Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Hasil yang mengejutkan.


__ADS_3

"Reno...!,"teriak Bu Sri melihat keadaan anaknya yang tertunduk lesu di bawah lantai sel tahanan dengan tangannya yang terbalut perban kini mengeluarkan darah.


"Nak,apa yang terjadi denganmu?Mengapa kamu menjadi seperti ini Reno?Huhuhuhu...huhuhuhuhuhu...,"ucap Bu Sri yang menanyakan kepada Kak Reno sambil menangis terisak-isak.


"Huhuhuhu.....huhuhuhu....Ren,kenapa kamu diam saja.Tolong jawab mama?,"ucap Bu Sri lagi kepada Kak Reno.


"Pak polisi!Pak!,"teriak Bu Sri dengan histeris kepada aparat kepolisian yang sedang bertugas dengan suara kasar.


Petugas polisi yang sedang bertugas pun datang menghampiri Bu Sri yang berteriak sangat keras dan menimbulkan kegaduhan.


"Ada apa ibu berteriak-teriak?,"tanya petugas kepolisian yang sedang bertugas.


"Bapak lihat keadaan anak saya.Tangannya sedang terluka dan darah terus mengalir seperti itu.Mengapa bapak membiarkan keadaan putra saya seperti itu?Ingat ya pak jika sampai terjadi sesuatu kepada anak saya.Saya tidak akan tinggal diam saja!saya akan menuntut bapak!,"teriak Bu Sri dengan nada tinggi dan penuh kemarahan.


"Sudahlah mah!jangan membuat kegaduhan disini!tolong mam tenang!Ingat kondisi mama yang belum stabil,"ucap Pak Sugeng mengingatkan istrinya sambil memegang pundak Bu Sri supaya menjauh dari aparat kepolisian.


Namun, Bu Sri tetap keras kepala dan tidak mau mendengarkan Pak Sugeng. Bu Sri pun meronta-ronta saat Pak Sugeng memegang pundaknya agar ia tenang dan tidak membuat kebisingan yang akan memperparah kondisinya dan juga membuat masalah menjadi semakin rumit.


"Papa tolong lepaskan mama !,"teriak Bu Sri.


"Mah,papa mohon kendalikan sikap mama,"ucap Pak Sugeng berusaha menenangkan istrinya dan tidak melepaskan untuk merangkul pundak Bu Sri.


"Papa jangan halangin mama. Apa papa tidak melihat kondisi Reno. Saat ini keadaannya begitu memprihatinkan, Pah. Bagaimana mama bisa tenang melihat putra mama yang sedang tertunduk lesu di bawah lantai dengan darah yang terus mengalir dari tangannya dan berada di dalam tahanan pula.Huhuhuhuhu....huhuhuhu....,"teriak Bu Sri semakin histeris dan tangisnya yang semakin menjadi.


"Maaf ibu.Saudara Reno sudah kami tawarkan untuk mendapatkan pengobatan pada bekas tangannya yang terluka.Namun,saudara Reno menolak dengan kasar dan berteriak sambil terus memukul-mukulkan tangannya yang terbalut perban pada jeruji besi tahanan dengan sengaja dan tanpa henti.Dan kami sudah berusaha untuk memberikan pertolongan dan perawatan pada tangan saudara Reno yang terluka.Tetapi saudara Reno justru menyerang dan memukul petugas kami secara membabi buta.Tentunya hal ini dapat membahayakan keselamatan dan nyawa petugas kami.Sehingga kami membiarkan saudara Reno agar tenang terlebih dahulu.Dan yang perlu ibu tahu.Jika saudara Reno selaku putra ibu masih bersikap seperti ini maka tentunya akan merugikan dirinya sendiri.Yang akan berakibat memperberat hukumannya.Karena bersikap kasar dan menyerang petugas kepolisian.Termasuk juga ibu yang bersikap kasar dan membuat kegaduhan di kantor kepolisian,"jelas petugas kepolisian dengan panjang lebar.


"Akhhhhh.....saya tidak peduli dengan semua itu.Anak saya tidak bersalah dan dia harus dibebaskan sekarang juga! BEBASKAN PUTRA SAYA RENO!,"teriak Bu Sri dengan emosi yang semakin tidak terkendali dan sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah aparat kepolisian.


Pak Sugeng yang melihat sikap Bu Sri segera meminta maaf kepada polisi yang dimaki oleh istrinya. Karena Pak Sugeng tahu hal yang dilakukan Bu Sri justru akan menambah masalah terhadap Reno maupun Bu Sri sendiri.Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.Pak Sugeng dengan sekuat tenaga berusaha menarik tubuh istrinya menjauh dari ruangan tersebut. Tetapi sekali lagi Bu Sri terus meronta-ronta dan berteriak-teriak tiada henti sambil menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya lemas dan tidak berdaya.


"Lepaskan Reno!Lepaskan Reno!Lepaskan Reno!Akhhhhhhhh....... Huhuhuhuhu...Huhuhuhu....Reno...!,"teriak Bu Sri lagi tanpa terkendali hingga ia terduduk lemas di lantai.


Bruuukkk...


Dengan seketika tubuh Bu Sri terjatuh.


Dan ia tidak sadarkan diri kembali.


Pak Sugeng yang berada di dekat Bu Sri terlihat panik.


"Mah...Mah..mah....sadar mah,"ucap Pak Sugeng sambil menepuk pipi istrinya untuk membuatnya tersadar.


Bu Sri pingsan dan tidak dapat sadar.


"Pak Sugeng, sebaiknya segera bawa Bu Sri ke rumah sakit terdekat.Biar Reno saya yang mengurusnya disini bersama asisten saya,"ucap Pak Gukul yang sejak tadi diam menyaksikan kelakuan Bu Sri yang sangat emosional.


"Baiklah,Pak Gukul.Kalau begitu saya mohon Pak Gukul membantu dan mendampingi Reno.Jika ada masalah dan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.Pak Gukul dapat menghubungi putri saya Riska atau papa saya Pak Suprapto untuk sementara waktu selama saya menghantarkan istri saya ke rumah sakit,"ucap Pak Sugeng dengan tegang dan panik.


"Baik pak,"sahut Pak Gukul.


"Baiklah kalau begitu Pak Gukul. Saya akan membawa istri saya ke rumah sakit untuk segera mendapat pertolongan,"ucap Pak Sugeng terburu-buru dan sangat panik.


Dengan cepat dan bergegas Pak Sugeng lalu mengangkat tubuh istrinya dengan kedua tangannya menuju mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Sementara itu, Pak Gukul yang ditemani asistennya dan ditunjuk sebagai pengacara yang akan mendampingi Kak Reno yang terjerat kasus hukum sudah bersiap untuk melakukan proses prosedur pemeriksaan dengan semua berkas yang telah ia siapkan sebelumya bersama asistennya.


Beberapa jam kemudian, aku telah selesai melakukan pemeriksaan di ruang radiologi. Beberapa perawat membawaku keluar dengan mendorong bankar di mana aku terbaring di atasnya.


Semua orang yang sedang menungguku diluar sontak saja langsung bangun berdiri untuk melihat kondisiku.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Nak Rani ,sus?, " tanya Pak Budi kepada perawat yang mendorong brankarku terbaring.


"Pasien baik-baik saja pak. Sekarang kami akan membawa pasien kembali ke ruang rawat inap untuk beristirahat, " jawab perawat sambil terus mendorong brankar.


Mendengar penjelasan dari perawat maka semua orang yang menungguiku segera berjalan mengikuti langkah perawat menuju ruang rawat inap tempatku dirawat.


Namun, tidak lama kami semua pergi meninggalkan ruang radiologi. Dokter menghampiri ustad Fariz dan Pak Budi.


Sehingga langkah mereka berdua terhenti begitu juga dengan yang lainnya.


"Saudara Fariz saya ingin berbicara mengenai kondisi pasien di ruangan saya. Bisa?, " tanya dokter yang terlihat serius.


"Bisa dok, " jawab ustad Fariz sambil mengangguk.


"Saya ikut ya Nak Fariz, " sela Pak Budi kepada ustad Fariz untuk meminta persetujuannya.


"Iya Pak, " jawab ustad Fariz pelan.


Lalu ustad Fariz meneruskan perkataannya kepada Wirda dan Bik Siti.


"Bik Siti dan Wirda silahkan menemani Dek Rani di ruang rawat inap. Sementara saya, Pak Budi akan menemui dokter di ruangannya untuk membahas kondisi Dek Rani, " ucap Ustad Fariz kepada Wirda dan Bik Siti.


"Baik kak Fariz, " sahut Wirda.


"Oh ya dan kamu Dek, " ucap ustad Fariz sambil memegang pundak adiknya Rafa.


"Tolong kamu ikut dengan Bik Siti dan Wirda untuk menemani mereka berjaga-jaga jika ada sesuatu hal yang terjadi kamu dapat dengan segera membantu mereka, " pinta ustad Fariz kepada adiknya yang bernama Rafa.


"Baik Kak Fariz. Tetapi Kak Fariz dan Pak Budi tidak lama kan?, " tanya Rafa pada ustad Fariz.


"InsyaAllah secepatnya kakak akan kembali. Jika dokter sudah selesai membahas kondisi Dek Rani. Dan untuk itu kakak meminta bantuan mu untuk menjaga mereka bertiga dan Dek Rani khususnya. Takut-takut ada tindakan diluar dugaan yang akan dilakukan oleh keluarga Suprapto kepadanya, " tutur ustad Fariz kepada Rafa.


Sementara itu, Pak Budi dan ustad Fariz bergegas berjalan menuju ke ruang dokter yang memantau perkembangan kesehatan ku.


"Apakah ada hal yang buruk terjadi pada Nak Rani ya Nak Fariz sehingga dokter harus menyampaikan kondisi kesehatan Nak Rani hanya di ruangannya?, " tanya Pak Budi kepada ustad Fariz sambil terus berjalan.


"Saya kurang tahu Pak Budi. Untuk itu kita berpikiran yang positif saja akan perkembangan kesehatan Dek Rani. Pak Budi jangan terlalu khawatir dan cemas.Kita akan mendengarkan penjelasan dari dokter dulu saat di dalam. Baru setelah itu kita dapat menyimpulkan yang terjadi pada Dek Rani dan menentukan langkah selanjutnya untuk proses pengobatan yang akan kita tempuh bagi Dek Rani, "ucap ustad Fariz S


seraya menenangkan Pak Budi sambil tersenyum .


Pak Budi yang terlihat dengan wajah masih sedikit cemas berusaha mengganggukan kepalanya untuk mengiyakan ucapan dari Ustad Fariz. Meskipun di dalam hatinya ia memiliki firasat yang tidak enak tetapi ia tetap diam dan terus berjalan bersama ustad Fariz menuju ruangan dokter untuk mengetahui perkembangan dari kesehatanku.


Sesampainya Pak Budi dan ustad Fariz di ruang dokter. Perawat yang mendampingi dokter mempersilahkan masuk dan menyuruh Pak Budi serta Ustad Fariz untuk duduk di hadapan meja dokter yang telah menunggu mereka.


Pak Budi terlihat begitu tegang dan sangat cemas sambil melihat ke arah dokter yang melihat berkas- berkas di dalam map.Dokter terlihat membaca berkas-berkas di dalam map sesekali sebelum menjelaskan kepada ustad Fariz dan Pak Budi mengenai kondisiku.


"Mari,silahkan Mas dan bapak duduk dulu sebentar.Saya akan melihat dana menyiapkan berkas pemeriksaan pasien,"ucap dokter kepada Pak Budi dan ustad Fariz.


"Baik dok,"sahut ustad Fariz dan Pak Budi secara bersamaan.


Untuk beberapa saat Pak Budi dan Ustad Fariz melihat ke arah wajah dokter yang begitu sangat serius membolak-balikkan kertas yang ada di dalam map dengan wajah yang tidak seperti biasanya.


Lalu dokter mengambil beberapa lembar kertas dari dalam map dan menyingkirkannya dari berkas lainnya yang akan ia tunjukkan kepada Ustad Fariz dan juga Pak Budi mengenai hasil pemeriksaan diriku.


"Sebetulnya hasil pemeriksaan ini akan keluar berapa hari lagi, tetapi saya meminta dokter atau petugas yang terkait menangani pemeriksaan pasien bernama Rani untuk segera memberikan hasilnya kepada saya.Supaya dengan cepat pula saya dapat mengetahui dan mendiagnosis indikasi medis yang terjadi pada pasien bernama Rani.Dan Dan dari hasil pemeriksaan CT scan danMRA (magnetic resonance angiography) juga pemeriksaan mata yang telah dijalani oleh Dek Rani .Maka dapat saya simpulkan dan katakan bahwa telah terjadi kerusakan kerusakan pada saraf retina Dek Rani akibat cedera dan hantaman benda keras. Sehingga mengakibatkan penglihatan mata pasien bernama Rani tidak dapat berfungsi dengan baik atau mengalami kebutaan,"ucap dokter dengan wajah sangat serius sambil memandang wajah Ustad Fariz dan Pak Budi.


Mendengar ucapan dari dokter Pak Budi seketika itu pula langsung menitikan air matanya.


Bibirnya bergetar dan lidahnya terasa keluh. Ia sungguh tidak dapat membayangkan hal buruk itu terjadi kepada diriku.

__ADS_1


"Ya Allah,Nak Rani.... Huhuhuhu..... huhuhuhu....,"ucap pak Budi histeris yang tidak dapat menahan kesedihannya.


"Pak Budi tenang dulu ya Pak," ucap ustad Fariz berusaha menenangkan Pak Budi sambil mengusap lembut pundaknya.


"Huhuhuhu....Huhuhuhu....Ya Allah. Bagaimana saya bisa tenang Nak Fariz. Pernyataan dari dokter sungguh sangat mengguncang diri saya. Dan bagaimana kita akan menjelaskannya kepada nak Rani.Huhuhuhuhuhu.....,"ucap pak Budi sambil menangis dengan sangat pilu dan menyayat hati melihatnya.


Ustad Fariz yang melihat keadaan Pak Budi pun ikut bersimpati.Dia juga terlihat sangat syok akan pernyataan dari dokter mengenai hasil pemeriksaan diriku. Lalu ustad Fariz dengan ketegarannya berusaha menanyakan lagi kondisiku kepada dokter.


"Lalu dok .Apakah penglihatan Dek Rani akan segera membaik dalam waktu dekat?," tanya ustad Farisz dengan penuh harapan.


Wajah dokter terlihat sedikit sedih dan tidak menunjukkan akan hasil yang baik dari perkembangan kondisi penglihatanku.


Dokter pun sedikit menunduk sambil berpikir untuk memberikan kata-kata yang tidak membuat Ustad Fariz dan Pak Budi menjadi lebih terkejut lagi.


"Kenapa dokter diam. Tolong apapun hasilnya dokter sampaikan dan katakan saja, insya Allah kami akan siap mendengarnya ,"pinta ustad Fariz yang melihat gekstur dan gelagat tidak biasa yang tersembunyi dari raut wajah dokter.


Dokter pun menghela nafas untuk menjawab pertanyaan dari Ustad Fariz.


"Baiklah jika itu memang permintaan dari Nak Fariz. Berdasarkan dari hasil pemeriksaan yang telah kami lakukan dan sudah kami observasi. sehingga saya selaku dokter yang terus memantau perkembangan kesehatan Dek Rani menyimpulkan bahwa dengan sangat berat hati saya sampaikan jika.....,"ucap dokter yang terputus karena ia begitu merasa tidak kuasa menyampaikan berita ini kepada Pak Budi yang terlihat menangis terus tiada berhenti.


"Jika apa dok? huhuhuhu...,"tanya Pak Budi kepada dokter sambil menangis dengan rasa penasaran dan keinginan tahunya tentang kondisiku.


Pak Budi dan Ustad Fariz saling memandang sebentar mereka berdua terlihat tegang begitu pula dokter.


DAG...DiG...DuG....


Suara detak jantung Ustad Fariz dan Pak Budi berdebar kencang dan kuat untuk mendengarkan dokter melanjutkan ucapannya mengenai kondisiku saat ini.


Pak Budi dan Ustad Fariz dengan wajah yang sangat tegang dan penuh kecemasan secara bersamaan memandang ke arah wajah dokter yang juga terlihat tegang.


Dokter sedikit menunduk untuk berusaha menyampaikan kabar yang mungkin akan membuat Ustad Fariz dan Pak Budi semakin terkejut. Namun, demi menjalankan kewajiban dan melaksanakan profesionalitasnya sebagai seorang dokter.Maka dokter pun berusaha untuk menyampaikan hasil dari pemeriksaanku kepada Ustad Fariz dan Pak Budi dengan wajah yang sedikit sedih dan berat.


"Saat saya akan menyampaikan hasil pemeriksaan Dek Rani. Saya berharap Pak Budi dan Nak Fariz tidak syok dan menerima hasilnya," ucap dokter berusaha untuk menenangkan Pak Budi dan Ustad Fariz.


Mendengar ucapan dokter yang seperti itu Ustad Fariz dan Pak Budi pun menjadi semakin tegang.


"Apa yang sebenarnya terjadi kepada nak Rani dok? tolong katakan kepada kami!," pinta Pak Budi yang tidak bisa menahan lagi derai air matanya.


Dokter pun memandang wajah Pak Budi dan Ustad Fariz sambil menghela sedikit nafas pendek seraya berkata," Pasien yang bernama Rani mengalami kebutaan yang bersifat permanen dan tidak dapat melihat untuk selamanya. Kecuali jika ada seseorang yang mau mendonorkan matanya kepada Dek Rani. Kemungkinan besar penglihatannya bisa kembali lagi ,"ucap dokter sambil memandang wajah Pak Budi dan Ustad Fariz yang terlihat sangat tegang dan terpaku.


Mendengar ucapan dari dokter Pak Budi dan Ustad Fariz seperti membatu.


Tanpa mereka sadari air mata mengalir perlahan membasahi pipi keduanya.


"Astagfirullah ya Allah....


Huhuhuhuhuhu..... Huhuhuhu.....,"teriak Pak Budi yang sangat histeris dan tidak dapat menutupi kesedihannya akan berita kondisi kesehatanku saat ini.


Sementara dokter hanya diam dan terpaku melihat Pak Budi yang menangis tersedu-sedu. Semua menjadi hening seketika dan hanya terdengar suara isak tangis yang tiada henti dari Pak Budi.


Ustad Fariz pun hanya dapat terdiam tanpa dapat berkata-kata.Dia juga begitu sangat terkejut akan hal buruk yang telah menimpa kepadaku.


Huhuhuhu....


Huhuhuhu.....


Huhuhuhuhu...


Suara isak tangis Pak Budi menggema di dalam ruangan.

__ADS_1


__ADS_2