
Setelah menikmati sarapan pagi bersama Kak Reno. Aku dan kak Reno membeli berbagai makanan baik sayur-mayur, sembaki, buah dan juga bumbu-bumbu masak untuk mengisi dapur kami yang masih kosong. Kak Reno selalu berada di sisi ku dan menemani ku berbelanja semua kebutuhan. Terkadang ia pun membantu diri ku untuk menawar barang yang akan aku beli dari para pedagang.
Dalam kesunyian dan diamnya diri ku kadang Kak Reno melontarkan ucapan yang membuat ku tersenyum dan memandang bahagia ke arahnya.
Di saat seperti itulah pandangan mata kami bertemu dengan raut wajah berseri dan tatapan yang berbinar-binar.
Sesekali juga para pedagang ada yang memperhatikan kami dan menggoda ku juga Kak Reno dengan candaan yang menggelitik tawa.
Dengan mengatakan jika kami adalah sepasang pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya seperti kompor yang menyala. Namun, juga sesekali Kak Reno juga membalas candaan dari para pedagang yang coba untuk menggoda dirinya dan diri ku.
Sesuatu pemandangan yang tidak pernah ku temui sebelumnya pada diri Kak Reno.
Si mana di hadapan ku saat ini ku temukan sosok Kak Reno yang begitu tenang, mencair dengan keadaan,ramah kepada siapa pun,mudah tersenyum dan terlihat sangat bahagia.
kontras berbeda sekali dari Kak Reno sebelumnya yang pernah ku kenal .
Dimana diriny sebelumnya adalah sosok yang sangat tempramental dan senang merendahkan orang lain.
"Mengapa kamu menatap diri ku seperti itu Rani?, "tanya Kak Reno sambil memegang sayur brokoli di tangan nya.
" Tidak apa-apa Kak Reno. Aku hanya sedikit terkejut akan perubahan sikap mu yang begitu sangat berubah banyak dari sikap mu yang terdahulu, "kata ku sambil tersenyum kecil padanya.
"Di dalam kehidupan di dunia ini manusia pasti pernah melakukan kesalahan, khilaf dan dosa termasuk juga dengan diri ku Ran.
Namun, sebagai seorang mukmin. Aku ingin berusaha untuk mengubah diri ku menjadi orang yang lebih baik. Aku sadar Rani jika di masa terdahulu diri ku yang hina ini banyak sekali melakukan kesalahan dan dosa besar. Baik kepada semua orang dan khususnya terhadap diri mu Ran.
Tetapi aku tidak menyerah dan terus berikhtiar selalu. Agar Allah Subhanahu Wa Ta'ala membukakan pintu pengampunan untuk ku dan senantiasa berdo'a kepadanya supaya semua orang yang pernah ku sakiti dapat memaafkan kesalahan ku, khususnya dirimu Ran. Meskipun aku menyadari sepenuhnya hal itu akan sangat sulit. Tetapi aku percaya akan kekuasaan Nya dalam membolak-balikkan hati setiap hambanya. "
Kak Reno mengusap kepala ku pelan dan tersenyum lalu memasukkan sayur brokoli yang sudah ku bayar pada keranjang belanja yang ia bawa.
Aku dan Kak Reno pun melanjutkan perjalanan kaki kami.
Dan aku bersama Kak Reno mulai menyusuri area pasar tradisional yang masih sepi dan tertata rapi juga bersih. Tidak seperti pasar tradisional umumnya yang begitu tampak kotor dengan jalan-jalannya yang becek di sertai genangan air juga sampah.
Kak Reno melanjutkan lagi perkataannya sambil mengenggam jemari tangan ku dan membawa tas barang belanjaan pada tangan kanan nya.
"Manusia wajib berikhtiar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan juga menjadi manusia yang baik. Sebab Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan pernah mengubah kondisi hambaNya. Jika hambaNya tidak pernah mau berusaha untuk mengubah dirinya sendiri.
Oleh karena itu Rani aku menyadari selagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala masih memberikan diri ku kesempatan untuk hidup. Maka dengan sebaik-baiknya pula aku manfaatkan kesempatan ini dengan berhijrah ke jalan yang baik. "
Aku memandang ke wajah Kak Reno yang juga memandang ke arah ku.
Aku tersenyum padanya setelah mendengar perkataannya.
Tidak lama setelah kami berbelanja.
__ADS_1
Kak Reno mengajak diri ku untuk duduk dan menikmati es dawet yang tidak jauh dari posisi kami saat ini.
Tanpa ragu aku pun langsung menerima tawarannya.
Lalu duduk lah aku dan Kak Reno pada kursi kayu panjang yang telah di sediakan oleh pemilik kedai es dawet.
Rasanya nyaman dan lebih rileks.
Setelah cukup lama berjalan membeli semua kebutuhan dapur.
Raga ku merasa tidak terlalu letih dan lelah.
Kedai yang sederhana dan terlihat ada beberapa orang yang sedang menikmati semangkuk kecil es dawet.
Beruntung Kak Reno memilih tempat duduk yang berhadapan langsung dengan jendela besar.
Sehingga angin pun juga terus berhembus perlahan membasuh peluh yang membasahi kening ku. Sembari menikmati keindahan alam yang mempesona mata.
"Apa yang kamu rasakan Ran?, " tanya Kak Reno memandang diri ku.
Aku pun mengalihkan pandangan ku dari menatap jendela lalu memandang ke arah nya.
"Apa yang Kak Reno lihat dari diri ku saat ini?, " ucap ku berbalik bertanya padanya.
Kak Reno tersenyum pada ku.
"Apa itu?, " tanya ku menatap nya.
"Kamu selalu bertanya kepada ku tentang apa yang aku tanyakan pada diri mu. Dan satu hal lagi yang tidak pernah berubah sama sekali pada diri mu. "
"Apa itu?, " tanya ku lagi dengan menatap Kak Reno serius.
Kak Reno memandang wajah ku dalam dan serius. Lalu ia mengenggam jemari tangan ku lembut.
Srrrrrrrr...
Jantung ku kembali berdegup kencang dengan aliran darah yang terasa mendesir dalam sensasi kejutan aliran listrik.
"Apakah kamu benar ingin mengetahuinya Ran?, " tanya Kak Reno mendekatkan wajahnya pada ku.
Aku mengangguk pelan.
"Kamu masih sama seperti Rani yang dulu ku kenal. MasyaAllah tabarakallah diri mu masih tetap cantik, menawan, bersahaja dan bahkan semakin terlihat sangat cantik.
Dan itu membuat indra penglihatan ku tidak mampu untuk memalingkan pandangan ku dari mu. Meskipun hanya satu detik saja, " tutur Kak Reno serius.
__ADS_1
"Jangan menggoda ku Kak Reno, " balas ku.
"Apakah aku terlihat menggoda diri mu Ran, " balas nya.
"Entahlah, hanya Kak Reno sendiri yang dapat menjawab pertanyaan itu, " jawab ku dengan serius.
"Apakah aku harus membuktikan keseriusan ucapan ku pada mu Ran?, " tanya Kak Reno kembali semakin menatap diri ku lekat.
Aku merasa tegang dan salah tingkah dengan tatapan matanya.
Dengan cepat ku alihkan pandangan mata ku menuju ke luar jendela kembali.
"Semua itu terserah padamu Kak Reno. "
Kak Reno diam memandangi diri ku.
Lalu tidak lama dua mangkok es dawet yang segar telah berada di atas meja kami.
Dengan mengucapkan basmallah aku dan Kak Reno bersamaan menyeruput es dawet.
Setelah selesai menghabiskan es dawet.
Aku dan Kak Reno menuju tempat parkir sepeda motor untuk segera pulang menuju kediaman rumah tempat tinggal kami.
Kak Reno meletakkan barang-barang belanjaan yang kami beli dengan mengantungnya di dekat pengait yang terletak pada dashboard sepeda motor matic. Setelah itu, ia memakai kan helm pada kepala ku sambil mengelap bekas sisa es dawet yang masih tertinggal di ujung bibir ku.
Pelan dan penuh kelembutan ibu jarinya terasa bermain mengusap bibir ku.
Pandangan mata kami pun kembali bertemu dan terbius cukup dalam satu sama lain.
DEG... DEG... DEG..
Serrrrrrr.....
Jantung ku kembali berdetak kencang dan merasakan sensasi aneh menjalar perlahan dan semakin kuat dalam raga ku.
Dengan cepat aku melepaskan jemari tangan Kak Reno dari bibir ku.
Namun, dengan cepat ia menarik jemari tangan ku lalu menciumnya dalam.
Bibir tipisnya kembali tersenyum pada ku lalu mengajak ku untuk segera bersiap naik ke atas sepeda motor.
Kak Reno menyalakan mesin sepeda motor. Lalu seperti biasa menarik tangan ku pelan dan melingka kannya pada pinggangnya.
Dia mengenggam jemari tangan ku erat dan beberapa kali mengecup lembut jemari ku.
__ADS_1
Sepeda motor pun melaju menembus angin yang membelai lembut dalam keromantisan yang Kak Reno hadirkan.
Aku begitu sangat gelisah dan gusar merasakan perasaan ku yang semakin merasa nyaman saat berada di dekatnya.