbakti kepada orang tua,"jelasku.


"Benar Ran aku juga setuju dan sependapat seperti itu."


"Maka bersyukurlah anak-anak atau orang -orang yang masih memiliki kedua orang tua lengkap atau salah satunya.Termasuk kamu Wir, maka pintu-pintu surga terbuka untuk anak-anaknya.


Dan selama mereka masih hidup, berbakti dan berbuat baik pada mereka merupakan jalan termudah menuju surga."


Aku terdiam sejenak dengan raut wajah sendu.


"Saat mereka masih ada dunia tidak terasa begitu menyiksa Wir.Semua kepayahan,kesedihan,lara maupun duka dapat kita bagi dengan mereka.Mereka laksana malaikat yang Allah Subhanahu wa ta'ala kirimkan untuk menjaga anak-anak mereka.Namun,setelah mereka tiada dunia terasa runtuh seketika dan saat kita merasakan kehilangan sosok orang tua saat itu kita akan menyadari betapa sangat berharganya mereka.Begitu istimewanya mereka.Mengapa selama mereka hidup kita tidak menyiraminya dengan limpahan juta kasih sayang dan bakti.Sebab manusia tidak akan pernah tahu batas usia seseorang maka selama orang tua kita masih ada jangan....jangan sesekali dan jangan pernah disia-siakan,"ucapku lirih hingga tidak terasa air mataku menetes.


Wirda mengusap bahuku pelan dan ikut menangis.Aku memberi isyarat padanya bahwa aku baik-baik saja.


"Semoga kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad, hanya Allah yang memberi taufik untuk menjauhi yang haram,"ucapku.


"Aamiin,"balas Wirda.


Lalu,kuambil tisu dan mengusap air mataku.


Huffhhh..


Kuhembuskan napas pelan.


Wirda memandangiku memahami apa yang aku rasakan.


"Yaudah Wir,ayo kita pulang yuk.Sudah lama disini kita,"ucapku.


"Iya Ran,aku jadi kangen sama mama dan papa karena kita ngobrol bahas orang tua.Aku pengen cepat pulang dan peluk mereka rasanya,"celoteh Wirda.


Aku tersenyum mendengar ucapannya.


Tidak lama aku dan Wirda bergegas untuk keluar dari resto menuju tempat parkiran.Sembari menunggu sopir pribadi Wirda aku berjalan disekitar taman area depan parkiran resto sambil melihat bunga-bunga yang tumbuh indah disana.


Sementara Wirda sedang fokus dengan telepon genggamnya menghubungi sopirnya.


Karena terlalu asyiknya aku berjalan melihat bunga hingga aku tidak menyadari telah menabrak sesuatu.


Bruuukkk...


"Aduhh...,"ucapku tersentak.


Kuangkat kepalaku perlahan untuk melihat yang ada di hadapanku.Seperti sosok seseorang yang tinggi besar.


Mataku memandang dari ujung kaki hingga ke atas.


Laki-laki dengan celana hitam panjang dan baju Koko merah maroon ukuran tiga per empat.


Mataku terpana melihat sosoknya di hadapanku.


Semua terasa berhenti membuat dimensi sendiri.


Aku masih terpaku antara nyata dan ilusi mata.


Suaranya menggema perlahan memanggilku untuk tersadar dari lamunan fatamorgana.


"Assalamu'alaikum Ran,"ucapnya lembut dengan senyum merekah yang menghiasi wajahnya yang berseri.


Namun,aku masih membisu.


Benarkah ini dia batinku dalam hati.


Wussss....


Angin berhembus memainkan tariannya yang lembut.


Gerakannya berpadu dalam pancaran kehangatan Sang Surya.


Aku masih terbius memandangnya.

__ADS_1


__ADS_2