Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Pengorbanan


__ADS_3

Jiwaku terasa melayang lepas tersayat pilu berkabung duka yang tiada tepi.


Netraku terasa kering tanpa linangan kesedihan yang telah berkarat lalu hancur.


Semua perlahan seperti debu lalu hilang dan tidak akan kembali.


Ragaku runtuh lantah saat jiwa diselimuti kehampaan.


Kosong.....kosong....kosong....


Mataku nanar dengan raut wajah sendu terkurung ilusi.


Ya Tuhan,takdir macam ini!


Akhhhhhhhhhh.......


Akhhhhhhhhhh .......


Jerit batinku meronta saat bibir membisu.


Bayangan hitam mendekatiku,membentuk koloni yang siap mencabik-cabik tubuh ini.


Aku bagaikan bangkai busuk yang siap menjadi santapan vulture.


Aku membatu menatap mata-mata kejam nan buas.


"Rani!...,mah..,pah..,kek..,Reno....itu Rani,"ucap Mbak Riska begitu terkejut sambil menunjuk ke arahku.


Mereka semua terlihat sangat terkejut,cemas dan ketakutan melihat diriku terduduk lemas di atas lantai.


"Apa dia sudah lama di situ?,"tanya kakek sambil berdiri tegang.


"Nggak tahu pah,tetapi dari gesture dan raut wajahnya yang berantakan sepertinya bisa jadi Rani sudah lama di sini pah,"jawab


Pak Sugeng sambil berpikir cemas.


"Eghhhh....ar...arti......artinya...Ra...Rani....


men..dengar....semua pembicaraan kita pah,"ucap Bu Sri terbata-bata ketakutan.


Semua tampak panik dan ketakutan kecuali Kak Reno.


"Akhhhhh...kenapa mama harus takut.Bukankah ini kesempatan yang baik untuk kita.Dengan Rani tahu semua kebenarannya kita tidak perlu lagi berpura-pura,"kata Kak Reno senang sambil turun dari bed pasien.


"Hmmmm....bener apa yang di katakan Reno.Mulai sekarang Riska nggak usah capek-capek berakting lagi menjadi kakak ipar yang sok baik seperti peri,"ucap Mbak Riska sinis.


Aku masih terkulai lemas tidak dapat menggerakkan tubuhku.


Namun,apa yang mereka katakan dapat kudengar meski otakku belum mampu merespon dengan baik.


Kak Reno mendekatiku.


Ia jongkok di hadapanku.


Kepalaku tertunduk lesu menatap lantai.


Lalu dengan kasarnya ia mengangkat kepalaku dan mencengkram pipiku dengan tangan kanannya.


"Heiiii...!,"panggil Kak Reno kasar mengintruksikan diriku untuk menatapnya.


"Aku sudah muak selama ini berpura-pura baik dan menjadi laki-laki alim nan soleh di hadapanmu.Tetapi sekarang sudah waktunya kamu merasakan luka,derita,kepahitan dan kesengsaraan.Sebab semua baru di mulai Rani! hahaha.....,"bentak Kak Reno.


Tetapi aku hanya menatapnya kosong.


"Apa kamu pikir selama ini aku menyukaimu!Cihhhhh...berada di dekatmu seperti ini saja aku tidak sudi rasanya."


Kak Reno semakin kuat mencengkram pipiku.Seolah-olah ia ingin melumatkan setiap keping bagian diriku.


"Kamu pasti bertanya-tanya bukan kenapa aku bisa menjadi Reno yang alim dan santun."


"Sudahlah Ren,untuk apa kau menjelaskan pada anak itu,"ucap Pak Sugeng lalu duduk kembali.


Kak Reno melihat ke Pak Sugeng,"Supaya dia tahu pah,betapa sangat bodohnya dia sehingga dengan mudahnya dapat kita kelabuhi sekian lama tanpa ia sadari,"tutur Kak Reno sambil menghempaskan wajahku.


"Selama ini aku tidak pernah menuntut ilmu ke pondok pesantren.Tetapi aku pergi ke luar negeri.Semua ini adalah upaya untuk menarik perhatianmu saja.Agar memikatmu dan kau tidak pergi meninggalkan kediaman rumah keluarga Suprapto.


Dan kau pasti bertanya-tanya bagaimana aku hafal do'a-do'a dan dapat mengaji dengan bagus.


Penasaran bukan?Penasaran!


Mbak Riska coba katakan pada perempuan ini.Reno haus mau minum dulu."


Kak Reno mengambil botol air mineral.Sementara Mbak Riska yang sibuk dengan telepon genggamnya mendekatiku.


"Hmmmm....semua sudah ada skrip yang tinggal Reno ingat dan hafal.Sementara untuk mengaji.Itu adalah suara rekaman.


Hahahaha....kalau di ingat ekspresi wajah Rani saat itu benar-benar seperti orang bodoh yang begitu terkesima dengan Reno,"ucap Mbak Riska menertawakanku lalu meneruskan ucapannya.


"Satu lagi, kamu pasti ingin tahu kan kenapa Roy tiba-tiba menghilang dan pindah ke Swiss.Sebenarnya itu juga bagian dari rencana kami untuk menjauhkanmu dari pengaruh dan bantuan Roy.


Dengan pengaruh dan kekuasaan yang kakek miliki.


Bisnis papa Roy di hancurkan oleh kakek dan membuatnya terkena serangan jantung.Dimana semua hartanya di kuras habis oleh kakek.


Saat itu Roy bingung bagaimana cara untuk menyelamatkan papanya.Lalu kakek dan papa datang menawarkan perjanjian padanya.


Yaitu papanya akan selamat asalkan Roy dan keluarga pindah ke Swiss untuk selamanya.


Tetapi,Roy yang licik itu entah bagaimana bisa pulang kemari dan merusak semua rencana.But,it's okay.Now roy is rotting in jail. Hahaha......, "ucap Mbak Riska.


Kak Reno kembali mendekatiku.


"Dan ya temanmu Wirda juga akan bernasib sama seperti Roy,"ucap Kak Reno sambil tertawa jahat.

__ADS_1


Jari Telunjuk Kak Reno di letakkan di keningku dan mendorong kepalaku.


"Kamu itu bodoh sama seperti kakek,ayah dan bundamu yang sudah busuk di dalam tanah jadi makanan cacing!Hahahaha...!,"ledek Kak Reno padaku.


PRAAKKKK...!


Entah ada kekuatan dari mana yang kudapatkan hingga tanganku mampu menampar wajah Kak Reno dengan sangat keras.


Dan semua orang terkejut termasuk Kak Reno.Ia terlihat sangat marah dan tidak terima.


Byuuurrrrrr........


Kerudungku basah.


Kak Reno menuangkan sisa air mineral ke kepalaku sambil menggertakan giginya.


"Berani ya kamu menamparku!,"bentaknya seraya ingin menampar balik.


"Reno!hentikan,"bentak kakek.


Kak Reno menghentikan gerakan tangannya lalu ia hempaskan dengan kesal dan marah.


"Kenapa kakek melarangku?dia menamparku kek!,"teriak Kak Reno.


Kakek mendekat ke arah Kak Reno dan menariknya berdiri.


"Kamu itu laki-laki tidak sepadan jika melawannya.Kamu tahu cara untuk menyakiti seorang perempuan?,"kata kakek dengan menaikkan kedua alisnya.


"Apa itu kek?,"tanya Kak Reno penasaran.


Kakek tersenyum meringgis,"Dengan menghancurkan harga dirinya!."


Kak Reno tersenyum menyeringai menandakan mengerti apa yang di maksudkan oleh kakek.


Aku menatap ke arah mereka dengan tatapan kebencian dan amarah yang memuncak.


Tanganku terkepal.


Bibirku bergetar.


Rasanya berat seakan ribuan anak panah menancap di hatiku.


Kejahatan yang begitu kejam.


Persengkongkolan yang penuh tipu daya.


Dimana naruni hati mereka,pikirku.


Aku bangkit dari kelemahanku.


Dengan tubuh terhuyung,aku terus berusaha berdiri tegak.


"Kamu!,"ucapku.


Sambil menunjuk ke arah wajah Kak Reno.


"Kamu adalah laki-laki munafik,jahat dan sangat tidak memiliki empati.Kamu tidak hanya mempermainkan ku tetapi juga Allah,"ucapku tegas.


"Lalu kenapa?aku akan masuk neraka atau aku akan mendapatkan azab.


Hahahahaha....,"ucap Kak Reno seraya meledekku.


"Astaghfirullah,"tuturku pelan.


"Sudahlah Ran,kamu tidak perlu menceramahiku sebab aku lebih dan jauh lebih pintar serta cerdas darimu.Yah,karena aku tahu dengan tetap menjadi Reno kau tidak akan menyukai dan menerimaku.Tetapi,jika aku berubah menjadi Reno yang religius,agamis,soleh dan santun maka hatimu perlahan akan luluh padaku.Dan itu terbukti.....yah membuktikan betapa naifnya dirimu itu serta sangat BODOH!."


Kak Reno lalu mencengkram pipiku kembali.Aku meronta dengan menarik tangannya agar melepaskan tangannya dari wajahku.Namun,tenagaku tidak cukup kuat untuk melawannya.


"Tadi nya aku berpikir akan berpisah darimu.Tetapi,benar apa yang kakek katakan.Aku tidak akan melepaskanmu.Dan aku akan menghujani setiap detik kehidupanmu dengan kesengsaraan.


Dimana di setiap namamu disebut maka akan ada nama ku dan keluargaku bersanding di namamu "Rani Suprapto".


Ckkkkkkkk......hingga setiap kali nama itu disebut akan selalu mengingatkan dirimu pada rasa sakit yang kau dan keluargamu terima.Hehehehe.......aku bahagia Ran,melihatmu seperti ini."


Dan dengan keras dan kasar Kak Reno mencengkram wajahku lalu mendorong tubuhku hingga terjatuh.


BRUUKKk....


Aku meringgis menahan sakit.


Hahahahaha.....


Suara Kak Reno dan keluarganya tertawa.


Aku bangkit untuk berdiri.


Niatku ingin pergi dari mereka.


Namun,ketika aku berbalik badan dan pergi melangkah Kak Reno menghentikan ku.


"Mau kemana kamu?,"selidik Kak Reno.


Namun,aku tidak menggubrisnya dan memilih terus berjalan pelan dengan sempoyongan.


"Hei! Rani!,"teriak Kak Reno memanggil namaku dengar kasar.


"Sudahlah Ren,dia tidak akan mendengarkanmu,"ucap kakek sambil memegang bahu Kak Reno.


"Lalu kita biarkan dia pergi begitu saja kek?setelah Rani mengetahui semuanya,"ucap Kak Reno takut.


"Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa Ren.Karena dia lemah dan tidak berdaya jadi,dia bukan ancaman untuk kita,"jelas kakek pada Kak Reno.


Tetapi,Kak Reno tidak mau menerima saran kakek.

__ADS_1


"Tidak kek,aku ingin ia terikat denganku.Mengemis dan memohon padaku kek,"ucap Kak Reno kesal.


Kakek berpikir memikirkan sesuatu,"Baiklah jika itu keinginan cucu kakek.Kakek akan melakukan sesuatu."


Tidak lama kakek berteriak memanggilku dengan lantang,"Rani kembali!,"pekik kakek.


Tetapi aku tetap tidak peduli.


Kak Reno menatap ke arah kakek dan mengkeritkan dahinya.


Kakek membalas kepanikan Kak Reno dengan senyuman angkernya.


Lalu mengusap pundak Kak Reno untuk menenangkan dan mempercayai rencananya.


"Silahkan kamu pergi Rani.Tetapi,ingat kematian papa sahabat Wirda akan menjadi tanggung jawabmu,"celetuk kakek.


Mendengar ucapan kakek langkahku terhenti.Jantungku terasa nyeri.


Wirda...,"ucapku lirih.


Tidak...tidak..


Aku tidak akan membiarkan Wirda dan keluarganya hancur karena diriku,batinku.


Melihatku berhenti,Kak Reno tersenyum bersama kakeknya.Sementara Pak Sugeng,Bu Sri dan Mbak Riska hanya melihat ke arahku dengan tatapan sinis dan penuh tanya akan rencana kakek.


"Oh ya dan Roy....akan membusuk selamanya menghabiskan sepanjang kehidupannya di dalam penjara,"ucap kakek melanjutkan kalimatnya.


Ya Allah,


Kak Roy,


Bagaimana aku bisa melupakannya.


Orang yang selama ini membantuku.


Sekarang mendapatkan masalah karena diriku juga,benakku.


Dengan tertatih aku membalikkan badan kembali menuju Kak Reno dan kakek.


"Lihatlah Ren,apa kata kakek Rani tidak akan kemana-mana sebab ia tidak akan membiarkan orang-orang terdekatnya celaka,itulah kelemahan sekaligus senjata ampuh menghancurkannya,"bisik kakek pada Kak Reno.


"Benar kata kakek,"ucap Kak Reno dengan senyum sinis.


Aku menatap dalam ke wajah kakek.


Bagaimana bisa dia yang paling aku hormati dan telah ku anggap layaknya kakekku sendiri ternyata adalah seorang monster yang kejam dan rakus akan kekuasaan dan harta,ucapku dalam hati.


"Apa mau kalian?,"kataku tanpa basa-basi.


"Baiklah,akan ku katakan.Untuk itu dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi,"gertak Kak Reno.


Lalu Kak Reno melanjutkan ucapannya.


"Jika kamu ingin papa Wirda selamat dan semua aset kekayaannya di kembalikan.Maka kamu harus tetap tinggal di rumah kediaman Suprapto sebagai menantu yang tidak di harapkan alias menjadi PEMBANTU! HAHAHHAHA.....,"ucap Kak Reno menghinaku.


Semua orang di ruangan itu tertawa mendengar ucapan Kak Reno.


"Bagaimana Rani istriku?,"ucap Kak Reno dengan suara meledekku.


Aku diam saja berusaha tidak menggubris


dirinya.


Namun,kebisuanku membuat Kak Reno semakin tidak nyaman dan marah.


Sekali lagi ia ingin mencengkram pipiku.


Tetapi,kali ini aku dapat menangkisnya.


Kak Reno tersentak sesaat begitu pun yang lain.


Kali ini kubalas tatapannya tajam dan mendekatinya.


"Baiklah jika kamu sangat menginginkan agar aku tinggal di kediaman Suprapto maka penuhi lagi syaratku,"ucapku berani.


"HAH! berani-beraninya kamu mengajukan syarat.Dasar tidak tahu diri!,"ucap Mbak Riska marah.


"Sudahlah Mbak biarkan saja.Toh dia tidak akan berani meminta syarat macam-macam,"kata Kak Reno santai.


Lalu Kak Reno membalas tatapanku.


"Katakan apa syaratmu?,"tanya Kak Reno.


"Bebaskan Kak Roy dari penjara dan jangan ganggu dia dan keluarganya serta kembalikan semua aset-aset kekayaan mereka.Dan ini juga berlaku untuk Wirda,"ucapku menantang.


"HAH! Kamu sudah tidak waras memintaku untuk membebaskan Roy,"kata Kak Reno tidak setuju dan keberatan.


Tetapi kakek langsung memberikan pernyataannya.


"Syaratmu kami terima,"kata Kakek tenang.


"Tetapi kek,"protes Kak Reno.


"Sudahlah terima saja.Ini tidak akan merugikan kita,"ucap kakek meyakinkan Kak Reno.


"Baiklah kalau begitu aku minta Kak Roy dibebaskan sekarang juga beserta pengembalian aset kekayaan papa Kak Roy dan Wirda,"ucapku.


"Kamu gila ya!,"bentak Kak Reno.


Namun,sekali lagi kakek menyanggupi.


"Baiklah semua syarat yang kau ajukan akan di kabulkan hari ini juga sesuai permintaanmu,"ucap Kakek tersenyum licik.

__ADS_1


"Baiklah siapkan semua berkasnya,"ucapku ringan.


Aku pun berlalu meninggalkan mereka dan berjalan terhuyung menuju ke tempat Wirda bersama mamanya.


__ADS_2