Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Berkumpul


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Dek Rani,ukhti Aisyah,"tanya ustad Fariz ingin tahu.


"Sejak semalam dokter memberikan obat kepada Dek Rani sampai saat ini Dek Rani masih tertidur ustad.Apa mungkin efek obatnya ya ustad?supaya otaknya Dek Rani beristirahat,"tanya ukhti Aisyah kepada ustad Fariz.


"Saya tidak dapat menyimpulkan ukh.Nanti supaya lebih jelas kita tunggu saja penjelasan dari dokter.Oh ya Ukhti Aisyah,saya sampai kelupaan.Ini ada teh hangat dan roti untuk ukhti mengisi perut sementara.Dan ukhti bisa pulang untuk beristirahat dahulu sebelum bekerja.


In syaAllah nanti akan ada sahabatnya Dek Rani yang akan membantu kami menjaga dan merawatnya,"ucap ustad Fariz sambil meletakkan teh hangat dan roti yang ia bawa di atas kursi di samping ukhti Aisyah.


"Baik ustad.Dan terima kasih untuk teh dan rotinya.Sebenarnya saya tidak apa-apa jika tetap disini menjaga Dek Rani.Tetapi,memang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di sekretariat masjid dan di beberapa usaha yang ustad Fariz miliki,"ucap ukhti Aisyah sambil memegang gelas cup berisi teh hangat.


" Tidak apa-apa ukhti Aisyah. Saya mengerti dan memahaminya.In syaAllah semua akan baik-baik saja, "balas ustad Fariz.


Tidak lama kemudian,


Bruukkkk...


Terdengar kursi terjatuh dari ruangan Kak Roy.


" Astagfirullah, "ucap ustad Fariz dan ukhti Aisyah bersamaan karena terkejut.


"Ukhti Aisyah silahkan minum teh hangatnya dan makan rotinya. Saya akan melihat Dek Roy di samping, " ucap ustad Fariz sambil berjalan dengan cepat menuju ruang Kak Roy.


Setibanya di ruang Kak Roy.


Ustad Fariz terkejut melihat Kak Roy sudah bangkit berdiri dan turun dari ranjang pasien dengan selang infus masih menempel di pergelangan tangan kanannya.


Tubuh Kak Roy masih sempoyongan dengan kursi besi yang tergeletak jatuh di lantai karena tersenggol oleh kakinya.


Maka dengan cepat ustad Fariz menghampiri dan menolong Kak Roy.


"Astagfirullah, dek Roy. Apa yang kamu lakukan?, " tanya ustad Fariz sambil menopang pundak Kak Roy supaya tidak terjatuh.


"Rani... Rani.... Ba... Bagai.. mana... Keadaan Rani?, " tanya Kak Roy dengan suara yang masih lemah.


"Sudah, sebaiknya Dek Roy jangan memaksakan diri dahulu.Tunggu hingga kondisi Dek Roy benar-benar membaik. Saya mohon Dek Roy jangan egois, " ucap ustad Fariz berusaha menasehati Kak Roy.


Dengan perlahan ustad Fariz membantu Kak Roy kembali ke ranjang pasien. Lalu bergegas memanggil perawat dan dokter yang berjaga untuk memeriksa keadaan Kak Roy.


Tidak lama kemudian, dokter pun datang dan mengecek kondisi Kak Roy. Sementara perawat membetulkan selang infus di tangan Kak Roy.


"Bagaimana keadaannya dok?, " tanya ustad Fariz kepada dokter yang telah memeriksa Kak Roy.


"Keadaan pasien sudah berangsur-angsur membaik. Dan alhamdulillah tidak ada gejala atau pun indikasi yang serius sejauh ini. Tetapi saya sarankan agar pasien tetap beristirahat supaya mempercepat masa recovery (pemulihan). Setelah ini, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Bapak mohon setelah ini mempersiapkan pasien untuk dipindahkan, dan nanti akan dibantu oleh perawat. Saya juga sudah memberikan pasien obat secara injeksi.Kemungkinan akan membuat pasien mengantuk karena efek obatnya. Dan itu tidak apa-apa, karena pasien akan tertidur dalam waktu yang cukup lama sekitar beberapa jam. Hal ini diperlukan supaya pasien dapat beristirahat dan mengoptimalkan efektivitas dari kerja obat di tubuh pasien, " ucap dokter menjelaskan kepada ustad Fariz.


"Baik terima kasih banyak dokter. Lalu bagaimana dengan keadaan pasien di sebelah dok? Hingga saat ini Dek Rani belum tesadar, " tanya ustad Fariz kepada dokter sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa pak, pasien masih dalam pengaruh efek dari obat. Sejauh tidak ada indikasi yang membahayakan biarkan dulu pasien beristirahat. Sebab itu hal utama yang diperlukan pasien. Nanti jika pasien sudah tersadar bapak bisa memanggil perawat atau dokter untuk dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi pasien, " ucap dokter menjelaskan kepada ustad Fariz.


"Baiklah jika begitu dok, saya ucapkan terima kasih, " balas ustad Fariz.


"Baik sama-sama pak, " sahut dokter.


Setelah itu dokter dan perawat meninggalkan ruangan Kak Roy.


Kak Roy sudah kembali tertidur di atas ranjang nya.


Ustad Fariz memeriksa keadaan Kak Roy seraya mendo'akan kesembuhan nya.


"Allaahumma rabban nasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syafi. La syafiya illa anta syifa'an la yughadiru saqaman.


(Artinya: “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri) ".


Lalu ustad Fariz membaca kembali do'a di bawah ini sebanyak tujuh kali.


"As’alullahal azhima rabbal ‘arsyil ‘azhimi an yassfiyaka (artinya:Aku memohon kepada Allah yang agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkan mu)".


Tuk...tuk...tuk...


Terdengar langkah kaki dengan cepat.


Sreett.....

__ADS_1


Tirai dibuka dengan cepat oleh seseorang.


"Astaghfirullah,Ya Allah Kak Roy,"ucap Wirda yang datang bersamaan dengan Pak Budi di belakangnya.


"Ssssttttt....mohon jangan berisik.Dek Roy baru tertidur setelah diberikan obat oleh dokter.Jadi biarkan ia beristirahat supaya kondisinya lekas membaik,"ucap ustad Fariz kepada Pak Budi dan Wirda.


Tidak lama kemudian ustad Fariz, Wirda dan Pak Budi keluar dari ruangan Kak Roy dirawat.


"Pak Budi Bagaimana semua ini bisa terjadi kepada Rani dan Kak Roy?,"tanya Wirda dengan ekspresi muka sedih dan rasa ingin tahu.


Pak Budi terdiam sejenak sambil melihat ke arah ustad Fariz.


Memori ingatan Pak Budi kembali berputar teringat akan kejadian yang dilakukan oleh Kak Reno terhadap diriku dan Kak Roy.


"Mengapa pak Budi diam? Apakah yang melakukan semua ini adalah Kak Reno?,"tanya Wirda dengan wajah yang kesal.


Pak Budi pun menganggukkan kepalanya.


"Aku sudah menduganya Pak. Kenapa kak Reno tidak ada habis-habisnya terus membuat masalah dan melukai Rani dan Kak Roy secara terus-menerus. Entah sebenarnya apa yang diinginkan oleh kak Reno terhadap Rani dan juga Kak Roy. Wirda sampai tidak habis pikir Pak Budi. Apakah tidak ada sedikit rasa kemanusiaan ataupun kasihan melihat kondisi Rani dan kak Roy seperti ini?,"ucap Wirda yang menggerutu dengan kesal dan sedikit marah.


"Sudahlah nak Wirda kita tidak usah memikirkan Bagaimana sikap nak Reno. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana anak Rani dan Roy kembali sehat dan pulih seperti sedia kala. Oh ya, apakah nak Wirda memiliki nomor telepon orang tua atau saudara Nak Roy yang bisa dihubungi?,"tanya Pak Budi kepada Wirda.


"Kalau tidak salah saya punya Pak ,tetapi coba saya lihat dulu di telepon genggam saya,"jawab Irda sambil melihat layar telepon genggamnya dan mengecek nomor telepon keluarga Kak Roy.


"Ada pak, Wirda mempunyai nomor telepon mamahnya Kak Roy dan nomor telepon rumahnya,"ucap Wirda kembali kepada Pak Budi.


"Kalau begitu bisakah nak Wirda menghubungi nomor telepon mamanya nak Roy. Supaya keluarganya mengetahui kondisi nak Roy sekarang,"ucap pak Budi kepada Wirda.


"Baik Pak Budi sebentar ya saya keluar dari ruangan ini sebentar. Saya akan menghubungi nomor telepon mamanya Kak Roy,"ucap Wirda.


Wirda pun keluar dari ruangan lalu menghubungi nomor telepon mamanya Kak Roy.


"Halo ,assalamualaikum,"ucap Wirda dari balik telepon.


"Wa'alaikumsalam iya maaf dengan siapa ya ini?,"ucap seseorang perempuan yang menjawab telepon dari Wirda.


"Saya temannya Kak Roy.Apa bisa saya berbicara dengan orang tuanya Kak Roy?,"tanya Wirda kepada perempuan yang menerima teleponnya.


"Saya Wirda tante,"jawab Wirda singkat.


"Oh ya nak Wirda. Ada apa ya nak Wirda mencari putra saya Roy? Sudah dari semalam istrinya Roy yaitu Rere menelpon kemari, katanya Roy tidak ada di rumahnya dan belum pulang sampai sekarang,"ucap mama jika boleh tahu di mananya Kak Roy dengan nada bicara yang sangat khawatir.


"Begini tante, saya menelpon tante karena ingin memberitahukan keberadaan Kak Roy sekarang,"sahut Wirda.


"Alhamdulillah Ya Allah. Nak Wirda tahu keberadaan putra saya dari mana? Dan anak saya Roy sekarang ada di mana nak Wirda? Saya betul-betul mengkhawatirkannya?,"ucap mama Kak Roy dengan suara sangat sedih dan ingin menangis.


Dari balik telepon genggamnya Wirda terlihat sedikit bingung. Bagaimana ia akan menyampaikan kabar tentang kondisi Kak Roy saat ini. Wirda begitu takut akan membuat Mama Kak Roy menjadi syok dan menangis.


Wirda terdiam cukup lama, dia memikirkan Bagaimana merangkai kata-kata yang baik agar Mama Kak Roy mudah mencernanya dan tidak terkejut mendengarnya.


"Halo halo halo nak Wirda? Apakah nak Wirda bisa mendengar suara tante? Halo? halo? Nak Wirda kenapa diam? Apakah terjadi sesuatu kepada Roy?,"ucap mama Kak Roy dengan banyak pertanyaan.


"Ah, iya Tante saya masih mendengar tante,"ucap Wirda yang sedikit terkejut dan bingung menjelaskan keadaan Kak Roy sekarang.


Perlahan Wirda mengambil nafas panjang. Supaya ia merasa tenang dan dapat mengatakan kondisi Kak Roy sekarang kepada Mama Kak Roy.


"Tante, sebelumnya Wirda ingin tante tidak merasa histeris atau terlalu memikirkan yang aneh-aneh. Wirda ingin tante mendengar apa yang Wirda sampaikan dengan tenang ya Tante,"ucap Wirda dengan tenang.


"Huhuhhuhu, sebenarnya apa yang terjadi dengan Roy ,nak Wirda? Perasaan saya sangat tidak enak,"ucap mama Kak Roy sambil menangis.


Mendengar tangisan Mama Kak Roy Wirda menjadi semakin bingung. Lidahnya menjadi keluh dan hatinya berdebar.


Ya Allah bagaimana aku akan menyampaikan keadaan Kak Roy saat ini kepada mamanya, ucap Wirda di dalam hati.


Namun, Wirda berusaha menguatkan hatinya.


Wirda berfikir ,bagaimanapun juga mama Kak Roy harus tahu kondisi Kak Roy saat ini.


Maka dengan keyakinan itu pula Wirda memantapkan hatinya dan menguatkan lisannya untuk menyampaikan berita yang mungkin tidak ingin didengar oleh Mama Kak Roy.


"Bismillah,"ucap Wirda pelan.

__ADS_1


"Tante Saya ingin mengabarkan bahwa saat ini Kak Roy sedang dirawat di rumah sakit. Tetapi ,Tante jangan khawatir Kak Roy sudah mendapat penanganan dari dokter dan kondisinya sudah lebih baik. Oleh karena itu tante jangan merasa cemas dan khawatir karena Kak Roy dalam masa pemulihan. Untuk itu nanti Wirda akan mengirim alamat di mana Kak Roy dirawat melalui pesan ke nomor tante ya. Wirda berharap tante tenang dan jangan berpikiran yang macam-macam,"ucap Wirda berusaha menetralkan suasana hati Mama Kak Roy agar menjadi tenang.


"Ya Allah kenapa dengan Roy nak?,"tanya mama Kak Roy ingin tahu.


"Saya kurang tahu detail kejadian peristiwa yang menimpa Kak Roy, tante. Tetapi, lebih baik tante segera kemari dan saya masih di sini menunggu dan menjaga Kak Roy serta Rani,"jawab Wirda.


"Iya... iya nak, bai...baik nak Wirda. Terima kasih ya nak karena sudah mengabari keadaan Roy dan menjaga Roy di rumah sakit,"balas mama Kak Roy.


"Iya Tante sama-sama. Wirda tutup dulu teleponnya ya Tante, assalamualaikum,"ucap Wirda.


"Wa'alaikumsalam,"jawab Mama Kak Roy.


Tut... tut... tut


Sambungan telepon terputus.


Wirda lalu mengirim alamat rumah sakit di mana Kak Roy dirawat kepada mamanya Kak Roy.


Setelah itu Wirda masuk lagi ke dalam ruang UGD untuk menemui Pak Budi dan yang lainnya.


Namun, sebelum Wirda masuk ke dalam ruang UGD. Pak Budi ,ustad Fariz dan Ukhti Aisyah keluar secara bersamaan.


Wirda terkejut seketika saat ia berbalik badan dan ingin berjalan lalu melihat mereka berjalan bersamaan.


"Loh pak kok semuanya pada keluar?,"tanya Wirda kepada Pak Budi.


"Iya nak perawat menyuruh kita semua keluar agar Mak Rani dan nak Roy bisa beristirahat,"jawab Pak Budi.


"Sebenarnya apa yang terjadi kepada Rani dan Kak Roy Pak Budi,"tanya Wirda.


"Baiklah nak Wirda ,mari duduk di sana bapak akan menceritakan semuanya,"ajak Pak Budi kepada Wirda untuk duduk sambil menunjuk ke arah kursi di depan ruang UGD.


Wirda pun langsung menurutidan mengikuti Pak Budi.


Diikuti juga dengan ustaz Farid dan Ukhti Aisyah.


Dengan wajah yang sangat serius pak Budi menceritakan semua kronologi peristiwa yang telah terjadi pada diriku dan Kak Roy.


Wirda begitu histeris dan menangis mendengar setiap detail dari bagian demi bagian cerita yang Pak Budi sampaikan.


Begitu pula Ukhti Aisyah matanya tampak berkaca-kaca mendengar cerita dari Pak Budi tersebut.


"Ya Allah Pak Budi. Wirda tidak membayangkan mengapa Kak Reno begitu kejam kepada Rani. Dan memang sudah sepantasnya orang seperti itu harus dihukum dan mendapatkan pelajaran,"ucap Wirda dengan sangat kesal dan sambil menangis.


"Iya nak Wirda. Dan untuk itu pula Bapak ditemani nak Fariz akan ke rumahnya nak Reno,"ucap pak Budi kepada Wirda.


"Untuk apa lagi bapak ke sana Pak Budi?,"tanya Wirda ingin tahu.


"Bapak ingin mengembalikan mobil milik keluarga Suprapto yang Bapak bawa. Sekaligus Pak Budi ingin pamit dan berhenti bekerja sebagai sopir pribadi keluarga Suprapto. Sungguh Bapak sudah tidak tahan berada di tengah-tengah keluarga itu,"ucap pak Budi dengan raut wajah yang sedih.


"Iya Pak Budi, Wirda mengerti,"sahut Wirda sambil mengusap air matanya dengan tisu yang ia ambil dari dalam tas kecilnya.


"Ya sudah nak Wirda Bapak dan nak Fariz pamit dulu ingin segera pergi ke rumah keluarga Suprapto. Sementara bapak dan nak Fariz pergi .Bapak mohon nak Wirda menjaga nak Rani dan nak Roy dulu,"pinta Pak Budi kepada Wirda.


"Baik Pak Budi ,tanpa Bapak minta pun saya dengan sukarela dan senang hati menjaga sahabat saya Rani dan Kak Roy. Bapak hati-hati ya,"ucap Wirda kepada Pak Budi.


Tidak lama kemudian Pak Budi ,ustad Fariz dan ukhti Aisyah pergi meninggalkan Wirda yang duduk seorang diri di depan ruang UGD.


Mereka bertiga berjalan menuju tempat parkir mobil.


"Ukhti Aisyah lebih baik ikut dengan saya dan Pak Budi. Sebab jalan menuju gedung sekretariat masjid dan ke rumah keluarga Suprapto juga satu arah. Jadi sekalian saja mari Ukhti Aisyah,"ajak ustad Fariz kepada Ukhti Aisyah.


Ukhti Aisyah pun menggangguk dan tanpa banyak berkata ia pun langsung masuk ke dalam mobil diikuti oleh ustad Fariz dan Pak Budi.


"Bismillah,"ucap ustad Faris dan Pak Budi secara bersamaan.


"Nanti pulang dari rumah keluarga Suprapto kita naik taksi saja ya Pak Budi," ucap ustad Fariz kepada Pak Budi.


Pak Budi pun mengangguk.


Bremmmm....

__ADS_1


Pak Budi menyalakan mesin mobil.


__ADS_2