Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Gugatan Cerai.


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya dok?,"tanya Pak Sugeng kepada dokter yang sudah memeriksa dan melihat keadaan Bu Sri. "Dengan berat hati kami mengatakan Pak, bahwa istri bapak terkena stroke, " jawab dokter.


"Kenapa bisa dok?, " tanya Pak Sugeng lagi.


"Saya sudah mengatakan sebelumnya saat saya memeriksa Bu Sri di kediaman rumah pak Sugeng. Bahwa tekanan darah istri Pak Sugeng sangat tinggi untuk itu Bu Sri harus berhati-hati dalam mengelola pikirannya jangan sampai stres atau mendapatkan tekanan terhadap hal-hal yang dapat memicu lonjakan tekanan darahnya menjadi lebih tinggi lagi dan akan berakibat fatal. Dan sekarang ini adalah akumulasi dari lonjakan tekanan darah Bu Sri yang mengakibatkan stroke kepada istri bapak. Ini adalah serangan stroke pertama kepada Bu Sri stroke ini sudah membuat otak di kepala Bu Sri mengalami kerusakan dan ini bersifat sudah menetap. Maka kita upayakan untuk menjaga stroke kedua tidak kembali menyerang Bu Sri karena akan berakibat semakin parah Pak Sugeng," jelas dokter.


"Menapa bisa demikian dok? Dan apakah istri saya berpotensi mendapatkan serangan stroke yang kedua kalinya? Lalu apa jenis stroke yang menyerang istri saya dok?," tanya Pak Sugeng.


"Karena orang yang sudah pernah sekali terkena stroke kenyataannya memiliki risiko bahkan 7 kali lipat lebih tinggi Pak Sugeng untuk mengalami serangan stroke kedua kurang lebih dalam lima tahun selanjutnya itu jarak yang terlama .Tetapi tidak menjadi acuan jarak mutlak akan kembalinya serangan stroke yang kedua.Nah resiko inilah yang sangat menghantui dan menjadi momok bagi penyintas stroke yang tidak mengalami komplikasi apapun pada serangan pertama. Stroke yang kembali tentu akan membawa kerusakan otak yang lebih parah dan akan bertambah banyak serta ganas yang memiliki resiko kematian atau cacat permanen sangat besar sekali.


Apapun untuk penentuan jenis stroke yang di derita oleh istri bapak harus di lakukan pemeriksaan dengan CT scan dan MRI.Maka dari itu penting untuk menjaga kestabilan tekanan darah Bu Sri dan faktor gaya hidup seperti makan-makanan yang sehat dan olahraga teratur setelah stroke pertama ini agar serangan stroke kedua tidak kembali pak Sugeng, " tutur dokter.


"Baiklah dok.Terima kasih atas penjelasannya, " ucap Pak Sugeng.


"Iya Pak sugeng sama-sama. Dan obat yang saya resepkan kepada Bu Sri harus diminum secara teratur dan yang terpenting adalah mengelola emosi Bu Sri agar tidak strees sehingga dapat memicu lonjakan tekanan darahnya. Baiklah Pak sugeng demikian penjelasan dari saya. Saya permisi dulu, " balas dokter.


"Baik dok. Silahkan, " ucap Pak Sugeng.


Setelah dokter dan perawat meninggalkan Bu Sri di ruang tempatnya dirawat.


Pak Sugeng berjalan mendekati istrinya yang sedang tertidur di atas ranjang pasien.Lalu dipeganglah tangan Bu Sri dengan pelan dan lembut oleh Pak Sugeng.Setelah itu, ia memandang ke wajah Bu Sri dengan lekat dan dalam. Begitu terlihat jelas dari pandangan Pak Sugeng raut wajah Bu Sri yang sembab, sayu dan penuh dengan tekanan. Pak Sugeng begitu gusar dan cemas hingga menampakkan kesedihannya. Melihat kondisi istrinya sekarang matanya mulai berkaca-kaca dan perlahan pipinya basah oleh air matanya yang mengalir ,"Mah cepat sembuh ya mah....Papa tidak kuat melihat keadaan Mama seperti ini ,"ucap Pak Sugeng sambil membelai lembut kepala Bu Sri dan mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat mbak Riska sudah masuk ke dalam ruangan Bu Sri dirawat ."Apa yang terjadi kepada Mama lagi pah?,"tanya Mbak Riska dengan wajah panik dan cemas.


Pak Sugeng dengan wajahnya yang lesu dan khawatir lalu menoleh ke arah mbak Riska yang bertanya kepadanya ,"Mamamu terkena stroke nak, "jawab Pak Sugeng dengan begitu sedih.


"Bagaimana mama bisa sampai terkena stroke Pah ?,"tanya Mbak Riska dengan rasa cemasnya.


"Hal ini bermula saat Mama mu memaksa ingin melihat keadaan adikmu Reno di kantor kepolisian. Karena melihat kondisi adikmu yang terluka dan terlihat lemah. Sontak saja mama mu tidak dapat menahan rasa kesedihan dan khawatirnya terhadap adikmu. Dengan seketika emosinya meledak tidak terkendali yang akhirnya memicu strees dan tekanan darahnya menjadi naik serta membuat mama mu tidak sadarkan diri, "ucap Pak Sugeng kepada Mbak Riska.


"Semua ini gara-gara anak kampung itu pah! . Semua gara-gara Rani Pah!," ucap Mbak Riska kesal dan marah lalu melanjutkan ucapannya kembali, "Seandainya saja sejak awal kakek tidak memaksa Reno menikahi anak itu.Mungkin Mama tidak akan terbaring di ranjang pasien ini dan Reno tidak akan ditahan di kantor Kepolisian, "gerutu mbak Riska dengan sangat kesal.


"Lalu bagaimana perkembangan atas kasus yang menimpa Reno, pah?,"tanya Mbak Riska lagi.


Pak Sugeng pun beranjak perlahan dari duduknya dan meletakkan tangan Bu Sri yang ia genggam dengan pelan agar tidak membangunkannya.


"Kita bicara di depan saja pada sofa tunggu pasien di depan agar tidak mengganggu mamamu yang sedang tertidur,"ajak Pak Sugeng kepada mbak Riska .


"Baiklah Pah, "sahut mbak Riska menerima ajakan Pak Sugeng.


Tidak lama kemudian Pak Sugeng dan mbak Riska duduk di sofa tunggu pasien di dalam ruangan Bu Sri dirawat. "Papa sudah menyerahkan semua masalah yang menimpa Reno kepada Pak Cukup selaku pengacara keluarga kita. Pak Hukum akan mencari solusi dan jalan terbaik untuk adikmu Reno. Saat ini papa sedikit pesimis untuk kasus yang mendera adikmu. Jika masalahnya tentang Rani tentu akan sangat mudah untuk kita menyingkirkan Rani atau membuatnya diam dan menarik tuntutannya terhadap Reno. Tetapi adikmu mendapatkan dua kasus yang berbeda selain tentang Rani dan Roy adikmu telah melakukan tabrak lari terhadap orang lain yang menyebabkan orang tersebut kehilangan nyawa. Dan ini yang akan sangat sulit untuk membuat adikmu terbebas dari jeratan hukum. Hal ini yang sangat papa khawatirkan. Jika sampai adikmu benar-benar ditahan. Papa tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi mama mu. Dia pasti akan sangat terpukul dan tertekan sekali dan yang dokter takutkan yaitu ketika mamamu sampai terkena serangan stroke yang kedua itu akan berakibat fatal yang dapat merenggut nyawa mamamu, "ucap pak Sugeng dengan mata berkaca-kaca.


Mbak Riska mendengarkan ucapan Pak Sugeng dengan sangat serius dan terbawa kesedihan Pak Sugeng.


"Lalu sampai saat ini apakah Papa sudah menemukan keberadaan Rani ?,"tanya Mbak Riska dengan wajah yang sedih bercampur kesal.


"Papa belum memikirkan dan mencari tahu tentang Rani. Sekarang yang terpenting buat papa adalah kesembuhan mamamu itu yang lebih utama. Perkara Rani itu hal yang gampang setidaknya setelah mama mu kembali pulih atau sembuh.Kita dapat mengatur rencana dan memikirkan agar adikmu tidak ditahan. Setelah itu, baru kita membuat perhitungan kepada Rani dan Roy, " tutur Pak Sugeng dengan wajah liciknya menyeringai.


"Iya Pah. Riska sependapat dengan apa yang papa katakan. Tetapi Riska juga sedikit heran bagaimana Rani memiliki keberanian untuk melaporkan Reno. Itu yang masih Riska juga pikirkan. Apakah ada seseorang yang mendukungnya?," ucap Mbak Riska seraya berpikir. "Terlebih lagi pak Budi dan Bik Siti juga berani melakukan perlawanan terhadap kita dengan berhenti bekerja secara mendadak .Riska merasa ada sesuatu yang aneh dan ganjil. Apakah Papa juga merasakan demikian ?,"tanya Mbak Riska kepada Pak Sugeng.


"Iya Papa juga merasakan yang sama .Tetapi saat ini jujur, papa belum bisa berpikir secara matang karena papa benar-benar mengkhawatirkan kondisi mama mu dan juga adikmu. Bagaimana pun mama dan adikmu lebih penting daripada mereka semua ,"ucap pak Sugeng dengan mata berkaca-kaca lagi.


"Papa tenang saja. Untuk saat ini papa fokus saja pada kesembuhan mama. Nanti Riska akan mencari tahu di mana keberadaan Rani. Dan sekarang dia sedang bersama siapa dan apa yang akan ia lakukan terhadap keluarga kita, "ucap mbak Riska.


"Kalau begitu Riska keluar sebentar membeli makanan dan minuman buat papa yah, " bujuk Mbak Riska.


"Iya nak, boleh, " kata Pak Sugeng.


"Apakah Papa ingin dibelikan sesuatu yang lain selain makanan dan minuman?,"tanya Mbak Riska kepada Pak Sugeng yang terlihat duduk dengan lemas.


"Tidak itu saja nak. Kamu pesankan papa kopi hitam panas dan makanannya terserah kamu saja, "jawab Pak Sugeng kepada Mbak Riska.

__ADS_1


"Baiklah Pah.Riska turun ke kantin sebentar. Papa tidak usah berpikiran yang macam-macam ya. Tunggu sampai Riska kembali, "ucap Mbak Riska.


Pak Sugeng mengangguk sambil menyandarkan kepalanya di sofa. Lalu tidak lama kemudian Mbak Riska keluar dari ruangan tempat Bu Sri dirawat.


 


Setelah aku kembali ke ruang tempatku dirawat dan beristirahat. Dokter memperbolehkanku untuk pulang sekarang karena melihat kondisiku sudah jauh lebih baik.Dibantu oleh Wirda dan Bik Siti yang membantuku berkemas-kemas dan merapikan diri. Mereka berdua tampak senang melihatku yang sudah berangsur-angsur membaik meskipun tidak dengan penglihatanku. Maka setelah selesai bersiap dengan dibantu oleh Wirda dan Bik Siti .Pak Budi, Ustad Fariz dan Kak Rafa mengajak kami turun ke tempat parkiran untuk segera pulang pergi ke rumah kediaman keluarga Wirda. Setelah semuanya masuk ke dalam mobil Pak Budi bersiap untuk menyetir mobil. Tetapi sebelum mobil dapat melaju telepon genggam milik Ustad Fariz berbunyi.


"Sebentar Pak, "ucap Ustad Fariz kepada Pak Budi.


" Iya Nak Fariz, "sahut Pak Budi sambil mengangguk pelan dan belum menjalankan mobil yang ia kendarai.


Lalu Ustad Fariz mengangkat telepon genggam miliknya, "Halo ,assalamualaikum.Iya Pak Ada apa?,"ucap Ustad Fariz berbicara dari telepon genggam miliknya.


Dan tidak lama kemudian setelah Ustad Fariz berbicara dari telepon genggam miliknya. Wajahnya terlihat tenang dan tersenyum sambil menutup teleponny. Dengan rasa ingin tahu Pak Budi pun bertanya kepada Ustad Fariz,"Ada apa Nak Fariz?Apakah ada sesuatu hal terjadi?," tanya Pak Budi kepada Ustad Fariz yang telah meletakkan telepon genggam miliknya pada saku baju kokonya. "Begini Pak pengacara yang saya tunjuk untuk mendampingi Dek Rani melakukan proses gugatan cerai kepada Dek Reno sudah menyiapkan dokumen berkas gugatan cerai dan juga telah mendaftarkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Dan surat gugatan nya pun juga sudah selesai dibuat, "


jawab ustad Fariz kepada Pak Budi.


Lalu Ustad Fariz menoleh ke kursi jok mobil di belakangnya tempat dimana aku duduk diantara Wirda dan Bik Siti.


"Jika Dek Rani berkenan ,apakah kita langsung saja menuju ke kantor kepolisian tempat Dek Reno ditahan.Untuk segera memberikan surat gugatan cerai Dek Rani kepada Dek Reno. Jika Dek Rani setuju maka saya akan menyuruh pengacara saya meluncur ke kantor kepolisian tempat Dek Reno ditahan. Namun jika Dek Rani belum siap maka pengacara akan saya suruh menuju ke kediaman Dek Wirda?dan menemui Dek Reno esok harinya.Bagaimana Dek Rani?, " tanya Ustad Fariz menunggu jawabanku.


Aku pun diam seraya berpikir sejenak. Lalu memutuskan untuk segera menemui Kak Reno dan memberikan surat gugatan cerai kepadanya. Maka mendengar keputusanku semua orang setuju dan langsung menuju ke kantor kepolisian dimana Kak Reno ditahan.


"Subhaanalladzii sakkhara lanaa hadza wama kunna lahu muqriniin wa-inna ilaa rabbina lamunqalibuun. Artinya: “ Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. Bismillahirohmanirohim. Mari Pak Budi! . Ayo kita jalan menuju ke kantor kepolisian tempat Dek Reno di tahan, "ucap Ustad Fariz mengomando Pak Budi. Pak Budi mengangguk dan tersenyum ke arah Ustad Fariz, "Baiklah ,siap Nak Fariz,"ucap pak Budi.


Lalu mobil yang kami tumpangi pun melaju secara perlahan dan cepat menuju ke kantor kepolisian.


Selama di dalam perjalanan Wirda terus menggenggam tanganku. Dia seolah berusaha untuk membuatku kuat dan tidak gentar akan keputusan yang telah ku ambil. aku pun hanya diam dan larut dalam pikiranku sendiri tanpa banyak mengatakan kata-kata apapun.


Ya Allah mantapkanlah hatiku dan jangan engkau bolak-balikkan lagi. Pada ketetapan yang sudah engkau tanamkan di hatiku. Maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi Petunjuk, yang memberi Hidayah kepada hamba-hambanya yang Engkau kehendaki. Dan hanya kepadamu lah aku berlindung. Agar Engkau senantiasa menjaga hatiku agar tidak condong pada kesesatan setelah engkau memberikan petunjuk yang terbaik bagi hidupku. Dan semoga Engkau selalu senantiasa menjauhkanku dari perkara yang membuatmu murka Ya Allah, ucapku dari dalam hati.


Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Pak Budi sudah tiba di parkiran halaman kantor kepolisian tempat Kak Reno ditahan. "Alhamdulillah kita sudah sampai ,"ucap Pak Budi seraya memberitahukan kepadaku dan semua orang. Maka mendengar perkataan Pak Budi aku pun menarik nafas panjang perlahan dan seraya memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala;


BRAAKkkk....


Suara pintu mobil terbuka.


"Ayo Ran kita turun, " ajak Wirda kepadaku.


Aku pun mengangguk dengan hati yang sudah mantab dan yakin. Bik Siti dan Wirda pun membantuku berjalan dan menuntunku masuk ke dalam kantor kepolisian untuk bertemu dengan Kak Reno.


Semilir angin yang terasa sejuk namun panas dalam pancaran cahaya matahari yang terasa sedikit menghangatkan kulitku. Saat ini aku tidak dapat Menikmati keindahan yang Allah telah ciptakan di sekitarku. Perlahan demi perlahan aku melangkahkan kaki ditemani Wirda dan Bik Siti yang menggenggam tanganku erat dan penuh dengan kasih. Meskipun aku tidak dapat melihat ekspresi wajah keduanya tetapi dari sentuhan tangan keduanya dapat kurasakan. Bagaimana Wirda dan Bik Siti ingin memberikan kekuatan untukku, ingin membuatku tegar dan ingin membuatku tidak lemah serta terus membuatku tidak menyerah atas keputusan yang aku ambil.


"Dek Wirda dan Bik Siti tunggu dulu di sini menemani Dek Wirda. Saya akan berbicara sebentar kepada pengacara saya yang akan mendampingi Dek Rani ,"ucap Ustad Fariz kepada Wirda dan Bik Siti.


"Oh ya dan Dek Rani .Perbanyaklah membaca dzikir agar hatinya menjadi tenang dan jangan berpikiran yang negatif ,"ucap Ustad Fariz kepadaku. Aku pun mengangguk mendengar perkataan Ustad Fariz.


Dan Wirda juga Bik Siti terus tidak melepaskan genggaman tangan mereka kepadaku.


Tidak lama kemudian setelah Ustad Fariz bersama adiknya Kak Rafa ditemani pengacara untuk berusaha mempertemukanku dengan Kak Reno. Akhirnya mendapat izin dari pihak kepolisian.


" Dek Wirda bersama saya dan adik saya RRani serta Pak pengacara akan masuk kedalam menemani Dek Rani. Kami berdua akan berjaga-jaga jika ada sesuatu hal yang buruk. Yang dapat Dek Reno lakukan kepada Dek Rani. Sementara itu Pak Budi dan Bik Siti tunggu dulu disini, "ucap Ustad Fariz memberikan intruksi.


Semua orang setuju dengan usulan yang diberikan oleh Ustad Fariz. Perlahan secara hati -hati Wirda menuntunku ke sebuah ruangan untuk dapat bertemu dengan Kak Reno.


Setelah sampai di ruangan untuk bertemu Kak Reno yang telah disediakan oleh pihak kepolisian. Lalu Wirda menarik perlahan sebuah kursi duduk yang berhadapan dan di halangi oleh sebuah meja besar panjang. Kemudian Wirda membantuku duduk pada salah satu sisi meja yang terdapat kursi. "Ran,kamu yang tenang dan jangan berpikiran macam-macam ya. Aku akan ada di sini menemanimu. Jika Kak Reno berani berbuat yang aneh-aneh dan melakukan hal buruk lagi terhadapmu. Maka aku tidak akan tinggal diam, "ucap Wirda dengan nada kesal dan berada di sampingku.


"Iya dek Rani.Kami juga ada di belakang Dek Rani untuk memantau pergerakan Dek Reno. Usahakan Dek Rani mengatakan hal-hal yang sekiranya penting saja, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat Dek Reno memiliki sifat temperamen yang tinggi dan sangat emosional. Semoga Dek Ranimengerti ya ,"ucap Ustad Fariz kepadaku.


Tetapi mendengar perkataan Ustad Fariz dan Wirda aku tetap diam dan tanpa mengatakan kata-kata apa pun.

__ADS_1


Sebelum Ustad Fariz, Kak Rafa dan Bapak pengacara mundur ke belakangku.Aku pun mengatakan sesuatu kepada mereka sambil memegang tangan Wirda yang ada di sampingku, "Ustad Fariz, "ucapku pelan seraya memanggil Ustad Fariz. Maka mendengar panggilanku Ustad Fariz mendekat ke arahku,"Iya Dek Rani,ada apa?,"tanya Ustad Fariz kepadaku.


"Rani ingin berbicara berdua saja dengan Kak Reno. Untuk itu bisakah Ustad Fariz, Kak Rafa ,bapak pengacara dan Wirda menunggu di luar ruangan ini ?,"tanyaku kepada Ustad Fariz.


Wirda terdengar terkejut mendengar permintaan dari ucapanku, "Apa yang kamu pikirkan Ran? bagaimana bisa aku meninggalkanmu bersama Kak Reno ?nanti jika terjadi sesuatu lagi kepadamu. Lalu bagaimana?,"ucap Wirda dengan nada pertanyaan yang penuh khawatir dengan kecemasan.


Lalu aku memegang tangan Wirda lebih erat lagi, "Insya allah tidak akan terjadi hal-hal yang buruk terhadapku Wirda. Ada Allah bersamaku dan menjagaku, "ucapku berusaha menenangkan Wirda.


"Tetapi tetap saja Ran.Kak Reno itu pria yang tidak dapat dipercaya .Dia itu mudah melukai dan menyakiti orang lain. Apalagi dirimu, dengan kondisimu seperti ini yang baru sembuh dan belum sepenuhnya benar-benar pulih, " bantah Wirda cemas dan ketakutan. "Tidak Ran! aku tidak akan membiarkanmu sendiri dan berdua saja dengan Kak Reno. Aku tidak akan pergi dari sini! bagaimanapun juga aku akan tetap menemanimu!," bantah Wirda tetap dengan pendiriannya.


Lalu aku berusaha untuk meyakinkan Wirda.


"Tetapi Wirda. Aku mohon ini adalah urusanku berdua dengan Kak Reno dan aku ingin menyelesaikannya secara berdua saja. Sebelum kami benar-benar berpisah dan mengakhiri hubungan kami selamanya.Dan untuk itu aku mohon kamu mengerti Wir. Kali ini saja, " pintaku pada Wirda yang seraya berpikir.


"Aku akan menjaga diriku. Kalian kan tidak berada jauh dariku. Jika memang Kak Reno berbuat sesuatu hal yang buruk terhadapku. Kalian bisa langsung masuk ke dalam ruangan ini dan menolongku, "ucapku kepada Wirda.


Wirda dengan ekspresi wajahnya tetap tidak senang dan tidak setuju dengan pendapatku. Dengan seketika Ustad Fariz memberikan isyarat kepada Wirda untuk tidak menolak permintaanku, "Dek Wirda kalau begitu, biarkan Dek Rani berbicara berdua dengan Dek Reno.Kita hargai privasi mereka berdua. Sementara itu, kita dapat memantau dan melihat Dek Rani dari balik kaca jendela yang terbuka itu dan jika sewaktu-waktu Dek Reno melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Maka kita akan langsung masuk dan membawa Dek Reno keluar ?,"ucap Ustad Fariz berusaha untuk membuat Wirda menerima pilihanku.


Wirda terdiam sejenak seraya berpikir meski raut wajahnya menunjukkan rasa kecewa dan tidak yakin akan pilihanku.


"Baiklah Rani jika itu pilihanmu.Tetapi aku mohon jaga dirimu baik-baik ya .Dan ini surat gugatan cerai yang akan kau berikan kepada Kak Reno, "ucap Wirda sambil meletakkan berkas surat gugatan cerai yang berada di dalam map di atas pangkuanku.


Wirda lalu mengusap kepalaku pelan dengan wajahnya yang terlihat berat. Namun, harus ia lakukan. Aku merasakan rasa cemas yang berlebihan dari suara dan genggaman tangannya padaku.


"Dek Rani jaga diri dan berhati-hati ya.Allohumma ya munazzilal kitab, wa mujriyas sahab, wa hazimal ahzab, ihzimhum wanshurna ‘alaihim.(Artinya:“Ya Allah, wahai Dzat yang menurunkan Alquran berangsur-angsur, penggerak awan, pengusir kelompok (jahat), usirlah mereka dan menangkanlah kami atas mereka), "ucap Ustad Fariz sambil mendo'akanku.


"Aamiin.Iya Ustad Fariz, "jawabku pelan sambil menggangguk.


Setelah itu, tidak lama kemudian Wirda, Ustad Fariz,Kak Rafa dan pengacara keluar dari ruanganku berada saat ini. Mereka dengan rasa cemas melihatku dari balik jendela putih besar dan terus memandang ke arahku tanpa melepaskan sedikit tatapan mereka dariku.


Setelah mereka semua keluar aku pun duduk diam dan tenang sambil menghadap ke depan dengan pandangan lurus jantungku terasa berdebar lebih kencang dari sebelumnya lalu aku berusaha menenangkan hatiku dengan membaca do'a.


"Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin Abadan.


(Artinya:“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu), " ucapku pelan dan lirih.


Aku kembali duduk dengan tenang.


Terdengar olehku suara langkah kaki beberapa orang mendekat kepadaku.


Sreettt.... suara kursi ditarik oleh seseorang.


"Silahkan duduk kami berikan waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk saudara Reno bertemu dan berbicara dengan saudari Rani, "ucap salah seorang aparat kepolisian.


Gleekkkk.....


Aku sedikit menelan ludahku perlahan sembari untuk memulai kata-kata kepada Kak Reno.


"Baiklah kami tinggal sebentar silahkan kalian berdua berbicara dan memanfaatkan waktu yang telah diberikan dengan baik, "ucap salah seorang pihak kepolisian kepadaku dan Kak Reno.


Tetapi aku dan kak Reno hanya diam tanpa memberikan respon atas ucapan dari aparat kepolisian. Perlahan semuanya terasa sunyi sepi dan begitu tenang.Cukup lama aku dan kak Reno terdiam tanpa memulai kata-kata apapun dan entah apa yang ia pikirkan dan ia lihat dari diriku hingga tiba-tiba.


GEDUBRAK....


Dengan keras Kak Reno memukul meja di hadapanku dengan tangannya.


" Astaghfirullahaladzim , "ucapku terkejut sambil memegang dadaku.


Sontak melihat sikap Kak Reno seperti itu Wirda ingin segera masuk dan menemuiku. Tetapi segera dihentikan oleh Ustad Fariz dan Kak Rafa yang melihat ku dari balik jendela.


"Jangan Wir, kita lihat dan tunggu saja di sini selama Dek Reno tidak menyakiti dan melukai atau pun bertindak kasar kepada Dek Rani maka kita tetap di sini, "ucap Ustad Fariz berusaha menenangkan Wirda .

__ADS_1


Wirda dengan raut wajah yang berat hati pun menuruti permintaan Ustad Fariz tersebut.


Dan untuk sesaat aku merasa hening dan tenang.


__ADS_2