
Setelah dokter memeriksa keadaan Kak Reno dan mengatakan jika Kak Reno dalam keadaan yang baik-baik saja. Semua orang senang dan tersenyum, khususnya diri ku.
Abi dan Enjid segera meminta izin kepada dokter, untuk memindahkan Kak Reno ke rumah sakit lebih besar dengan fasilitas yang lebih lengkap. Dan dekat dengan kediaman keluarga Imandar.
Setelah persyaratan dari dokternya di penuhi. Maka kami semua pun segera bergegas memindahkan Kak Reno, tentunya masih dengan kawalan dan penjagaan aparat pihak kepolisian.
Selama di perjalanan menuju ke rumah sakit besar. Aku terus berada di dekat Kak Reno dengan di temani Ummah juga.
Dan Ummah mengatakan kepada ku jika informasi terakhir dari pengeledahan gudang bekas, tempat dimana aku dan Kak Reno di sekap telah terjadi kebakaran yang hebat. Sehingga menghanguskan bangunan gudang tersebut tanpa sisa sama sekali.
Ummah mengatakan kepada ku, kemungkinan besar pelaku sengaja membakar gudang tersebut untuk menghilangkan barang bukti yang ada. Atas peristiwa penculikan yang terjadi kepada ku dan Kak Reno.
Aku terdiam sejenak sambil memandangi wajah Kak Reno yang sudah tertidur pulas, karena pengaruh obat yang di berikan oleh dokter.
Tiba-tiba terlintas di pikiran ku tentang Rani,yaitu putri Kak Roy.
"Ummah, apakah Kak Roy atau keluarga nya menghubungi Ummah?, " tanya ku memandangi wajah Ummah dengan serius.
Ummah menggelengkan kepalanya
"Tidak sayang, bahkan sampai sekarang Ummah juga tidak tahu. Dimana keberadaan putrinya Roy. Bahkan Roy atau Budenya tidak ada yang mengkonfirmasi keberadaan putrinya sampai sekarang kepada keluarga kita, " jelas Ummah kepada diri ku.
Aku terdiam dima sejenak sambil berpikir.
"Apakah Kak Roy tidak mengetahui peristiwa penculikan yang terjadi kepada ku, Kak Reno dan putrinya, Ummah?, " tanya ku lagi pada Ummah.
Ummah menggelengkan kepalanya lagi.
"Entahlah sayang, seharusnya ia mengetahui akan hal itu. Tetapi sampai sekarang Roy juga tidak dapat di hubungi. Meskipun Abi, Enjid dan Ummah sendiri. Sudah berkali-kali mencoba untuk menghubunginya, tetapi tetap saja tidak bisa. "
Aku menghela napas pendek dan terlihat merenung.
"Rani sungguh mengkhawatirkan keadaan putrinya Kak Roy, Ummah. Karena saat Rani dan Kak Reno di culik, putri Kak Roy tidak berada bersama kami. Semoga ia dalam keadaan yang baik-baik saja, " ucap ku dengan penuh kecemasan dan panik.
Ummah lalu mengusap kepala ku dengan penuh kasih sayang.
"Kita berdo'a saja sayang semoga Rani dalam keadaan yang baik-baik saja. Dan pelakunya dapat segera di tangkap. Karena Ummah masih belum dapat merasa tenang. Jika pelaku kejahatan ini masih berkeliaran bebas. Kamu dan Reno masih berada dalam bahaya, sayang, " kata Ummah sambil memeluk diri ku.
Aku diam mendengarkan perkataan Ummah, sembari mengingat kembali peristiwa penculikan terhadap diri ku dan Kak Reno.
__ADS_1
"Siapa orang yang berjubah hitam dan bertopeng itu?. Mengapa ia tidak menyakiti diri ku, tetapi malah justru ingin melukai Kak Reno?, " ucap ku di dalam hati sambil terus berpikir.
Mobil ambulan yang ku naikki bersama Ummah, Kak Reno juga ke dua tugas medis. Terus melaju dengan cepat menembus malam yang mulai akan datang.
Entah mengapa aku masih terus merasa gundah dan ketakutan. Dimana perasaan ku mengatakan jika semua ini belum berakhir, dengan mudah seperti ini.
Dan di saat mobil ambulan yang kami naikki terus melaju pada jalanan yang sepi. Dalam remang-remang cahaya jalan. Tanpa sengaja pandangan mata ku melihat sekumpulan laki-laki bertubuh besar yang menculik ku dan Kak Reno.
Aku menatap ke arah mobil jeep mereka yang berhenti di sisi kiri jalan.
Dengan cepat aku pun berkata kepada Ummah tentang keberadaan mereka.
Ummah juga sama terkejutnya dengan diri ki, dan dengan cepat Ummah langsung menelepon Abi yang berbeda mobil dengan kami.
Abi mengatakan kepada Ummah supaya kami berhati-hati. Karena kemungkinan besar sekumpulan penjahat itu masih mengintai dan mengawasi kami.
Jantung ku masih berdegup dengan sangat kencang. Dimana aku segera menanti jika keadaan Kak Reno dalam kondisi baik-baik saja. Ummah terus mendekap tubuh ku, agar aku dapat bersikap tenang.
Namun, tiba-tiba mobil ambulan yang kami naikki tiba-tiba berhenti, dengan mengerem mendadak.
Aku dan Ummah menjadi panik bersamaan dengan dua petugas medis yang berada di dekat kami.
"Ummah, itu orang yang telah menculik diri ku dan Kak Reno, " ucap ku dengan nada suara bergetar.
"Ya Allah. Apa yang ingin dia lakukan sekarang kepada kita?, " ujar Ummah panik dan begitu cemas.
Ummah mendekap tubuh ku.
Dan segera menelepon Abi yang mobilnya masih jauh tertinggal dari mobil ambulan yang kami naikki.
"Ummah dan Rani berhati-hati dan tetap waspada. Mobil yang Abi naikki tiba-tiba mengalami pecah ban sama dengan mobil aparat kepolisian yang berada di belakang mobil Abi. Abi dan yang lainnya akan segera mengganti ban mobil yang pecah. Dan untuk itu Ummah dan Rani tetap waspada dan bersikap tenang. Satu lagi, Ummah jangan lupa untuk terus menghubungi Abi, " tutur Abi menjelaskan kepada Ummah melalui sambungan telepon.
Ummah mengiyakan perkataan Abi dan terus mengenggam telepon genggam miliknya, setelah sambungan telepon dengan Abi terputus.
Begitu pun dengan diri ku, yang langsung mengenggam jemari tangan Kak Reno dengan erat. Sembari terus membasahi lisan ku dengan do'a kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dan dalam keadaan pasrah ku dan Ummah, sekumpulan laki-laki bertubuh besar dan mengerikan itu terus berjalan mendekati mobil ambulan yang kami naikki.
Kemudian, secara kasar mereka terus mendobrak pintu ambulan agar terbuka.
__ADS_1
Aku, Ummah dan petugas medis di dekat kami merasa sangat ketakutan.
Bru aghh
Duarrrr.
Pintu mobil ambulan pun terbuka. Dimana tatapan -tatapan kasar dan mengerikan, dari sorot mata mereka seakan ingin menerkam diri ku.
"Keluar!, " bentak mereka dengan kasar sambil memukul mobil ambulan dengan benda kasar dan tajam.
"Astagfirullah, " ucap ku dan Ummah bersamaan dalam rasa takut yang menyergap diri kami masing-masing.
Awalnya aku dan Ummah enggan untuk keluar dari mobil ambulan. Tetapi saat mereka secara kasar, telah melukai para petugas medis. Akhirnya aku pun menuruti permintaan mereka juga.
Kecemasan semakin menyergap diri ku, saat laki-laki bertubuh besar itu ingin membawa Kak Reno bersama mereka juga dengan diri ku. Aku berteriak dan meronta dengan sekeras-kerasnya, berharap ada seseorang atau siapa pun yang akan menolong kami semua.
Namun, usaha ku terasa sia-sia.
Dengan kasar salah seorang laki-laki bertubuh besar itu menyeret tubuh Ummah dengan kasar.
Aku pun berteriak.
"Ummah!, " pekik ku dengan penuh kecemasan dan ketakutan jika mereka akan melukai Ummah.
Aku menangis dalam raut wajah penuh kepanikan dan rasa takut yang teramat sangat.
"Ikut dengan kami tanpa penolakan, jika kamu tidak ingin melihat wanita ini atau siapa pun terluka, " ucap laki-laki bertubuh besar yang menarik tubuh Ummah dengan kasar.
Ummah menggelengkan kepalanya, seraya meminta diri ku untuk tidak menuruti permintaan Ummah.
Tetapi aku tidak bisa membiarkan terjadi hal -hal buruk pada Ummah. Sehingga aku pun menuruti permintaan sekumpulan laki-laki bertubuh besar ini. Untuk membawa diri ku dan Kak Reno pergi bersama mereka.
Tetapi dengan persyaratan jika mereka tidak boleh menyakiti Ummah atau siapa pun orang yang berada di sini.
Ummah menangis dan menjerit kencang, bahkan sangat kencang saat mereka semua membawa diri ku dan Kak Reno pergi dari hadapan Ummah.
"Rani!, " teriak Ummah kencang sambil terus menangis tiada henti.
Aku hanya diam dalam rasa ketakutan yang menyelimuti diri ku, sambil sesekali memandang ke belakang melihat Ummah dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1