
Wirda terus memandangi jarum jam dan menghitung keberangkatan penerbanganku dan Mas Fariz, sesuai permintaan Abi. Supaya saat pesawat landing, Wirda dapat segera menghubungi diriku dan Mas Fariz.
Sembari memandangi jam dinding di ruang keluarga,jemari tangan Wirda terus browsing untuk menemukan info mengenai penerbangan pesawat dari Indonesia ke Mesir.
"Lama penerbangan dari Indonesia ke Mesir. Rata-rata memiliki durasi penerbangan nonstop adalah 19jam 05menit, mencakup dengan jarak tempuh sejauh 9188 km. Dimana rute paling populer adalah Jakarta - Kairo dengan rata-rata waktu penerbangan 16jam 25menit, " ucap Wirda pelan sambil menatap layar telepon genggam miliknya.
Huftt,
Wirda menggela nafasnya sambil terus memainkan jemari tangannya pada layar telepon genggam miliknya. Wirda terus memantau pergerakan pesawat yang membawa diriku,Mas Fariz dan Bik Siti dari bandara asal ke bandara tujuan,dengan menggunakan aplikasi yang memantau dan melacak pergerakan pesawat berdasarkan maskapai, tujuan, asal, nomor penerbangan, dan rute penerbangan.
"Masih lama Kak Fariz dan Rani tiba, sebaiknya sekarang aku melihat keadaan Ummah terlebih dahulu, " ucap Wirda sambil berjalan menuju ke lantai atas.
Sesampainya Wirda di kamar tempat Ummah beristirahat. Abi masih tampak setia menunggui Ummah yang kini sudah tertidur.
"Bagaimana Wir?apakah masih lama penerbangan Fariz dan Rani?, " tanya Abi.
"Iya Bi, kemungkinan besok pagi Kak Fariz, Rani dan Bik Siti tiba di Bandara Internasional Kairo(CAI) , " jawab Wirda.
Abi mengangguk, "Ya sudah Wirda, kalau begitu sekarang kamu beristirahat saja. Ini sudah malam, kamu juga perlu beristirahat."
"Tetapi bagaimana dengan Ummah, Abi?, " tanya Wirda cemas.
Abi tersenyum kecil kepada Wirda, "Tidak apa-apa Wirda. Biar Ummah Abi yang menjaganya, sekarang kamu lekas beristirahat. "
"Baik Bi. "
Wirda lalu berjalan pergi menuju kamar tidurnya, sementara itu Abi masih duduk di samping Ummah. Menjaga Ummah supaya tidurnya tetap terlelap.
***
Keesokan pagi harinya, Wirda bersama Enjid tengah menikmati sarapan pagi. Tetapi tidak terlihat Abi dan juga Ummah.
"Wirda, nanti kamu bawakan sarapan pagi untuk Ummah mu ya.Sementara itu, Enjid akan pergi bersama Abi mu, untuk ke kantor dan mengecek semua usaha lainnya, " ucap Enjid yang telah selesai menyantap sarapan paginya.
"Iya Enjid, " sahut Wirda yang masih menikmati sarapan paginya.
Tidak lama kemudian, Abi pun turun menghampiri Wirda dan Enjid.
__ADS_1
Enjid memandang ke arah Abi, "Bagaimana keadaan istri mu?. "
Abi menarik kursinya perlahan, lalu meminta dibuatkan kopi hitam pada asisten rumah tangga.
"Setelah salat dhuha, Putri kembali tertidur Njid. Kemungkinan ia lelah karena terus menerus menangis memikirkan keadaan Fariz dan Rani, " jawab Abi yang terlihat masih mengantuk.
"Itulah yang Njid takutkan. Putri itu tidak bisa jauh dari Fariz, tetapi malah memintanya untuk menetap sementara waktu di tempat yang jauh lagi. Tetapi jika tidak dituruti, istrimu juga tidak akan senang, " ujar Abi sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Abi terdiam sambil memegangi keningnya, lalu melihat ke arah Wirda, "Bagaimana Wir, apakah kamu sudah memantau lagi penerbangan pesawat Fariz dan Rani?. "
Wirda menelan makanannya dengan cepat agar dapat menjawab pertanyaan Abi.
"Belum lagi Bi. InsyaAllah setelah sarapan, Wirda akan memantaunya lagi Bi, " sahut Wirda sambil mengambil gelas berisi air putih di dekatnya.
Tidak lama kemudian, kopi hitam yang diminta Abi pun tiba. Dan dengan segera Abi langsung menyeruput secangkir kopi hitam itu. Wirda segera bergegas menyelesaikan sarapannya, lalu menyiapkan makanan untuk Ummah pada nampan yang telah ia bawa dari dapur. Setelah itu, Wirda permisi kepada Abi dan Enjid untuk mengantarkan makanan yang ia bawa kepada Ummah.
"Wirda titip Ummah mu ya, nanti Abi akan keluar memantau perusahaan bersama Enjid. Jika ada apa-apa nanti kamu hubungi Abi dengan segera, " pinta Abi kepada Wirda yang akan hendak menuju ke lantai atas.
"Iya Bi, " jawab Wirda berlalu ditemani asisten rumah tangga di sampingnya.
Sesampai di kamar, Ummah masih terlihat tidur sangat pulas. Wirda lalu meminta asisten rumah tangga yang ikut bersama dirinya untuk meletakkan nampan berisi makanan di meja panjang dekat sofa. Setelah itu, asisten rumah tangga itu keluar dan menutup pintu kamar.
Wirda lalu mengambil telepon genggam miliknya untuk memantau penerbangan pesawat yang membawa diriku, Bik Siti dan Mas Fariz. Wajah Wirda terlihat kesal seketika, saat dirinya tidak bisa memantau pergerakan pesawat. Tiba-tiba kontak dengan pesawat yang ku tumpangi dengan Mas Fariz hilang kontak dengan aplikasi penerbangan yang Wirda pantau dari telepon genggam miliknya.
Wirda terus menerus menyentuh layar telepon genggam miliknya, ia berusaha tenang.
"Sinyal nya bagus, tetapi kenapa tidak terhubung, " gumam Wirda.
Wirda yang berusaha untuk tenang pun, akhirnya menjadi khawatir dan cemas.
Belum sempat ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar untuk memberitahukan hal ini kepada Abi. Tetapi tiba-tiba Abi sudah datang masuk ke kamar dengan wajah pucat penuh kecemasan. Wirda menatap heran dan merasa tidak tenang. Segera Wirda menghampiri Abi untuk bertanya tentang apa yang terjadi kepada Abi. Tetapi dengan seketika Ummah terbangun dari tidurnya dan menjerit dengan keras memanggil namaku dan Mas Fariz, secara bergantian.
Wirda segera berlari mendekati Ummah yang terbangun dengan wajah penuh peluh dingin, padahal di ruang ber-AC.
Dengan perlahan, Wirda berusaha menenangkan Ummah yang terus menangis histeris dan tidak terkendali.
Wirda panik melihat keadaan Ummah, sementara itu Abi menatap wajah Ummah dengan air matanya yang mengalir pelan. Kemudian mendekati Ummah dan memeluk tubuh Ummah erat.
__ADS_1
Wirda semakin bingung dengan apa yang terjadi di hadapannya.
Hatinya tiba-tiba bergemuruh dalam kecemasan yang merajai dirinya.
Tidak lama Enjid pun masuk ke dalam kamar dengan wajah pucat senada ekspresi paras Abi saat masuk ke dalam kamar.
Rasa ingin tahu menjalar dalam hati Wirda, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Maka dengan cepat ia pun berjalan menghampiri Enjid yang masih berada di pintu masuk kamar. Jemari tangan Wirda memegang lengan Enjid, "Ada apa Njid? Apa yang terjadi?."
Wirda memandangi wajah Enjid penuh kecemasan, tetapi Enjid tidak langsung menjawab dan hanya terdiam.
Semakin bertambah gundah perasaan Wirda, sembari menunggu Enjid untuk bergerak dari tempatnya dan menjawab rasa ingin tahunya. Namun, Enjid tetap diam. Hingga Wirda menarik lengan Enjid perlahan untuk duduk di sofa supaya lebih rileks.
Enjid menurut pasrah saat Wirda menuntun lengannya, sementara itu suara tangis kesedihan masih terdengar makin menggema dari jeritan Ummah.
"Njid ada apa?, " tanya Wirda memandang wajah Enjid yang menitikan air mata.
Paras Wirda begitu kacau dan semakin gundah melihat gelagat aneh yang di tampilkan Enjid.
"Tolong Njid, katakanlah ada apa? Wirda bingung, mengapa Abi dan Enjid bersikap seperti ini, " pinta Wirda terbata dalam suara cemasnya.
Enjid lalu menatap Wirda dengan pandangan penuh ketakutan dan kecemasan mendalam.
Bibir Enjid bergetar dengan suara giginya yang beradu bergetak.
Wirda menjadi semakin panik, karena Enjid tak kunjung berbicara dan justru semakin menangis.
"Ya Allah ada apa ini?, " ucap Wirda keras penuh panik.
Enjid terus menangis pilu, hingga pada akhirnya suara lemah nya pun bertutur parau pada Wirda, "Pesawat yang di naikki Fariz dan Rani jatuh, Wir! Huhuhuhuhu.. Huhuhu..... "
Wirda terduduk lemas di lantai dengan pandangannya yang kabur dan kosong.
Sementara itu, Ummah yang mendengarkan perkataan Enjid semakin berteriak histeris dan semakin menjadi-jadi.
"Fariz!. "
"Rani! "
__ADS_1
Huhuhuhuhu.....