
"Rani,sudah dipilih belum,"ucap Mbak Riska mengagetkan lamunanku.
Aku menggeleng pelan.
"Belum mbak, Rani bingung soalnya semua bagus.
Rani ngikut pilihan Mbak saja,"jawabku pasrah.
"Hmmm...Ran,salah satu elemen penting dalam mewujudkan perhelatan pernikahan adalah memilih baju pengantin.
Khususnya,bagi pengantin perempuan, gaun baju pengantin adalah ekspresi diri dan cermin kepribadian. Bisa dibilang baju pengantin adalah hal yang paling personal bagi pengantin perempuan loh Ran.
Itu yang mbak tahu dari pengalaman teman-teman mbak yang sudah menikah.
Jadi,Rani harus pilih desain mana yang Rani suka ya.
Mbak bantuin kok,"kata Mbak Riska mensupportku.
Mendengar ucapan Mbak Riska aku berusaha memeras otakku memilih rancangan gaun baju pengantin yang kusuka.
Semua terlihat bagus ucapku dalam hati.
Ughhhhhhh....
Yang mana harus kupilih batinku sambil membolak-balikan lembar tiap lembar gambar desain baju pengantin.
Dan ketika diriku sudah menemukan desain gaun baju pengantin yang sesuai keinginan atas bantuan Mbak Riska.
Bu Sri dan Mbak Riska mengajakku dan Kak Reno untuk melakukan fitting pertama di butik pilihan Bu Sri dan Mbak Riska.
Sesampainya disana,kami di sambut dengan sangat ramah dan baik oleh desainernya yang tidak lain adalah teman Bu Sri.
Setelah berbincang singkat desainer tersebut langsung mengukurku dan Kak Reno lalu ia mengaplikasikan pola agar pembuatan baju pengantin bisa pas dengan bentuk dan ukuran badan katanya menjelaskan pada kami.
Tidak berapa lama fitting baju pertama sudah selesai.
Untuk fitting baju kedua desainer akan memberitahukan kapan kami harus kembali lagi.
Kami bergegas masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Kak Reno.
"Ren,foto prewedding ya sama Rani?,"tanya Bu Sri sambil mescroll telepon genggamnya.
Kak Reno yang sedang membetulkan sabuk pengaman sedikit kaget dengan permintaan Bu Sri.
"Apa mah foto prewedding?buat apa mah Reno kan sudah menikah dengan Rani,"ucapnya menoleh ke arah Bu Sri.
"Hmmmmm....adekku Reno sayang.Foto prewedding memang adalah dokumentasi pra nikah yang nantinya akan digunakan dalam undangan atau dipajang di tempat berlangsungnya pesta pernikahan.Tetapi kan malah enak Reno sama Rani sudah halal.Jadi untuk foto enak nggak terlalu banyak batasan.Juga buat dokumentasi dan kenang-kenangan Ren.Gimana mau ya?,"ucap Mbak Riska membantu Bu Sri menjelaskan.
Bu Sri menatap ke arah Mbak Riska dengan senyuman.Tanda beliau setuju dengan tindakan dan ucapan Riska.
"Betul itu Ren apa yang dikatakan mbak mu,"bela Bu Sri.
__ADS_1
"Hmmmm...Reno nurut aja mah.Terserah Rani saja?,"sambil melempar senyum ke arahku.
"Hah....kok Rani kak,"ucapku kaget.
"Iya kakak nurut dan ngikut Rani ajalah mana bagusnya.Bismillah ya Allah,"sambil menyalakan mesin mobil.
Hmmmmm...
Aku mengumam dalam hati.
"Rani terserah mama dan Mbak Riska saja,"sahutku.
"Hahahahaha....,"suara Mbak Riska tertawa keras.
"Kamu kenapa Ris?,"tanya Bu Sri bingung.
"Ya iya mah.Gimana nggak ketawa coba.Yang nikah Reno dan Rani tetapi semuanya terserah kita mah.Aneh mereka berdua ini.Hahahhaha....lucu....lucu..,"ucap Mbak Riska memandang Bu Sri.
"Yasudah nggak apa-apa Ris,karena terserah mama dan Riska berarti Reno dan Rani harus nurut ya, pilihan mama dan mbak nggak boleh bantah,"kata Bu Sri dengan senyum memgkode Mbak Riska.
"Iya mah asal nggak berlebihan saja,"ucap Kak Reno menyahut.
"Rani gimana nak?,"tanya Bu Sri.
"Sama seperti Kak Reno mah,"jawabku.
"Cieeeeee....cieeeeee.....sudah seiya sekata nih.Satu hati loh mah,"goda Mbak Riska.
Bu Sri dan Mbak Riska tersenyum saling memandang bahagia.Mereka memberikan sinyal merencanakan sesuatu pada Kak Reno dan diriku.
Mobil melaju dalam deru suara mesin yang halus menuju tempat pemotretan.
Tidak berapa lama kami semua tiba di tempat pemotretan prewedding.
Mbak Riska dan Bu Sri memilih foto prewedding di outdoor dan indoor.
Untuk konsep prewedding di outdoor Bu Sri dan Mbak Riska memilih konsep yang sederhana sesuai permintaanku dan Kak Reno.Yaitu seperti di cafe dengan dekorasi menarik dengan teras atau rooftop yang memiliki pemandangan outdoor. Untuk baju Mbak Riska sudah menyiapkan baju senada dengan warna bajuku dan Kak Reno yang terlihat serasi semakin menyatu dengan konsep yang diusung.
Setelah itu,Aku dan Kak Reno melanjutkan foto prewedding indoor dengan konsep foto di ruangan di unfinished.
Foto prewedding di ruangan yang temboknya terkesan unfinished memiliki kesan natural dan apa adanya.
"Sengaja mbak pilihkan dress code gaun simple and one set warna biru supaya kalian semakin romantis dan serasi,"ucap Mbak Riska tersenyum menggoda sambil memberikan pakaian yang akan aku dan Kak Reno kenakan.
Kak Reno melirik ke arahku tersenyum mendengar ucapan Mbak Riska begitu pula dengan Bu Sri serta fotografer.
Setelah selesai mengganti pakaian.Mbak Riska sendiri yang meriasku dan menata pakaianku dan Kak Reno.
"Kali ini fotonya tiduran dengan mata terpejam sambil tersenyum di atas parket flooring.Reno tiduran dengan disangga tangan kanan dan ujung kaki menyilang sedikit dengan blazer di buka tetapi kemeja putih dalamnya tetap tertutup.Sementara Rani tiduran terlentang menoleh ke kanan sedikit di atas antara dada dan perut Reno dengan menekuk kaki kiri sedikit.Kemudian tangan kiri Reno mengenggam tangan kiri Rani.Dan tangan kanan Rani di atas perut,"jelas fotografer mengarahkan kami.
Kulihat Mbak Riska dan Bu Sri tersenyum.
__ADS_1
Ughhhhhhh....
Rasanya malu dan tegang melakukan pose tersebut.
Perlahan demi perlahan pose demi pose foto kami lalui dengan perasaan berdebar yang tidak menentu arahnya.
"Ini pose foto terakhir ya,"ucap fotografer.
Hah....
Masih ada lagi batinku dalam hati.
Aku dan Kak Reno melakukan foto pose terakhir.
Kami harus saling berdiri berhadapan dimana jarak tubuhnya dan tubuhku begitu dekat.
Lagi matanya menatapku hingga pandangan kami bertemu dalam.
Pelan aroma tubuhnya semakin dapat terjamah oleh indera penciumanku.
Gemuruh ******* hembusan napasnya terasa membakar sukmaku.
Dag....Dig...Dug....
Detak jantungku semakin tidak menentu.
"Ehemmmmmm....,"suara Mbak Riska memecah pandangan kami berdua.
Wajahku terasa memerah menahan malu dan grogi berada dekat dengan Kak Reno.
Hingga fotografer menyuruh Kak Reno untuk mengenggam kedua tanganku.
Sekali lagi mata kami bertemu dan tidak ingin lepas memandang.
Rasanya ada medan magnet yang menarik pandanganku untuk membalas setiap kali Kak Reno menatapku.
"Sekarang Rani agak menunduk sedikit kepalanya lalu Reno mencium kening Rani ya,"pinta fotografer.
Mataku terbelalak kaget mendengar ucapan fotografer tersebut.Sementara Mbak Riska dan Bu Sri tertawa menggoda ke arah kami.
Dreggggg.....
Detak jantungku berdebar sangat cepat dan terasa ingin lepas.
Terdengar letupan pelan bibir Kak Reno mendarat hangat di keningku.
Ia mengecup keningku dalam dan lembut.
Jemarinya meremas jemariku lalu mengengamnya erat.
Mata kami terpejam menikmati pose hangat yang membius naluri perasaanku dan Kak Reno.
__ADS_1
Cekrekkkkkkkkkk.....
Fotografer mengabadikan foto kami.