Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kesabaran.


__ADS_3

Tidak lama setelah menunggu ,dokter pun keluar dari ruang ICU dan menemui Abi. Semua orang tegang seketika dan memasang indra pendengaran masing-masing, untuk menyimak penuturan dokter mengenai kondisiku. Kecemasan dan rasa khawatir terus merajai setiap lekuk guratan wajah dari anggota keluarga Imandar.


"Bagaimana kondisi putri saya dok? Apakah ada penerbangan mempengaruhi keadaan putri saya?, " tanya Ummah cemas pada dokter.


Dokter melihat ke arah Ummah, "Pasien memiliki beberapa luka di tubuhnya dan kini dalam kondisi koma medis. Saat ini kami masih terus memantau perkembangan akan kondisi putri ibu, untuk itu kita terus berdo'a untuk kesembuhan putri ibu."


Dokter menjelaskan dengan pelan dan lembut kepada Ummah, seraya memberikan harapan kekuatan ,untuk terus merajut asa bagi kesembuhan diriku.


Ummah terdiam dan duduk kembali setelah dokter berlalu pergi, perkataan dokter laksana penawar dari minuman pahit yang akan diteguk.Meskipun Ummah sendiri tahu dan paham, bahwa kesembuhan yang menghampiriku hanya memiliki kemungkinan sekitar 1 hingga 5 persen.


Ummah duduk diam sembari menghela napasnya berkali-kali, berusaha menenangkan dirinya tanpa menguraikan air mata kesedihannya.Ummah paham dan sadar betul, jika hidup ini penuh dengan pasang surut.


Tanpa kecuali, setiap orang memiliki tantangan dan kesulitan masing-masing dalam hidup mereka.Sama halnya dengan ujian bertubi-tubi yang Allah berikan kepadanya.


Bermacam kesulitan ini kadang bisa terasa sangat luar biasa sampai pada titik, di mana Ummah seperti tidak mampu menemukan jalan keluar dari ujiannya dan mulai putus asa.Namun, saat pikirannya kembali teringat akan kondisiku. Ummah menjadi tegar dan tidak lemah kembali.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa selemah ini? Jika Rani saja yang secara terus-menerus mendapatkan cobaan tiada henti dari Sang Maha Pencipta tetap berjuang melewati masa kritis hidupnya. Lalu bagaimana aku bisa menyerah seperti ini?.Orang mukmin tidak akan pernah berputus asa karena kegagalan atau musibah yang menimpanya," gumam Ummah di dalam hatinya.


Abi mendekati Ummah dan duduk di sampingnya, sembari mengenggam jemari tangan Ummah. Pandangan Ummah dan Abi bertemu dalam satu titik tumpu akan tatapan mereka yang saling menguatkan satu sama lain.


Wirda menatap ke arah Ummah dan Abi, "Bagaimana Ummah dan Abi dapat setegar dan sekuat ini, setelah semua yang terjadi?, " ucap Wirda.


Kak Rafa mengajak Wirda duduk kembali dan mengusap punggung Wirda pelan, "Karena sabar dan tabah menjadi senjata utama bagi Ummah dan Abi untuk menghadapi kesulitan yang menerpa."


Wirda terdiam dan memandang heran wajah Kak Rafa. Hingga Abi yang secara tidak langsung mendengarkan percakapan Wirda dan Kak Rafa ikut pula bertutur kepada Wirda.


Wirda, Kak Rafa,Ummah, Enjid dan Pak Budi menatap lekat Abi yang tengah berbicara.


"Ummah dan Abi,berusaha untuk berbaik sangka kepada Allah.Dengan mengimani takdir kehidupan. Menari mengikuti alur yang telah ditentukan Allah dan mengharmonisasikan harapan dengan ketentuan yang telah Allah siapkan, " ucap Abi memandang Wirda sebentar lalu meneruskan kembali ucapannya.


"Abi percaya bahwa setelah mengalami banyak kesulitan pasti akan datang berbagai kemudahan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, "… Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan; sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan …"(QS al-Insyirah: 5-6).Sehingga Abi akan terus berharap kepada Allah karena hanya Dia sebaik-baiknya pengharapan. Abi akan senantiasa persisten dalam berdo'a karena Allah tahu kapan waktu terbaik untuk menjawab doa hambanya, dan menghapus duka yang berkepanjangan ini. "

__ADS_1


Enjid yang semula diam pun ikut bertutur pula dalam pembawaan dirinya yang tenang, "Di balik berbagai kesulitan, penderitaan dan keputusasaan yang keluarga kita alami sekarang, selalu ada kuasa Allah Subhanahu Wa Ta'ala .Maka yang harus kita lakukan adalah berupaya agar Allah berkenan hadir dalam kehidupan kita. Karena tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah sudah berkehendak. Lalu apa alasan kita untuk berputus asa dan bersedih hati?," tanya Enjid memandang ke arah Wirda.


Wirda hanya diam mendengarkan perkataan Enjid dengan wajah nya yang terlihat lesu.


"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah'! Maka terjadilah ia. Maka Mahasuci (Allah) yang di tanganNya, kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (Yasin: 82-83).Saat ini yang dapat kita lakukan adalah bersama -sama ikhtiar dengan berdo'a, supaya dapat menembus wilayah langit untuk meminta bantuan Allah Ta'ala, berharap pada kuasa-Nya, serta meminta-Nya hadir di tengah permasalahan yang kita hadapi. Karena bila Dia sudah berkenan, kita tidak hanya bisa tersenyum sebab keinginan kita dengan mudah telah didapat. Akan tetapi ,kita juga bisa mengucapkan selamat tinggal pada semua kesulitan kita yang akan segera berlalu pergi, InsyaAllah, "tutur Enjid pelan dan serius.


Realita yang terjadi di tengah keluarga Imandar, bahwa iman mereka membangkitkan harapan di dalam jiwa serta mencegah datangnya keputusasaan di hati mereka.Dimana hati mereka sungguh-sungguh meyakini bahwa segala urusan ada di tangan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga mereka semua pun optimis dan berbaik sangka kepada Tuhannya, serta mengharap anugerah kebaikan dari sisi-Nya. Di hadapannya terpampang firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam sebuah hadits Qudsi: "Sesungguhnya Aku (akan berbuat terhadap hamba-Ku) sesuai dengan apa yang diyakini oleh hamba-Ku tentang-Ku…"


Keyakinan yang selalu Enjid dan Abi tanamkan di dasar keyakinan hati anggota keluarga keluarganya yang tengah berduka.


Karena sesungguhnya seorang mukmin dalam setiap kondisinya adalah pribadi yang memiliki harapan besar terhadap rahmat, kemudahan, dan pertolongan dari Allah. Dan tidak hanya bergantung kepada faktor usaha yang zahir, akan tetapi imannya melampau semua itu dengan meyakini bahwa faktor-faktor itu sendiri memiliki pencipta dan penyebabnya, yaitu Tuhan yang di tangan-Nya segala sesuatu. Dzat yang apabila menghendaki sesuatu, Dia cukup mengatakan kepadanya: "Kun" (Jadilah)! Lalu ia pun terwujud. Dengan demikian, hati seorang mukmin akan selalu dipenuhi oleh tawakal, harapan, dan cita-cita, sesuai dengan keinginan Abi yang ingin melihat anggota keluarganya sabar, tahan uji dan tidak lemah dalam menghadapi ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Wirda jauh merasa lebih tenang, setelah mendengarkan penuturan Enjid dan Abi. Kini pikirannya dan hatinya lebih tegar dan ikhlas dalam menginsyafi semua takdir Tuhan.


Ummah, Abi, Kak Rafa, Enjid dan Pak Budi, tersenyum bahagia melihat wajah Wirda yang jauh dari beban dan gelisah.

__ADS_1


Kini mereka semua saling menguatkan satu sama lain, dan menopang setiap kelemahan masing-masing. Hingga saat diriku tersadar dari koma. Mereka semua sudah siap dan cukup kuat untuk membuat diriku bertahan dan tegar menjalani kehidupan tanpa Mas Fariz disisiku lagi.


__ADS_2